Kepingan Puzzle yang Masih Hilang

 

source: pinterest

“Mba, tadi ada yang nanyain kamu.”

Kalimat itu diucapkan mama ketika gue di kamar dan gue sedang siap-siap berangkat buat volunteering ASEAN Para Games (APG) dua pekan yang lalu, sementara mama baru aja pulang dari pengajian Ahad pagi. Kalau nggak salah tanggal 31 Juli 2022. Seketika gue deg-degan, menunggu kalimat selanjutnya dan bener aja dong, tawaran untuk menyempurnakan separuh agama hadir lagi.

Mama cerita kalau Bu Pur (pengurus kajian Ahad pagi) tiba-tiba memanggil mama setelah kajian selesai. Beliau bercerita kalau ada seorang ustadz, namanya nggak usah gue sebut, karena di daerah gue, beliau cukup dikenal dan terkemuka, sering mengisi ceramah dan santun pribadinya. Sebut aja nama beliau Ustadz Alif (tentu bukan nama sebenarnya).

Ustadz Alif ini sedang mencari seorang perempuan untuk dijodohkan dengan anak laki-lakinya. Nah, Ustadz Alif meminta bantuan Bu Pur untuk mencarikan perempuan yang sekiranya cocok untuk dinikahi anaknya tersebut dan Bu Pur merekomendasikan diriku kepada Ustadz tersebut.

Gue pernah ikut pengajian yang diisi oleh Ustadz Alif ini, dari cerita beliau sih, sepenangkapan gue, anak-anaknya sebagian besar adalah penghafal Alquran. Beliau juga pernah berbagi tips parenting, salah satunya adalah cara mendidik anak laki-lakinya yakni dengan membekalinya dengan ilmu agama agar dapat meneruskan perjuangan dakwah dan menjaga keluarganya di masa depan dari api neraka. Bisa dibayangkan bagaimana kualitas anak-anak yang beliau didik.

Jujur aja, gue bergetar mendengar mama cerita, tapi tampang gue berusaha nggak heboh, tetep pasang muka tenang sambil menyimak. Hingga, Bu Pur nanya ke mama, apakah dalam waktu dekat gue ada rencana nikah?

Mama yang tahu betul tentang list mimpi gue ke depan, dengan halus, meminta maaf dan menolak tawaran dari Bu Pur, walau ini termasuk pilihan yang berat sih menurut gue. Tapi, hmm, gue pun juga harus bersabar dan kembali ingat dengan mimpi yang hendak gue perjuangkan setelah lulus S-1, jalan gue masih panjang.

Dalam hati juga, gue berterima kasih kepada mama yang paham betul anak perempuannya ini dan selalu mendukung mimpi-mimpi yang belum tercapai. Dan, gue juga merasa nggak pantes sebenarnya misal mama ngasih lampu hijau buat mengenal lebih dalam anak dari Ustadz Alif ini. Ya kalau dia penghafal Alquran, agamanya udah baik, besar di lingkungan yang sangat agamis, sementara gue masih gini-gini aja. Maaf, enggak dulu.

For now, I’m single but not available.

Ini bukan karena gue menunda hal yang dianjurkan dalam agama tanpa alasan yang tepat. Kejadian kemarin, sungguh membuat gue berpikir ulang tentang persiapan diri menuju ke jenjang pernikahan. Apa iya sih ya, gue udah membutuhkan figur yang mengayomi juga bisa menjadi reminder indah dalam hidup? Apa iya, kemarin itu sinyal dari Allah biar walau gue masih memperjuangkan mimpi-mimpi itu, tapi gue nggak boleh mengesampingkan persiapan menikah?

Gue belum bisa menerima tawaran untuk mengenal seseorang lebih dalam (dalam hal ini adalah konteks pernikahan) sebelum gue merasa selesai dengan diri sendiri. Maksudnya, kalau dalam buku berjudul “Berlabuh” karya Febriawan Jauhari misal diibaratkan rumah, ya rumah gue harus kokoh dan kuat. Gue harus bisa membangun sebaik-baik rumah, karena gue adalah tempat untuk pulang, gue adalah tempat untuk mencari ketenangan, gue adalah tempat untuk menyejukkan hati bagi pasangan gue kelak. Kalau tiangnya belum kokoh, gue khawatir malah ambruk menimpa pasangan gue kelak. Jadi, memang harus bersabar sedikit lagi karena saat ini gue merasa belum menjadi "rumah yang kokoh" itu.

Dan bagi gue jatuh cinta adalah hal yang sakral. Gue termasuk orang yang nggak gampang naruh hati pada seseorang. Bahkan, gue pernah merasa hati gue mati rasa :’). Iya, mati rasa. Bener-bener susah buat merasa jatuh hati maupun kagum pada seseorang.

Hati gue cuma satu, maka udah selayaknya gue simpen untuk satu orang yang akan bersanding bersama gue kelak. Dia layak mendapatkan yang terbaik dari gue. Gue yang akan menghargai dia dan menganggapnya sebagai hadiah dan berkah terindah  dari Tuhan, memandang dia sebagai kepingan puzzle dalam hidup yang akhirnya gue temukan. Membayangkannya saja, gue terharu luar biasa. Maklum, seumur-umur belum pernah uwu-uwuan kayak gitu.

Sebagaimana gue mati-matian buat menjaga kehormatan hati, gue pun berharap, kelak Allah hadirkan dia yang juga semasa single-nya berjuang keras menjaga kehormatan hatinya seperti gue. Lagi-lagi sekarang gue hanya bisa menitipkan rasa rindu dan gemas ini dalam doa.

Tapi.. di akhir tulisan ini, gue mau ngasih reminder khususnya ke gue pribadi. Gue nggak pernah tahu, apakah kelak akan datang si dia atau kematian terlebih dahulu. We never know. Pilihan paling bijak yang bisa dilakukan yaa terus memperbaiki diri, bukan semata-mata untuk pasangan kelak tapi karena Allah, agar kebaikan yang kekal ada dalam diri. Ya Allah, aku benar-benar memohon padamu, entah kematian atau jodoh yang datang duluan, misal Kau takdirkan diriku untuk menemukan pelengkap separuh agama, semoga ia adalah sosok dengan mata yang enak dipandang dan penuh welas asih, yang bisa menambah kebaikan di dunia dan akhirat untukku. 

Sekarang, karena gue memutuskan untuk memperbaiki diri, marilah diisi dengan kegiatan-kegiatan positif. Seperti menjadi relawan, aktif ikut lomba, fokus menyelesaikan studi, lebih produktif, membuat kehidupan yang bermakna dengan menciptakan rutinitas yang membuat hati penuh, berbagi pada sesama walau sedikit, dan sebagainya.

Tulisan ini gue buat untuk mengabadikan rasa. Mohon doa terbaik dari teman-teman. Mungkin singkat aja tulisan kali ini, ada target berita yang harus gue selesaikan. Numpuk banyak banget karena sebelumnya gue fokus di ASEAN Para Games :’) but it’s okay, really okaaay. Terima kasih sudah membaca!

1 Komentar untuk "Kepingan Puzzle yang Masih Hilang "

  1. Pernah sih ngerasa cuma jatuh cinta sama satu orang dan yakin banget cuma dia yang bisa bikin nyaman dan bahagiain. Agak aneh, tapi hati udah terisi dia walaupun enggak bisa memiliki. Tapi, allahu alam hanya Allah yang tahu soal itu jadi kita cuma perlu memikirkan dengan matang dan meminta petunjuknya. Hemm anak Ustaz lumayan sebagai pembimbing. Terima kasih sharingnya!

    BalasHapus

Silahkan memberikan saran dan masukan :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel