Lewatkanlah

 

sumber: Pinterest



Pagi itu, kamu merasa kalut. Segelas teh hangat di hadapanmu tidak kamu sentuh sama sekali. Kamu duduk di sebuah kursi di teras rumah. Pandanganmu kosong ke depan. Hatimu tidak tenang dan sesekali kamu menatap langit yang abu-abu. Pagi itu mendung, seperti hatimu yang sedang merisaukan sesuatu.

Ada yang mengganggu pikiranmu dan kamu tahu betul apa penyebabnya. Semua itu berawal ketika kamu bertemu dengan seseorang di sebuah acara. Kamu yang cenderung pendiam, tiba-tiba didatangi seseorang dengan senyum hangatnya. Kalian tidak mengenal satu sama lain. Satu divisi pun tidak saat itu, namun ia berinisiatif mengajakmu berbincang, menanyakan kesibukan hingga membahas hal-hal remeh lainnya.

Awalnya kamu mengira tidak ada yang salah dengan hal itu, karena memang, di acara itu, orang-orang saling berkenalan itu menjadi hal yang lumrah, katanya untuk menambah relasi. Pun pikiranmu mengatakan demikian. Hingga suatu hari, seseorang yang mengajakmu mengobrol itu, tiba-tiba mengikuti akun Instagram dan mengirim pesan langsung agar saling mengikuti.

Lagi-lagi, kamu tidak berpikir aneh-aneh karena memang pada saat itu, banyak yang saling bertukar Instagram untuk saling mengikuti, namun ternyata kisah dengannya tidak sesimpel itu. Dia membalas cerita-cerita yang kamu buat, sesekali menyelipinya dengan pujian. Kamu yang tidak enakan, juga membalas pesan-pesannya. Hingga suatu saat, dia bilang kepadamu..

“Aku mau kenal kamu lebih dekat”

Jantungmu berdegup, matamu memicing, dan hatimu merasa tak karuan. Pertemuan pertama dengannya itu terjadi ba’da Asar. Tempat kalian bertemu bukanlah di klub malam atau tempat semacamnya, namun di depan musala sebuah hotel.

Dengan masa depan cemerlang yang ia tawarkan, perhatian kecil saat itu, dan senyum yang dimaniskan, dan pertemuan di tempat yang tergolong baik, kamu mulai berpikir tentangnya. Tak peduli, sepadat apapun kegiatanmu, kadang dalam sekejap kamu terngiang-ngiang kalimat itu. Ditambah usahanya yang tidak pantang menyerah untuk mendapatkan hatimu dengan pesan-pesan itu.

Kamu mencoba menepisnya dengan fokus mengerjakan rutinitas dan pekerjaan harian, namun dia tidak menyerah. Sudah kamu tolak untuk memberikan nomor telepon, tetap saja dia memiliki cara lain untuk mencoba meluluhkan hatimu. Kamu pun mencoba membentengi diri dengan berpikir kemungkinan terburuk karena sudah menjadi rahasia umum bahwa laki-laki yang berprofesi itu, terkenal suka tebar pesona dan dengan mudahnya bergonta-ganti pasangan. Pun kebanyakan dari mereka, hanya memandang dari fisik saja. Bukannya menggeneralisir, namun kamu hanya berjaga-jaga.

Tapi.. tidak hanya dia yang menyusup dalam pikiranmu, ada pria lain yang mencoba memahamimu. Kamu pun pusing, lantas bercerita kepada sahabat terbaikmu dan ibumu. Lantas, meminta pertimbangan mana yang lebih baik. Ibu dan sahabatmu sepakat betul agar tidak memilih yang suka tebar pesona itu. Ditambah, sekarang sedang booming kasus yang menyangkut instansinya itu, yang belum juga menemukan titik terang, dan panjang alurnya macam drama Korea saja.

Sejenak kamu mulai menimbang, harus bagaimana. Kamu tidak mau egois, mulai menerawang, mana yang lebih baik untuk dijadikan ayah dari anak-anakmu kelak. Tidak hanya soal duniawi, namun baikkah agamanya?

Kamu mulai pusing dan hampir saja terbujuk rayu dengan kata-kata manis itu.. hingga malam itu, setelah kamu mengikuti temu perdana suatu kegiatan, kamu membuka Instagram dan membaca sebuah kalimat pada akun seorang penulis yang kamu ikuti..

“Lewatkanlah.. dan semoga Allah ganti dengan kebahagiaan yang bisa mendekatkanmu kepada-Nya”

Entah mengapa, matamu berair. Hatimu terenyuh dan hampir saja menangis. Kamu juga beristigfar. Seperti menemukan mata air jernih di tengah-tengah gurun pasir yang gersang, hatimu kembali menemukan cahaya itu.

Kamu bilang, kamu memang bukan orang yang religious, tapi aku salut padamu yang masih mau mendengarkan kata hati. Maaf harus kukatakan, dalam kepercayaan kita, hubungan cinta di luar pernikahan, bukanlah sesuatu yang dibenarkan. Mau sekeren apapun pasanganmu yang belum sah. Kamu, alhamdulillah tidak terjerumus terlalu dalam, tapi hatimu sudah memberi sinyal kalau itu salah.

That’s rare and somehow really beautiful.

Sebagai sahabatmu, kumohon, bersabarlah sebentar lagi. Mungkin, ini adalah ujian dari Allah untuk menguji seberapa konsisten perilaku dengan ucapanmu. Belum bisa dikatakan beriman jika hanya di lisan saja, perlu adanya pembuktian.

Aku berdoa, mudah-mudahan kelak akan datang sosok laki-laki yang bisa memahami dan tulus kepadamu. Tidak hanya yang menambah kebaikan di dunia, namun juga memiliki cita-cita untuk bersama di surga. Harga untuk semua itu tidak murah, sekarang kamu perlu bersabar terlebih dahulu. Prinsip baik yang sudah kamu pegang bertahun-tahun itu, semoga tidak patah hanya karena sepotong perhatian itu.

Mudah-mudahan laki-laki yang akan bersanding denganmu, juga sedang sibuk memperbaiki dirinya. Tidak hanya memperbaiki diri, namun juga mengusahakan kedekatan pada Tuhan. Alangkah indahnya jika suatu saat, hati yang saling menjaga itu bertemu dalam ikatan yang diridai Tuhan.Terima kasih yaa, sudah mau mengambil keputusan yang tepat. Sebagai sahabat, bangga sekali aku melihat keteguhanmu dan proses bertumbuhmu selama ini. Baik-baik dan jaga diri yaa, masih banyak kontribusi yang perlu kamu penuhi :’). Yassarallah.


Sincerely,

Zalfaa

1 Komentar untuk "Lewatkanlah "

  1. Ikut bergetar bacanya, jodoh terbaik memang yang bisa mendekatkan kita ke Allah rasanya luar biasa kalau menemukan jodoh seperti itu. Namun, juga baik kalau bisa bersama-sama mendekatkan diri ke Allah. Terima kasih sharingnya!

    BalasHapus

Silahkan memberikan saran dan masukan :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel