Monday, 20 March 2017 14 comments

Muhasabah Diri

Untuk apa sekarang kagum akan kecantikan atau pun ketampanan yang melekat pada diri
Untuk apa berlomba memamerkan harta benda milik orang tua
Untuk apa berlelah diri menunjukkan bahwa diri adalah yang terhebat
Untuk apa merasa bangga jika dikagumi banyak orang
Untuk apa memiliki hasrat kuat tuk memiliki seseorang
Untuk apa merasa marah atas semua keadaan menyakitkan
Untuk apa cinta karena syahwat terus diperjuangkan
Akhi ukhti,
Aku bukannya lebih pandai darimu
Marilah sejenak merenung bersama
Aku pun juga belum sebaik apa yang kutulis
Begini..
pic by : kawanimut
Kecantikan dan ketampanan akan habis dimakan usia. Kau akan menjadi tua, keriput, dan tidak akan lagi pemuda berbondong-bondong memperebutkanmu. Peduli apa pada kakek nenek yang sudah tak berdaya. Kelak anak cucumulah yang akan menyayangimu dengan tulus. Jangan sombong akan nikmat ini ya akhi ya ukhti. Bisa juga paras menarik menjadi cobaan bagimu. Apakah imanmu masih kokoh atau terseret dalam kesenangan yang fana.
            Upload selfie di depan mobil mewah? Nongkrong di cafe yang sedang hits? Well, bukannya apa. Apakah semua itu hasil kerja kerasmu? Atau masih milik orangtua yang dengan bangganya kau umumkan ke seluruh dunia. Jujur, aku pribadi lebih senang melihat seorang pemuda yang berpenampilan sederhana. Meski pun casingnya rata-rata, tidak macho, tidak gaul, namun lihat dalamnya.. ia orang yang taat pada Allah, pekerja keras, bertanggung jawab, dan setia.
            Terhebat? My dear friends, di atas langit masih ada langit. Tak perlu kita menunjukkan bahwa kita hebat dan oranglain harus tau, tak perlu akhi, ukhti. Hanya Allah lah yang terhebat. Kita manusia banyak sekali aib dan kekurangan. Jika Allah buka aib kita, pastilah tak ada orang yang mau mendekat, melirik saja ogah. Bersyukurlah pada Yang Maha Kuasa.
            Diperebutkan banyak wanita/pria? Well, untuk apa teman? Jangan sering kau tebar pesona ke setiap orang yang kau temui. Apalagi ikhwan, perlu kau tau akhi, hati wanita itu lembut dan sangat sensitif jika berbicara mengenai perasaan. Jangan coba-coba mendekatinya kalau tidak ada niat untuk menikah. Pun menurut sudut pandangku, aku lebih suka sosok yang malu-malu saat bertemu denganku dan memilih menjauh saat ada diriku namun dengan gagah berani mendekati ayah untuk memperjuangkanku.
            Ini untuk teman-temanku tersayang di SMA. Aku tahu, pasti pernah terpikir olehmu “Aku harus miliki dia! Bagaimana pun caranya. Meski pun aku harus menyebrangi lautan”  ini salah besar dan sangat kuno my dear friends. Kau tak bisa memaksa hati seseorang. Pun sadarlah, ini masih SMA. Belum bisa kau menghalalkanya. Toh, seberapa banyak modusmu ke dia, jika Allah bilang bukan jodoh, mau apa? Akankah kau meneguk asinnya air laut yang kau tenggelam saat menyebranginya?
            Memaki? Marah-marah karena sesuatu menyesakkan? Mungkin di saat UTS dibagikan semua nilaimu mendapat nilai yang kau anggap baik kecuali matematika dan ekonomi yang sangat DOWN. Oh friend, ini sakit. Lantas, apakah kita harus marah? Tidak, lebih baik muhasabah diri dan berusaha sebisa mungkin. Memang aku tau, beberapa orang termasuk aku merasa payah dalam mapel hitung-berhitung. Namun, saat kau dan aku merasa sangat putus asa dan tidak bisa dan ingin menangis dan ingin memakan buku matematika dan ekonomi, ups.. jangan begitu. Aku punya satu tips sederhana. Ingatlah Allah friends. Dia akan membuka jalan. Yang membuatku tenang adalah aku teringat bahwa hidup seorang Muslim dijamin oleh Allah. Jadi, untuk apa aku bergalau ria karena nilai matematika dan ekonomi yang buruk? Yang sampai 3 hari 3 malam tidak makan? Tidak, namun aku akan berusaha sebisaku dan berdoa pada Allah meminta pertolongan.
            Akhi ukhti, apa kabar hati? Masihkah ia bergetar saat disebut nama Allah? Atau malah hatimu terus menerus kau beri noda hitam berupa syahwat yang menggebu yang kau sebut dengan cinta? Ya, sejatinya jika kau menyukai seseorang dan sangat terobsesi memilikinya, itu hanyalah syahwat belaka. Jika benar kau mencintai seseorang, cintailah dia dalam diam. Jagalah hatinya, dan adukanlah perasaan itu hanya kepada Yang Maha Penyayang dan ingat jangan mendikte Allah untuk disatukan dengan sebuah nama. Pasrahkan sepenuhnya perasaan itu pada Allah. Hingga esok lusa, jika memang sudah benar siap, bolehlah kau bawa rombongan keluarga untuk menyatakan perasaan itu.
            Sebentar, aku ingin menyelipkan pengalamanku kemarin. Sungguh, aku baru saja menyadari hal yang besar. Banyak ilmu kudapatkan dari mba vida dan kang abay. Dari seminar mereka, aku menjadi sadar bahwa cinta adalah mengikhlaskan. Tak perlu ada ikatan apa pun antara dua insan yang belum halal dan tak perlu saling menunggu satu sama lain. Yang perlu kulakukan adalah menerima ketentuan-Nya dan mengikhlaskan pengharapan di hati. Dan dari seminar itu, aku menjadi tahu, tidak harus seorang pangeran sempurna yang datang pada ayahku. Yeah, dia harus mau bertengkar, menghadapi ujian, saling melengkapi kekurangan, dan bersabar melewati liku-liku kehidupan. Bersama-sama memiliki misi untuk meraih ridho Allah hingga ke Jannah bersama-sama. Saat ini aku hanya perlu menggapai cita-cita dan cinta yang sesuai ridho-Nya. Terimakasih kang abay dan mba vida untuk ilmu yang telah kudapat, jazakumullah khoir.
            Saat menulis ini, kurasakan bahwa Allah begitu mencintai hamba-Nya. Sekarang aku bisa bernafas, bisa mendengar suara merdu Muhammad Thoha Al Junayd melantunkan ayat cinta-Nya, aku bisa menikmati secangkir max tea, disayangi ayah ibu, dikelilingi oleh teman-teman yang shalih dan shalihah yang terikat di Rohis. Kau juga merasakan hal yang sama? Merasa begitu diperhatikan dan sangat dicintai oleh Allah. Kupikir, yang memiliki cinta begitu dahsyat dan kuat untukku hanyalah Allah. Lihatlah, Dia mengatur hidupku sedemikian teraturnya. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman 13)
Kemudian, ada yang sudah mencintaiku 1400 tahun yang lalu. Dia adalah Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menangis mengkhawatirkan nasib umatnya, bahkan di akhir hayatnya, ia menyebut umati umati umati.. Aku rindu, begitu rindu ingin bertemu, melihat wajahnya yang indah bagaikan purnama. Ya Allah aku mohon perkenankanlah aku dan pembaca blog ini termasuk umat Rasul yang mendapat syafaat dan dapat berjumpa dengannya. Aamiin..
Satu lagi, ingatlah firman-Nya

“...Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadid : 20)
Readmore → Muhasabah Diri
Monday, 6 March 2017 12 comments

Menjaga Kehormatan Perasaan

Tentang perasaan seorang hamba Allah. Kau harus tahu bahwa saat ini aku berusaha untuk menyimpan hatiku. Hanya kuberikan untuk yang spesial dan terbaik yaitu dia. Ya, dia yang namanya tertulis di Lauhul Mahfudz untukku. Biarkanlah seorang aku sendiri terlebih dahulu. Jikalau benar kau menyukaiku tolong jangan tampakkan perasaan itu! Harusnya kau bisa menyimpan rapat-rapat dan dalam hatimu saja. Jangan kau coba-coba untuk mengetuk hatiku namun sebutlah namaku saja dalam doamu. Aku mengerti bahwa perasaan jatuh cinta pada lawan jenis memang hal yang lumrah. Tapi, menjadi tidak lumrah jika rasa cintamu untukku melalaikanmu dari Allah.
Untuk lelaki yang sedang kasmaran, kalian jangan pernah bermain dengan perasaan seorang perempuan. Jangan langsung utarakan bahwa kau mencintanya jika kau seusiaku. Namun, cintailah dia dalam diam dan doakanlah. Jika memang jodohmu pasti akan dipersatukan Allah pada waktu yang tepat. Jikalau bukan jodoh, lupakanlah dan bersyukurlah pada Allah telah menghadirkan sosok yang lebih baik. SALING MENJAGA HATI, ITU POIN PALING PENTING. Jangan, kau usik hatinya biarkan dia khusuk memperbaiki diri dan bermesraan dengan Rabb Penggenggam Jiwa.
Pic by me
Ini bukan tentang aku juga menyukaimu atau tidak namun hei, ini tentang sebuah komitmen. Aku sudah berprinsip untuk menjadi single hingga Allah pertemukanku dengan jodoh dunia akhirat. Maaf saja, jika kau merasa berjuang sendiri. Biarkanlah waktu yang menjawab apakah semakin lama perasaanmu itu semakin memudar atau bertambah kuat. Hati memang tak bisa dipaksa, jiwa berlabuh hanya untuk menjaga fitrahnya yaitu kesucian.
Tolong, jangan karena pergaulan di SMA seperti bebas antara laki-laki dan perempuan, kau seperti menutup mata mengenai batas-batas syariat, janganlah begitu. Ini bukan kisah tokoh fiksi dalam novel seperti Dilan dan Milea tapi seorang Zalfaa. Jangan samakan aku dengan Milea yang jatuh cinta pada panglima tempur geng motor dan orang seasyik Dilan. Sungguh, saat ini aku hanya ingin menjaga hati dan tidak ingin terjebak dalam perasaan semu saat SMA.
Aku memang sedang merindu sosok yang aku pun belum tahu siapa dan dimana dia saat ini. Kusalurkan rasa rindu ini dengan menguntai doa untuk jodoh masa depan. Aku harap dia laki-laki yang bermanhajkan salafush shalih. Yang bisa bilang ke ayah dan membuktikan bahwa dia akan selalu sigap mengingatkanku untuk sholat wajib di tepat waktu. Yang siap membangunkanku di sepertiga malam. Yang bisa menundukkan pandangan saat melihat wanita yang bukan mahram. Yang bisa menggenggam jemariku saat langkahku sudah sangat jauh dari jalan-Nya. Aku ingin dia bisa menjadi imam yang baik. Wahai teman hidup masa depan, semoga saat ini kau syahdu dalam ketaatan dan selalu mendapat perlindungan dari Allah di setiap langkahmu. Temukan aku dengan cara yang diridhoi-Nya, in shaa Allah aku bersedia menunggu hingga waktu itu datang.

Menunggunya seperti irama penantian yang penuh dengan melodi indah. Sebuah ketidakpastian yang selalu kurindu kehadirannya. Tak pernah lelah walau tanpa kepastian waktu. Kupercaya bahwa detik bahagia akan hadir. Maka, biarlah aku menjaga kehormatan perasaanku.
Untukmu yang sedang dalam masa penantian,
Wahai jiwa yang merindu, bersabarlah
Biarkan setiap episode kehidupan menuntun kita,
menuntun untuk terus memperbaiki diri dan mendekat pada-Nya
Waktu akan mengungkap seluruh misteri yang kau cari
Tak perlu terburu-buru dalam menjalani skenario-Nya
Esok lusa, akan berakhir juga masa penantian itu
Maka, jemputlah dia dengan cara yang dirihoi-Nya
Tak hanya sehidup semati namun sehidup sesyurga
Bersama dia, kau akan merasa surga lebih dekat
Selagi menunggu labuhkan jiwa pada Sang Pemilik Hati 
"Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Ali Imran : 31)
Sibukkan diri untuk terus memperbaiki diri. Masih banyak kewajiban lain yang harus kulakukan. Berusaha lebih taat pada Allah, berbakti pada orangtua, fokus pada perbaikan nilai-nilai di sekolah, berbagi pada sesama Muslim, dan menuntut ilmu syar'i mengingat diriku masih miskin ilmu agama. Luruskan niat karena-Nya. Cintai dan amalkan sunah Rasul. Jika kita mencintai Allah dan Rasul Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam dengan sebenarnya, in shaa Allah cinta terbaik akan kita dapat dari-Nya.


#selfreminder
#notetomyself
#semangatsinglesampaihalal
#jangangampangdimodusinzal
#kebanyakanhastag
#biaringapapa
Readmore → Menjaga Kehormatan Perasaan
 
;