Cinta Beda Manhaj


            Terkadang perlu untuk mengambil jeda, lalu melanjutkan semua yang telah mengalir begitu saja. tanpa rencana, strategi yang matang, apalagi serangkaian kata-kata indah bak pujangga. Aku tidak tahu harus bagaimana. Menulis adalah salah satu caraku untuk mengalirkan apa pun itu.
            Kau tidak perlu bertanya, apakah tulisan kali ini terinspirasi suatu kisah pribadi atau yeah hanya sebuah opini penulis mengkaji suatu hal. Namun, akhir-akhir ini, sesuatu yang krusial, mengenai cinta beda manhaj. Sedih? Tergantung perspektif teman-teman semua dalam memandang hal ini.
            Dunia yang kompleks, pergaulan yang masif, era yang cepat berubah, ah revolusi 4.0. belum lagi berbicara mengenai fintech yang digadang-gadang akan menjadi sektor utama dalam memberdayakan perekonomian indonesia beberapa tahun mendatang. Sikap konsumtif, perusahaan-perusahaan yang menawarkan produk canggih berbasis online, belum lagi jaringan internet yang semakin menjamur. Ya, semoga saja. siapa yang tidak bahagia ketika melihat negerinya sejahtera? Rakyatnya berkeceukupan, undang-undang yang jelas dan tidak ngawur. Oh tunggu dulu, tak perlu berbicara lebih, sana perbaiki dulu wakil-wakil rakyat yang terkadang membuat kebijakan penuh dengan humor yang memancing mahasiswa untuk turun ke jalan.
Hasil gambar untuk heart love flower tumblr
source pic : elictrical tumblr
            Ah, tapi kali ini aku tidak selera untuk membahas mengenai pergolakan politik. Serahkan pada teman-teman bem yang pandai dalam mengkaji persoalan itu. disini, pada malam yang tenang, tanpa hujan.
            Wahai, bagaimana perasaanmu apabila seseorang memiliki niat baik dan mengutarakannya dengan cara yang baik? bagaimana apabila sosok itu terlihat sempurna pada pandanganmu? Kuliah di jurusan dengan masa depan yang menjanjikan, seorang hafiz qur’an, wajah teduh menyenangkan.
            Apa reaksimu? Apa yang akan kamu lakukan?
            Well, aku yakin 100% tidak ada kata penolakan apalagi sikap mencemooh untuknya. Apabila kamu paham agama, sosok hafiz tentu memiliki nilai tambah yang besar untuk dipertimbangkan. Apalagi, jika beberapa tahun lagi ia akan lulus, hmm saat wisuda bukan kah akan ada yang mendampingimu? Mengucap selamat dengan seikat bunga indah. Menghujanimu dengan berbagai pujian karena nilaimu cumlaude. Berfoto dengan senyum lebar seperti tak ada beban yang akan dihadapi. Seolah-olah dunia tersenyum menyaksikan kebahagiaan itu. well, namun realita tidak seperti itu kawan.
            Persoalan manhaj. Ya, metode dalam beragama. Aku yakin akan ada perbedaan pendapat dari teman-teman. Kau pasti mengira, “ah, tak apa. Asalkan ia baik dan memahamimu, jalani saja.” namun, pasti ada juga, “jangan! Masih banyak lelaki yang bisa dipertimbangkan selain dia! coba, pikirkan lagi?”
            Kalut.
            Begini, sebenarnya sah-sah saja apabila dua orang yang berbeda manhaj saling mencintai untuk melaksanakan mitsaqan ghaliza. Toh, mereka sama-sama islam. Masih dalam satu kalimat tauhid yang sama. Mengesakan allah, rabb semesta alam.
            Namun, perlu digarisbawahi dan dipertimbangkan. Cinta beda manhaj tidak se-indah film layar lebar berjudul “bid’ah cinta”, percayalah, banyak perbedaan fundamental yang butuh waktu jangka panjang untuk saling menyesuaikan. Sungguh, tidak mudah dan mungkin kenyataan ini akan menyakiti kedua pihak. Mau tidak mau, fakta ini memang lah benar :)
            Ohya, apalagi jika salah satu pihak adalah anak pesantren, apalagi anak pimpinan pondok. Menjadi primadona ponpes, dengan julukan/panggilan tertentu seperti gus atau ning misalnya. Sungguh, ada batas tembok penghalang yang besar, tinggi, kokoh, dan sulit untuk diruntuhkan.
            Menilik latar belakang keluarga yang masing-masing kekeuh dalam bermanhaj, tidak ada pihak yang mau mengalah. Belum lagi, apabila itu keluarga kyai, tentu besanan dengan orang yang tidak pernah bersentuhan dengan pondok menjadi tantangan berat untuk direalisasikan.
            Iya, ada hati yang tersakiti. Murung beberapa kadar waktu, lalu entah kapan bisa bangkit kembali. Namun inilah yang terbaik. Walau kata ustadz aan dalam story instagramnya yang intinya, it’s ok to marry someone who has difference manhaj towards you. So, ya mangga aja. Tapi sohib pernah berkata, “lebih baik jangan. Banyak perbedaan mendasar. Gimana mau jalan ke surga bersama, kalau jalan di dunia aja udah ga barengan. Yang satu ngaji disana, yang satu ngaji disini.”
            Yah begitulah. Eh tapi lagi, seseorang yang mengklaim dirinya menganut suatu manhaj tertentu belum tentu social life nya well educated, but ini gabisa digeneralisasi yaa. Bisa jadi, dia memang ilmiah betul, hafal banyak hadist beserta kandungannya, namun dalam hal memanusiakan manusia itu loh :) i mean, adab dalam menasehati yang kadang terasa pedas misalnya dan gak dugo-dugo. Ada juga yang ia tidak pernah menisbatkan pada manhaj tertentu namun akhlaknya luar biasa mulia, pandai menempatkan rasa. Ah begitulah realita yang tidak sesuai dengan teori.
            Lalu, bagaimana akhir tulisan ini? Akankah aku menyatakan setuju terhadap cinta beda manhaj atau sebaliknya setelah mendalami perspektif lain dan banyak bersosialisasi dengan orang berlatar belakang berbeda? Well, biarkan waktu dari-nya yang mendewasakanku untuk menjawab semua ini :) dan kamu sendiri bagaimana? setuju atau tidak? 
Nb : monmaap gaes, ini kok jadi rada kayak buat esai yaa, padahal niatnya sok nyastra. Huh, mungkin karena ditulis di tengah deadline lomba esai. Jadi gaya bahasa gue masi kebawa. Udah yaa, maap juga mode komentor non-aktif, kalau ada tanggapan, please send it via email through azaliazalfaa@gmail.com

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »