Enggan Mendikte

minjem di perpusda boyolali, bagus, tapi sayang belum rampung

Hidup terkadang lucu yaa. Sesuatu yang nggak pernah diharapkan bisa tiba-tiba terjadi. Sesuatu yang nggak pernah terpikirkan, tiba-tiba datang begitu aja. Dan well, semua memang sudah ditakdirkan sesuai rencana Allah, Rabb Semesta Alam. 

Tepat sebelum menulis ini, gue baru aja deep talk sama mama, menertawakan kehidupan yang bisa berubah drastis gitu aja. Di masa pandemi apalagi, banyak hal yang nggak sesuai ekspektasi, banyak realita kehidupan yang berubah sangat, tapi alhamdulillah, keluarga gue kayak yaa menganggap this too shall pass, ada Allah yang menjamin hidup kita, sesulit apa pun kondisi saat ini. 

Setelah salat Isya tadi, mama tiba-tiba masuk kamar gue. Gue yang buka laptop mau nugas dan nulis berita, menjadi tertunda. Menanti, nyonya besar mau bicarain apa. Wait, kok gue udah lupa sih awalan tadi mama membuka percakapan dengan apa, haduh, kebanyakan makan makanan instant yaa lu zal, hadeh. Skip. Skip. Langung ke poinnya aja yaa, haha..

Nah, tadi mama menyinggung masalah, ehem, memilih pendamping hidup.

Gue kaget, tumben banget dah mama ngomong beginian yang deep talk gitu. Biasanya yaa cuma ngeledek gue udah ada gandengan belum haha tapi kan yaa gitu, gue memilih prinsip yang dimau Allah. Nah, tiba-tiba mama bilang besok kalau ketemu cowok gini gini gini.. (yaa intinya nasehat seorang ibu pada anaknya gitu lah gais). Dan, mama menitikkan air mata. Duh, gue nulis ini juga masih baper, terbawa suasana tadi. Dan, kok gue merasa seolah-olah, mama sadar yaa, besok, entah kapan, gue nggak akan satu rumah lagi dengan beliau. Nggak akan bisa rebutan ngaca buat dandan. Nggak bisa lagi bahas skincare sampai ayah geleng-geleng menyerah. Karena somehow, someday, if someone come and ask me to be his wife, I’ll be him dan bakti tertinggi pindah kesana.

Duh, bentar gais, gue terharu nih haha.. boro-boro, orang si dia aja belum tau siapa dan dimana. Haha, chill out..

Mama berpesan yang penting lihat dulu agama seorang cowok dan sekufu tentunya. Iya sih gue setuju. Kalau nggak salah Imam Syafi’i juga berpesan hal yang sama, untuk mencari seseorang yang baik agamanya, agar ketika marah dia nggak akan menghinakan perempuan atau kasar (serius, gue paling nggak suka dibentak, atau cuma diteriaki walau bukan dalam konteks marah, gue nggasuka nada tinggi dalam suatu pembicaraan).. dan kalau dia mencinta dia bakal memuliakan, mashaallah..

Selain itu sih, yang penting yaa bisa menghormati mama dan ayah gue lah yaa sebagaimana gue sayang sama mereka berdua. Yaa nggak sih, orangtua adalah kunci surga bagi seorang anak perempuan ketika belum menikah. Bagaimana bisa, seorang wanita lebih memilih menanggalkan kehormatan orangtua hanya demi seorang lelaki yang tidak tau sopan santun terhadap mertuanya? Jadi, penting sih ini..

Ok, karena deep talk bareng mama hari ini.. gue menjadi teringat puisi milik Ustadz Aan Candra Talib, seorang yang masyhur karena ilmu agama dan kepiawaiannya dalam merangkai kata. Kalau nggak salah, puisi berjudul autumn. Kalimat yang berbunyi.. sepasrah itulah aku memasrahkan hatiku untuk jatuh hati pada siapa yang Dia kehendaki seperti daun maple yang berguguran. Yap, seperti daun yang jatuh.. begitu..pasrah dan tanpa prasangka. Well, sekarang, gue nggak mau lagi mendikte Allah dalam urusan ini. Nggak mau menyebut nama tapi biarlah diberi yang terbaik aja sesuai versi-Nya. Tinta telah kering, takdir telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Yaa Rabb, tolong bantulah saya untuk tetap teguh dalam memegang prinsip ini.. walau sekarang.. tidak mudah. Aku memohon pertolongan-Mu Yaa Rabb.

Selalu ada harapan bagi hati yang bertuhan. Untuk saat ini, gue mau fokus dulu deh buat apa yaa. Mm, menekuni dunia jurnalis? Atau yaa belajar yang bener biar lulus tepat waktu? Yaa, atau menuntaskan amanah di SKI, YOT, Inspirasi Malam. Sebenernya semua kesibukan itu cukup menguras energi gue sih. Karena semuanya nggak tau gimana kok bisa-bisanya, semua di organisasi masuk pengurus inti. Belum lagi magang kerja yang ada tuntutannya juga.Ya Allah, sungguh amanah nggak pernah salah memilih pundak, tolong kuatkan saya. 

Tapi, yaa kadang lucu sih.. misal kalau keluarga jauh datang dan nanya sudah punya pacar belum, jawaban gue selalu sama, menggeleng dan tersenyum. Pertanyaannya sih salah haha. Dan, tadi pas kelas online, dosen gue mewanti-wanti buat mahasiswa semester gue gini, buat segera cari yang cocok di hati. Dan teman kanan kiri gue, ada yang seprodi saling jatuh cinta lalu berpasangan. Temen-temen di Humas, beberapa sudah menemukan yang pas di hati. Dan gue, beberapa kali dihantui pertanyaan itu, bahkan sekelas dosen juga pernah nanya , udah punya pacar belum-_-. Kuat-kuatin dah lu Zal, okeee

Alhamdulillah gue bukan termasuk golongan yang uwu-uwu, yang kalau liat pasangan muda nikah terus baper, alhamdulillah, enggak. Jadi, yaa nggak ngebet amat tapi nggak meremehkan juga. Karena ya namanya juga hidup, setelah nikah pun pasti yaa ada masalah cuman di instagram yang diliatin enaknya doank. Semua ini tentang proses mendewasakan dan memantaskan diri. Bukan karena dia tapi Dia. 

Untuk saat ini, biarlah gue fokus gimana cara mengukir senyum di wajah mama ayah adik, menaruh perhatian pada studi, organisasi, menulis berita, dan belajar untuk menjadi manusia. Tak lupa, berteman dengan tumpukan buku yang memperluas sudut pandang, alhamdulillah when I read many books, it diverts me from uwu-uwu stuff, there are many considerations when u decide to choose someone to be the part of your life, to be father of your children, for the rest of your life. Dan sebaik-baik partner adalah partner kebaikan yang sama-sama ingin bertetangga dengan Rasul di akhirat kelak, selalu berusaha menjaga keluarga dari pedihnya api neraka  :’) when it comes, may His barakah overflowing us with samawa. 

Allohumma inni as-aluka minal khoiri kullihi ‘aajilih wa aajilih, maa ‘alimtu minhu wa maa lam a’lam. Wa a’udzu bika minasy syarri kullihi ‘aajilih wa aajilih maa ‘alimtu minhu wa maa lam a’lam. Aamiin..

(doa dikutip dari website bernama rumaysho.com yang ditulis Ustadz M. Abduh Tuasikal) 

1 Komentar untuk "Enggan Mendikte"

  1. Dulu disetiap kumpulan pekanan, ini topik yang paling selalu rame dibahas dengan senyum malu2. Tapi pas ditanya pembinanya, siapa yang udah siap, siapa yang udah berani pada nunduk semua ^_^

    BalasHapus

Silahkan memberikan saran dan masukan :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel