Monday, 1 January 2018

Kutemukan Cinta di Edinburgh



Source : tumblr

            Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh sobat! Heihei, apa kabar? Udah lama ya gue nggak menarikan jemari gue di blog ini. Fiuh, sebenernya malem ini gue rada sakit kepala tapi entah kenapa tangan udah gatel pengen nulis. Tapi tenang aja, ada secangkir coklat hangat di samping gue. Iya, coklat emang selalu bikin mood gue naik dan bagus. Baru menghirup aroma coklat aja, rasanya kayak clink clink, kepala gue cerah seperti cuaca pas lagi bagus-bagusnya. Hmm, emang ya yang manis-manis itu selalu bikin semangat dan ngangenin. (re: manis minuman dan coklat).
            Why am I ngebet banget mau nulis? Pertama, gue pengen numpahin semua emosi gue di sini. Kedua, gue pengen cerita sama kalian tentang film Ayat-Ayat Cinta 2, aseek. Ketiga, karena gue jomblo maka gue harus nulis *eh?
            Langsung aja, kenapa emosi gue pengen gue tumpahin di tulisan? Hayoo, lo tau nggak kenapa? Hmm, nggak tahu sih. Emang gue sukanya gitu, lebih suka mengekspresikan sesuatu lewat tulisan daripada gue ngomong langsung.
            Gue ada uneg-uneg. Yuk kita flashback dulu. Lo inget kan pernah Muslim Rohingya dibantai habis-habisan sama tentara Myanmar. Biadab! Benar-benar biadab! Lo coba lihat video-video saudara-saudari kita di Myanmar. Liat bagaimana mereka diperlakukan. Bro sist, gue ada video durasi sekitar 30 menitan. Disitu kita bisa melek, kalau mereka itu kesakitan lahir batin. Ya Allah, tega bener.
            Kedua, marilah kita flashback lagi. Ya ampun Zal, kebanyakan flashback ntar keinget mantan gue! Hmm, nggak gitu juga kali sist, kita perlu belajar sejarah. Gue anak IPS, udah kenyang dijejalin materi sejarah tapi gue suka karena pas belajar sejarah kita bisa melihat sebuah kisah menarik yang inspiratif dari orang-orang terdahulu, sekaligus belajar supaya tidak terjerumus pada lubang yang sama. Makanya, ga usah punya mantan lagi, jadi single sampai doi yang udah disiapin Allah nemuin lo, aseek.. btw ngomong sejarah, salah satu tokoh yang gue suka sejarahnya ya Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel.
            OK, ini serius.. Kita lihat si Trump, etdah agak sepet rasanya gue nulis namanya.. dia dengan seenaknya mengakui bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel. What theee..! Sontak pernyataan ini bikin geram umat Muslim sedunia. Hmm, astaghfirullah. Pertama gue tau berita ini, rasanya ghiroh muncul gitu aja. Marah, kzl, pengen gue lempar pakai lemper, semua jadi satu. Tapi, alhamdulillah saat rapat PBB kemarin lebih banyak negara menolak keputusan semena-mena AS. Kita tunggu, langkah konkret selanjutnya.
            Flashback lagi yuk.. serius, kalau ini yang terakhir. Awas, kalau mau bilang keinget mantan. Akhir-akhir ini Indonesia dihebohkan dengan LGBT. Yeah, l*sbi, g*y, bis*ks, dan transg*nder. Astaghfirullahaladzim, kenapa bisa? Lo liat Indonesia Lawyer Club ga? Kalau lo nyimak bualan para pendukung LGBT rasanya kayak ga nyenengin dan irasional. Well they said, kita punya HAM setiap orang punya hak masing-masing. Hellooo, lo nggak hidup di hutan yang bisa kayak tarzan lompat sana sini sambil teriak auouoooo. Lo hidup di Indonesia! Perilaku menyimpang itu bukanlah suatu hak. Tapi, ketahuilah sobat bagi kalian yang mendukung LGBT, itu bukanlah hak tapi malah menyakiti kalian sendiri! Betapa banyak dari orang-orang seperti itu terkena penyakit kelamin yang membahayakan. Gue udah baca informasi mengenai penyakit-penyakit ini juga banyak berita dan kasus yang sudah terjadi. So, please stop it. Dan bagi pendakwah, gue setuju kayak dr Raehanul Bahraen, beliau salaf tapi penyampaiannya enak dan nggak keras juga sakklek gitu, jadi gue bisa nerima. Dalam postingannya di instagram, banyak analogi-analogi yang seharusnya bisa menyadarkan LGBT. Semoga Allah membuka mata hati kalian wahai aktivis LGBT.
            Ini belum semua guys. Belum lagi kita bicara mengenai kriminalisasi ulama. Juru dakwah yang ditolak berkdakwah hanya karena ormas anu ga setuju dan seenaknya sendiri lapor polisi dengan tuduhan anti NKRI lah, anti Pancasila. Hmm, open your eyes! Kalau ormas anu ini sama saudara Muslim aja malah ga friendly dan main ngusir kajian, bukankah itu malah ga toleransi. Gue paling geram pas kajian ust Khalid, mana yang berakhlak bisa keliatan saat itu ormas anu ngusir beliau sambil diteriakin wahabi, mana kata-katanya kasar lagi.. Allahu yahdik..
            Hmm, uneg-uneg gue udah kelar? Belum sih tapi nanti kepanjangan.
            Gapapa Zal, asalkan lo ga nge-jomblo dalam masa yang berkepanjangan
            Hmm, jomblo dulu aja. Serius, guys alhamdulillah hati gue saat ini baru fine. No one enter there. Karena emang pada dasarnya gue berhati-hati dalam mencintai. Yes, I do, saat ini gue bukanlah tipikal perempuan yang dengan gampangnya suka hanya karena si cowok kasih perhatian lebih, sering baik. Kenapa? Gue nggak mau berharap sama manusia. Capek atuh. Bener kata Ali bin Abi Tholib, kata beliau paling pahit dan ga enak itu ya kalau kita ngarepnya sama manusia. Ga mempan lah sekarang, modal tampilan necis dan sikap baik, gue butuh pembuktian yang nyata kalau emang bener-bener suka. Ga sebatas gitu-gitu aja. Kalau nggak BHYE!
            Karena, gue kasih tahu yaa.. Kalau lo udah jatuh cinta amat dalam sama cowok dan keliatannya si cowok juga suka, akhirnya kalian saling berkirim pesan, senyum manis pas ketemu.. eh tapi pas ada yang bening dikit, lo ditinggal. Harapan pupus, sakit hati. Ckck. Itu cowok ga komitmen! Itulah pentingnya komitmen, kalau lo udah mau sama si A ingin menikahinya, ya udah mau si A ini nantinya bakal jadi gendut, jerawatan, banyak kekurangan, ya harus lo terima donk. Ini adalah pilihan lo! Makanya, jangan kebanyakan ngarep sama manusia ya sob. Apalagi kebanyakan cowok jaman now yang tipis komitmennya, Ya Allah nitip jodohku, semoga Mas Imam Masa Depan saat ini kau jaga imannya dan kau tumbuhkan komitmen yang mantap dalam hatinya, aamiin.. Hmm, ngomong-ngomong tentang cowok berkomitmen gue jadi keinget Fahri nih. Aaaa, AAC lovers ga asing lagi kan siapa dia?
            Iyep! Fahri bin Abdullah. Mashaallah, sejak awal gue baca novel kang Abik yang AAC pertama gue langsung seneng sama karakter Fahri. Hmm, gimana ya nulisnya. Lo coba baca dulu deh AAC 1 & 2. Orangnya sholih, hafal Qur’an, pelajar teladan di Univ Al Azhar Kairo, berhati lembut, mulia perilakunya. Huaa, gue nulisnya hmm.. tapi ini tokoh fiksi lho yaa.. ga salah sih kalau kita ingin suami kita menjadi sosok yang hampir sempurna, tapi yuk kita ngaca bareng, apakah kita juga bisa menjadi sosok yang hampir sempurna itu? Contoh, pengen suami kayak Fahri yang paket komplit gitu, tapi apakah kita pun juga sudah memiliki paket komplit itu? Karena Aisha pun karakternya mashaallah hmm, joss lah.. Nah, balik lagi ke QS An Nur 26.
            Gue bakal cerita sedikit tentang film yang baru aja gue tonton sama Yas dan Shin. Hmm, ga full team btw. Biasanya berlima ini cuma bertiga. Nah kenapa kita nonton AAC 2? Wkk, karena di grup gue paling ngebet banget kalau kami harus nonton AAC 2. Secara, gue udah baca novel AAC 1 & 2, udah lihat film AAC 1, nanggung kan kalau udah baca novel tapi ga lihat filmnya.
            Nah, setting AAC 2 ini ada di Edinburgh. Prologuenya sih, peristiwa mencekam di Palestine. Saat itu Aisha disana. Huaa pas itu Aisha sama Fahri terpisahkan. Lalu, muncullah latar di Edinburgh. Fahri jadi dosen di sana.
            Eum, ga gue ceritain alurnya ya ehe. Kalian liat aja filmnya, inshaallah ga kecewa ya walau pun akan menguras air mata. Gue sih, paling trenyuh pas bagian Aisha dengan hati lapang melihat suaminya poligami, padahal kalau mau dia ngaku kalau dia Aisha dan masih hidup tapi mashaallah ketegarannya. Dia bilang “Saya bahagia, jika Fahri bahagia” uluuh..
            Terus yang bikin nangis lagi, pas bagian Fahri debat sama Yahudi. Saat itu nenek Catharina dateng, dia Yahudi tapi Fahri sering membantunya. Pas itu, Fahri tiba-tiba diserang dan dituduh kalau dia teroris oleh seorang Yahudi. Tiba-tiba dateng tuh nenek menjelaskan semua kebaikan hati Fahri. Asli, bikin nangis. Nah, gue suka cara berdakwah dengan hikmah seperti Fahri ini. Dia in action nggak cuma teori aja. Yang bikin gue terbuka pemikiran juga, Fahri ini sosok yang sholih tapi nggak menutup diri dan dia pun ramah.
            Gue dulu ya pas masih awam, kalau ada penceramah tiba-tiba bilang “HARAM!” “YA NERAKA!” Huaa, medeni. Hari pertama ngaji digituin, apa yang lo rasa? Ya kalau orang awam pasti akan ngasih cap kalau ajaran Islam itu kaku dan keras. Nah, balik lagi ke cara penyampaian kan. Emang, gue rasa kalau manhaj yang selamat itu ya manhaj salaf, tapi seperti kata dr Raehanul Bahraen, kalau ada yang mendakwahkan Islam dengan kaku dan keras, bukannya masuk ke hati tapi malah menjauhkan. Nah, kayak Fahri ini bisa dicontoh. Mashaallah, kagum gue sama cara kang Abik bikin karakter gini. Islam itu RAHMATAN LIL ‘ALAMIN, rahmat bagi semua. Bermukalah manis, tebarkan salam, jangan merasa paling benar. Karena gue pun dulu, saat awam dalam agama takut kalau langsung semua saklek gaboleh tapi alhamdulillah karena ada mubaligh yang bijak dan ramah, gue bisa belajar agama. Ya alhamdulillah sih kalau udah ngaji dan tidak awam lagi, silakan kasih tahu ini HARAM! Ini NERAKA! Tapi, beda lagi cara berdakwah dengan orang awam, pelan-pelan tapi jangan bermudah-mudah.
            The last, saat Fahri dan Aisha kembali bertemu. Ya Allah, subhanallah, mashaallah.. Hmm..ini baper tapi baper positif. Saat Fahri bilang “Maafkan aku Sayangku.” Hmm, rasanya tuh.. Aisha pun punya alasan sendiri kenapa dia sempat menutup diri dari Fahri, di Palestine pun dia melakukan suatu tindakan yang bisa menjaga kehormatannya dari tentara Israel dan gue akui dia TANGGUH. Fahri yang berhati lembut pun pas tahu itu.. ya gitu.. ya gitu, bikin terisak gitu.. meski pun fisik Aisha tidak secantik dulu, Fahri masih mau menerimanya. So sweet, I wanna scream!!! Lo bayangin deh, dimana kebanyakan cowok jaman now tapi ga semua sih, yang menyukai perempuan karena fisik kalau kebagusan fisik itu ilang ya ditinggal. But, Fahri.. oh my, I’m so speechless untill I don’t know what to type.. Fahri itu BERKOMITMEN tinggi, tuh buktinya dia masih mau menerima apa pun keadaan Aisha. Ya Allah, ini nyentuh kalau kata gue mah. Unconditional love ini, hiks. Lebih manis dari Twilight, lebih menyentuh dari Titanic, dan lebih romantis daripada Romeo and Juliet. Karena apa? Karena Fahri dan Aisha saling mencintai karena Allah :””)
            Ya, begitulah guys tulisan kali ini. Panjang kali lebar amat yak. Efek lama ga nulis juga mungkin, jadi semua tumpah seabrek disini. Jadi,
            Sobat, hari ini kita sudah berada di awal 2018 marilah sejenak menengok ke belakang. Ingatkah saat saudara-saudari kita di Rohingya dibantai tanpa belas kasihan oleh tentara Myanmar? Mereka menangis, terusir dari negara sendiri. Sampai-sampai, sebagian dari mereka rela untuk  menyeberangi lautan. Bekal yang minim, seadanya, hanya rahmat Allah yang diandalkan. Ya Rabb, alangkah kejinya tangan-tangan bengis yang tega mendzolimi mereka.
            Ingatkah juga, saat presiden AS itu tiba-tiba mengakui bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel? Apa reaksi kita? Tentu ghiroh akan muncul dalam diri setiap mukmin. Saat itu kita lantang menyuarakan penolakan, mendoakan mereka, dan menyalurkan bantuan yang bisa diberikan untuk meringankan penderitaan mereka.
            Lalu, saat akhir-akhir ini.. Ya, isu LGBT di Indonesia. Saat itu, di sebuah acara TV swasta, kita bisa menyaksikan para aktivis LGBT yang menyuarakan pendapatnya. Mereka bilang, mereka memiliki HAM, HAM selalu mereka teriakkan dalam pembelaannya. Miris. Hakikatnya, mereka tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Mereka bilang hak? Bukan, hal itu bukanlah suatu hak. Sadarlah, LGBT bisa merusak kehidupan banngsa dan melenyapkan moral generasi penerus. Ya Rabb, lindungilah negera Indonesia ini, aamiin.
            Di atas, hanya beberapa poin dari masalah umat. Kita belum berbicara mengenai akhlak pemuda-pemudi Muslim saat ini, mereka pikir pacaran bukanlah masalah, mereka pikir merayakan tahun baru tidaklah mengapa, mereka pikir lebih keren dengan nongkrong di suatu tempat keramaian.
            Jadi, marilah diriku dan kawan-kawan, masalah umat masih banyak. Buang pikiran yang tidak perlu. Yang muda, marilah sebaiknya tidak lagi baper saat melihat pasangan halal muda foto berdua dengan senyum manis atau yang dewasa sebaiknya membimbing yang muda agar lurus jalannya.
            Jika kita tidak memulai, lalu kapan? Umat butuh penyegaran dakwah. Inilah tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan suatu harmoni yang indah dalam Islam. Mau kah kamu menjadi manusia seperti yang tercantum dalam QS Al Baqarah ayat 207 atau bersemangat kah kamu ketika mengingat janji Allah dalam QS Al Kahfi ayat 107? Semoga..
            Cukup segini dulu ya teman-teman. Kenapa gue kasih judul Kutemukan Cinta di Edinburgh? Ya, karena tulisan ini terinspirasi dari kang Abik sang novelis yang berhasil menuangkan karakter Fahri dalam novel  yang terangkat ke layar lebar. Fahri adalah seorang pecinta. Pecinta Tuhan dan pecinta sesama manusia yang menakjubkan. Juga, caranya berdakwah dalam film di Edinburgh dengan kasih. Semua itu cinta. Maka, kutemukan kehidupan yang penuh cinta di Edinburgh. Sekian. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
NB : Ini nulisnya kemarin malem tapi baru sempet gue post pagi ini hehe..

10 comments:

Reni Novita Sari said...

Hai Zalfa, salam kenal juga ya :)

btw, aku belum nonton AAC 2, tapi banyak yang bilang kalau film ini bikin baper dan sosok Fahri yang terlalu perfect :') Nonton AAC1 aja bikin air mata keluar.
Btw aku suka pembahasannya, walaupun ada beberapa pembahasan dalam 1 postingan, tapi aku bisa enjoy bacanya :)

Eri Udiyawati said...

Wa'alaikumsalam wr wb.

Sosok Fahri emang yaa benar-benar bikin cewek pada baper. Film AAC2 ini memang luar biasa banget nyedot penggemarnya. Kisahnya yang aduhai gitu bikin banjir air mata hiksss...

Dan suka gaya mereview film ini, lain dari pada yang lain hehhee :)

Qudsi Falkhi said...

Salam kenal...
Fans dari kang Abik ya, semoga bisa menemukan cinta seperti yang diidamkan 😊

Anjar Sundari said...

Kemarin saya nonton film ini bersama anak gadis saya, dan dia suka dengan karakter Fahri, memang semua remaj putri pasti suka kan yaa, hehe..

Film ini memang banyak nilai positifnya dan bagus untuk ditonton remaja supaya mereka tahu seperti apa sosok suami/istri yang ideal meskipun tidak ada manusia yang sempurna. Paling tidak remaja bisa mengidolakan sosok yang benar secara agama, bukan yang cakep wajahnya tapi kelakuannya buruk..

Semoga ummat Islam dimanapaun berada akan selalu dalam lindungan Allah, diluaskan kesabarannya dan dikalahkan musuh-musuhnya olah pertolongan Allah, aamiin.. :)

Fanny Fristhika Nila said...

Kalo filmnya no comment aja, krn aku memang ga begitu suka :D. Tp utk yg lain2nya, aku setuju mba. Duuuh kalo nemu ustad yg keras banget dakwahnya, sampe teriak2, kok ya aku mikirnya, ini ustad kenapa sih.. Bukannya ngademin, malah manasin.. Aku prnh mba, denger ustad yg diundang ceramah di mesjid rumah. Mana speakernya ngadep ke rumahku. Trs isi ceramahnya, pake menjelek2kan wanita yg anti poligami. Masih inget bgt teriakan ceramahnya, dibilang wanita yg ga setuju suaminya poligami, adalah wanita tidak berakhlak, tidak berakal. Lbh suka suaminya zina drpd nikah yg halal. WTF lah... Lgs emosi kan dengernya.. Kurasa ustad jadi2an itu.. Udh mending ibu2 yg dgr ga ngelemparin pake selop..

Ami Hamni said...

aduh zal tulisan kamu keren, berasa kamu cerita langsung sama ami
ami jadi ngebet pengen liat AAC2 >_<

Anonymous said...

filmnya bagus banget mbak :D secara... sosok fahri di film itu berasa kayak malaikat :)

Anisa Ae said...

Saya malah belum nonton filmnya >.> Jadi pingin nonton AAC2 setelah melihat reviewnya. Tapi ada juga yang mengatakan film ini terlalu maksa?

Dwi Siswanto said...

Saya paling ngga tahan mva, kalo ngliatin vidio yang teraniaya kaya di myanmar gitu,,,sadis.

Ratu Kupret said...

Tuhan menciptakan laki-laki untuk perempuan, dan sebaliknya. Bukan cowok ama cowok, cewek ama cewek. Kan gak nikmat kalo sesama gitu... Ehhh hahahahah but seriously, itu bukan pada tempatnya... menyimpang. tapi yah, di dunia mah bebas mau lakuin apa asal siap dengan resikonya nanti.. Kan udah dicptakan aturan... kalo kamu ikut aturan, ya tempatmu di surga... kalo kamu gak mau ikut aturan, tempatmu di neraka... kamu bebas milih mau ngapain... tapi tiap tindakan tetap ada resikonya.
Aku tipe orang yg menghindari konflik. Nyoba sekali untuk bilangin itu salah, malah dibilang aku sok ini-itu, oh.. oke.. ya udah.. toh itu hidup mereka.. wasalam aja dah...

Post a Comment

Don't give any spam please :)

 
;