Pengalaman Menggunakan Sebuah Cadar

            Malam terasa sunyi. Detik demi detik mengisahkan bahagia dan luka. Silih berganti. Tak terlambat sedikit pun. Dan ternyata diriku sedang dilanda flu yang butuh amunisi banyak tissue untuk malam ini.
            Hadeh, apaan sih wkk.. Gaje banget. Nah, pada kesempatan kali ini gue akan bahas tentang cadar. Iya cadar. Salah satu atribut wanita Muslimah yang dipakai pas keluar rumah. Langsung aja yuk..
Pic by duniajilbab
            Kalian udah tau kan, apa itu cadar? Yap betul! Kayak semacem kain yang menutupi wajah Muslimah untuk menghindari fitnah. Tapi, apakah lo merasa asing dengan cadar? Pertanyaan ini khusus Muslim. Sekali lagi, apakah lo merasa asing dengan cadar?
            Kalau enggak, ya alhamdulillah berarti hati kalian udah melek tentang syariat Islam. Bagi yang merasa asing, maaf sebelumnya, coba tanyakan ke hati kalian, sejauh mana ilmu-ilmu syari’at yang telah dipelajari? Belajar agama dari SD-sekarang, dengan cadar aja masih merasa asing?
            Well, to be honestly, sebelum gue berhijrah gue juga sama kok kayak kalian yang masih menganggap cadar itu sebagai sesuatu yang aneh. Bahkan sesuatu yang ekstrim, berlebihan, dan sesuai dengan isu, pasti disangkutpautkan dengan terorisme. Hhh, masa jahiliyah yang penuh kebodohan memang.
            Saat itu gue berpikir, “Ah, pakai hijab yang biasa aja. Yang penting kan rambutnya ga keliatan!” itu salah satu pemikiran gue yang salah masa lalu. Yang masih pakai jins, semangat belajar tutorial hijab yang jarumnya njlimet banyak amat dah.. semakin ke sini, alhamdulillah Allah beri pemahaman kalau itu semua salah.
            Maka, saran buat saudariku Muslimah, pensiunkanlah celana jins kalian dan gantilah dengan rok atau gamis. Karena memakai celana bagi wanita merupakan hal yang tidak baik. Hal tersebut tasyabbuh (menyerupai) kaum laki-laki, yang emang mereka khasnya pakai celana. Tapi, kalau pas jam OR yang mengharuskan pakai training, ya gimana lagi.. gue dan elo masih sekolah, dan harus ngikut peraturan tapi selain jam OR, usahakanlah untuk tidak memakai celana ya ukhti fillah.
            Nah back to cadar. Sekarang saat gue lihat akhwat yang bercadar rasanya adem. Bahkan menginspirasi. Gue jadi pengen kayak mereka. Bisa istiqomah menggunakan cadar.
            Wait Zal, apakah lo udah bercadar?
            Well yeah, pertanyaan yang gue dapet dari beberapa temen setelah gue buat story di whatsapp dengan sosok dua wanita bercadar. Siapakah mereka? Jadi gini ceritanya . . .
            Gue punya temen dari masa SMP namanya Taris. Alhamdulillah, sampai sekarang silaturahim masih terus berjalan. Gue kalau main sama mereka. Iya, mereka. Jadi, sahabat-sahabat gue dari SMP yang masih lengket sampai sekarang ada 4 orang, namanya Yasinta, Taris, Shinta, sama Fatin. Mereka ROHIS semua, jadi bisa mengingatkan deh kalau futur.
            Pas mantai, nge-mall, atau nonton, pasti ya sama empat manusia itu. Pas ribet dan rame chat di grup bahas barang-barang apa aja yang bakal di bawa pas mau main ke Jogja sampai ribet tentang naik apa kesana, sampai ada 100 lebih chat, ya sama mereka. Ah, meski pun kita beda sekolah, hati kita teteup barengan kok, inshaallah. Merupakan kenikmatan Allah, gue masih bisa sama mereka sampai sekarang.
            Kami semua berhijab dan yang bercadar saat itu baru Taris. Kami semua kaget dan mengapresiasi langkah Taris buat bercadar. Gue saat itu tanya, apa orangtuanya boleh kalau dia bercadar? Jawabannya nggak, dia pakainya diem-diem. Mungkin pas di jalan, di bus, atau di mana aja. Mashaallah, perjuangannya joss lah..
            Dari situ, entah kenapa gue pengen nyoba aja gimana sih rasanya bercadar di tempat umum? Merasa terasingkan dari orang-orang yang tampil necis nan klimis? Tanpa sepengetahuan orangtua, gue pun beli cadar. Pengennya warna hitam karena pasti kan bakal cocok digabungin sama kerudung warna apa aja, eeh adanya biru dongker. Yaudah gapapa dah.
            Gue pun akhirnya membeli dua cadar tali. Oiya cadar itu modelnya macem-macem lho guys. Yang cadar tali, kayak yang gue beli itu nanti alis sama dahi masih kelihatan. Ada juga cadar yang kayak pendekar, jadi ditali ke belakang gitu dan yang keliatan cuma matanya aja.
            Saat bincang-bincang santai sama ortu gue nyeletuk, apa boleh kalau seumpama gue pakai cadar? Ini baru seumpama. Tapi respon beliau berdua, nggak mengizinkan dan terlihat rada kaget gitu. Ibu gue bilang, kalau gue boleh pakai hijab syar’i tapi kalau cadar NO!
            Aiih.. gue yang berjiwa muda dan pasti ada rasa memberontak, saat itu mikir kenceng gimana caranya bisa pakai cadar di suatu acara. Kesampaian juga akhirnya, ketika di rumah ga ada orang dan gue harus belanja keperluan.. gue manfaatkan kesempatan ini buat pakai cadar. Dari rumah gue pakailah cadar itu dan sesampainya di pusat perbelanjaan, gue rada minder gitu. karena for the first time in, gue pakai cadar, sendirian pula, kayak jomblo gitu.. eeh, emang gue jomblo. Asal jofisa gapapa dah! Gue sendiri dan gue strong karena ada Allah, eaak..
            Saat pulang, sebelum nyalain motor gue ganti cadar dengan masker. Aman dah..
            Yang tentang story di whatsapp itu, adalah gue dan Taris . . .
            Jadi, gue dapet info dari instagram kalau hari Kamis, 21 September 2017 ada kajian di daerah Pabelan, Kartasura. Pengisinya bagus pula, yaitu ustadz dr. Raehanul Bahraen. Nah, gue screenshoot tuh gambar, lalu gue bagiin ke grup yang membernya gue dan empat manusia tadi. Alhasil, yang berangkat gue dan Taris. Maybe, the others had their own event.
            Paginya gue perang batin. Cadar nggak. Cadar nggak. Cadar nggak. Kalau cadar gimana caranya supaya ortu gatau dan kalau nggak, gue rada malu kalau papasan sama ikhwan non mahram. Qodarullah, hari itu mudah bangeeet. Ayah, ibu, dan adik gue saat itu di meja makan buat sarapan. Gue pamit dan minta uang saku hehe.. Nah, masih asyik ngobrol kan, saat itu juga gue pakai cadar di kamar, langsung pakai jaket dan helm. Terus langsung bilang salam tanpa ke ruang makan lagi deh. HAHAHA, alhamdulillah gue bisa pakai cadar dari rumah.
            Gue dan Taris janjian buat ketemu di Sanggung lalu berangkat bareng. Dari rumah gue bareng juga sama Nanjung dan dik Vina. Temen di rumah. Sesampainya di Sanggung, kami berempat berangkat bareng ke tempat kajian. Disana alhamdulillah lingkungannya syar’i. Yang cowok udah macho dengan celana cingkrang dan jenggotnya. Yang perempuan anggun nan cantik dengan khimarnya yang panjang dan cadar. Pokoknya, saat itu gue ga merasa asing. Karena ada di lingkungan baik dan cadar dianggap bukan suatu keanehan.
            Materi yang disampaikan tentang sebuah perumpamaan. Jadi, disitu yang gue tangkep kalau permisalan seorang Mukmin itu kayak pohon kurma. Apa-apanya bisa dimanfaatin. Nah, maka sebisa mungkin kita menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama. Dan cara ampuh buat BAHAGIA adalah dengan MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN.
            Setelah dua jam mendengarkan materi, gue dan Taris pergi ke foodcourt untuk makan, sementara dik Vina dan Nanjung masuk ke assalam hypermarket buat lihat-lihat dan gue berpesan kalau kelamaan mereka bisa balik duluan, akhirnya mereka balik duluan.
            Kami memesan nasi goreng jamur. Minumnya gue es jeruk dan Taris es teh. Saat itu obrolan kami mengenai organisasi yang kami berkecimpung di dalamnya yaitu ROHIS. Katanya di sekolahnya, ROHIS dianggap sebagai benih-benih radikal. Maka, sampai ada seminar khusus dari polsek buat ke SMA temen gue. Mereka para pembina dan ketua ROHIS sampai disidang dan diwanti-wanti jangan sampai terjun ke radikalisme. Nah, ini nih yang bikin greget.
            ROHIS BUKAN TERORIS! ROHIS BENCI ANARKIS! Gue yang hampir 3 tahun di Rohis, ga pernah tuh diajarin cara bikin bom. Bahan-bahannya pun kagak tau juga. Ah, bisa-bisanya mereka berpikiran sejauh itu tentang ROHIS. Daripada ngeracik bom mending masak bakwan aja kan ya, yang enak dimakan. Pfft, greget dah!
            Hmm, moga aja stigma negatif tentang Rohis segera ilang. Balik ke cadar, gue yang pertama kali makan di tempat umum pakai cadar mengalami kerepotan yang terlalu. Gue lihat cara Taris makan, ternyata cadarnya dibuka dan nasi disuapkan dari dalam cadar. Ya Allah, ntar nasinya bukannya masuk ke mulut malah kocar-kacir kemana-mana. Gue pun mengikuti cara makan temen gue dan bener aja. Suapan pertama berhasil tapi selanjutnya lebih banyak yang tumpah ke gamis daripada ke mulut. Temen gue bilang
            “Santai aja Za.. Pelan-pelan.” Sambil ketawa memerhatikan gue.
            Nah saat kami menikmati nasgor jamur, datanglah seorang ibu dengan anaknya yang I guess anak kuliahan. Ibu itu tersenyum ke arah kami dan kami tersenyum balik dengan menyipitkan mata kami. Akhirnya sang ibu tersebut membuka percakapan, yang kurang lebih kayak gini :
            “Mbak, ustadzah ya?” tanya beliau ke kami.
            Sejenak gue dan Taris berpandangan. Gue jawab “Enggak kok Bu. Kami masih siswi kelas 3 SMA.”
            Sang ibu terlihat surprised dengan hal itu. Beliau melanjutkan “wah, masih SMA kok sudah berani ya pakai cadar. Sejak kapan pakai cadar?”
            Taris menjawab “Kelas 1 SMA Bu.”
            “Brati kalau sekolah juga bercadar ya?” tanya beliau lagi.
            “Enggak Bu, cuma pakai jilbab lebar.”
            Lantas, ibu tadi menanyakan dimana sekolah kami. Alangkah terkejutnya ibu itu, ketika tau kalau gue dan Taris sekolahnya di sekolah negeri bukan macam pondok atau aliyah. Lalu, beliau meneruskan..   
            “Selamat ya buat kalian.” Sambil menjulurkan tangan untuk mengajak bersalaman. “Kalian masih SMA tapi sudah berani untuk mengambil langkah bercadar. Saya yang udah tua begini, sebenarnya juga ingin bercadar. Tapi, kok ya gimana gitu. Di masyarakat sepertinya tidak umum.”
            Nah ini nih, syariat Islam malah asing di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam pula.
            Kami pun berdiskusi hangat siang itu. Juga menceritakan bagaimana sebenarnya gue dan Taris kucing-kucingan dan belum bisa berterus terang ke orangtua kalau bercadar. Alias pakainya ngumpet-ngumpetan gitu. Akhirnya ketika kami hendak pamit,
            “Ya sudah Mbak. Semoga sukses dan terus semngat yaa..”  
            “Aamiin.” Jawab kami serempak.
            Kami pun berpamitan dan hendak pulang. Tak lupa, sebelum nge gas motor, gue ganti cadar dengan masker. Aman dah!
            Tentang story di whatsapp, banyak pertanyaan masuk, dan rata-rata hampir sama :
            “Zalfaa sekarang bercadar? “
            Oke, gue jawab gamblang disini ya.. saat ini gue cadaran ngumpet-ngumpet. Pengennya sih kayak akhwat sejati yang dengan restu ortu dan istiqomah bisa pakai cadar terus menerus tanpa peduli dirinya terlihat berbeda di masyarakat umum. Maka banyakin doa dan lo bantu dengan doa dah, supaya cita-cita gue buat bercadar bisa dimudahkan dan diterima orangtua. Aamiin..
            Bahkan salah satu teman cowok di kelas bertanya yang intinya sama..
            “Zal, lo ada niatan buat bercadar nggak pas kuliah?”
            Gue jawab kalau pengen tapi mungkin ga boleh sama orang tua. Dan keinginan gue bener-bener bisa terwujud ketika besok...eheem, kalau suami masa depan menyuruh gue buat bercadar. Of course, seluruh hak gue saat itu ga di ortu lagi tapi di misua, hehe..
            Jadi mintanya sama Allah, jodoh gue bermanhaj salaf. Kalau beda pemahaman kan repot. Seumpama gue menganggap kalau isbal itu dosa, dia nggak. Seumpama lagi, gue menganggap Muslimah gaboleh pakai celana, tapi dia bilang gapapa. Lagi, gue beranggapan bersentuhan dengan non mahram itu gaboleh, dia bilang gapapa asal ga ada syahwat. Gue anggap, kalau suatu hal itu bid’ah, dia bilang gapapa asalkan niatnya baik dan disebutnya bid’ah khasanah. Padahal semua bid’ah kan ga baik! Ah kan kalau gini rempong bin ruwet. Sebisa mungkin, harus kufu dengan pemikiran gue. Yeah, semoga.
            Pas di story whatsapp ada yang bilang juga kalau Muslimah akan semakin anggun dengan cadar, ada yang kontra dengan mengirim emot mewek mewek gitu, ada juga yang senang dan bilang “semoga aku bisa mengikuti jejakmu”
            Begitulah, realitas zaman. Syariat Islam menjadi asing di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam. Orang-orang jahil berceletuk semaunya, ketika mengatakan :
            “Jilbabnya gede amat. Kayak emak-emak. HAHAHA!”
            “Kayak kakek-kakek aja lo! Sholat ke masjid, HAHAHA!”
            “Helloow, hari gini masih percaya adzab? Sok alim lo! HAHAHA!
            “Pakai cadar, kayak ninja woi! HAHAHA!
            “Celana cingkrang, kayak kebanjiran aja. HAHAHA!”
            Subhanallah.. Betapa banyak kaum Muslimin yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan sunnah seperti menggenggam batu bara. Betapa banyak rintangan yang datang silih berganti dan ia harus kokoh dengan prinsipnya.
            Tapi, tak apalah orang-orang jahil itu berseru semaunya. Tak usah peduli akan penilaian manusia, bukankah ridho Allah yang paling utama?
            Untukmu yang berjiwa hanif,
            Ketika seluruh dunia menertawakan bahkan melecehkanmu karena kau berpegang teguh pada Al Qur’an dan As Sunnah, bertahanlah. Jalan ini memang sulit. Jika kau berada di jalan ini, tentulah kau orang yang spesial karena hidayah Allah hinggap dalam hatimu. Maka, janganlah kau tukar hidayah dengan hal murahan. Jangan hapus hidayah dengan hawa nafsumu. Jangan condong pada dunia.
            Bukankah suatu hikmah dari Imam Hasan al Bashri jika kita mengejar akhirat maka dunia pun akan mengikuti, namun jika kita mengejar dunia, ia akan memperbudakmu. Biarlah prinsipmu terbingkai dengan kokoh. Prinsip yang berlandaskan kuatnya jiwa tauhid dan keyakinan terhadap-Nya.
            Dunia amat murah. Bahkan dibandingkan dengan bangkai anak kambing yang cacat telinganya, ia lebih hina. Sungguh, tak usah risau akan masalah di dunia. Tetap pertahankan akidah yang lurus. Aku tahu ini berat, namun bukankah surga tidak murah?
            Biarlah menjadi asing ketika kau mengenakan cadar atau bercelana cingkrang dengan berjenggot. Biarlah dianggap aneh ketika kau rajin pergi ke masjid dan selalu bersemangat mendatangi majelis ilmu. Biarlah kau tidak mau berjabat tangan dengan non mahram dan semua orang memandangmu dengan sinis. Biarlah kau tak ikut terjerumus dalam kenikmatan cinta sesaat yang menyesatkan yaitu pacaran ketika teman seusiamu sedang dimabuk kasmaran. Biarlah kau menjadi orang yang terpinggir, asing, dan merasa seperti seorang musafir di dunia.
 Ingatlah, ALLAH SELALU BERSAMAMU. Kau punya Allah, tak apa jika manusia enggan bersamamu karena ketaatanmu, masih banyak juga teman-teman yang sholih dan sholihah disana. Fokuskan pada orang-orang yang mencintaimu, acuhkan mereka yang sinis. Ingat juga sabda Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam
“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka beruntunglah, orang-orang yang terasingkan itu.” (HR Muslim)
Sahabat bertanya, siapakah orang asing itu? Nabi menjawab, mereka ialah orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan di tengah kerusakan.” (HR Ahmad)
Bagai penyejuk dahaga pada terik matahari yang panas. Semoga kita termasuk orang asing dalam hadist tersebut.
Juga yang utama, ingatlah Allah berfirman
“Sesungguhnya, orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.” QS 83 : 29.
Jadi, bingkailah dengan kokoh prinsip itu. Prinsip yang berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah. Tak usah peduli jikalau kau merasa asing dan ditertawakan. Baarakallahu fiikum.
Yeah begitulah, cerita bercadar. Gue salut sama ibu tadi karena ga ikut kemakan berita yang sering mengaitkan cadar dengan teroris. Terus semangat kawan! Kita muda, kita berhijrah! Sampai jumpa di post selanjutnya, inshaallah..

#SELFREMINDER

Kearifan Hikmah Kisah Ronggeng dan Seorang Prajurit

“Kau juga jangan khawatir atas semuanya. Sejauh apa pun kau pergi, jika aku adalah tempatmu untuk pulang, dengan skenario-Nya yang terhebat kau akan datang. Sama-sama lebih siap dan kuat untuk menghadapi badai cobaan di depan sana.”
          Eaak, paragraf pertama udah pernah gue tulis dimana yak? Yups, bener banget! Di artikel gue sebelumnya yang berjudul “Sebuah Kisah Perpisahan”. Ah, tapi gue nggak ingin membahas suatu memori yang membawa sepotong hati kehilangan daya semangatnya.
            Fakta atau opini, perpisahan adalah hal nggak mengenakkan dalam hidup. Ketika sebuah sapaan menjadi hilang, wajah yang selalu diharapkan muncul tiba-tiba raib karena harus pergi, dan sebuah kisah antara dua insan yang saling merindu pun dimulai. Dimulai ketika perpisahan. Dengan harap-harap cemas, terus menunggu hingga waktu yang menjawab apakah orang itu memang buatnya atau bukan.
            Hmm, jujur sih gue pengen cerita ke kalian tentang karya sastra tahun 1980-an. Bagi ibuk-ibuk bapak-bapak pengunjung blog ini, pasti anda kenal dengan seorang penulis bernama Ahmad Tohari bukan? Yap, karyanya yang melegenda berjudul Ronggeng Dukuh Paruk baru aja gue baca. Ini juga sebuah kisah perpisahan yang menguras tenaga dan air mata. Juga keluhuran jiwa seorang lelaki yang meyentuh kalbu.
            Awalnya gue baca buku beliau yang berjudul Mata yang Enak Dipandang. Banyak nilai kehidupan yang gue dapat karena disitu mengajarkan kita untuk selalu tulus berbagi. Mata kita akan menjadi mata yang enak dipandang ketika jiwa tulus memberikan harta pada mereka yang kurang mampu dalam kehidupan.
Penampakan Novel Ronggeng
Dukuh Paruk
            Gue pun jadi pengen baca karya beliau lagi. Gue pergi ke perpus sekolah dan dipertemukan gue dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk. Hmm, pas ke perpus sih ada kejadian absurd dimana seorang guru menyebut sebuah nama yang hmm.. Katanya dia mirip sama gue, dan ditanya ada hubungan apa antara gue sama dia, gue jawab ga ada.. dan how shaking is it, ketika beliau menganjurkan gue buat pacaran sama dia. Hadeeh, sebuah ketidakmungkinan yang diharapkan. Gue dan dia sama-sama punya prinsip untuk sendiri terlebih dahulu.
            Sampai kelas pun langsung gue baca sinopsisnya. Nggak butuh waktu lama untuk menghabiskan novel itu karena gue semangat bacanya. Jadi, kelar deh.
            Jujur guys, novelnya menggambarkan gairah hidup masa lalu yang zamannya beda banget sama sekarang. Iyalah, Dukuh Paruk pada tahun 1960 yang masih kuno, kebodohan merajalela, terpencil, penuh seloroh cabul, dan nggak mengenal Tuhan. Masa-masa jahiliyah diceritakan pada buku setebal 406 halaman itu.
            Diceritakan bahwa ada seorang gadis bernama Srintil yang berbakat menari dan ia pun ingin menjadi seorang ronggeng. Hmm, singkat cerita dia pun menjalani kehidupan seorang ronggeng yang penuh dilema. Gila benar, dari gadis cantik yang lugu menjadi perempuan “milik bersama” saat itu. Lihainya meronggeng, membuat Srintil terkenal di luar Dukuh Paruk. Dari pejabat bawah sampai atas semua ingin bersama Ronggeng Dukuh Paruk itu.
            Nah, di lain sisi Srintil punya temen masa kecil yang sayang banget sama dia. Namanya Rasus. Eh by the way, namanya aneh-aneh ya. Gue geli baca nama-nama tokoh di sini. Tapi, ya emang mungkin karena zamannya udah beda kali ya.
            Nah si Rasus nggak ingin kalau Srintil menjadi ronggeng. Karena baginya, jika Srintil menjadi ronggeng maka, Srintil akan menjadi milik semua orang, dan tentu saja kehidupan ronggeng yang sangat jauh dari nilai-nilai kehidupan membuatnya terlihat amat hina.
            And then, kenapa gue bisa bilang novel ini BERANI? Yep, karena menceritakan tragedi G30S PKI pula. Gue bener-bener ngeri dan bergejolak saat baca novel yang mengguncang psikologi ini. Gue yang biasanya baca novel yang latarnya halus, aman, dan keadaannya alim langsung merasakan sensasi yang amat berbeda pas baca novel Ronggeng Dukuh Paruk.
            Dalam cerita, Srintil harus terseret dalam penjara karena ia dutuduh terlibat dalam gerakan komunis. Dukuh Paruk juga kena imbasnya, mereka yang polos dan tidak tahu apa-apa karena kebodohannya menjadi dipandang sebelah mata oleh masyarakat karena dituduh terlibat dalam komunis jua. Pas bagian ini gue terenyuh, kasian, tapi ya mungkin itulah balasan yang diterimanya karena meronggeng.
            Saat tumbuh dewasa, Rasus sudah menjadi seorang tentara yang gagah dan mengenal Allah sebagai Rob Semesta Alam. Rasa cintanya pada Srintil mengalami kebuntuan. Huh, gue gemes pas bagian Rasus pulang ke Dukuh Paruk, dan Srintil yang udah bebas dari penjara tahu kalau Rasu balik ke Dukuh Paruk, namun  keduanya sama-sama membisu. Bingung harus bicara apa. Srintil yang malu karena ia bekas tahanan dan juga mantan ronggeng. Sementara Rasus sendiri bingung akan keadaan hatinya, apakah ia masih menyimpan rasa untuk Srintil atau tidak.
            Nah, saat Rasus balik tugas jadi tentara dan ia ditugaskan ke Kalimantan, Srintil perlahan mulai menata hidup. Ia tidak lagi meronggeng dan melayani lelaki yang datang. Sebut aja dia insaf. Saat itu pula datang priyayi Jakarta yang mengurus proyek di dekat Dukuh Paruk. Pimpinannya bernama Bajus dan ia terpesona oleh kecantikan Srintil.
            Semua berjalan baik-baik aja. Hingga suatu kenyataan yang bikin gue sebagai pembaca ikut nyesek dan pengen nangis guling-guling. Tapi nggakjadi ding, nanti gue dibilang lebay. Si Bajus malah menipu Srintil dengan cara menyakitkan. Ia tidak jadi menikah dengan Srintil dan saat iu pula Srintil menjadi rusak jiwanya.
            Ya Allah, ini lebih nyesek daripada Titanic atau adegan di Twilight dimana Bella langsung memeluk Edward dan berusaha menyelamatkannya yang kala itu hampir roboh karena hukuman. Mahkota Dukuh Paruk yang cantik pun kehilangan sinarnya. Ia menjadi terkena gangguan jiwa. Hiks hiks.. Saat itu pun, Rasus kembali ke Dukuh Paruk dan mengetahui kenyataan yang amat melukai hatinya.
            Orang yang masih tinggal di hatinya, menjadi ringkih, kurus, tak terawat dan jiwanya kosong melompong. Huaa, saat ini Pak Ahmad Tohari berhasil bikin gue nangis dan terenyuh. Dicobanya, Srintil diajak berbicara namun nihil. Rasus yang sekarang menjadi harapan Dukuh Paruk pun mengerti apa yang harus ia perbuat.
            Dalam nuraninya terdalam, hati yang amat jernih, tanpa pamrih, ia membawa Srintil ke rumah sakit jiwa di tempat ia bekerja. Di sepanjang perjalanan, dahulu orang-orang selalu memandang takjub ketika Ronggeng Dukuh Paruk itu berjalan dengan kharismanya. Namun, sekarang semua berbalik. Semua orang menjauh ketika seorang tentara yang tak lain adalah Rasus membimbing Srintil berjalan tertatih.
            Sesampainya di rumah sakit jiwa, Rasus ditanya hubungan apa yang ia miliki dengan Srintil. Adik? Bukan. Kakak? Bukan. Saudara? Ya, saudara jauh. Sang petugas malah terkekeh dan mungkin ia hanya bercanda ketika mengatakan, “Mungkin, ia adalah calon istrimu?” tanpa diduga, dalam jernihnya jiwa Rasus ia menjawab “YA.”
            Mashaallah, manis banget! Kalau bukan laki-laki yang berhati lembut dan memiliki ketulusan yang amat berharga, pasti ia akan menolak mentah-mentah seorang wanita gila yang meski pun ia gila tetap terlihat cantik, karena cantik memang milik Srintil. Gue terisak baca endingnya.
            Coba deh lo bayangin, Rasus saat itu dihadapi dua pilihan. Pertama, ia akan menjadi tentara yang memiliki gaji berkecukupan namun meninggalkan Dukuh Paruk, tanah airnya, tempat kelahirannya yang melarat, bodoh, dan penuh seloroh cabul. Namun, nuraninya membisikkan pilihan kedua, ia harus resign dari tentara dan kembali ke Dukuh Paruk buat membantu saudara-saudaranya. Ia ingin membuat Dukuh itu lebih bernilai moral dan mengenal siapa sebenarnya yang berhak disembah dan menjadi tempat mengadu, ialah Allah, Ar Rahman. Dan sebenarnya hati Rasus, sudah tidak kuat menjadi tentara. Ketika ia diharuskan membunuh seseorang, hatinya yang lembut gemetar hebat ketika mengeksekusi seorang tahanan. Ia pun memilih keputusan yang tepat sesuai nuraninya.
            Dengan kebeningan jiwanya, ia mau menerima Srintil yang keadaannya sangat-sangat menyayat hati. Tak bisa ditawar, ia masih mencintai Srintil. Teringat masa kecilnya yang penuh dengan tawa dan kenangan manis. Keluguan Srintil sebelum menjadi ronggeng. Nuraninya terketuk dan ia kembali bersama cintanya.

            Uluuuh, gue nulisnya haru, serius. Novel Ronggeng Dukuh Paruk memahamkan gue apa itu kesungguhan, apa itu ketulusan, dan kiranya bagaimana kita berkomitmen terhadap seseorang yang kita cintai. That’s why I wrote the quote in the first paragraph. Ketika Srintil yang terpisah begitu lama dari Rasus dan harapan-harapan bahtera rumah tangga sedikit demi sedikit lenyap, namun siapa sangka bahwa Allah mengehendaki lain. Mereka dapat menemukan cintanya kembali. Maka, sekali lagi sejauh apa pun seseorang itu pergi, bila memang TAKDIR mengatakan untuk kembali bersama dalam ikatan halal, bersyukurlah. Namun, sebaliknya sekeras apa pun usaha lo buat dapetin cowok/cewek yang lo suka, kalau bukan jodoh, semua akan sia-sia. Mari bersama-sama untuk belajar mengikhlaskan. Yang terbaik akan datang di waktu yang tepat. I give standing applause for this novel. Untuk Pak Ahmad Tohari, semoga selalu diberi lindungan dan rahmat oleh Allah, aamiin. Baarakallahu fiikum yang udah mau baca. See u in the next post! Inshaallah..