Menjaga dalam Penjagaan Terbaik

            Adalah aku yang masih bertahan hingga saat ini. Dengan petunjuk dan rahmat-Nya, aku masih bisa membingkai prinsip ini dengan kokoh. Aku tidaklah mengenal mengenai sebuah hubungan yang tidak halal selama berseragam putih abu-abu. Sulit? Memang.
            Tapi, ini indah. Ketika dirimu sedang jatuh cinta pada seseorang. Kau asyik berdialog dengan Allah membicarakannya. Sesekali, menyelipkan doa kebaikan untuk si dia. Asyik, sekali. Namun, hanya kau dan Allah yang tahu mengenai perasaan yang membuncah. Dia yang kau kagumi pun tak tahu apa yang kau rasa.
            Di titik ini, aku bisa bangkit. Ketika pada tahun kesekian, pertahananku sedikit runtuh ketika seseorang dengan karakter yang unik menyapaku. Allah sungguh baik, Dia melindungi hatiku. Walau berat, semua harus kulakukan bukan? Aku berhasil menaklukan semua ego yang mengendap dan akhirnya mengikhlaskan semua.
            Saat memasuki tahun ketiga, saat ini.. kau harus tahu. Bahwa jatuh cinta adalah hal yang berbahaya. Sesungguhnya fitrah memang. Namun, bagiku untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan masalah indah yang terkadang rumit ini. Jalan masa depan yang penuh misteri, siap menyambutku disana.
            Karena, bukanlah suatu rahasia bila jatuh cinta pada tahun ketiga masa SMA bukanlah cinta sembarangan. Bagi beberapa orang yang berprinsip baik dan sungguh-sungguh, seseorang yang dicintainya dengan komitmen akan diperjuangkannya setelah berhasil mencicipi liku-liku bangku kuliah. Karena seseorang yang tidak mudah jatuh cinta, sekali ia jatuh cinta pada seseorang yang merupakan tipenya, cinta itu bukanlah cinta biasa.
            Well, sungguh.. Aku hanya tidak ingin mencintai orang yang salah dan dicintai orang yang salah. Langkah terbaik adalah, menjaga hatiku dalam penjagaan terbaik. Memahami makna QS Al Israa’ ayat 32. Ada hal yang amat penting selain itu, kemana kaki melangkah usai masa SMA ini?
            Aku hanya bisa menulis skenario hidupku ke depan sesuai harapanku, namun Allah lah yang akan membuat segala hal menjadi yang terbaik.
            Salah satu impian dari sekian banyak impianku adalah, membantu orang-orang untuk mewujudkan mimpi mereka. Apa yang kuinginkan? Jawabannya adalah, aku ingin menjadi seorang pengajar. Terutama, pengajar bagi mereka yang berkebutuhan khusus.
            Hal ini bermula ketika diriku bertemu dengan seorang anak yang memiliki gangguan mental. Ibunya berdagang makanan di kantin sebuah SD dan kalau tidak salah, bapaknya adalah tukang kebun dari SD tersebut. Ketika aku mengamatinya, sungguh ia anak yang hebat sebenarnya. Namun, karena keadaan yang seperti itu, si anak tidak bersekolah dan aku tidak tahu bagaimana nasib masa depannya. Semoga saja akan ada hal baik yang menunggu anak itu.
            Namun sebelum menuju ke situ, aku merencanakan satu atau dua tahun untuk hal yang lebih mendesak. Aku membutuhkan hal ini seperti ikan yang membutuhkan air. Begitu penting dan vital.
Image by tmblr
            Tolong, doakan yang terbaik untukku. Semoga pilihanku tidak salah dan bisa bermanfaat bagi orang lain.
            “Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata; “Aamiin” dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (HR Muslim)
            Maka, jangan pernah lelah berdoa. Untai terus kalimat-kalimat kebaikan untuk diri sendiri dan orang-orang terkasih. Tidak ada doa yang tidak berjawab. Bagaikan mengayuh sepeda, jika kau berhenti, sepeda itu tidak akan menyampai tujuan utama. Namun, jika sepeda itu terus dikayuh, cepat atau lambat sepeda itu akan mencapai tujuan awalnya.
            Begitu juga dengan berdoa, teruslah berdoa jika belum terkabul. Allah tahu betul kapan waktu yang tepat untuk memenuhi doa kita. Cepat atau lambat memang menjadi hak prerogatif Allah. Tapi, sebagai Muslim yang baik tentulah kita harus percaya akan dikabulkannya doa tersebut.
            Jika dirimu menginginkan doa tersebut terkabul sekaligus didoakan Malaikat, doakan juga saudara-saudarimu tanpa sepengetahuan mereka. Doakan ayah ibu agar diampuni dosa-dosa mereka dan masuk syurga tanpa hisab. Doakan sahabat-sahabatmu agar kelak bisa bertemu kembali dalam syurga. Juga, jangan lupa selipkan untaian doa untuk mereka kaum fakir miskin yang terkadang tidak terlihat pada kebanyakan manusia.
            Jangan lupa juga berdoa untuk hatimu. Ia mudah sekali terbolak-balik, moga Allah selalu meneguhkan hati kita di dalam agama-Nya, menjaga agar prinsip-prinsip kebaikan yang selama ini kita pegang erat akan bertahan hingga akhir hayat, aamiin. Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘alaa diinik.

          

Ingin Rehat Dalam Dekapan-Nya

Pic by tumblr
            Every single person certainly feel bored about something. Pretend to show if everything goes well but indeed, he/she hide away something that very bad to feel. Yeah, gue tulis tulisan ini ketika rintik hujan menyapa. Sama kayak perasaan gue, hati baru gerimis.
            Pernah nggak sih lo merasa jemu akan sesuatu? Kayak kalau disuruh minum yogurt tiap hari pasti eneg kan. Emang sih yogurt itu enak dan bermanfaat tapi ada titik jenuhnya juga kan? Nah, it’s a bad or good news gue merasa bimbang, ragu, dan tentu saja bosan.
            It’s all about school life. Kenapa gue bisa bilang bosen? Semenjak diberlakukan lima hari kerja, dampak psikologi siswa masih banyak yang belum siap. Termasuk gue.. kalau ada tugas seabrek, kapan ngerjain. Gue sampai rumah sekitar jam 4, ikut kegiatan di deket rumah sampai jam setengah enam, lalu sholat, makan, sholat isa’, bantuin ortu.. dan paling nggak baru bisa sampai meja belajar sekitar jam 8. Itu pun teklak-tekluk karena nguantuk.. Ya Allah, siangnya nggak tidur. Otak dijejali pelajaran, apalagi siswa tingkat akhir itu banyak cobaannya.. guru sering nakut-nakutin, katanya kalau nggak keterima perguruan tinggi katanya mau jadi apa besok. Hmmz, sungguh terlalu.
            Apalagi kalau ada kerja kelompok yang suruh bikin video. Harus butuh kekompakan, makan waktu lama, proses editing yang nggak gampang, bikin lembur, terkadang sakit juga.. Inilah kehidupan anak SMA zaman now.
            Pada titik ini gue berpikir kala itu. Di atas kasur yang setia menemani, gue merenung.. ternyata udah 12 tahun gue belajar ilmu dunia. Belum diitung pas TK.. Brati udah sekitar 14 tahun. Gue belajar matematika, IPS, IPA, bahasa.. semua masuk, tapi apa yang membekas?
            Hmm, semua sebatas teori. Hanya hafal betul saat akan diadakan ujian. Selebihnya lupaa.. inilah buruknya sistem pendidikan yang hanya teori mulu, prakteknya jarang. Yang membekas di gue pun ga banyak. Astaghfirullah, jadi selama 14 tahun itu gue ngapain aja woi.. .-.
            Ditilik lagi, kata Allah “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” QS Ad-Dzariyat 56. Wondering in ourself, apakah selama ini cara beribadah udah bener? Mana aja yang diterima. Umur udah 17 tahun, sementara umur seseorang ga ada yang tahu. Ya Allah, rasanya belum siap aja kalau tiba-tiba harus balik ke kampung akhirat.
            Again, banyak ustadz memperingatkan kalau kehidupan dunia itu hanyalah senda gurau belaka. Cuma sebatas mampir ngombe. Nggak lama dong ya. Tapi selama ini apa, gue masih memikirkan besok gimana, panjang angan-angan, ingin ini itu..astaghfirullah..
            Terbetiklah pertanyaan dalam hati “Lo mau lanjut kemana setelah SMA ini?”
            Pasti kalau kebanyak temen-temen gue jawabnya ke PTN, paling banyak ke UNS. Dan sekarang temen-temen gue udah mulai ikut daftar ke PTS macam Universitas Telkom, ada juga yang ikut nyoba tes beasiswa OSC dari metroTV. Ada juga yang niat banget ke Aussie dan Inggris. Temen-temen gue pasti juga sama kayak gue antara bingung, tertekan, berusaha mendapat univ impian.
            Lalu, gue?
            Mau tahu nggak?
            Hah? Apa? Pengen? Pengen banget apa pengen ajaaa??
            Iya, yaudah gue kasih tahu. Nggak usah sampai teriak-teriak bilang pengen sambil mukulin laptop. Kasian laptopnya, ntar hancur berkeping-keping kayak hati para jomblo ngenes.. Gimana ngga hancur, orang berharapnya ke manusia terus kok, bukan ke Allah, eaaaa
            Honestly, gue juga bimbang mau lanjut pendidikan supaya dapet gelar diploma, S.Pd, Lc, atau ikut sekolah di bidang tourism. Lo masih inget kan, tante gue yang pernah nawarin gue kalau lulus SMA suruh sekolah pramugari dan beliau punya kenalan orang maskapai. Apalagi sekarang kan ada maskapai penerbangan yang memperbolehkan pramugarinya berhijab tapi ya nggak syar’i banget. Kan pramugari pakaiannya elegan, keliatan keren, jago bahasa Inggris.. tapi apa ya berkah kalau gitu? Maksudnya, bisa masuk kerja karena bantuan orang dalam. Ini hukum fiqhnya gue juga gatau. Tapi, jika seperti itu, nggak fair juga yaa..
            Sampai suatu hari, gue dapet pencerahan. Oke, I admit kalau gue lelah cuma disuruh belajar ilmu dunia terus, dikasih tugas seabrek yang panjangnya bisa beberapa folio tapi cuma dapet ttd guru dan angka dengan tinta merah di atas kertas. Mohon bersabar ya myself dan temen-temen seangkatan, emang nasib siswa tingkat akhir mah. Yaudah jalanin aja bareng Allah.
            Gue baca suatu tulisan yang membahas luar biasanya berkah Al Qur’an. Juga, disebutkan kalau orang-orang yang bertaqwa akan mendapat rezeki dari arah yang nggak disangka-sangka, pokoknya Allah sendiri yang akan mengurus hidup orang-orang yang bertaqwa.
            Nah, berawal dari situ gue tanya temen-temen gue yang pernah mondok. Gimana asam manisnya kehidupan pondok. Apa enak tinggal di pondok. Gimana kehidupan di pondok. It’s all about pondok.
            Hah? Yang bener aja Zal, lo mau lanjut ke pondok?
            Hmm, untuk saat ini dengan mantap gue jawab.. IN SHAA ALLAH, GUE AKAN REHAT SEJENAK DALAM DEKAPAN-NYA!
            Maksud lo Zal?
            Yeah. Gue udah minta izin sama tuan dan nyonya besar kalau gue minta waktu satu atau dua tahun buat mencicipi sejuknya deen Islam.
            Whatever what do u think, tapi jujur guys. Gue lelah udah 14 tahun belajar ilmu dunia. Terus kapan gue akan bersungguh-sungguh belajar agama gue? Hal yang paling penting. Pedoman dalam kehidupan gue. Yang bisa nuntun jalan keselamatan untuk ke kampung halaman yang abadi. Gue rindu rasa ketenangan hakiki dalam jiwa. Hati sering merasa gersang, kosong, galau, rapuh, ini karena gue jauh dari-Nya. Gue yang masih labil perlu pemantapan dan mengenal panutan zaman now untuk keselamatan agama gue.
            Pertamanya gue perang batin. Kalau gue lanjut S1 sambil mondok pasti gagal fokus. Gue yang sibuk sama kuliah, pasti ada kegiatan kampus, skripsi, kuis, dan seabrek kesibukan lainnya akan menyita banyak waktu gue dan mungkin akan melalaikan gue dalam belajar agama. Belum lagi kalau udah lulus kuliah, inshaaAllah cari kerja dan kalau diterima.. nah, nanti bakal disibukkan sama urusan kerja. Pas kerja apa yang dicari? Duit kan? Sibuk mikirin gimana caranya biar dapet duit banyak buat plesir. Terus apa? Nikah kan? Pas nikah pasti udah disibukin sama banyak hal. Ngurus suami, urusan rumah tangga, pastinya tanggung jawab udah berat. Belum lagi kalau udah punya anak. I have no quality time for study my Islam. Nggak terasa udah tua. Buat ngapalin sesuatu susah. Dan ternyata ga punya waktu lagi buat hafalin Al Qur’an. Huaa nyesek batss.. Amal dikit, dosa banyak. Tapi kematian sudah ada di ambang mata. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah... jauhkan kami dari hal buruk seperti itu Ya Allah, aamiin..
            Jadi, sebagai wujud kesungguhan gue, gue memutuskan setelah lulus SMA, in shaa Allah akan rehat sejenak dalam dekapan-Nya. Merasakan manisnya ilmu agama dan bersama teman-teman shalihah yang mengingatkan kehidupan akhir. I do believe kata Imam Hasan al Bashri kalau dunia itu ibarat bayangan. Pas kita ngejar dunia, kita bakal diperbudak. But, kalau kita memalingkan muka dari gemerlap dunia, dunia lah yang akan mengikuti kita. Tentang besoknya mau jadi apa, itu udah gue serahin betul ke Allah. Logikanya , Allah gabakal ngecewain hamba-Nya yang ingin mendekat pada-Nya kan? Yaudah bismillah aja, niat gue udah mantep betul.
            Orang-orang yang udah paham betul masalah agama, hatinya selalu diliputi ketenangan. Apa lagi sih yang diinginkan. Bagi mereka yang masih jomblo lillah, mereka bisa berdakwah tanpa harus terbebani masalah keluarga karena belum nikah, waktunya masih banyak, mereka merasa bersyukur bisa menjadi pemuda yang bermanfaat.
Bagi mereka yang sudah menyempurnakan separuh agama, apalagi yang kurang? Ketika sepertiga malam, dengan penuh cinta saling membangunkan. Senyum suami yang teduh menjadi pengobat lara. Membangun cinta suci, saling menasehati dalam kebenaran, bersama-sama melalui ujian dari-Nya dengan kekuatan iman. Lalu, bergandengan tangan sehidup sesyurga.
Mereka yang beriman tidak peduli udah punya mobil belum, rumahnya kayak apa.. gue pribadi sih, setelah membaca Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye sadar betul kalau memilih pasangan jangan susah-susah. Cukup dia yang sholeh, bertanggung jawab, pekerja keras, dan setia. Dari kesadaran gue terdalam, it’s okay kalau gue dan si dia (yang namanya masih dirahasiain Allah tapi namanya udah tertulis di Lauhul Mahfudz), besok lusa gapapa kalau kita berangkat kajian naik sepeda ontel asalkan kamu ridho, tak apa kalau rumah masih ngontrak asalkan jangan pernah ada riba diantara kita, tak apa makan seadanya asalkan rezeki yang kau cari halal karena aku pun ga pinter masak :3 haha. Dan kamu pun harus berjanji bisa mendekatkanku pada Allah. Tak apa jika kau memintaku untuk menghapus instagram atau pun semua media sosial yang menurutmu hanya akan membuang-buang waktu. Asalkan pula kau harus berjanji padaku untuk membuatku lebih dekat pada-Nya, juga mewujudkan hal yang sangat kuinginkan yaitu lantunkanlah hafalan Surah Ar Rahman mu dengan suara yang merdu. Ajarkan aku suatu kitab karya ulama terkenal yang telah kau dalami.
Eh tapi serius. Coba lo liat terjemahan nasheednya Ahmad Bukhatir yang judulnya zaujati, kaum hawa siap-siap meleleh, ceritanya suami yang super duper baik deh ke istrinya.. yea, kalau tampangnya pas-pasan tapi ilmu agama dan akhlaknya cemerlang, mungkin gue akan jatuh cinta setiap hari. Gimana nggak, kalau gue ndablek tapi dia sabarnya minta ampun.. Kan wanita tercipta dari tulang rusuk pria, makanya bengkok. Jadi, harus bener-bener sabar ya kalau sama perempuan.. inilah kenapa gue nge-fans sama sosok pria yang paling berhati lembut di dunia, gue pun jatuh cinta pas baca kisahnya. Gimana nggak ketika sang istri marah lalu dipanggilnya untuk mendekat terus bilang “Humaira, redalah rasa amarahku setelah memelukmu” Uluuh, melting eui. Siapa dia? Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Laah topik awal tadi apa yak..hehe biarin kan masih nyambung. Jadi gitu deh. Kan kalau kita ingin suami sholih atau hafidz Qur’an kita juga harus memantaskan diri kan? Juga, kalau kita ingin memiliki anak yang sholih, berakhlak mulia, cerdas, dan hafidz/hafidzah Qur’an kita sebagai calon orangtua juga harus bisa seperti itu dulu kan? Karena kesholehan itu bisa menurun ke anak. Jadi usahakan ya, kita memperbaiki diri selalu.
Alhamdulillah juga, hidayah bisa dateng. Terima kasih gue haturkan ke Allah, yang paling ngertiin gue, paling baik, siap nolong kapan pun. Juga mbah Kakung yang setiap Subuh adzan di mushola dan menjadi imam yang menginspirasi gue untuk selalu mencintai Al Qur’an. Sungguh, gue bener-bener sayang sama beliau! Beliau orang tersabar dan orang terbaik yang pernah gue temui. Pas kecil selalu membela gue ketika kena marah ortu, sering ngasih uang jajan, haha.. Semoga rahmat Allah selalu tercurah pada mbah kakung, aamiin..

Fiuh, lega gue. Siswi semester akhir mengakhiri tulisannya. Tolong ya, doakan yang terbaik buat gue, kan doanya juga akan balik ke kalian. Jangan kangen, karena di tempat besok setelah lulus SMA gue ga diperkenankan bawa HP, laptop, atau alat-alat komunikasi lainnya. Semoga niat ini terus terjaga dan bisa terealisasi, aamiin. Salam hangat untuk kalian semua! Jangan lupa sholat lima waktu dan kirim sholawat ke Rasulullah Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam. Syukron wa jazakumullahu khoir..

Ketika Hati Berbicara

            “Gimana sih Zal, apa kurangnya si doi. Tampan, calon tentara, macho. Yakin, gamau?”
            What thee.. apa reaksi lo ketika ditodong pertanyaan macem itu? Ketika dihadapkan dua pilihan, atas dasar apa lo memilih? Gue yang masih remaja juga bingung kalau ditembak pertanyaan macam itu. Tapi, ya emang gitu ding.. semua ini berawal saat..
            Di pagi hari yang cerah di Salatiga, ketika gue ingin pergi ke Cimory dan Umbul Tirtomulyo, saat itu gue menikmati perjalanan kesana. Pemandangan nan elok, membuat diri teringat atas asma-Nya yang mulia. Seketika itu lamunan gue buyar saat nada dering whatsapp menjerit, minta diperhatiin eh maksudnya minta dibaca.
            Di notif, ada nomor nggak dikenal yang mengirim whatsapp ke gue. Siapa? Who? Apakah si Zayn Malik yang ingin menanyakan keseriusan gue? Atau si Jack Dawson yang tiba-tiba kembali ke abad 20 dan ingin melakukan pencarian Rose dengan bantuan gue? Apaan dah, ngaco bener. Gue agak was-was saat itu. Maklum, gue nggak mau kena penipuan yang katanya dapet uang 1 M, mobil, rumah, hmm katanya sih bisa dihipnotis lewat sosmed mau pun kalimat.
            Karena gue juga penasaran, akhirnya gue buka aplikasi whatsapp. Disitu ada tulisan Arab yang berbunyi assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Niat bener dah ngetiknya.. gue nggak langsung bales, tapi gue klik profilnya, disitu muncul kalau gue dan dia ada di satu grup yang sama.
            Hmm, kayaknya temen lama gue nih. Pikir gue saat itu. Akhirnya gue bales pesan dia.
            Setelah terkirim, gue klik lagi nomornya (belum gue save), tertulis sebuah nama disana. Gue langsung SHOCK, cemas, bergetar, ingin berteriak tapi ada keluarga. Gue cuma bisa mingkem sambil menahan gejolak dalam diri.
            Do you know who is he/she? Jiaaa, dia adalah temen lama gue. You must know if he is a man. Yeah, a man. Gue langsung gelagapan, karena nggak biasa chatting sama cowok kecuali untuk hal-hal yang penting aja (re : ikhwan di Rohis yang tanya tentang organisasi, cowok yang tanya tentang hal bermanfaat), selebihnya kalau cuma guyon atau sekadar nanyain udah makan belum, udah tahajjud belum, KAGAK PERNAH. Kalau ga, sama temen gue yang cowok tapi gaterlalu cowok, eh gimana yaa.. pokoknya gitu lah.. Atau kalau ada yang chat duluan, ya gue bales selama ada suatu keperluan. Tapi, kalau gue dulu yang ngirim chat ke cowok itu bisa dibilang hal yang langka. Kalau nggak mepet banget dan urgent, ga bakal gue kirim chat duluan. My reason is, karena saat laki-laki dan perempuan chatting berduaan, itu bisa disebut khalwat. Ini khalwatnya zina hati, zina tangan kalau kebablasan. Naudzubillahi min dzalik..
            But, si X ini.. eh tunggu, ga enak kalau disebut X. Ya sebut aja, temen gue tadi namanya Melvin. Nah, Melvin ini temen gue di sekolah sebelumnya. Dia pinter renang dan pinter gambar, jago olahraga juga. Sempet dibilang mirip Irwansyah sama temen gue yang ngasih pertanyaan kayak di paragraf pertama tadi.
            Pertamanya sih chatting basa-basi like nanya kabar, sekarang ikut organisasi apa, sekolah dimana, jurusan apa, etc. Semakin ke sana gue agak risih. Gue pengen bilang kalau gue gamau chatting sama cowok yang ga penting kayak gitu. Tapi, gue teringat perkataan seorang ustadz, kalau kita berhijrah dan ingin menyampaikan perubahan sikap, katakanlah dengan kata-kata yang baik lagi tidak menyinggung.
            Nah, gue bales chat dia lama. Kok ya dia nggak marah. Akhirnya gue pakai nama Rohis. Pas gue tanya apakah dia tahu gimana kalau seorang anggota Rohis bersikap antara laki-laki dan perempuan. Dia bilang, tahu. Terus gue berterus terang kalau gue seorang anggota Rohis dan mau ngasih batesan, ga chat sesuka hati. Pertamanya Melvin kurang bisa nerima sikap gue. Tapi, karena kengeyelan gue sebagai debater smaga, eaak haha, akhirnya dia berhenti nge-chat gue. *menghela nafas lega. Ya walau pun, mungkin si Melvin mandang gue nggak asyik, beda, kaku, dan mungkin dia juga kecewa, gue tetap kekeuh memegang prinsip ini.
            Nah temen gue yang satunya, sebut aja Nathan, dulu juga satu sekolah sama gue dan Melvin. Satu kelas malah. Si Nathan ini juga lumayan deket lah sama Melvin. Mungkin, setelah Melvin secara tersirat gue larang buat chatting yang ga penting, dia curhat sama Nathan. Ternyata cowok bisa curcol juga ya ke temannya? Hh, fakta baru yang menggelitik.
            Nathan langsung ngirim pesan ke gue, (re : paragraf pertama)
            Hmm, yes, I know very well, cowok kayak Melvin mungkin banyak yang antri. Dia jago karate, punya obsesi besar dari dulu buat masuk TNI-AL, ada piagam bergengsi yang bisa bikin dia masuk TNI secara gampang, masa depan udah keliatan. Karena pengalaman temen gue, dia jago badminton dan dapet piagam nasional, dengan mudah dia masuk TNI. Pun, kayak Melvin. Posturnya juga udah masuk syarat buat masuk TNI.
            Tapi ya tapi.. hati wanita gampang goyah. Furthermore, gue jadi agak kepikiran pesan dari Nathan saat itu. Tapi tapi.. ah, kalau hati udah banyak tapinya pasti ya nggak merasa cocok lah yaa.. emang, dulu pas satu sekolah, gue sama Melvin sering dicomblangin, akhirnya malah sering berkabar.. Tapi, itu kan hanya sebatas teman, no more.
            Gue pun membalas pesan Nathan yang intinya kalau gue nggak mau pacaran sebelum nikah. Si Nathan bilang “Hmm, kalau Melvin cuma sebatas suka masa gaboleh?” Gue jawab “Ya, bukannya gitu. Tapi kalau sampai lebih dari itu, misalkan pacaran, terlarang lah Nat. Pokoknya inshaaAllah gue akan jadi single sampai halal.” Nathan malah jawab yang intinya kalau gue berlebihan dan tulisannya ketus gitu. Hmm, astaghfirullah..
            But guys, the story wasn’t reach the end. Nathan juga mengirim gue pesan. “Zal, Melvin ngajak lo buat ta’aruf, dan dia bilang dia gaberani lagi nge-chat lo!” BOOM! Ini apaan, huaa ngaco bener. Gue tanggepin agak marah, karena mungkin bagi mereka yang masih awam dalam agama, malah menganggap ta’aruf sebagai ajang pacaran islami. Nggak deh! Gue nggak silau akan rayuan ini.
            Nathan makin jadi kompor. Gue bisa kasih argumen kalau suka gue ya jangan deketin gue, tapi langsung bilang ke ayah apa maksudnya, ga lupa saat itu gue bilang *kalau sudah waktunya*. Gue pikir orang kayak Melvin, masih belum bisa dewasa. Emang dengan mudahnya setelah putus dari cewek lain, ganti ke yang lain. Cinta bukanlah hal murahan yang dengan seenaknya bisa dipermainkan! Jangan cuma modal tampang yang cakep aja, karena biasanya perempuan baik-baik, lihatnya dari sisi akhlak dan agamanya. Bagi gue, cinta adalah hal yang sangat suci dan gue jaga sepenuh hati selama ini. It’s OK, kalau dia ga berhasil deketin gue dan dengan gampangnya pindah ke lain perempuan yang mungkin si cewek pengen dapet suami tentara.
            Di sekolah, temen sebangku gue yang bernama Aza, iya namanya sama kayak gue.. lambat laun tahu juga masalah Melvin ini. Yeah, you knowlah about girls talk. Yang mumet siapa yang excited siapa. Temen gue malah girang.. “Serius lo Zal? Ya udah terima aja! Siapa coba yang gamau dapet suami tentara? Gagah, macho. Iiih lo gimana sih?!” dia ketawa-tiwi kayak gapunya beban dan masalah hidup.
            Gue ingin nimpuk pakai kamus double rasanya. Enak aja. Gue dari dulu inginnya dapet suami yang berprofesi guru. Murid yang nakal aja dididik jadi baik, apalagi mendidik gue menjadi  sholihah kelak hingga mencapai syurga bersama. Uluuuh.. Hmm.. Tapi, ya apa pun profesinya selama itu halal, berada di jalan yang diridhoi-Nya, dan bermanfaat bagi sesama, I’ll accept him.
            Gue masang muka cemberut “Emang lo pikir punya suami tentara enak apa? Lo pernah denger kdrt yang pelakunya tentara, perselingkuhan, tegas, galak, sering ditinggalin di rumah karena dia harus tugas. Eww..”
            Aza yang udah sama gue 2 tahun, mungkin udah kenal betul sifat gue, langsung nyeletuk “Hmm, kan malah romantis. Ketika lo ditinggal tugas, lo dan dia saling merindu. Terus pas pulang lo sambut dengan senyum manis dan saat-saat itu, dia habiskan waktu terbaiknya dan lo itu cocoknya emang sama cowok yang tegas Zal! Lo kan lembut, pendiem, alus, ya harusnya lo dapet suami yang bisa melengkapi lo. Yaitu cowok yang typenya disiplin, tegas.. pokoknya yang sikapnya berlawanan lah biar bisa saling melengkapi.”
            “Tapi Za, kriteriaku bukan cowok tentara gitu.. tapi lebih condong ke guru. Juga, yang hatinya lembut dan kalem. ”
            “Zalfaa, coba lo pikir baik-baik deh”
            Tanpa gue duga, Aza malah survei ke temen-temen cewek di kelas. Dia tanya “Lebih milih suami guru apa tentara?”
            Dan survei membuktikan... hanya 2 dari 16 cewek yang memilih guru sebagai pasangan hidup. Hiks, sabar yaak para jomblowan pahlawan tanpa tanda jasa.. Jadi 14 temen gue dengan suara kompak dan pasti ngasih jawaban “ya tentara lah!”
            Sampai saat ini pun, entah kenapa hati masih merindu sosok yang berhati lembut. Ya, emang gue setuju sama Aza.. kalau dipikir-pikir, harusnya suami gue orangnya tegas dan humoris. Gue yang nggak bisa galak beneran, kalau galak malah diketawain dan gue jadi ikut senyum dan gajadi marah pfft, gue yang orangnya kaku dengan orang asing.. Tapi, kan sosok itu ya ga harus tentara dan hati kan nggak bisa dipaksa. Kalau nggak sreg ya gimana lagi.

            Patokan masih.  ILMU AGAMA DAN AKHLAKNYA. Kalau tau dalil agama, hadist apal banyak, Al Qur’an udah hafal banyak juz tapi masih suka godain akhwat walau udah nikah, beramah tamah sama temen-temen kajian eeh tapi kasarnya sama istri, memperlakukan istri kayak pembantu, dan suka melukai hati istri. Padahal dia hafal betul hadist yang intinya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarga. Tapi, hanya sebatas TEORI, praktiknya NOL. Maka, AKHLAK disini sangat jadi pertimbangan gue buat milih suami. Ga ada dalam kamus gue yang harus ganteng nan tajir.
            So, buat kalian yang berhijrah dan ga sengaja ketemu temen pas kalian masih masa jahiliyah.. senyumin aja.. kasih pengertian baik-baik lagi tidak menyinggung kalau lo yang dulu beda sama lo yang sekarang. Jauhi rayuan cinta semu mau seganteng, semacho apa pun dia kalau ilmu agamanya NOL BESAR, udah di blacklist ajaa.. sekian dari gue yang udah move on dari masa lampau. Keep hamasah, keep istiqomah with kindly friends.. Baarakallahu fiikum.. 

JANGANLAH MEMANDANGNYA BERBEDA

            Dari jauh aku selalu memerhatikannya. Di setiap langkahnya, kucoba untuk membantunya dalam meraih sesuatu. Ketika ia terjatuh dan pedih, aku siap untuk menjadi orang pertama yang akan memeluknya. Memberikan kehangatan yang sulit untuk ia dapatkan.
            Tak usah bersedih apalagi takut. Rasakanlah kehadiranku yang penuh dengan kasih. Di setiap langkahnya, ada aku yang siap menggandeng tangannya. Menjadi penumbuh akar-akar kehidupan yang hampir saja layu karena redupnya semangat hidup.
            Tak lupa, mari sertakan Allah dalam cerita ini. Dengan-Nya, aku akan lebih hebat saat menjadi penyemangat kala ia rapuh. Bersama-Nya, ia akan menemukan dunia indah penuh warna yang belum pernah ia jamah. Bersama-Nya pula, akan lebih tegar dan tabah ketika aku membimbingnya dalam kebaikan. Laa haula wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyyil’adzim...
Image by tmblr
Kekurangan fisik telah menjadikannya seseorang yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Apakah hanya karena ia seseorang yang berkebutuhan khusus lantas kita dapat berbuat semaunya? Janganlah sekali-kali meredupkan cahaya mereka.. Mereka juga manusia yang butuh kasih sayang dan perhatian.
            Juga untuk orang-orang terdekatnya, tolong mengertilah.. ia butuh perhatian yang lebih dan khusus darimu. Seharusnya kau lah orang pertama yang menjadi sumber kebahagiaannya. Seharusnya kau lah yang pertama kali tersenyum bangga ketika ia dapat melakukan hal-hal yang baru. Bukankah ia darah dagingmu juga?
            Disini aku melihatnya melangkah tertatih. Dengan bola matanya yang sudah tidak berfungsi dan kelainan tulang di kaki kirinya, ia masih melukiskan harapan-harapannya di dalam ruangan kecil itu. Namun sayang, tak ada yang mau peduli. Sekecil apa pun harapan itu, hargailah dan bantulah hingga ia bisa mencapainya.
            Sebagai seorang pengajar, hatiku terenyuh melihat pemandangan di depanku. Nuraniku membentak agar aku tidak hanya terpaku merenungi nasib bocah yang bermata sendu itu. Tunggu, dia hampir jatuh karena terpeleset. Aku segera berlari dan menangkapnya.
            Ia hanya menyunggingkan senyuman. Aku bisa merasakan kelembutan hatinya dan rasa berterimakasih padaku.
            “Terimakasih Kak, sudah menolongku. Biasanya sih kalau jatuh udah biasa. Nggak ada yang nolong. Walau pun aku nggak pernah lihat Kakak, perlu Kakak tahu.. aku sangat berterimakasih pada Allah karena telah mengirim orang baik dalam kehidupan.”

            Air mataku meleleh mendengarnya. Asal kamu tahu Dik, aku tidak bisa disini untuk menjagamu secara terus-menerus. Orangtuamu lah yang meminta tolong padaku untuk mengajarimu sesuatu. Yang membuatku perih adalah mengapa selama dua bulan disini, aku bisa melihat bahwa orangtuamu lebih memilih memercayakan seseorang untuk mengurusmu daripada mereka mengurus sendiri?
 
F L A S H B A C K

F L A S H B A C K

Melihat, menyapa masa lalu, kutersenyum
Di acara itu, semua sibuk menyiapkan
Apalagi aku yang ricuh karena tidak siap menjadi MC hari itu
Ketika aku bertanya “Bagaimana?”
Seseorang hanya menggeleng dan tersenyum.
Gemuruh dalam jiwa
Mengusik damainya kalbu
Dalam diam, mulutku berbisik sesuatu
Kau dengar?
Senyumku dapat menerjemahkan semua pertanyaanmu
Sayang, kau memang tidak pandai membaca suasana
Seorang aku yang gugup kala itu,
masih sama gugupnya
Ketika hari ini
Jam ini
Menit ini
Detik ini
Melihat foto kegiatan saat itu
Sudahlah, biarlah aku latihan dulu
Jadi esok lusa, bisa lebih siap menjadi MC
Juga, biarlah kau belajar
Belajar memahami makna-makna tersirat dalam hidup

Pengalaman Menggunakan Sebuah Cadar

            Malam terasa sunyi. Detik demi detik mengisahkan bahagia dan luka. Silih berganti. Tak terlambat sedikit pun. Dan ternyata diriku sedang dilanda flu yang butuh amunisi banyak tissue untuk malam ini.
            Hadeh, apaan sih wkk.. Gaje banget. Nah, pada kesempatan kali ini gue akan bahas tentang cadar. Iya cadar. Salah satu atribut wanita Muslimah yang dipakai pas keluar rumah. Langsung aja yuk..
Pic by duniajilbab
            Kalian udah tau kan, apa itu cadar? Yap betul! Kayak semacem kain yang menutupi wajah Muslimah untuk menghindari fitnah. Tapi, apakah lo merasa asing dengan cadar? Pertanyaan ini khusus Muslim. Sekali lagi, apakah lo merasa asing dengan cadar?
            Kalau enggak, ya alhamdulillah berarti hati kalian udah melek tentang syariat Islam. Bagi yang merasa asing, maaf sebelumnya, coba tanyakan ke hati kalian, sejauh mana ilmu-ilmu syari’at yang telah dipelajari? Belajar agama dari SD-sekarang, dengan cadar aja masih merasa asing?
            Well, to be honestly, sebelum gue berhijrah gue juga sama kok kayak kalian yang masih menganggap cadar itu sebagai sesuatu yang aneh. Bahkan sesuatu yang ekstrim, berlebihan, dan sesuai dengan isu, pasti disangkutpautkan dengan terorisme. Hhh, masa jahiliyah yang penuh kebodohan memang.
            Saat itu gue berpikir, “Ah, pakai hijab yang biasa aja. Yang penting kan rambutnya ga keliatan!” itu salah satu pemikiran gue yang salah masa lalu. Yang masih pakai jins, semangat belajar tutorial hijab yang jarumnya njlimet banyak amat dah.. semakin ke sini, alhamdulillah Allah beri pemahaman kalau itu semua salah.
            Maka, saran buat saudariku Muslimah, pensiunkanlah celana jins kalian dan gantilah dengan rok atau gamis. Karena memakai celana bagi wanita merupakan hal yang tidak baik. Hal tersebut tasyabbuh (menyerupai) kaum laki-laki, yang emang mereka khasnya pakai celana. Tapi, kalau pas jam OR yang mengharuskan pakai training, ya gimana lagi.. gue dan elo masih sekolah, dan harus ngikut peraturan tapi selain jam OR, usahakanlah untuk tidak memakai celana ya ukhti fillah.
            Nah back to cadar. Sekarang saat gue lihat akhwat yang bercadar rasanya adem. Bahkan menginspirasi. Gue jadi pengen kayak mereka. Bisa istiqomah menggunakan cadar.
            Wait Zal, apakah lo udah bercadar?
            Well yeah, pertanyaan yang gue dapet dari beberapa temen setelah gue buat story di whatsapp dengan sosok dua wanita bercadar. Siapakah mereka? Jadi gini ceritanya . . .
            Gue punya temen dari masa SMP namanya Taris. Alhamdulillah, sampai sekarang silaturahim masih terus berjalan. Gue kalau main sama mereka. Iya, mereka. Jadi, sahabat-sahabat gue dari SMP yang masih lengket sampai sekarang ada 4 orang, namanya Yasinta, Taris, Shinta, sama Fatin. Mereka ROHIS semua, jadi bisa mengingatkan deh kalau futur.
            Pas mantai, nge-mall, atau nonton, pasti ya sama empat manusia itu. Pas ribet dan rame chat di grup bahas barang-barang apa aja yang bakal di bawa pas mau main ke Jogja sampai ribet tentang naik apa kesana, sampai ada 100 lebih chat, ya sama mereka. Ah, meski pun kita beda sekolah, hati kita teteup barengan kok, inshaallah. Merupakan kenikmatan Allah, gue masih bisa sama mereka sampai sekarang.
            Kami semua berhijab dan yang bercadar saat itu baru Taris. Kami semua kaget dan mengapresiasi langkah Taris buat bercadar. Gue saat itu tanya, apa orangtuanya boleh kalau dia bercadar? Jawabannya nggak, dia pakainya diem-diem. Mungkin pas di jalan, di bus, atau di mana aja. Mashaallah, perjuangannya joss lah..
            Dari situ, entah kenapa gue pengen nyoba aja gimana sih rasanya bercadar di tempat umum? Merasa terasingkan dari orang-orang yang tampil necis nan klimis? Tanpa sepengetahuan orangtua, gue pun beli cadar. Pengennya warna hitam karena pasti kan bakal cocok digabungin sama kerudung warna apa aja, eeh adanya biru dongker. Yaudah gapapa dah.
            Gue pun akhirnya membeli dua cadar tali. Oiya cadar itu modelnya macem-macem lho guys. Yang cadar tali, kayak yang gue beli itu nanti alis sama dahi masih kelihatan. Ada juga cadar yang kayak pendekar, jadi ditali ke belakang gitu dan yang keliatan cuma matanya aja.
            Saat bincang-bincang santai sama ortu gue nyeletuk, apa boleh kalau seumpama gue pakai cadar? Ini baru seumpama. Tapi respon beliau berdua, nggak mengizinkan dan terlihat rada kaget gitu. Ibu gue bilang, kalau gue boleh pakai hijab syar’i tapi kalau cadar NO!
            Aiih.. gue yang berjiwa muda dan pasti ada rasa memberontak, saat itu mikir kenceng gimana caranya bisa pakai cadar di suatu acara. Kesampaian juga akhirnya, ketika di rumah ga ada orang dan gue harus belanja keperluan.. gue manfaatkan kesempatan ini buat pakai cadar. Dari rumah gue pakailah cadar itu dan sesampainya di pusat perbelanjaan, gue rada minder gitu. karena for the first time in, gue pakai cadar, sendirian pula, kayak jomblo gitu.. eeh, emang gue jomblo. Asal jofisa gapapa dah! Gue sendiri dan gue strong karena ada Allah, eaak..
            Saat pulang, sebelum nyalain motor gue ganti cadar dengan masker. Aman dah..
            Yang tentang story di whatsapp itu, adalah gue dan Taris . . .
            Jadi, gue dapet info dari instagram kalau hari Kamis, 21 September 2017 ada kajian di daerah Pabelan, Kartasura. Pengisinya bagus pula, yaitu ustadz dr. Raehanul Bahraen. Nah, gue screenshoot tuh gambar, lalu gue bagiin ke grup yang membernya gue dan empat manusia tadi. Alhasil, yang berangkat gue dan Taris. Maybe, the others had their own event.
            Paginya gue perang batin. Cadar nggak. Cadar nggak. Cadar nggak. Kalau cadar gimana caranya supaya ortu gatau dan kalau nggak, gue rada malu kalau papasan sama ikhwan non mahram. Qodarullah, hari itu mudah bangeeet. Ayah, ibu, dan adik gue saat itu di meja makan buat sarapan. Gue pamit dan minta uang saku hehe.. Nah, masih asyik ngobrol kan, saat itu juga gue pakai cadar di kamar, langsung pakai jaket dan helm. Terus langsung bilang salam tanpa ke ruang makan lagi deh. HAHAHA, alhamdulillah gue bisa pakai cadar dari rumah.
            Gue dan Taris janjian buat ketemu di Sanggung lalu berangkat bareng. Dari rumah gue bareng juga sama Nanjung dan dik Vina. Temen di rumah. Sesampainya di Sanggung, kami berempat berangkat bareng ke tempat kajian. Disana alhamdulillah lingkungannya syar’i. Yang cowok udah macho dengan celana cingkrang dan jenggotnya. Yang perempuan anggun nan cantik dengan khimarnya yang panjang dan cadar. Pokoknya, saat itu gue ga merasa asing. Karena ada di lingkungan baik dan cadar dianggap bukan suatu keanehan.
            Materi yang disampaikan tentang sebuah perumpamaan. Jadi, disitu yang gue tangkep kalau permisalan seorang Mukmin itu kayak pohon kurma. Apa-apanya bisa dimanfaatin. Nah, maka sebisa mungkin kita menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Dan cara ampuh buat BAHAGIA adalah dengan MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN.
            Setelah dua jam mendengarkan materi, gue dan Taris pergi ke foodcourt untuk makan, sementara dik Vina dan Nanjung masuk ke assalam hypermarket buat lihat-lihat dan gue berpesan kalau kelamaan mereka bisa balik duluan, akhirnya mereka balik duluan.
            Kami memesan nasi goreng jamur. Minumnya gue es jeruk dan Taris es teh. Saat itu obrolan kami mengenai organisasi yang kami berkecimpung di dalamnya yaitu ROHIS. Katanya di sekolahnya, ROHIS dianggap sebagai benih-benih radikal. Maka, sampai ada seminar khusus dari polsek buat ke SMA temen gue. Mereka para pembina dan ketua ROHIS sampai disidang dan diwanti-wanti jangan sampai terjun ke radikalisme. Nah, ini nih yang bikin greget.
            ROHIS BUKAN TERORIS! ROHIS BENCI ANARKIS! Gue yang hampir 3 tahun di Rohis, ga pernah tuh diajarin cara bikin bom. Bahan-bahannya pun kagak tau juga. Ah, bisa-bisanya mereka berpikiran sejauh itu tentang ROHIS. Daripada ngeracik bom mending masak bakwan aja kan ya, yang enak dimakan. Pfft, greget dah!
            Hmm, moga aja stigma negatif tentang Rohis segera ilang. Balik ke cadar, gue yang pertama kali makan di tempat umum pakai cadar mengalami kerepotan yang terlalu. Gue lihat cara Taris makan, ternyata cadarnya dibuka dan nasi disuapkan dari dalam cadar. Ya Allah, ntar nasinya bukannya masuk ke mulut malah kocar-kacir kemana-mana. Gue pun mengikuti cara makan temen gue dan bener aja. Suapan pertama berhasil tapi selanjutnya lebih banyak yang tumpah ke gamis daripada ke mulut. Temen gue bilang
            “Santai aja Za.. Pelan-pelan.” Sambil ketawa memerhatikan gue.
            Nah saat kami menikmati nasgor jamur, datanglah seorang ibu dengan anaknya yang I guess anak kuliahan. Ibu itu tersenyum ke arah kami dan kami tersenyum balik dengan menyipitkan mata kami. Akhirnya sang ibu tersebut membuka percakapan, yang kurang lebih kayak gini :
            “Mbak, ustadzah ya?” tanya beliau ke kami.
            Sejenak gue dan Taris berpandangan. Gue jawab “Enggak kok Bu. Kami masih siswi kelas 3 SMA.”
            Sang ibu terlihat surprised dengan hal itu. Beliau melanjutkan “wah, masih SMA kok sudah berani ya pakai cadar. Sejak kapan pakai cadar?”
            Taris menjawab “Kelas 1 SMA Bu.”
            “Brati kalau sekolah juga bercadar ya?” tanya beliau lagi.
            “Enggak Bu, cuma pakai jilbab lebar.”
            Lantas, ibu tadi menanyakan dimana sekolah kami. Alangkah terkejutnya ibu itu, ketika tau kalau gue dan Taris sekolahnya di sekolah negeri bukan macam pondok atau aliyah. Lalu, beliau meneruskan..   
            “Selamat ya buat kalian.” Sambil menjulurkan tangan untuk mengajak bersalaman. “Kalian masih SMA tapi sudah berani untuk mengambil langkah bercadar. Saya yang udah tua begini, sebenarnya juga ingin bercadar. Tapi, kok ya gimana gitu. Di masyarakat sepertinya tidak umum.”
            Nah ini nih, syariat Islam malah asing di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam pula.
            Kami pun berdiskusi hangat siang itu. Juga menceritakan bagaimana sebenarnya gue dan Taris kucing-kucingan dan belum bisa berterus terang ke orangtua kalau bercadar. Alias pakainya ngumpet-ngumpetan gitu. Akhirnya ketika kami hendak pamit,
            “Ya sudah Mbak. Semoga sukses dan terus semngat yaa..”  
            “Aamiin.” Jawab kami serempak.
            Kami pun berpamitan dan hendak pulang. Tak lupa, sebelum nge gas motor, gue ganti cadar dengan masker. Aman dah!
            Tentang story di whatsapp, banyak pertanyaan masuk, dan rata-rata hampir sama :
            “Zalfaa sekarang bercadar? “
            Oke, gue jawab gamblang disini ya.. saat ini gue cadaran ngumpet-ngumpet. Pengennya sih kayak akhwat sejati yang dengan restu ortu dan istiqomah bisa pakai cadar terus menerus tanpa peduli dirinya terlihat berbeda di masyarakat umum. Maka banyakin doa dan lo bantu dengan doa dah, supaya cita-cita gue buat bercadar bisa dimudahkan dan diterima orangtua. Aamiin..
            Bahkan salah satu teman cowok di kelas bertanya yang intinya sama..
            “Zal, lo ada niatan buat bercadar nggak pas kuliah?”
            Gue jawab kalau pengen tapi mungkin ga boleh sama orang tua. Dan keinginan gue bener-bener bisa terwujud ketika besok...eheem, kalau suami masa depan menyuruh gue buat bercadar. Of course, seluruh hak gue saat itu ga di ortu lagi tapi di misua, hehe..
            Jadi mintanya sama Allah, jodoh gue bermanhaj salaf. Kalau beda pemahaman kan repot. Seumpama gue menganggap kalau isbal itu dosa, dia nggak. Seumpama lagi, gue menganggap Muslimah gaboleh pakai celana, tapi dia bilang gapapa. Lagi, gue beranggapan bersentuhan dengan non mahram itu gaboleh, dia bilang gapapa asal ga ada syahwat. Gue anggap, kalau suatu hal itu bid’ah, dia bilang gapapa asalkan niatnya baik dan disebutnya bid’ah khasanah. Padahal semua bid’ah kan ga baik! Ah kan kalau gini rempong bin ruwet. Sebisa mungkin, harus kufu dengan pemikiran gue. Yeah, semoga.
            Pas di story whatsapp ada yang bilang juga kalau Muslimah akan semakin anggun dengan cadar, ada yang kontra dengan mengirim emot mewek mewek gitu, ada juga yang senang dan bilang “semoga aku bisa mengikuti jejakmu”
            Begitulah, realitas zaman. Syariat Islam menjadi asing di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Orang-orang jahil berceletuk semaunya, ketika mengatakan :
            “Jilbabnya gede amat. Kayak emak-emak. HAHAHA!”
            “Kayak kakek-kakek aja lo! Sholat ke masjid, HAHAHA!”
            “Helloow, hari gini masih percaya adzab? Sok alim lo! HAHAHA!
            “Pakai cadar, kayak ninja woi! HAHAHA!
            “Celana cingkrang, kayak kebanjiran aja. HAHAHA!”
            Subhanallah.. Betapa banyak kaum Muslimin yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan sunnah seperti menggenggam batu bara. Betapa banyak rintangan yang datang silih berganti dan ia harus kokoh dengan prinsipnya.
            Tapi, tak apalah orang-orang jahil itu berseru semaunya. Tak usah peduli akan penilaian manusia, bukankah ridho Allah yang paling utama?
            Untukmu yang berjiwa hanif,
            Ketika seluruh dunia menertawakan bahkan melecehkanmu karena kau berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah, bertahanlah. Jalan ini memang sulit. Jika kau berada di jalan ini, tentulah kau orang yang spesial karena hidayah Allah hinggap dalam hatimu. Maka, janganlah kau tukar hidayah dengan hal murahan. Jangan hapus hidayah dengan hawa nafsumu. Jangan condong pada dunia.
            Bukankah suatu hikmah dari Imam Hasan al Bashri jika kita mengejar akhirat maka dunia pun akan mengikuti, namun jika kita mengejar dunia, ia akan memperbudakmu. Biarlah prinsipmu terbingkai dengan kokoh. Prinsip yang berlandaskan kuatnya jiwa tauhid dan keyakinan terhadap-Nya.
            Dunia amat murah. Bahkan dibandingkan dengan bangkai anak kambing yang cacat telinganya, ia lebih hina. Sungguh, tak usah risau akan masalah di dunia. Tetap pertahankan akidah yang lurus. Aku tahu ini berat, namun bukankah surga tidak murah?
            Biarlah menjadi asing ketika kau mengenakan cadar atau bercelana cingkrang dengan berjenggot. Biarlah dianggap aneh ketika kau rajin pergi ke masjid dan selalu bersemangat mendatangi majelis ilmu. Biarlah kau tidak mau berjabat tangan dengan non mahram dan semua orang memandangmu dengan sinis. Biarlah kau tak ikut terjerumus dalam kenikmatan cinta sesaat yang menyesatkan yaitu pacaran ketika teman seusiamu sedang dimabuk kasmaran. Biarlah kau menjadi orang yang terpinggir, asing, dan merasa seperti seorang musafir di dunia.
 Ingatlah, ALLAH SELALU BERSAMAMU. Kau punya Allah, tak apa jika manusia enggan bersamamu karena ketaatanmu, masih banyak juga teman-teman yang sholih dan sholihah disana. Fokuskan pada orang-orang yang mencintaimu, acuhkan mereka yang sinis. Ingat juga sabda Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam
“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka beruntunglah, orang-orang yang terasingkan itu.” (HR Muslim)
Sahabat bertanya, siapakah orang asing itu? Nabi menjawab, mereka ialah orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan di tengah kerusakan.” (HR Ahmad)
Bagai penyejuk dahaga pada terik matahari yang panas. Semoga kita termasuk orang asing dalam hadist tersebut.
Juga yang utama, ingatlah Allah berfirman
“Sesungguhnya, orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.” QS 83 : 29.
Jadi, bingkailah dengan kokoh prinsip itu. Prinsip yang berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah. Tak usah peduli jikalau kau merasa asing dan ditertawakan. Baarakallahu fiikum.
Yeah begitulah, cerita bercadar. Gue salut sama ibu tadi karena ga ikut kemakan berita yang sering mengaitkan cadar dengan teroris. Terus semangat kawan! Kita muda, kita berhijrah! Sampai jumpa di post selanjutnya, inshaallah..

#SELFREMINDER