Orang Dalam? Lewat!

bukan orang dalam kok 

 

Tepat ketika menulis ini, jam di dinding hendak menunjuk pukul 02.00 WIB dini hari dan gue masih terjaga. Padahal, beberapa jam lagi, inshaallah bakal ada meeting. Sebenernya, gue bukan tipikal yang bisa begadang terus bangun Subuh lanjut kegiatan. Tapi, kadang kalau ngantuk banget balik tidur, hmm, nanti bismillah kan saja, semoga bisa dateng tepat waktu.

Entah kenapa, gue kepikiran buat offline sejenak dari semua social media. Entah Instagram, Quora, Twitter, bahkan WhatsApp untuk sementara waktu. Why? Gue pengen detox sosmed dan mengenal diri secara mendalam. Gue merasa terdistract dengan adanya sosmed (sometimes). So, I need to refresh I think.

Tapi, nggak bisa deh gais. Gue nggak punya privilege itu. Privilege buat off sosmed selama liburan. Ada amanah yang mengharuskan gue on sosmed dan update berita terbaru. Bersyukurlah kalian yang belum punya tanggung jawab apa pun dan bisa detox sosmed sejenak. Beneran dah, itu sebuah privilege.

Beda sosmed beda netijennya. Kalau di Instagram, lebih ke visual. Yang good looking akan mendapatkan atensi yang baik. Di twitter, orang-orangnya lebih blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling, langsung she cut misal ada perseturuan, pas perseteruan lagi panas-panasnya, eh ada yang ngiklan jual Netfilx, Spotify, dll hadeh. Kalau Quora, bisa lebih tau banyak hal karena orang-orang yang main di Quora termasuk yang open minded (dalam artian positif), eh tapi beberapanya kelewat open minded, jadinya yaa gitu, kudu hati-hati deh dalam memilih jawaban topik yang pengen diikuti di Quora.

Tapi gais, gue ketika main di 3 sosmed itu, ada 1 hal yang cukup membuat gue menjadi kepikiran akhir-akhir ini. Yaa nggak sampai overthinking seperti beberapa netizen yang berpikiran kalau divaksin bakal jadi titan, nowei nowei. Dan hal itu..

Hal itu adalah ORANG DALAM.

Yes! Lo nggak salah baca “orang dalam”. Banyak topik yang bahas ini, hampir di semua sosmed. They said.. kalau dalam memasuki dunia kerja nanti, peran orang dalam sangat berarti. Katanya, sepintar apa pun lo, seberapa banyak prestasi lo, seberapa tinggi IPK lo, it means nothing without “orang dalam.”

Iya gitu.. kejam yaa? Well, gue memang belum lulus kuliah dan nggak tau gimana persaingan memasuki dunia kerja itu.. tapi izinkan gue berbagi sedikit pandangan yaa mengenai fenomena orang dalam yang udah menjadi buah bibir selama ini.

Tahu Alvi Syahrin? Yap, penulis 3 buku yang sangat inspiratif menurut gue. Nah, di buku yang berjudul Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa, Alvi pernah berkisah tentang cerita hidupnya setelah lulus kuliah. Setelah lulus, dia nggak langsung dapet kerja gitu aja gais. Padahal, Alvi termasuk orang yang berkualitas. Dan, menilik tulisan-tulisannya, dia termasuk orang yang religious, deket sama Tuhan. Kayak.. dalam pandangan gue, dia kurang apa? Tapi, gais, kalau gue nggak salah inget Alvi tuh nganggur sampai 3 tahun-an. Iyaa, after being a scholar, dia harus menunggu selama itu untuk mendapatkan pekerjaan.

Alvi lurus, dia hanya mau bekerja dengan cara yang halal dan disuka Allah. Dan indahnya, gue cukup terkesan dengan pola berpikir Alvi yang selalu menanamkan pikiran “Allah pasti bantu kok” :’). YES! ALLAH PASTI BANTU. Di tengah hampir keputus-asaannya itu, dia tetap berbaik sangka pada Allah, nggak mungkin Allah menelantarkan hambaNya yang selalu berdoa meminta hal baik. Dan sesabar itu menunggu selama 3 tahun yang nggak mudah dan penuh perjuangan.

Yang bikin merinding gais, setelah penantian lama itu, akhirnya Alvi diterima di perusahaan luar negeri. Selanjutnya, lo baca sendiri yaa di buku yang mengubah banyak sudut pandang gue, ehe. See? Allah tuh pasti nggak bakal menelantarkan hamba-Nya yang selalu berusaha dekat dengan Dia. Contoh kasus Alvi tuh yang real story.

Masih kurang? Oke, I’ll tell you my own story. Tapi kalau cerita Alvi udah cukup, bagian gue bisa di skip dan langsung ke paragraph akhir yaa.. Ceritanya, dulu gue pengen diterima di sebuah instansi yang di dalamnya, terdapat profesi yang menjadi passion gue. Tapi, jurusan gue tuh nggak linier sama posisi itu. Tapi, gue coba dengan modal nekat, eh nggak keterima, haha. Lagipula, gue masih inget betul. Pas itu, masih semester awal, minim pengalaman, sok-sokan daftar, yaudah makan garam dulu yaa Zal.

Nah, di tahun berikutnya gais, instansi ini buka lowongan lagi. Dan di tahun kedua itu, gue ragu mau daftar nggak. Kayak, udah ada beberapa tanggungan yang bikin gue mager ngirim CV sama portofolio. Dramanya gais, gue ngirim tepat 1 menit sebelum ditutup! Haha iyaa, gilak sih. Gue pas itu gamau daftar karena udah pesimis duluan, astagfirullah aku. Tapi, di detik-detik terakhir, gue memutuskan untuk daftar di hari terakhir pukul 23.59.

Alhamdulillah, gue lolos berkas dan dipanggil buat seleksi wawancara. Gue masih inget, pas itu ditanya, kok milih posisi yang nggak ada hubungannya sama jurusan. Yaa gue sok-sokan jawab mengutip kata Mba Najwa yang bilang kalau setiap orang bisa kok menekuni profesi itu asalkan tekun, bekerja keras, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Seleksi wawancara pun selesai, katanya akan diumumkan dalam waktu dekat. Eh udah hampir sepekan donk nggak diumumkan dan gue kayak yaudahlah. Etapi disuatu hari, pas gue bobok siang dan bangun tidur, sebuah nomor nggak dikenal menghubungi gue yang menyatakan kalau gue DITERIMA! Huaa, gue yang pas itu nyawanya belum terkumpul, langsung histeris dan bersyukur. Gue heboh banget, yaaAllah. Langsung kabarin mama buat ngasih tau kabar bahagia ini dan gue hampir nangis saat itu. Karena antara nggak percaya dan merasa Allah baik banget dah. Mungkin rada lebay yaa haha but that’s what I felt.

Nah, darisitu gais, gue nggak ada kenalan orang dalam. Beneran.. dan gue bukan orang yang religious btw. Tapi, gue membuktikan kalau sesuatu yang terlihat impossible pun, bisa kok diraih asalkan punya kemauan kuat. Inget tuh di kutipan trilogy Menara yang ditulis Uda Fuadi, dimana ada kemauan, pasti ada jalan. Asalkan kita, nggak pengen doank, tapi ada ikhtiar juga. Terus, setelah itu, merayu Allah biar dikasih dan minta doa orang tua. Kebiasaan gue sih, selalu minta doa keduanya, walau urusan kecil kayak mau meeting aja, gue minta doa sampai nyonya besar nanya, “lah ngapain minta doa”, haha. Dan gue Cuma jawab, “biar lancar.”

Ok, nggak memungkiri sih, orang yang memiliki kenalan atau istilahnya orang dalam bakal lebih gampang aksesnya buat diterima di suatu perusahaan atau tempat kerja. But I want you to remember.. ada hal yang lebih powerful daripada itu. Ketika kita mencoba dekat dengan Allah, hal terbaik akan diberikan-Nya di waktu yang tepat. Serius deh. Bisa jadi, lo nggak diterima kerja disitu karena hal itu nggak baik buat lo. Nggak papa, terus berpikir yang positif yaa, Allah pasti bantu kok.

So, buat kamu dan aku kelak.. walau pun nggak punya kenalan orang dalam izokeee. Kita punya Allah yang Merajai segala hal. Yang tahu mana yang terbaik buat kita. Well, mungkin saja mereka kenal dengan Bupati, pejabat setempat, atau pimpinan disitu, tapi kan mereka manusia, kekuasaannya terbatas tapi jika kita mendekat pada Allah? Pemilik bumi dan seisinya? Yang merajai langit dan bumi? He knows the right time 😊 jadi, nggak usah complain lagi yaa karena nggak punya kenalan orang dalam, oke?

How I Build Inner Peace in 2021

 

dari orang baik, terima kasih!


Bulan awal di tahun baru, postingan Instagram, story WA, tweet teman, satu dua jawaban di Quora, hampir semua tidak lepas dari kata resolusi dan tahun baru. Yea, seenggaknya, kalau yang dibagikan adalah hal positif, hal tersebut akan nge-trigger orang lain untuk berbuat hal yang positif. Keep going yak buat share hal-hal baik di sosmed. Di dunia yang penuh konten nggak jelas ini, we need someone like you.

But guys, gue nggak bakal bahas resolusi mau pun rewind tahun 2020 lalu. Banyak episode kehidupan yang kayak roller coaster yang gue alami. Hmm, tapi detailnya biar gue dan orang-orang terdekat aja yang tau, ehe. Nah, awal postingan d u a r i b u d u a p u l u h s a t u ini, gue mau mengucapkan.. TERIMA KASIH.

Iya, terima kasih. Buat siapa?

For you, who put my name on the top of your list.

Maksudnya gimana tuh Zal? Siapa?

Ceritanya gais, saat gue berkontemplasi, cielah nggaya amat, haha.. intinya, kayak sok-sokan merenung gitu lah, gue menemukan sebuah gagasan baru. Iya, sebuah pemahaman yang membuat hati menjadi lega dan nggak gampang terdistract dengan hal-hal toxic. Apa itu?

Gini.. pernah nggak sih lo nge-chat orang di WhatsApp atau via media mana pun itu. Terus, dia balesnya 5 jam kemudian atau sepekan kemudian :’) entah ditinggal ke puncak Himalaya dulu atau mendaki gunung Sahara, entah, gue nggak ngerti haha. Perasaan lo gimana sih?

Jujur, dulunya, gue yang berkecimpung dalam dunia Public Relation, yang kalau respon tuh dituntut buat bisa gercep dan kalau ada orang yang gue WhatsApp balesnya lama bangeet, bahkan bisa bikin story tapi nggak bales chat, rasanya hmmm, hadeh.. nano nano gitu haha..

Tapi, when 2000’s bae this year turning into 21, gue nggak boleh berpikir kekanak-kanakan lagi. Sekarang, misal ada yang bales chat lama, pikiran gue menjadi berubah dan dari analisa gue brati ada dua kemungkinan. Apakah 2 kemungkinan itu?

Pertama, dia sibuk. Ini beda loh ya sama sok sibuk. Karena gue pernah ada di posisi ini, yang sibuk, yang nganggurin banyak chat dari pagi sampai malem, tepatnya Maret lalu, saat UNS menggelar Dies Natalies, ohya saat itu pandemi belum begitu melunjak kayak sekarang, jadi masih ada beberapa acara. Pas bulan Maret itu, nggak cuma 1 2 hari gue slow respon. Karena ada beberapa event yang membuat mobilitas gue begitu tinggi saat itu. Jadi, ya gitu, gue bales chatnya lama. Makasih yaa udah mau dengan sabar menunggu balesan chat gue saat itu.

Kedua, itu berarti.. orang tersebut nggak memprioritaskan gue. Iya, setiap orang di dunia kan punya prioritas masing-masing. Gue sendiri melihat, bahwa interaksi manusia tuh ada yang deep circle, ada yang biasa aja. Nah, kalau kita udah masuk ke dalam deep circle seseorang, tanpa harus diminta, mereka akan memprioritaskan kita. Entah, sesederhana fast respon ketika chat, meluangkan waktu buat ketemu dan ngobrol bareng, memerhatikan hal kecil yang menjadi favorit gue, yang ngabarin kalau bakal ada webinar kece, yang sabar ngajarin statistic (inget statistic rasanya hiiih kayak merinding), juga bahkan sereceh ngingetin absen (ini bermanfaat banget buat gue yang akhir tahun lalu ada beberapa kegiatan), de el el. Kalau seseorang nggak memprioritaskan kita, yaudah nggak papa. Kita kan nggak bisa memaksakan sudut pandang setiap orang untuk selalu sepakat atau sefrekuensi dengan kita.

Ngomongin tentang hal prioritas-memprioritaskan dalam sebuah interaksi nih yaa. Gue keinget sebuah hadist, bentar.. browsing dulu karena gue redaksi tepatnya nggak hafal.. nah, ketemu..

“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun dalam kesatuan-kesatuan. Yang saling mengenal diantara mereka akan mudah saling tertaut. Yang saling merasa asing diantara mereka akan mudah saling berselisih.” (HR Muslim)

Dari hadist itu, kadang kita ngerasa nggak sih kalau temen-temen deket kita tuh sifatnya nggak jauh beda sama kita? Misal, lo termasuk orang yang suka ikut kegiatan sosial, kayak jadi relawan atau berbagi suatu hal di hari Jumat, cepat atau lambat lo bakal menemukan orang-orang yang “sama” kayak lo. Atau kalau lo suka sama seorang tokoh, eh dia juga suka sama tuh tokoh, bisa gue jamin percakapan akan berjalan dengan lancar tanpa krik krik sama sekali. Atau, lo tuh orangnya berhati lembut dan senang dengan kebaikan, pasti lo akan nyaman dan hangat kalau bertemu dengan orang yang kalem dan nggak aneh-aneh tingkahnya.

Get the point?

Oke lanjut, hal di atas juga serupa dengan perkataan seorang tokoh, yang menjadi salah satu orang favorit versi gue yakni Eyang Habibie, “Mau ganteng atau tidak, kalau hatinya tidak satu frekuensi, bagaimana?” mm, dalam konteks ini mungkin Eyang Habibie membicarakan sebuah kisah hubungan roman yaa tapi menurut gue, bisa juga dalam konteks berinteraksi sama orang lain. Kalau nggak sekfrekuensi tuh gue banyak diemnya *ok sisi introvert gue keluar.. haha. Persamaan frekuensi tuh bakal membuat komunikasi jadi lancar dan pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Kalau nggak sefrekuensi yaa bakal kresek-kresek, hadeh.

Bahkan di sebuah video edukatif yang gue tonton di YouTube, mengatakan teori yang berlawanan dengan apa yang kebanyakan society katakan saat ini. Kan banyak nih orang-orang yang bilang kalau “eh lo kan introvert yaa, cari lah sana yang ekstrovert biar hidup lo berwarna.” Nah ternyata gais dalam video yang pengelolanya adalah para sarjana psikolog ini bilang kalau hal itu nggak sepenuhnya benar. Bisa jadi, seorang introvert akan mudah merasa cocok dengan yang sesama introvert. Begitu pula ekstrovert. Yah, gue sependapat sih. Gue kasih contoh gini, seorang introvert tuh kalau nggak ada alasan yang jelas buat keluar rumah, dia bakal memilih ndekem di rumah atau di kamar, lalu melakukan hal-hal yang ia suka, kayak baca buku, nonton film, documenter, atau apalah itu. Nah, kalau si introvert ini bakal match sama ekstrovert yang energinya didapatkan dari luar, biasanya sih suka keluar rumah yaa.. bayangkan, betapa mumetnya kalau dalam sebuah hubungan, yang satu menganggap kenyamanan adalah di rumah, yang satu kalau keluar dan bertemu banyak orang.

Dan pas nulis ini.. gue jadi membayangkan wajah temen-temen deket gue, orang-orang yang berlaku baik ke gue.. Iya sih, kita ternyata punya kemiripan entah dari karakter, prinsip, sudut pandang, mau pun bacaan. Pasti ada lah the same thing that connect us. Gue mau bilang ke temen-temen yang udah baik selama ini.. terima kasih banyak yaa! Dunia gue menjadi lebih baik karena Allah hadirkan kalian ke dalam hidup gue. Gue emang jarang posting kalau kita meet up atau ngobrol, bukan karena nggak sayang tapi emang beginilah gue haha, palingan sesekali. Dan gue nggak bisa sebutin nama kalian satu per satu, karena akan memakan halaman, tapi kalau kamu baca ini.. iya, kalau kamu merasa salah satunya.. tetaplah menjadi orang baik yang gue kenal yaa :’) yang mau mendengar tanpa menghakimi dan selalu support gue dalam melakukan hal baik. Serius, kok nulis gini aja, mata gue berkaca-kaca yaa. 

Gue inget bener, semenjak SMA gue udah berdoa yang intinya minta sama Allah buat dipertemukan sahabat yang salihah, yang memahami gue, dan nggak pernah bosen dalam mengajak kebaikan.. dan Allah hadirkan ituuu pas gue kuliah :’) bahkan, lebih dari permintaan gue. Sobi gue nih yaa, yang deket, yang sering jadi korban curhatan panjang nan lebar misal ada sesuatu, dia tuh mashaallah, belum pernah gue ketemu orang se-innocence dan se-pure dia. Yang gue call malem-malem, padahal dia jadi leader acara sebuah project yang harus segera diselesaikan. Inget nggak sih lu, pas gue telpon awalnya hella melancholic, tapi akhirnya ketawa juga, lol. Dan pas gue nangis lu cuma bilang “udah nggak papa, ini bukan salahmu kok.” Eh tapi serius, itu calming sih, haha. Heh, kamu yang kumaksud kalau pas baca ini nggak usah senyum-senyum yaa nanti gula minder karena kalah manis sama senyummu haha. Barakallahu fiik..

Nggak cuma itu, temen-temen yang ekstrovert tapi paham akan sikap gue, gue juga mau bilang makasih yaa  udah  mau sabar menunggu adaptasi gue yang nggak sebentar. Gue udah nyaman sama jokes kalian kok yang kadang ngalahin bapack-bapack di grup keluarga, haha. Thank you thank you.

Menilik itu semua, kalau sekarang ada yang bales chat lama atau nggak memprioritaskan gue, yaa nggak papa, mereka punya kesibukan masing-masing juga. Energi positif ini terlalu sayang kalau dibuat focus dengan hal-hal remeh itu. Mending, gue focus sama orang yang jelas sayang sama gue.Yang mungkin, juga menyebut nama gue dalam doanya *uhuk, kode biar didoain, haha. They deserve my attention, love, and good speech from me. Terutama buat keluarga gue, ayah, mama.. ah, I can’t say any words betapa sabarnya mereka yang menghadapi gue yang terkadang astaghfirullah ini, eh ralat, nggak terkadang tapi sering astaghfirullah. Makasih Yah, Ma untuk cinta tak bersyarat selama ini. Semoga Allah melimpahi keduanya dengan kebaikan, aamiin.

Jadi, gimana? Setelah baca ini apakah ada sudut pandang dari lo yang berubah? Yup, intinya sih life less dramatic, kalau kita pinter memilah mana yang perlu menjadi prioritas dan mana yang enggak. Iya, masalah akan selalu ada, namanya juga hidup tapi gue yakin masalah dihadirkan Allah bukan buat menjatuhkan kita sedalam-dalamnya tapi untuk membentuk pribadi kita menjadi lebih kuat sekaligus sabar, yaa dianalogikan dengan tes akhir lah. Kan kalau mau lanjut semester depan, pasti ada tesnya kan? Nah! Dan pas masalah itu hadir, akan keliatan kok mana orang-orang yang tulus sama kita, yang bakal tetep menguatkan, menggandeng tangan agar tak kehilangan pegangan, dan menguatkan pundak agar siap menopang hal baik. Akhir kata, semoga teman-teman yang sudah mau baca sampai akhir sehat selalu. Sampai jumpa..


Akhirnya Kita Udahan

 

feelin' blue

Hari itu, aku memandang komputer yang menampilkan halaman Microsoft Word. Tempat dimana aku sering menghabiskan screen time. Untuk menulis, menyusun konten, membuat pertanyaan wawancara, atau se-iseng curhat pada diri sendiri. Namun, kali ini berbeda. Seorang teman lama menghubungiku. Awalnya menanyakan kabar. Hingga, yaa, seperti yang sudah-sudah, ia menejelaskan padaku mengenai masalah.klasik.anak.muda.

Something, we called LOVE.

Awalnya, kamu dan dia berjumpa dalam sebuah workshop. Lantas, tak sengaja bertemu dalam kelompok penugasan yang sama. Diam-diam, kamu mulai tertarik padanya. Katamu, dia cerdas, berada di jurusan yang kamu idolakan, berwawasan, dan memiliki public speaking yang bagus. Dan seperti yang kamu ceritakan, dia agak bad boy dan hal tersebut malah menambah kekagumanmu. Serius, aku nggak paham, kenapa kamu berpikiran bahwa bad boy malah dapat menambah daya tarik?

Kamu pun mencoba mengimbangi idenya, mencoba berpendapat walau isu yang dibahas benar-benar berbeda dari jurusanmu di kampus. Semalaman kamu membaca buku, jurnal, dan menonton beberapa dokumenter di Netflix. Kamu pun mulai berdiskusi dengannya. Menjadi satu frekuensi.

Workshop pun berakhir. Penugasan kelompok telah usai dan selamat, kelompokmu dengannya mendapatkan predikat best of the best karena ide bersama yang disusun. Semenjak itu, kalian mulai intens berkomunikasi. Entah memang karena ingin berdiskusi atau ada maksud tertentu?

Akhirnya, kamu pun mulai berharap, menciptakan sebuah ilusi dan hasrat dalam hati. Iya, aku tau kok rasanya.. ketika mendekati semester akhir belum juga menemukan yang pas di hati, diledek ketika kumpul keluarga besar, sering ditawarkan untuk berkenalan dengan orang asing oleh tante atau om. Haha, tapi aku sih nggak terlalu ambil pusing. Tapi, kamu mulai gelisah.. dan tepat ketika itu, dia yang katamu berwawasan luas mulai mengungkapkan kekagumannya padamu.

Katanya, kamu gadis yang mandiri dan menyenangkan. Bersama lah kalian dalam sebuah hubungan. Hari-hari berdua rasanya manis sekali, dunia serasa milik berdua, yang lain hanya mengontrak. Kamu.. mulai banyak menghabiskan waktu bersamanya. Walau masih pandemi, karena kalian berada di satu kampus yang sama dan tidak pulang kampung, masih bisa jalan bersama.

Namun, hari itu datang juga.. kamu mulai gelisah. Ketika dia tidak menghubungi. Ketika dia tidak memberi kabar. Ketika dia tidak menyapa selamat pagi. Kamu pun mulai merajuk dan menuduhnya macam-macam. Dia pun meminta maaf, katanya baru sibuk praktikum dan persiapan magang. Kamu pun memaklumi dan memaafkannya setelah mendapatkan coklat manis darinya.

Namun, hubungan baik itu tidak bertahan lama. Kamu bercerita.. tiba-tiba, dia tidak bisa dihubungi. Kamu cemas namun mencoba menghibur diri. “ah, jurusan dia kan memang baru sibuk-sibuknya.” Namun, kali ini berbeda. Sudah sepekan tidak ada kabar darinya. Chat darimu tidak kunjung dibaca olehnya. Bahkan, tidak ada update story dari kontaknya. Kemana dia?

Kamu pun datang ke fakultasnya. Melangkah dengan ragu, apakah ia disana. Matamu memandang awas setiap sudut tempat ketika sampai di prodinya. Matamu pun menangkap sosok yang amat kamu cintai ketika itu. Dia yang sedang tertawa bersama teman-temannya mendadak bungkam ketika melihatmu. Dan, dia menghampirimu..

Kalian memutuskan untuk pergi ke danau, duduk berdua di bangku dekat pohon beringin. Membicarakan apa yang terjadi. Tiba-tiba dia bilang, “maaf, kayaknya aku nggak bisa lanjut deh.” Matamu tajam dan berkaca mendengar ucapannya. Dia melanjutkan. “sorry, aku mau fokus sama masa depanku. Aku nggak mau terdistract. Dan kamu, terlalu baik buat aku yang berada di lingkungan (dia pun menceritakan teman-teman pergaulannya). Kamu menjawab “tapi, kita bisa kan melewati masalah ini berdua? Ngobrol baik-baik. Aku juga menerima kamu yang seperti itu” dan laki-laki yang duduk di sampingmu itu hanya menunduk dan diam. Lantas, menggeleng lemah.

Kamu pun terisak. Hatimu sudah terlanjur kamu percayakan pada laki-laki itu. Sudah 2 tahun berjalan, namun karena alasan ini? Kamu yang sudah membayangkan akan memiliki masa depan bersamanya, bahkan siap membangun semua dari nol mendadak runtuh karena ungkapan sore hari di danau itu. and here you go, kamu mengirimiku pesan tentang rasa sesakmu.

Sudah sekitar 2 bulan berlalu, namun kamu belum bisa melupakannya. Iya, aku paham kok. Kamu tipe yang tulus dan mendalam ketika mencintai seseorang. Namun, bolehkah aku bertanya? Mengapa kamu sedemikian rupa yakin bahwa dia adalah laki-laki terbaik di dunia ini? Maksudku, ada miliaran orang yang tinggal di bumi ini dan kenapa hatimu masih terpaku pada satu orang itu?

Ada kalimat indah yang sampai sekarang masih aku pegang erat, yang membuatku bisa bertahan dalam keadaan sulit yang tidak aku sukai. Allah mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk hamba-Nya. Bisa saja, laki-laki itu memang bukan yang terbaik untukmu. Mm, dan kalau boleh jujur sebenarnya kamu benar mencintai pada dirinya seorang atau hanya karena jurusannya yang keren? Well, maaf sebelumnya.. namun, harus kukatakan, bisa jadi seseorang yang sekarang berada di jurusan favorit, belum tentu masa depannya cerah. Bagaikan bintang yang bertaburan di langit, banyak, sangat banyak, hingga sulit untuk menjadi yang paling bersinar.

Aku tau kamu sangat mengidolakan dan mengelukan cowok yang berada di fakultas itu yang katanya masa depan terjamin dan kebetulan dia yang datang. Tapi, bukan dimana jurusannya tapi lihatlah kualitas dirinya secara mendalam. Aku, kamu, kita semua..kelak jika berumah tangga tidaklah melulu mengagungkan soal materi namun juga ketentraman hati. Well, memang sih kalau dalam rumah tangga memiliki finansial yang stabil adalah hal yang OK. Namun, tolong.. jangan jadikan hal itu sebagai tujuan utama.

Kalau boleh berpendapat. Laki-laki tidak hanya kamu lihat dimana jurusannya sekarang dan kamu mengira bahwa masa depannya akan cerah. Enggak. Namun, coba bayangkan, apakah jika bersamanya anak-anakmu akan mendapatkan figur ayah yang baik? Yang lembut dan tidak berkata kotor. Yang mampu menjadi imam dan nahkoda yang tangguh bagi keberjalanan rumah tangga? Yang mampu memahami bahwa diamnya istri berarti sedang ada yang tidak beres. Yang mampu menahan tangannya dari berbuat kasar padamu dan anak-anakmu? Apakah dia seperti itu? Tolong, pikirkan lagi.

Well, semoga kamu dapat mengerti yaa. Semoga ke depan, kamu tidak lagi mudah mengiyakan hanya karena dia dari jurusan itu. Bahkan, misal ada laki-laki hafidz Quran, tutur katanya lembut, perilakunya sopan,sorot matanya teduh menenangkan namun dari jurusan yang nggak terlalu favorit, apa iya kamu bakal menolaknya hanya karena dia bukan dari jurusan yang kamu idolakan? Ohya, satu lagi.. biasanya cowok santun seperti itu tidak akan berani mengungkapkan perasaan langsung di hadapanmu.. tapi.. dia akan membawa satu rombongan keluarga, memintamu secara baik-baik melalui ayah tersayang. Begitulah..   

 

Salam hangat dari seseorang yang peduli padamu,

Zalfaa

Enggan Mendikte

minjem di perpusda boyolali, bagus, tapi sayang belum rampung

Hidup terkadang lucu yaa. Sesuatu yang nggak pernah diharapkan bisa tiba-tiba terjadi. Sesuatu yang nggak pernah terpikirkan, tiba-tiba datang begitu aja. Dan well, semua memang sudah ditakdirkan sesuai rencana Allah, Rabb Semesta Alam. 

Tepat sebelum menulis ini, gue baru aja deep talk sama mama, menertawakan kehidupan yang bisa berubah drastis gitu aja. Di masa pandemi apalagi, banyak hal yang nggak sesuai ekspektasi, banyak realita kehidupan yang berubah sangat, tapi alhamdulillah, keluarga gue kayak yaa menganggap this too shall pass, ada Allah yang menjamin hidup kita, sesulit apa pun kondisi saat ini. 

Setelah salat Isya tadi, mama tiba-tiba masuk kamar gue. Gue yang buka laptop mau nugas dan nulis berita, menjadi tertunda. Menanti, nyonya besar mau bicarain apa. Wait, kok gue udah lupa sih awalan tadi mama membuka percakapan dengan apa, haduh, kebanyakan makan makanan instant yaa lu zal, hadeh. Skip. Skip. Langung ke poinnya aja yaa, haha..

Nah, tadi mama menyinggung masalah, ehem, memilih pendamping hidup.

Gue kaget, tumben banget dah mama ngomong beginian yang deep talk gitu. Biasanya yaa cuma ngeledek gue udah ada gandengan belum haha tapi kan yaa gitu, gue memilih prinsip yang dimau Allah. Nah, tiba-tiba mama bilang besok kalau ketemu cowok gini gini gini.. (yaa intinya nasehat seorang ibu pada anaknya gitu lah gais). Dan, mama menitikkan air mata. Duh, gue nulis ini juga masih baper, terbawa suasana tadi. Dan, kok gue merasa seolah-olah, mama sadar yaa, besok, entah kapan, gue nggak akan satu rumah lagi dengan beliau. Nggak akan bisa rebutan ngaca buat dandan. Nggak bisa lagi bahas skincare sampai ayah geleng-geleng menyerah. Karena somehow, someday, if someone come and ask me to be his wife, I’ll be him dan bakti tertinggi pindah kesana.

Duh, bentar gais, gue terharu nih haha.. boro-boro, orang si dia aja belum tau siapa dan dimana. Haha, chill out..

Mama berpesan yang penting lihat dulu agama seorang cowok dan sekufu tentunya. Iya sih gue setuju. Kalau nggak salah Imam Syafi’i juga berpesan hal yang sama, untuk mencari seseorang yang baik agamanya, agar ketika marah dia nggak akan menghinakan perempuan atau kasar (serius, gue paling nggak suka dibentak, atau cuma diteriaki walau bukan dalam konteks marah, gue nggasuka nada tinggi dalam suatu pembicaraan).. dan kalau dia mencinta dia bakal memuliakan, mashaallah..

Selain itu sih, yang penting yaa bisa menghormati mama dan ayah gue lah yaa sebagaimana gue sayang sama mereka berdua. Yaa nggak sih, orangtua adalah kunci surga bagi seorang anak perempuan ketika belum menikah. Bagaimana bisa, seorang wanita lebih memilih menanggalkan kehormatan orangtua hanya demi seorang lelaki yang tidak tau sopan santun terhadap mertuanya? Jadi, penting sih ini..

Ok, karena deep talk bareng mama hari ini.. gue menjadi teringat puisi milik Ustadz Aan Candra Talib, seorang yang masyhur karena ilmu agama dan kepiawaiannya dalam merangkai kata. Kalau nggak salah, puisi berjudul autumn. Kalimat yang berbunyi.. sepasrah itulah aku memasrahkan hatiku untuk jatuh hati pada siapa yang Dia kehendaki seperti daun maple yang berguguran. Yap, seperti daun yang jatuh.. begitu..pasrah dan tanpa prasangka. Well, sekarang, gue nggak mau lagi mendikte Allah dalam urusan ini. Nggak mau menyebut nama tapi biarlah diberi yang terbaik aja sesuai versi-Nya. Tinta telah kering, takdir telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Yaa Rabb, tolong bantulah saya untuk tetap teguh dalam memegang prinsip ini.. walau sekarang.. tidak mudah. Aku memohon pertolongan-Mu Yaa Rabb.

Selalu ada harapan bagi hati yang bertuhan. Untuk saat ini, gue mau fokus dulu deh buat apa yaa. Mm, menekuni dunia jurnalis? Atau yaa belajar yang bener biar lulus tepat waktu? Yaa, atau menuntaskan amanah di SKI, YOT, Inspirasi Malam. Sebenernya semua kesibukan itu cukup menguras energi gue sih. Karena semuanya nggak tau gimana kok bisa-bisanya, semua di organisasi masuk pengurus inti. Belum lagi magang kerja yang ada tuntutannya juga.Ya Allah, sungguh amanah nggak pernah salah memilih pundak, tolong kuatkan saya. 

Tapi, yaa kadang lucu sih.. misal kalau keluarga jauh datang dan nanya sudah punya pacar belum, jawaban gue selalu sama, menggeleng dan tersenyum. Pertanyaannya sih salah haha. Dan, tadi pas kelas online, dosen gue mewanti-wanti buat mahasiswa semester gue gini, buat segera cari yang cocok di hati. Dan teman kanan kiri gue, ada yang seprodi saling jatuh cinta lalu berpasangan. Temen-temen di Humas, beberapa sudah menemukan yang pas di hati. Dan gue, beberapa kali dihantui pertanyaan itu, bahkan sekelas dosen juga pernah nanya , udah punya pacar belum-_-. Kuat-kuatin dah lu Zal, okeee

Alhamdulillah gue bukan termasuk golongan yang uwu-uwu, yang kalau liat pasangan muda nikah terus baper, alhamdulillah, enggak. Jadi, yaa nggak ngebet amat tapi nggak meremehkan juga. Karena ya namanya juga hidup, setelah nikah pun pasti yaa ada masalah cuman di instagram yang diliatin enaknya doank. Semua ini tentang proses mendewasakan dan memantaskan diri. Bukan karena dia tapi Dia. 

Untuk saat ini, biarlah gue fokus gimana cara mengukir senyum di wajah mama ayah adik, menaruh perhatian pada studi, organisasi, menulis berita, dan belajar untuk menjadi manusia. Tak lupa, berteman dengan tumpukan buku yang memperluas sudut pandang, alhamdulillah when I read many books, it diverts me from uwu-uwu stuff, there are many considerations when u decide to choose someone to be the part of your life, to be father of your children, for the rest of your life. Dan sebaik-baik partner adalah partner kebaikan yang sama-sama ingin bertetangga dengan Rasul di akhirat kelak, selalu berusaha menjaga keluarga dari pedihnya api neraka  :’) when it comes, may His barakah overflowing us with samawa. 

Allohumma inni as-aluka minal khoiri kullihi ‘aajilih wa aajilih, maa ‘alimtu minhu wa maa lam a’lam. Wa a’udzu bika minasy syarri kullihi ‘aajilih wa aajilih maa ‘alimtu minhu wa maa lam a’lam. Aamiin..

(doa dikutip dari website bernama rumaysho.com yang ditulis Ustadz M. Abduh Tuasikal) 

Sedikit Curhat dan Ungkapan Rindu

random pic, idc

Sebelumnya, gue mengucapkan maaf yaa misal tulisan kali ini agak nggak terstruktur. Jujur, hari ini tuh rasanya kayak gimana yaa.. susah buat mengungkapkannya. Oke gini. Gue merasa.. sedih, malu, sekaligus memendam rasa rindu. 

Dulu.. gue sering banget sedih karena suatu hal. Benar-benar sedih yang melankolis gitu, haha. Agak lebay sih. But I’m a deep thinker, eh jatuhnya malah overthinking kali yak tapi sekarang udah b aja sih alhamdulillah. Bisa memilah mana yang perlu dimasukkan hati untuk dipikirkan, mana yang gue harus bodo amat.

Nah, balik lagi. Gue dulu sering banget sedih karena suatu hal. Gue berharap pengen jadi.. mm, anggap aja pengen jadi wortel yaa.. Ini nggak beneran sih tapi buat analogi aja haha. Kenapa wortel? Yaa, suka-suka gue lah :p. Nah, tapi keadaan membuat gue, seolah-olah menjadi wortel adalah hal yang mustahil dan unreachable ketika itu..

Tapi, sekarang.. gue sudah menjadi wortel (Sekali lagi ini cuma analogi gais, gue masih jadi zalfaa, seorang manusia kok, tenang). Nah, kenapa gue bisa jadi wortel sekarang ini? Sungguh, tak lain dan tak bukan hanyalah karena Allah. Semua atas segala kuasa-Nya, mashaallah. Karena kalau dilogika pun, untuk menjadi wortel adalah hal yang sulit dijangkau tapi yeah Allah selalu punya cara untuk menghibur hati yang rapuh kayak gue, cielaah.

Apakah dengan menjadi wortel hari-hari gue menjadi selalu bahagia? Mm, little did I know, ternyata nggak selamanya, menjadi wortel itu menyenangkan. Maksud gue.. ok, dengan menjadi wortel, gue menjadi terhubung dengan beberapa orang. Dengan menjadi wortel, di event tertentu, orang-orang memperlakukan gue dengan baik dan gue menghargai itu semua. Dengan menjadi wortel, orang-orang mulai menghubungi gue untuk hal yang penting. Tapi, mungkin disinilah letak ujiannya.

Eh btw sebenernya tugas gue numpuk dan besok UTS tapi ada yang perlu ditulis untuk melegakan hati. Jadi, yaudin fokus nulis dulu dah. Mohon doa yaa gais besok gue dan temen-temen dipermudah ujiannya.

Back to topic, mungkin inilah letak ujiannya. Ketika kita udah menggapai apa yang diinginkan, diberi nikmat sedemikian nyaman, apakah keimanan akan bertambah atau malah sebaliknya? Nah, nggak tau kenapa yaa.. tiba-tiba gue merasa hampa malam ini. Kayaknya ada yang salah dah. Gue bener-bener nggak passionate ngapa-ngapain. Gilaa nggak sih. Padahal besok UTS, tapi kok gini. Dan yaudah daripada gue diem nggak jelas, gue memutuskan untuk menulis sebagai healing.

Nah, tepat sebelum menulis ini. gue.. baru aja menangis tersedu karena suatu hal. Bukan.. bukan karena suatu hal aneh haha, apaan sih za. Nah tu kan, tulisan ini nggak terstruktur. Lanjot. But, gue membuka sebuah file, dari temen gue semasa SMA. Lama banget gue ngga buka file ini. 

File yang berisi video kebaikan itu pun muncul satu per satu. Temen gue yang ngasih ini, dia anak Rohis semasa SMA btw. Nah, tangan gue pun meng-klik salah satu video dan.. gue mulai tersedu di menit-menit awal karena nonton tu video. Tentang apa videonya?

Video itu bercerita mengenai detik-detik terakhir Rasulullah (peace be upon him). Intinya, kenapa gue sampai nangis liat ini? Pertama, gue sebagai anak muda (dan kebanyakan pemuda lain yang pengen ini itu) jadi teringat bahwa besok, hidup akan berakhir juga, semua akan mengalami kematian. Nggak, nggak berarti yang muda meninggalnya akan lama. Kedua, gue jadi rindu dengan sosok yang bener-bener PERFECT di dunia ini. 

Beliau lah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang sayaaaaaang banget sama umatnya. Bahkan, merindu sebelum bertemu :’)). Dan gue mikir, apakah kelak besok gue akan termasuk yang dapat melihat wajahnya yang indah bagaikan purnama? Gue malu dan takut. Rasanya, dosa gue banyak, sedikit mengingat Rasul in daily live (huft sering mikir duniawi sih), dan yah tapi gue berdoa, semoga Allah selalu membimbing gue, dan memberi petunjuk dan hidayahNya.

Nah, apa hubungan video tadi dengan gue menjadi wortel. Mm, jadi setelah menjadi wortel ini gue pernah dapet teguran dari mama yang intinya “mba, jangan mikir duniawi terus”, itu.. karena seharian penuh gue mantengin laptop karena beberapa agenda wortel. Prioritas gue mulai bergeser dan perlahan I lost.

Gue masih inget ayat yang berbunyi “.. and He found you lost and guided you” gue nemu di instagram kayaknya. Tapi gue lupa itu surah apa :”). Rasanya, ini ayat relate banget sama gue sekarang. Gue, seburuk apa pun.. masih berharap dan memohon jangan sampai Allah meninggalkan gue, hiks. Apalah artinya ketika gue mendapatkan semua hal namun kehilangan Allah. 

Mungkin ini teguran dari-Nya, hati gue gelisah. Mood nggak nentu dan gaje kayak gini. Yaa Rabb, guide me to Your straight path. Jangan sampai menjadi orang yang berpaling lalu Dia pun menutup pintu hati gue. NOOO.. plis. 

Ok, terjawab sudah kegelisahan hati gue. Nahkan, bagi gue menulis adalah healing terbaik selain bercerita sama sohibul menara gue. Haha, Syaf yang selalu gue repotin dan kirim VN puanjang misal ada.. ada apa yaa hayo haha. Dan Teh Lanyy! Thanks for teaching me the meaning of sabr. Tapi kayaknya PR juga deh. Menjadi wortel adalah passion gue dan ini sama sekali nggak berhubungan dengan jurusan gue sekarang. Semangat gue untuk menjadi wortel terkadang lebih banyak porsinya yang mengalahkan kewajiban buat belajar. Zal, plis survive! Ini masih kayak puzzle yang belum utuh, dah jalanin dulu yaa..

Fiuh udah dulu ya. Gue mau begadang kayaknya. Dan yeah, menjadi wortel adalah sebuah anugerah dan memang ada rasa jenuh terkadang ada, tapi semua kan memang ada fase bosennya. Kuat-kuatin yaa zal, inget gimana perjuangan kamu untuk jadi wortel. Dan yang terpenting, jadi wortel it’s okay asalkan kamu nggak menjauh dari Allah, yang telah memberi kemudahan sedemikian rupa. Dah sana belajar dan nugas. Semangat yaa..

Nb : gue bersyukur punya mindset baru tentang rasa jenuh ini setelah baca buku berjudul “Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa”, buku yang menjawab semua kekhawatiran kalian tentang di masa depan mau jadi apa. Terimakasih banyak buat Alvi Syahrin yang udah nulis sedemikian indah dan bermanfaat! Semoga Allah memberkahi selalu..

It's Okay Not To Be Okay

good vibes

Halo! Bolehkah aku sedikit berbagi? Ngomong-ngomong, disini alhamdulillah baru saja hujan. Di daerah kamu gimana?

Aku ingin sedikit berbagi mengenai, it’s okay not to be okay. Pernah nggak kamu menemui seseorang yang terlihat selalu baik-baik saja? Sepertinya, hidupnya begitu sempurna hingga membuat decak kagum. Dari perilakunya, kehidupannya, atau sekelumit ceritanya yang boleh jadi menginspirasi.

Namun, orang-orang kuat seperti itu, pastilah pernah mengalami masalah yang menyesakkan dada. Bukan berarti orang-orang yang selalu menguatkan, menampilkan hal-hal positif, dan tidak pernah bermuka masam adalah orang yang selalu baik-baik saja. Bahkan, kalau mereka mau jujur, sebenarnya mereka juga seperti kebanyakan orang yang memiliki hati untuk merasakan sedih karena suatu masalah bedanya mereka pandai dalam menyembunyikan itu semua.

Well, untuk kamu yang menjadi sok kuat di hadapan orang-orang, yang selalu menjadi problem solver di society padahal dirimu sendiri tertatih karena suatu problem pribadi dan terlihat baik-baik saja, I’m so proud of you!

Kamu... memilih untuk tidak menunjukkan kesedihanmu pada mereka namun hanya menangis. Menangis terisak di sepertiga malam tanpa ada yang tahu. Bibir terkatup rapat, air mata yang terus membanjir.. kamu sudah nggak tahu hendak berkata apalagi karena seolah-olah kata-kata habis tak tersisa, bingung untuk mengungkapkan kesedihan yang sangat mendalam itu.. hingga air matalah yang terus menetes di sajadah dengan doa yang terus melangit.

Hei, nggak apa-apa. Menangis bukanlah suatu tindak kriminal kok. Menangis saja dulu. Dan hai orang sok kuat, kamu bisa juga kok berbagi kisah ke orang yang sangat kamu percaya. Ayah atau bunda tersayang mungkin? Atau kalau kamu malu terisak menangis di hadapan mereka, percayailah seorang sahabat yang mampu meneduhkan hatimu. Boleh jadi, dengan sedikit bercerita akan meringankan hati.

Kuucapkan lagi, kamu hebat! Memang sih, orang-orang hanya tahu kalau kehidupanmu itu serba enak dan mulus tanpa hambatan bahkan beberapa dari mereka berandai-andai ingin ada di posisimu padahal kenyataannya nggak demikian. Banyak air mata, pengorbanan yang menguras tenaga juga pikiran yang telah kamu lalui.

Ohya, satu lagi. Aku salut kamu mengadukan semua itu pada Allah saja. I’m so jealous dengan pandainya dirimu menutupi kesedihanmu dan kamu tidak lari ke hal-hal yang negatif seperti mengonsumsi narkoba, menghabiskan waktu untuk clubbing, seks bebas, atau pun berpikiran untuk suicide.

Terakhir, aku salut banget sama kamu wahai orang sok kuat eh sekarang kayaknya bukan sok kuat lagi deh tapi memang kuat beneran. Dan juga untuk kamu yang sedang merasa sesak dadanya karena suatu masalah. Aku nggak bakal bilang “Halah gitu aja sedih! Masalah gue nih lebih berat” karena memang, masa lalu setiap orang berbeda dengan pemahaman yang tidak sama. Inget deh, kita diciptakan di dunia itu nggak sia-sia, ada tujuan hidup yang harus dicapai, bukankah semua bermuara ke akhirat? Juga, kamu harus yakin kalau Allah pasti memberi pertolongan. Mungkin emang nggak sekarang tapi Dia selalu tahu mana timing yang terbaik. Bukankah harus ada hujan terlebih dahulu sebelum pelangi berwarna indah itu menyapa? Semangat selalu yaa. Kalau capek istirahat dulu, nggak usah memaksakan diri. Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Allah! :)




 

Salam hangat,

Zalfaa

Potret Kehidupan Malam Itu

hari itu, on frame : mas dimas dan mba kaffa, taken by mba ratri/yefta

Halo! Semoga selalu sehat dan semangat yaa. Iya, gue tau, di masa-masa pandemi gini, we must stay at home, ngga usah keluar dulu kecuali keperluan mendesak. Karena bad bad bad sad sad sad news ketika baca berita yang bilang kalau kurva penderita Covid-19 terus naik, belum ada tanda-tanda penurunan. Yaudah lah yaa, kalau lo sama gue punya passion yang sama yakni R E B A H A N, inilah saatnya menjadi pahlawan dengan passion itu..

Nah, tapi bolehkah gue sedikit bercerita mengenai cerita perjalanan gue di malam hari dalam melintasi ruang dan waktu, eeh. Nggak ding. Pas itu ceritanya habis persiapan event, awalnya mau balik kost aja karena udah malem, eh nyonya besar bilang suruh pulang. Yauda lah dengan rasa mager, gue menuju rumah dengan kecepatan yang b aja, karena mager wkwk.

Saat itu gue disuguhi beberapa pemandangan yang mungkin menururt lo biasa aja but it’s really heart touching for me..

Ketika melewati lampu lalu lintas, seorang kakek, mungkin seumuran mbah kakung kali yaa.. ia masih mendorong sebuah gerobak, gue ngga terlalu merhatiin apa yang ditawarkan dalam gerobak itu karena lucky me, gue dapat lampu ijo terus saat itu. Samar-samar, kayaknya ada tulisan “Ra metu mergo Corona, ra mangan”. Sekilas gitu gais kayaknya. Kalau di translate ke Indo “Nggak keluar karena adanya Coronan bikin nggak bisa makan” Lalu, saat gue perjalanan pulang juga, Allah kembali tunjukkan betapa memang harus kita menambah rasa syukur dalam hati. Di pinggir jalan, gue lihat seorang difabel, yang kedua kakinya tiada masih mencoba mengais rezeki dengan kemampuan yang dimilikinya. Hati gue kembali gerimis. Ohya, ini malem yaa gais, sekitar jam 9 lebih.

There are so many people who try their best to survive during this pandemic.

Atau lo mau denger kisah lain nggak? Sebut aja namanya Pak Tono yang bersama keluarganya masih megontrak di sebuah rumah kecil. Pak Tono ini kesehariannya bekerja sebagai kuli bangunan. Istrinya bekerja sebagai buruh cuci tetangga. Anaknya 3 masih SD semua. Let’s see what happen. Semenjak adanya pandemic ini, Pak Tono tidak lagi bekerja sebagai buruh bangunan. Semua di stop, siapa juga yang mau menghamburkan uang untuk memperindah/renov rumahnya, lha wong buat sehari-hari aja susah, mending di-stop kan pembangunannya. Nah, begitu pun nasib istrinya, Bude Inah (nama nggak asli), nggak ada yang mau memperkerjakan dia lagi. Bingung bin pusing lah mereka. Untuk makan, bayar kontrakan, biaya pendidikan anak-anak? Darimana mereka mendapatkan itu semua? :’)

Kisah kayak gitu nyata ada gais. Coba tengok kanan kiri kalian. Pernah juga ketika gue wawancara relawan suatu kegiatan kemanusiaan, dia sampai nangis pas cerita keadaan orang yang ditolong. Intinya, roda ekonomi sedang mandeg karena pandemi, nggak ada duit buat hidup. Terus gimana? Nggak tau gue. Mereka udah berusaha cari kerja kesana-kemari tapi karena minim skill dan keadaan banyak perusahaan yang PHK, yaa gitu, mereka ngga bisa mencari uang lagi.

Ngandalin bansos? Bagus sih programnya.. It means, pemerintah peduli sama orang-orang yang terdampak tapi pelaksana teknisnya? Hh, gue greget, keadaan sedang sulit, transparansi bansos kurang jadinya uang rentan dikorup atau pilih-pilih orang berdasarkan tingkat kedekatan mereka bukan seberapa nggak mampu orang itu. Jadinya kan nggak merata. Negara butuh orang-orang kayak H. Agus Salim, Moh. Natsir, Moh. Hatta, negarawan yang peduliiiii banget sama rakyatnya, mereka membuktikan ungkapan leiden is lijden. Yang mau beli barang tapi susah, yaa pendiri bangsa terdahulu. Eh, back to topic.

Just imagine, how’s life changed drastically during this pandemic.

Gini, selama pandemi ini sudah berapa kali kita sambat akan suatu keadaan? Atau sudah berapa kali seenaknya menikmati karya orang entah itu buku/film secara ilegal? I’m not a writer of book or producer, tapi gue tau di balik proses kreatif suatu karya itu melibatkan banyak pihak. Kayak misal sebuah buku nih yaaa. Ada editor, desain cover, penerbit, pengurus ISBN, dan apalagi si penulis butuh waktu lama buat menghasilkan sebuah gagasan kreatif. Terus, without considering those stuff, kita baca buku PDF ilegal yang marak beredar? Please, stop. Kelak, nggak mau kan kalau kita punya karya dan dijual seharga cilok atau bahkan gratis? Hhh..

Terus pernah nggak bertanya-tanya nggak “Hari ini gue mau jajan apa yaa?” atau “Hari ini gue mau makan apa?”

Well, berbahagialah. Di luar sana, banyak orang-orang yang bertanya “How could I survive?”. Mereka bener-bener nggak tahu, hari itu harus ngapain, buat makan, mencukupi kebutuhan, mereka nggak ada ide sama sekali. Saat inilah biasanya manusia akan sadar mengenai titik terendah kehidupan. Bagi orang-orang yang melupakan Tuhannya di saat senang, dalam titik terendah ini, biasanya ia akan kembali. Mengiba, meminta pertolongan pada Yang Maha Pengasih. Tapi sejatinya, bukankah kehidupan ini juga hanyalah sebuah senda-gurau permainan? Dalam kitab suci, banyak sekali ayat yang mewanti-wanti supaya jangan terperdaya kehidupan dunia. Karena kekekalan itu di sana tempatnya.

Akhir kata, tetap semangat yaa. Kamu yang sedang membaca ini, semoga selalu dikuatkan oleh Allah. Yang sedang dalam masa sangat sulit, aku memang nggak tau gimana perasaanmu sekarang, tapi kuharap kamu tetap bisa bertahan saat ini, jangan pernah merasa lemah, kamu punya Tuhan Yang Maha Kuat, kenapa nggak pdkt aja dengan sabar dan sholat biar diberi kemudahan? :)

Dan untuk kamu yang masih bisa makan 3x sehari, masih punya kendaraan, rumah, gadget, bisa rebahan dengan nyaman karena ada wi-fi atau kuota sambil netflixan, jangan lupa bersyukur yaaa. Malu nggak sih misal masih mengeluh ini itu kalau melihat cerita di atas? Mereka nggak punya apa pun untuk bertahan hidup kecuali keimanan dan kerja keras, itulah satu-satunya hal berharga yang tersisa. Rawatlah rasa syukur itu agar kebahagiaan bermekeran dengan indah dalam hatimu. Masih banyak orang di luar sana yang nggak seberuntung kamu hidupnya.



Salam hangat,

Zalfaa