Let’s Talk About Solitude

Let’s Talk About Solitude

Pin by Jasmin nimsaj on true muslimah | Muslim hijab, Niqab ...
sumber gambar : pinterest


Assalamualaikum,
Kembali lagi di blog kesayangannya aza dan mungkin kalian semua. Yak, betul kali ini bukan tulisan aza yang tayang. So, gue udah nyiapin mental untuk menerima kekecewaan kalian dan mempersilakan kalian kalau mau skip episode kali ini. Eits, sebelum di skip, gue mau ngasih tau kalau hari ini gue mau bahas tentang jomblo KESEPIAN. Gimana, masih mau skip? Eh, tenang, gue nggak maksa kok. Mangga, pintu keluar ada di sebelah kanan atas.
Nggak jadi keluar nih? Yakin? Oke kita lanjut. Di tengah situasi kayak gini, lagi lumayan banyak nih info - info tentang feeling lonely ini. Udah jomblo ye kan, di kosan, sendirian, kagak boleh mudik pula. Eh, kalian nggak mudik kan? Iya - iya gue paham, pasti kalian mahasiwa yang mudik bin taat aturan bakal dipingit 2 pekan kedepan itu ya? Paham gue. Tapi ternyata nih, rasa sepi yang bergejolak di dalam hati ini, nggak cuma di alami sama jomblo - jomblo doang. Ternyata, ada juga yang ngerasa kesepian padahal lagi bareng sama temen - temennya, atau pasangannya, atau keluarganya. Jadi, kaum jomblo jangan sedih, kalian tidak sendirian, karena semua orang pernah ngerasa kesepian.
Nah, dari sekian pembicaraan yang bahas gimana caranya mengusir rasa kesepian, gue nemu ada satu yang menarik nih, yaitu tentang acceptance. Ini menarik banget menurut gue. Kalau lo lagi ngerasa kesepian, nggak usah ribet dulu cari gimana caranya tuh sepi ilang dari hidup lo. Tapi lo harus aware, sadar kalau diri lo lagi kesepian. Terus lo accept, "iya, gue lagi kesepian". Baru habis itu lo mikir how to deal with this loneliness. Simple kan? Tapi kebanyakan orang itu denial dulu. "Gue nggak kesepian, gue nggak kesepian, mana mungkin gue kesepian", yang kayak gini tuh toxic banget buat mental health lo. Ya sekarang mungkin nggak ngaruh apa - apa, tapi emosi negatif kayak gini yang lo tumpuk - tumpuk sampai beberapa tahun kedepan? Who knows, right?
Jujur, gue seneng banget sih mental health issues itu hype banget sekarang. Ini ngebuka peluang buat orang awam kayak gue dan mungkin lo semua tuh sadar sesadar - sadarnya kalau ngejagain mental health tuh sama pentingnya kayak jaga kesehatan fisik. Jadi nggak cuma asupan tubuh doang nih yang diusahain, tapi asupan jiwa juga (ini kalimat klasik banget ya, but sadly true) .
Oke, balik lagi ke loneliness. Gimana tuh facing si loneliness ini? Kalau menurut gue sih infonya udah banyak banget, lagi sliwar - sliwer tuh di internet, tangkep aja satu. Gue kabur ah.
Wassalamualaikum


Penulis : pegiat buku parenting dan dongeng (ersya afiliana hafiz fadhila)

Gak Apa-Apa, Kan Lagi Belajar.

Gak Apa-Apa, Kan Lagi Belajar.

Pin di aesthetic
sumber gambar : pinterest

Sebelumnya, mau cerita sedikit ya. Omong-omong, ternyata secepat itu ya, hati manusia berubahnya. Kira-kira baru tadi pagi gue mencurahkan isi hati gue dalam sebuah tulisan di instagram story tentang kata gagal dengan begitu menggebu-gebunya. Dan sore ini, selepas menyegarkan diri mandi sore, seketika gue terpikir untuk kembali menuliskan dan mencoba menuangkan tambahan sedikit sisi positif dari kehadirannya. Yaitu kegagalan. Tentang sebuah kata, gagal.
Gagal. Siapa sih yang tidak tahu dengan kata yang satu ini? Ada, anak kecil. Oke, baiklah. Benar mereka belum tahu kata gagal secara eksplisit. Jelas, ada banyak kemungkinan. Satu, bisa karena kosa kata mereka yang memang belum cukup banyak sehingga kata gagal belum masuk kedalam memori otak mereka. Atau kedua mereka tahu, namun hanya sebatas kata tanpa makna. Tapi jelas, mereka pernah merasakannya. Sesederhana terjatuh dari langkah pertamanya belajar berjalan.
Jadi, beres ya. Ternyata bisa kita katakan ini tentang makna, tentang pemahaman kita tentangnya. Gagal. Berarti sekarang, siapa sih yang tidak merasakan gagal? Jawabannya, tidak ada. Tidak ada satupun makhluk yang tidak pernah merasakan kegagalan. Sebagaimana tidak ada satupun makhluk yang tahu tentang apa yang terjadi di masa depan.
Karenanya kita membuat sebuah rencana. Menyusunnya satu demi satu, menatanya dengan rapi dan cermat. Untuk apa? Untuk kita dapat memprediksi masa depan dengan tambahan bumbu harap-harap akan keterwujudannya. Namun sekali lagi, itu semua diluar kuasa kita. Inilah dia akhirnya si tuan gagal akan mengambil peran bagi sesiapa yang tak jadi nyata segala rencananya. Tak nampak seperti yang ia harap. Sederhananya ia gagal. Umum seperti itu ia akan disebut.
Ketidaksesuaian dengan rencana dan harapan”nya”. Sobat, sebenarnya gue tidak cukup suka dengan kata yang satu ini. Gagal. Bagaimana tidak, konotasi yang tercipta nampak sangat buruk dan menyeramkan, bukan? Andai kita benar-benar jernih mampu memahami setiap peristiwa keseluruhan, tak akan terbesit sedikit pun diri akan mengatakan ketidaksesuaian harap dan cita adalah sebuah kegagalan.
Melain dari hal tersebut, coba bayangkan jauh lebih banyak mana, sedihnya atau belajarnya? Tergantung pribadi masing-masing. Tapi satu yang pasti seseorang yang bervisi besar dan tujuan yang jelas gak bakal tuh berlarut-larut dalam kesedihannya. Dia akan jeli melihat segala himah yang tersembunyi di dalam kegagalannya. Dia akhirnya belajar. Tentang segalanya. Tentang kehidupan.
Karena coba lihat sekali lagi, siapa kita? Bukan siapa-siapa bukan. Kita hanya seorang makhluk. Ada dzat sejati yang menjadi pemilik utuh diri ini. Dan Dia lebih berhak terhadap diri kita pun segala harap dan cita. Hingga segala hal yang terjadi baik itu suka duka, sedih bahagia, sesuai tidak sesuai, ada dalam kendali penuh kekuasaanNya. Inilah sebuah konsep penting bagi kita, terutama sebagai seorang muslim/ muslimah yaitu tentang qada dan qadar. Segala ketetapanNya.
Sebuah konsep indah jika kita memahaminya secara utuh. Betapa sejuk dan teduhnya hati saat segala yang terjadi kita kembalikan lagi kepada kesadaran utuh akan segala ketetapanNya. Tak ada rasa sedih berlarut-larut, tak ada rasa kecewa merutuk, tak ada putus asa. Karena kita tahu tak ada yang lebih indah selain mengharap keridhaanNya. Betapa lemahnya bukan diri ini, yang kadang tak luput dari tercemarinya niat di hati karena nafsu duniawi.
Cukup bagi diri gue untuk memperhalus kata ini. Menggantinya dengan satu kata yang jauh lebih memiliki makna dan juga afirmasi positif pada diri. Kita semua sedang belajar. Belajar, kata yang selalu memberi gue energi positif terhadap segala hal yang terjadi, baik kesesuaian atau tidak. Karena diantara dua kemungkinan akan lahir kata baru penyambungnya yang sangat indah. Jika tidak kita sedang diajariNya balajar bersyukur pasti Ia sedang mengajari kita untuk belajar bersabar. Indah bukan.
Selamat belajar.
Sekali tidak ada kata gagal. Kita semua sedang belajar. Belajar sepanjang hayat.
Barakallahu fiikum.

Akhir kata, marhaban ya Ramadhan. Terimakasih banyak untuk tuan rumah Aza yang sudah kasih izin gue numpang curhat di rumahnya. Maa syaa Allah. 


Penulis : iklany diana silmy (sobat fillah zalfaa di bogor yang berhati lembut namun tangguh dalam kehidupan)

Persiapan Menjadi Orang Tua yang Teduh

Persiapan Menjadi Orang Tua yang Teduh


Beyonce Shares Photos of Daughter Blue Ivy on Tumblr
sumber gambar : ibtimes uk

Hi!
Kenalin gue ili, bukan penulis yang sedang dikasih kesempatan buat nulis. Any way, gue mau say thanks buat tuan rumah, Aza, yang udah ngasih slot tulisan gue disini. Gue harap, pembaca setianya Aza nggak kecewa karena kali ini bukan karya menyejukkan hatinya yang now showing.
Akhir - akhir ini, gue hidup setengah hari tanpa koneksi internet. Yah, walaupun sebetulnya paket kuota internet gue yang menuntut harus kayak gitu. Jadi, gue cuma bisa akses informasi digital dari jam 5 subuh sampai jam 5 sore. Sisanya adalah waktu gue untuk mindful dan merenung. Sekali - kali kalian cobain deh, terutama buat kalian - kalian yang susah tidur tuh. Leaving social media is a privilege, dude.
Oke, back to merenung. Kalian kalau lagi merenung, ngerenungin apa sih biasanya? Kalau gue nih, lebih banyak ngerenungin keresahan hidup. Hidup gue sendiri tentunya, emang dasarnya egois sih. Resah yang akhir - akhir ini menghantui gue adalah bad habits gue. Gue yang gini lah, gue yang gitu lah. Setelah gue telusuri (tentu saja setelah dapet asupan bergizi dari buku - buku yang gue baca ya), akar masalahnya ada di lingkungan gue. Nah, lingkungan terdekat gue dan mungkin kalian semua adalah keluarga, which means orangtua. Jadi, perilaku, sikap, dan cara didik orang tua akan sangat berdampak pada sikap dan perilaku anak- anaknya. Gue tidak menampik ada faktor lingkungan yang lain ya, tapi faktor orangtua ini persentasinya besar banget di hidup anaknya, gue terutama.
Contohnya apa aja il? Contohnya bisa banyak, orang tua sebagai suri tauladan misal. Gue pernah denger cerita kayak gini, "Fulan adalah seorang anak. Nah, Bapaknya nih, perokok aktif. Fulan yang sering melihat Bapaknya ngerokok, tertarik mencoba ngerokok juga. Waktu Fulan lagi ngerokok, ketahuan tuh sama Bapaknya. Semenjak itu, Bapak Fulan memutuskan untuk berhenti merokok.". Jujur, gue merinding dengernya. Jadi teladan yang buruk emang fatal sih.
Contoh lain, menasihati - dinasihati. Wah, ini nih chaos hubungan orangtua - anak. To be honest, orangtua menasihati anaknya setiap hari karena mereka tuh perhatian gitu sama anak - anaknya. To be honestnya lagi nih, gue sebagai anak dan mungkin kalian semua, nggak suka diceramahin. Kebutuhan anak itu ternyata diajak ngobrol. Jadi nggak heran kan, kalau anak - anak lebih suka curhat ke temen - temennya dibanding sama orangtuanya sendiri karena orangtua mereka tuh nggak bisa menempatkan diri sebagai teman buat ngobrol, apalagi curhat.
Gue renungin ini cukup lama. Kesimpulannya, gue harus jadi orangtua yang lebih baik, yap itu harus. Gue breakdown tuh, hal - hal apa aja yang harus gue lakuin untuk siap menjadi orangtua yang sebaik mungkin. Tapi yang paling penting dan ingin gue share ke kalian adalah berdamai dengan diri sendiri (dengan segala apa yang kalian dan orangtua kalian lewatin). Don't be blame your own parents, karena gimanapun juga nggak ada orangtua yang sempurna. Jadi orang tua kan juga nggak gampang. Kita nggak bisa menyalahkan mereka - mereka yang gagap ilmu parenting. Tetep jadi anak yang punya sikap baik terhadap para orangtua dan jaga intensitas do'a supaya ketemu sama mereka lagi di surga. Aamiin.
By the way, gue belom nikah, apalagi punya anak. Pemikiran gue bisa berubah seiring berjalannya waktu, bisa jadi enggak. Udah dulu ya, mau ngobrol sama mamak. have a great day, everyone!

Penulis : ersya afiliana hafiz fadhila (salah satu sobat zalfaa yang meneduhkan di hari-hari sulit)