Ingin Rehat Dalam Dekapan-Nya

Pic by tumblr
            Every single person certainly feel bored about something. Pretend to show if everything goes well but indeed, he/she hide away something that very bad to feel. Yeah, gue tulis tulisan ini ketika rintik hujan menyapa. Sama kayak perasaan gue, hati baru gerimis.
            Pernah nggak sih lo merasa jemu akan sesuatu? Kayak kalau disuruh minum yogurt tiap hari pasti eneg kan. Emang sih yogurt itu enak dan bermanfaat tapi ada titik jenuhnya juga kan? Nah, it’s a bad or good news gue merasa bimbang, ragu, dan tentu saja bosan.
            It’s all about school life. Kenapa gue bisa bilang bosen? Semenjak diberlakukan lima hari kerja, dampak psikologi siswa masih banyak yang belum siap. Termasuk gue.. kalau ada tugas seabrek, kapan ngerjain. Gue sampai rumah sekitar jam 4, ikut kegiatan di deket rumah sampai jam setengah enam, lalu sholat, makan, sholat isa’, bantuin ortu.. dan paling nggak baru bisa sampai meja belajar sekitar jam 8. Itu pun teklak-tekluk karena nguantuk.. Ya Allah, siangnya nggak tidur. Otak dijejali pelajaran, apalagi siswa tingkat akhir itu banyak cobaannya.. guru sering nakut-nakutin, katanya kalau nggak keterima perguruan tinggi katanya mau jadi apa besok. Hmmz, sungguh terlalu.
            Apalagi kalau ada kerja kelompok yang suruh bikin video. Harus butuh kekompakan, makan waktu lama, proses editing yang nggak gampang, bikin lembur, terkadang sakit juga.. Inilah kehidupan anak SMA zaman now.
            Pada titik ini gue berpikir kala itu. Di atas kasur yang setia menemani, gue merenung.. ternyata udah 12 tahun gue belajar ilmu dunia. Belum diitung pas TK.. Brati udah sekitar 14 tahun. Gue belajar matematika, IPS, IPA, bahasa.. semua masuk, tapi apa yang membekas?
            Hmm, semua sebatas teori. Hanya hafal betul saat akan diadakan ujian. Selebihnya lupaa.. inilah buruknya sistem pendidikan yang hanya teori mulu, prakteknya jarang. Yang membekas di gue pun ga banyak. Astaghfirullah, jadi selama 14 tahun itu gue ngapain aja woi.. .-.
            Ditilik lagi, kata Allah “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” QS Ad-Dzariyat 56. Wondering in ourself, apakah selama ini cara beribadah udah bener? Mana aja yang diterima. Umur udah 17 tahun, sementara umur seseorang ga ada yang tahu. Ya Allah, rasanya belum siap aja kalau tiba-tiba harus balik ke kampung akhirat.
            Again, banyak ustadz memperingatkan kalau kehidupan dunia itu hanyalah senda gurau belaka. Cuma sebatas mampir ngombe. Nggak lama dong ya. Tapi selama ini apa, gue masih memikirkan besok gimana, panjang angan-angan, ingin ini itu..astaghfirullah..
            Terbetiklah pertanyaan dalam hati “Lo mau lanjut kemana setelah SMA ini?”
            Pasti kalau kebanyak temen-temen gue jawabnya ke PTN, paling banyak ke UNS. Dan sekarang temen-temen gue udah mulai ikut daftar ke PTS macam Universitas Telkom, ada juga yang ikut nyoba tes beasiswa OSC dari metroTV. Ada juga yang niat banget ke Aussie dan Inggris. Temen-temen gue pasti juga sama kayak gue antara bingung, tertekan, berusaha mendapat univ impian.
            Lalu, gue?
            Mau tahu nggak?
            Hah? Apa? Pengen? Pengen banget apa pengen ajaaa??
            Iya, yaudah gue kasih tahu. Nggak usah sampai teriak-teriak bilang pengen sambil mukulin laptop. Kasian laptopnya, ntar hancur berkeping-keping kayak hati para jomblo ngenes.. Gimana ngga hancur, orang berharapnya ke manusia terus kok, bukan ke Allah, eaaaa
            Honestly, gue juga bimbang mau lanjut pendidikan supaya dapet gelar diploma, S.Pd, Lc, atau ikut sekolah di bidang tourism. Lo masih inget kan, tante gue yang pernah nawarin gue kalau lulus SMA suruh sekolah pramugari dan beliau punya kenalan orang maskapai. Apalagi sekarang kan ada maskapai penerbangan yang memperbolehkan pramugarinya berhijab tapi ya nggak syar’i banget. Kan pramugari pakaiannya elegan, keliatan keren, jago bahasa Inggris.. tapi apa ya berkah kalau gitu? Maksudnya, bisa masuk kerja karena bantuan orang dalam. Ini hukum fiqhnya gue juga gatau. Tapi, jika seperti itu, nggak fair juga yaa..
            Sampai suatu hari, gue dapet pencerahan. Oke, I admit kalau gue lelah cuma disuruh belajar ilmu dunia terus, dikasih tugas seabrek yang panjangnya bisa beberapa folio tapi cuma dapet ttd guru dan angka dengan tinta merah di atas kertas. Mohon bersabar ya myself dan temen-temen seangkatan, emang nasib siswa tingkat akhir mah. Yaudah jalanin aja bareng Allah.
            Gue baca suatu tulisan yang membahas luar biasanya berkah Al Qur’an. Juga, disebutkan kalau orang-orang yang bertaqwa akan mendapat rezeki dari arah yang nggak disangka-sangka, pokoknya Allah sendiri yang akan mengurus hidup orang-orang yang bertaqwa.
            Nah, berawal dari situ gue tanya temen-temen gue yang pernah mondok. Gimana asam manisnya kehidupan pondok. Apa enak tinggal di pondok. Gimana kehidupan di pondok. It’s all about pondok.
            Hah? Yang bener aja Zal, lo mau lanjut ke pondok?
            Hmm, untuk saat ini dengan mantap gue jawab.. IN SHAA ALLAH, GUE AKAN REHAT SEJENAK DALAM DEKAPAN-NYA!
            Maksud lo Zal?
            Yeah. Gue udah minta izin sama tuan dan nyonya besar kalau gue minta waktu satu atau dua tahun buat mencicipi sejuknya deen Islam.
            Whatever what do u think, tapi jujur guys. Gue lelah udah 14 tahun belajar ilmu dunia. Terus kapan gue akan bersungguh-sungguh belajar agama gue? Hal yang paling penting. Pedoman dalam kehidupan gue. Yang bisa nuntun jalan keselamatan untuk ke kampung halaman yang abadi. Gue rindu rasa ketenangan hakiki dalam jiwa. Hati sering merasa gersang, kosong, galau, rapuh, ini karena gue jauh dari-Nya. Gue yang masih labil perlu pemantapan dan mengenal panutan zaman now untuk keselamatan agama gue.
            Pertamanya gue perang batin. Kalau gue lanjut S1 sambil mondok pasti gagal fokus. Gue yang sibuk sama kuliah, pasti ada kegiatan kampus, skripsi, kuis, dan seabrek kesibukan lainnya akan menyita banyak waktu gue dan mungkin akan melalaikan gue dalam belajar agama. Belum lagi kalau udah lulus kuliah, inshaaAllah cari kerja dan kalau diterima.. nah, nanti bakal disibukkan sama urusan kerja. Pas kerja apa yang dicari? Duit kan? Sibuk mikirin gimana caranya biar dapet duit banyak buat plesir. Terus apa? Nikah kan? Pas nikah pasti udah disibukin sama banyak hal. Ngurus suami, urusan rumah tangga, pastinya tanggung jawab udah berat. Belum lagi kalau udah punya anak. I have no quality time for study my Islam. Nggak terasa udah tua. Buat ngapalin sesuatu susah. Dan ternyata ga punya waktu lagi buat hafalin Al Qur’an. Huaa nyesek batss.. Amal dikit, dosa banyak. Tapi kematian sudah ada di ambang mata. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah... jauhkan kami dari hal buruk seperti itu Ya Allah, aamiin..
            Jadi, sebagai wujud kesungguhan gue, gue memutuskan setelah lulus SMA, in shaa Allah akan rehat sejenak dalam dekapan-Nya. Merasakan manisnya ilmu agama dan bersama teman-teman shalihah yang mengingatkan kehidupan akhir. I do believe kata Imam Hasan al Bashri kalau dunia itu ibarat bayangan. Pas kita ngejar dunia, kita bakal diperbudak. But, kalau kita memalingkan muka dari gemerlap dunia, dunia lah yang akan mengikuti kita. Tentang besoknya mau jadi apa, itu udah gue serahin betul ke Allah. Logikanya , Allah gabakal ngecewain hamba-Nya yang ingin mendekat pada-Nya kan? Yaudah bismillah aja, niat gue udah mantep betul.
            Orang-orang yang udah paham betul masalah agama, hatinya selalu diliputi ketenangan. Apa lagi sih yang diinginkan. Bagi mereka yang masih jomblo lillah, mereka bisa berdakwah tanpa harus terbebani masalah keluarga karena belum nikah, waktunya masih banyak, mereka merasa bersyukur bisa menjadi pemuda yang bermanfaat.
Bagi mereka yang sudah menyempurnakan separuh agama, apalagi yang kurang? Ketika sepertiga malam, dengan penuh cinta saling membangunkan. Senyum suami yang teduh menjadi pengobat lara. Membangun cinta suci, saling menasehati dalam kebenaran, bersama-sama melalui ujian dari-Nya dengan kekuatan iman. Lalu, bergandengan tangan sehidup sesyurga.
Mereka yang beriman tidak peduli udah punya mobil belum, rumahnya kayak apa.. gue pribadi sih, setelah membaca Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye sadar betul kalau memilih pasangan jangan susah-susah. Cukup dia yang sholeh, bertanggung jawab, pekerja keras, dan setia. Dari kesadaran gue terdalam, it’s okay kalau gue dan si dia (yang namanya masih dirahasiain Allah tapi namanya udah tertulis di Lauhul Mahfudz), besok lusa gapapa kalau kita berangkat kajian naik sepeda ontel asalkan kamu ridho, tak apa kalau rumah masih ngontrak asalkan jangan pernah ada riba diantara kita, tak apa makan seadanya asalkan rezeki yang kau cari halal karena aku pun ga pinter masak :3 haha. Dan kamu pun harus berjanji bisa mendekatkanku pada Allah. Tak apa jika kau memintaku untuk menghapus instagram atau pun semua media sosial yang menurutmu hanya akan membuang-buang waktu. Asalkan pula kau harus berjanji padaku untuk membuatku lebih dekat pada-Nya, juga mewujudkan hal yang sangat kuinginkan yaitu lantunkanlah hafalan Surah Ar Rahman mu dengan suara yang merdu. Ajarkan aku suatu kitab karya ulama terkenal yang telah kau dalami.
Eh tapi serius. Coba lo liat terjemahan nasheednya Ahmad Bukhatir yang judulnya zaujati, kaum hawa siap-siap meleleh, ceritanya suami yang super duper baik deh ke istrinya.. yea, kalau tampangnya pas-pasan tapi ilmu agama dan akhlaknya cemerlang, mungkin gue akan jatuh cinta setiap hari. Gimana nggak, kalau gue ndablek tapi dia sabarnya minta ampun.. Kan wanita tercipta dari tulang rusuk pria, makanya bengkok. Jadi, harus bener-bener sabar ya kalau sama perempuan.. inilah kenapa gue nge-fans sama sosok pria yang paling berhati lembut di dunia, gue pun jatuh cinta pas baca kisahnya. Gimana nggak ketika sang istri marah lalu dipanggilnya untuk mendekat terus bilang “Humaira, redalah rasa amarahku setelah memelukmu” Uluuh, melting eui. Siapa dia? Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Laah topik awal tadi apa yak..hehe biarin kan masih nyambung. Jadi gitu deh. Kan kalau kita ingin suami sholih atau hafidz Qur’an kita juga harus memantaskan diri kan? Juga, kalau kita ingin memiliki anak yang sholih, berakhlak mulia, cerdas, dan hafidz/hafidzah Qur’an kita sebagai calon orangtua juga harus bisa seperti itu dulu kan? Karena kesholehan itu bisa menurun ke anak. Jadi usahakan ya, kita memperbaiki diri selalu.
Alhamdulillah juga, hidayah bisa dateng. Terima kasih gue haturkan ke Allah, yang paling ngertiin gue, paling baik, siap nolong kapan pun. Juga mbah Kakung yang setiap Subuh adzan di mushola dan menjadi imam yang menginspirasi gue untuk selalu mencintai Al Qur’an. Sungguh, gue bener-bener sayang sama beliau! Beliau orang tersabar dan orang terbaik yang pernah gue temui. Pas kecil selalu membela gue ketika kena marah ortu, sering ngasih uang jajan, haha.. Semoga rahmat Allah selalu tercurah pada mbah kakung, aamiin..

Fiuh, lega gue. Siswi semester akhir mengakhiri tulisannya. Tolong ya, doakan yang terbaik buat gue, kan doanya juga akan balik ke kalian. Jangan kangen, karena di tempat besok setelah lulus SMA gue ga diperkenankan bawa HP, laptop, atau alat-alat komunikasi lainnya. Semoga niat ini terus terjaga dan bisa terealisasi, aamiin. Salam hangat untuk kalian semua! Jangan lupa sholat lima waktu dan kirim sholawat ke Rasulullah Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam. Syukron wa jazakumullahu khoir..

Comments

Popular posts from this blog

Lelaki Sholeh Idaman Surga

Ketika Seorang Muslim dan Muslimah Jatuh Cinta

Review 06 : Pulang by Tere Liye