Dari Surakarta hingga Edinburgh

           

ada yang bermimpi ingin bertemu kak alfito? seorang jurnalis, moderator debat cawapres lalu? we did!

        Gue selalu yakin dan percaya, bahwa setiap manusia yang berjiwa hanif di muka bumi ini memiliki misi kebaikan masing-masing. Ada yang menyalurkannya lewat pergerakan, menulis, berkarya, bahkan merantau ke negeri orang untuk melihat cakrawala yang menarik hati. Semua mengekspresikannya dengan cara yang berbeda, namun muaranya tetap satu, kebaikan.

            Dan semua itu berawal dari mimpi. Iya, mimpi untuk mewujudkan misi itu. Sst, gue kasih tau ya, masa depan seseorang itu sedikit bisa ditebak melalui apa yang menjadi kebiasaannya saat ini dan apa yang sedang diperjuangkannya sekarang. Gue bukan cenayang btw, cuma menerka aja. Yang sekarang pas masa pandemi terus menerus mengeluh, bikin alesan, bahkan memaki sampai bikin istilah the f corona, hadeh,  sayang banget energinya kebuang cuma buat hal-hal negatif aja. Besok setelah pandemi, ya ga dapet apa-apa. Beda yang terus upgrade diri walau kadang rasa mager menyerang, ahaha.

          Alhamdulillah, selama masa pandemi ini gue dapat 3 beasiswa yang semuanya dilakukan secara daring. Apa pun sesuatu yang seharusnya berbayar dan gue dapet gratis, gue menyebutnya beasiswa, ga peduli berapa nominalnya. Kalau kita mau ubet dikit aja ya gais, atau aktif dikit aja, banyak kok kegiatan berfaedah yang bisa diikuti selama masa pandemi ini baik yang berbayar mau pun gratis. 3 beasiswa yang gue dapet tersebut, sebagian besar infonya dari Instagram, bahkan sambil rebahan pun bisa dapat beasiswa! 2 beasiswa gue dapatkan mengenai workshop jurnalistik, 1 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surakarta, 1nya dari instansi tempat gue mengabdi, aseek, iya dari Humas UNS di Solopos Institue. Nah, beasiswa yang terakhir, gue dapet dari Bang Rendy untuk ikut kelas persiapan beasiswa ke luar negeri, uhuyyy.

            Nah, tapi kali ini gue gabakal mengupas semua. Misal lo kepo tentang beasiswa yang workshop jurnalistik, send me message for personal, with pleasure, I’ll reply inshaallah. Nah, gue akan sedikit mengupas kelas persiapan beasiswa untuk studi ke luar negeri. Yohoo, para scholarship hunter, sini merapat dulu!

            Kelas persiapan beasiswa ini, diadakan oleh Uda Fuadi. Iyaaa, yang nulis trilogi negeri 5 menara itu! Ganyangka gue bisa satu grup WA bareng beliau, yang tulisannya mashaallah, lo baca sendiri deh, sebelumnya gue pernah sedikit mengulas film N5M disini. Pada Minggu, 14 Juni 2020, para pemimpi di malam nan syahdu, semua menyimak materi yang diberikan oleh Uda Fuadi melalui grup WA yang dibuat. Pada awalnya, Uda menanyakan pada kami, mau dapet beasiswa apa dan dimana sih? Ada yang mau dapat Fullbright, LPDP, AAS, Chevening, dll. Negaranya pun beragam, ada yang pengen ke UK, Australia, Belanda, Jerman, Turki, Prancis, Mesir, dll.

            Uda Fuadi sendiri, selain menjadi penulis, beliau telah mendapat 12 beasiswa ke luar negeri, mashaallah. Nah, tak boleh dilupa beliau ni juga dulunya lulusan pondok loh! So, jangan remehkan lulusan pondok yaa, ehe. #AyoMondok untuk generasi yang madani. Back to topic, buat temen-temen pemburu beasiswa, yang harus kita tanamkan mulai sekarang adalah POLA PIKIR. Yap, tanamkan dalam diri bahwa beasiswa ke luar negeri itu banyak! Buanyak! Kalau Uda ibaratkan beasiswa ke luar negeri itu seperti pohon mangga yang rimbun sedang berbuah, yakalau kita cuma pengen aja, ya sebates gitu aja, beda kalau ada effort buat mencapainya, bisa jadi dapet satu dua mangga.

            Tidak kalah penting adalah mengenai heartset atau niat. Iya, kayak kata narasumber gue kapan hari, niat adalah pekerjaan seumur hidup. Sama seperti ketika ingin dapet beasiswa ke luar negeri, apa niat terbesarnya? Apakah sebatas ingin foto-foto keren ala selebgram? Atau ingin mendapat likes, comments dari netizen? Hmm, luruskan niat dulu kalau kita pengen dapet beasiswa itu karena emang bener-bener pure menuntut ilmu dan belajar lebih dalam ilmu yang ingin kita tekuni dari sumber terbaiknya.

            Tidak ada yang instan di dunia ini, bikin mi instan aja butuh proses buat masak, apalagi buat hal segede ini. Ada yang sampai jungkir balik mendapatkannya. Gabisa santai-santai aja. Persiapkan sedini mungkin kalau emang bener-bener ingin mendapatkan beasiswa. Kalau bisa sekarang udah nargetin, mau gimana detailnya. Kayak, pengen ambil jurusan apa, dimana, dokumen apa aja yang perlu dipersiapkan, bahkan berapa skor minim IELTS pun perlu tahu. Cari tahu mulai sekarang, yaa intinya jangan males dan manja sih! Belum apa-apa udah bilang, aah gue gatau carinya dimana, cariin donk. Enggak gais, kita nggak hidup di gua atau zaman purbakala, sekarang udah ada yang namanya Google, use it wisely.

            Poin yang gakalah penting adalah, ketika kita memutuskan untuk lanjut studi ke luar negeri, make sure, kalau lo emang bener-bener punya passion di bidang yang ingin ditekuni lebih lanjut. Gaperlu memaksakan diri untuk seperti orang lain. Setiap orang beda-beda btw. Based on my experience, setiap orang itu unik. Ketika gue wawancara anah hukum, wadaw nada bicaranya berwibawa, suaranya berat, sedikit bercanda. Anak sastra, uww romantis, manis, puitis, tapi kadang melankolis! Anak teknik, hemat bicara, cenderung to the point. Anak keguruan, sopan, halus, dewasa, dan bijaksana! Eh tapi gabisa digeneralisir sih.  Intinya, setiap orang itu unik dan mereka bisa mengembangkan keunikan masing-masing tanpa harus insecure ketika melihat keunikan orang lain.

            Nah, kelas beasiswa ini berlangsung selama 2 pertemuan. Pertemuan selanjutnya adalah hari Selasa, 16 Juni 2020. Disini Uda Fuadi tidak banyak memberi materi seperti pertemuan sebelumnya. Alhamdulillah, beliau membuka sesi tanya jawab. Jadi, pada sesi ini lebih banyak digunakan untuk tanya-tanya gitu gais dan di akhir, ada zoom meeting buat tanya langsung dan foto. Kesempatan ini pun, ga gue sia-siakan. Gue juga ikut bertanya, eh tapi pertanyaan gue udah ada yang nanyain di awal, jadi gue ganti deh. Ketika itu ada yang bertanya, intinya doi lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris apa memungkinkan kalau besok ambil lintas jurusan?  Uda Fuadi pun, memberi jawaban yang menyejukkan. “Yang penting alasan pindah jalur itu logis. Apalagi keluarga ilmunya masih ada keterhubungan. Jadi, bangunlah personal statement yang logis. Saya sendiri pindah jurusan. S1 Hub Internasional. S2 Media. S2 yang kedua film. Bisa kalau kita buat alur logisnya.” Begitu jawabnya.

            Terus ada yang bertanya lebih lanjut, yang dimaksud alur logis oleh Uda Fuadi itu macam mana, wkwk kayaknya banyak yaa yang merasa salah jurusan. Nah Uda bilang “Saya belajar HI waktu S1, tapi saya jadi redaktur di majalah kampus dan tertarik dengan jurnalisme. Ketika lulus, saya bekerja sebagai wartawan, mengikuti ketertarikan di bidang jurnalistik. Kini, saya sudah jadi wartawan, tapi rasanya kurang ilmu teori media dan komunikasi karena S1nya beda,” ujar Uda Fuadi.

            So, never lose hope. Selalu ada jalan bagi mereka yang berjuang walau mungkin akan banyak statement “ah masa bisa?”, “ngimpi jangan tinggi-tinggi, ntar jatuh sakit loh!”, “halah, mbok uis, rasah muluk-muluk.” Kalimat terakhir tau ga artinya? Translate yaa biar sekalian belajar bahasa Jawa wkwk.  Gitu gais.

            Disini, gue hanya mengupas sebagian kecil dari materi bergizi nan lezat yang lumer disantap yang disampaikan Uda Fuadi. Furthermore, bisa kok baca buku beliau yang berjudul Beasiswa 5 Benua. Gue nulis begini juga belum tau gimana besoknya. But, at least, dengan begini gue menegaskan kalau mimpi itu masih gue perjuangkan. Entah gimana besok hasil akhirnya, let Allah do the rest. Dan gue yakin, apa pun hasil akhirnya setelah berusaha dan berdoa, itulah yang terbaik.

Gue tekankan, dalam berproses jangan berharap selain pada-Nya, kayak kejadian baru aja banget nget, masih anget. Suatu hari, gue dinyatakan diterima jadi something. Tapi disitu tertulis syaratnya minimal semester sekian dan dari Pendidikan Bahasa Inggris FKIP, sementara gue belum semester itu dan dari jurusan berbeda, singkat cerita, gue nekat daftar dan awalnya gue dinyatakan diterima karena pewawancara bilang, kapabilitas gue memenuhi. But beberapa hari kemudian, Mbaknya bilang minta maaf kalau ternyata setelah berdiskusi dengan yang lain gue belum bisa bergabung disitu dengan alasan gue masih semester dibawahnya. Kecewa?  Pas detik menit awal-awal ya gitu, tapi gue seketika teringat, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu yang terbaik untukmu. Gue tarik napas, gaboleh ngeluh apalagi guling-guling. Ini yang terbaik! Gue gaboleh sedih! Pasti ada alasan terbaik versi Allah gue gajadi disitu, ya gapapa. Itulah salah satu rasa enak ketika kita bener-bener berprasangka baik pada Allah setiap saat, bisa menelan hal-hal pahit dengan perasaan lega.

Oiya, ngomongin Fakultas Keguruan, gue jadi inget, video yang viral beberapa waktu lalu. Salah satu mutual gue di twitter, meretweet sebuah video yang menampilkan seorang guru laki-laki honorer muda yang mengeluh akan gajinya. Berapa yaa 100K atau berapa gitu, pokoknya kalau gue asumsikan, minus juga sih buat hidup sehari-hari. Nah, let me share to yaa, sedikit, tentang guru honorer ini. Menurut gue sih, kesejahteraan guru itu adalah nomor wahid! Gabisa ditawar! Kenapa gue ngomong begini? Menurut buka Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia) yang gue baca, profesi guru disana itu diisi oleh akademisi terbaik dengan gaji yang menjanjikan pula. Ya, anak muda yg SDMnya bagus yaa siapa yang gamau jadi guru di Finland.

Gini deh, misal, para guru buat mencukupi kehidupan sehari-hari aja susah, mikir tagihan listrik, pulsa, air, eh di sisi lain mereka dituntut untuk bisa mengikuti reorientasi akselerasi pembelajaran berbasis teknologi. Ya punten, kalau masih terbebani hal personal aja bikin pusing, ini guru-guru apalagi yang sepuh, sudah tua, diminta untuk menguasai teknologi. Hadeh. Pepatah Jawa yang bilang rego nggawa rupa, harga membawa wujud/rupa, kalau mau mendapatkan hal yang berkualitas yaa setidaknya pemerintah menganggarkan dana yang lebih serius untuk kesejahteraan guru ini. Guru adalah kunci kemajuan pendidikan. Inget ketika Jepang setelah di bom apa yang dicari? Oppa gangnam style? Nggak! Yang ditanyakan adalah berapa guru yang masih hidup?

Disini, bukannya gue pesimis sih akan sikap guru yang masih tulus mengabdi. Tapi nih yaa, monmaap lagi, sepanjang pengalaman gue wawancara dengan anak Fakultas Keguruan hanya 1 dari 5 orang yang menyatakan ketika lulus benar-benar ingin menjadi guru. But, perlu gue garis bawahi, menjadi guru itu bukanlah ironi seperti yang dikatakan mas-mas honorer di video itu, menjadi guru adalah pilihan mulia yang patut diacungi jempol. Memang, kebanyakan tidak kaya materi tapi inshaallah kaya hati. Mungkin pemikiran ini dirasa naif, tapi gue inget hadist Rasul yang bilang kalau sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Nah, boleh jadi Mbak Mas Guru honorer yang masih kinyis-kinyis ga dapet kenikmatan materi di dunia, tapi semoga kelak di hari akhir, pahalanya berlimpah yah :) gue pernah punya tetangga seorang guru dan sudah meninggal, ketika itu para peserta didiknya banyak yang melayat, ah betapa banyak untaian doa yang didapat karena jasa yang telah diberikan itu. Tapi bukan berarti, pemerintah berpangku tangan dalam menimbang kebijakan terkait kesejahteraan guru honorer. PR banget sih ini.

Udah yaa, malah sampai guru honorer wkwk. Gue berterimakasih pada Uda Fuadi dan tim yang mau berbagi banyak manis pahit dalam dunia beasiswa, yang beberapanya membuat gue berpikir, oh gitu yaa, baru tahu gue. Di akhir tulisan ini, gue mau mengutip kalimat Uda Fuadi dalam kelas beasiswa ini. “Pepatah Arab mengatakan, iza shadaqal azhmu wadaha sabil. Jika  sudah jelas keinginan, semoga nanti jalan beasiswa akan makin terang,” ujar Uda Fuadi. So, mulai sekarang segera tentukan detail mimpimu, kalau perlu buat proposal hidup :) tuliskan, minta restu dan doa ortu, eksekusi, cari teman/partner yang mendukung, semoga Allah mengabulkan agar menjadi nyata! Ganbatte kudasai— dan untuk Bang Rendy, sekali lagi terimakasih! Semoga diterima yaa dalam forum bea cukai sedunia yang hendak diikuti, eh apa ya namanya, pokoknya yang itu lah, ehe. Ohya, kenapa gue kasih judul dari Surakarta hingga Edinburgh? Gapapa, bisa jadi sekarang lo kuliah di suatu tempat, Surakarta katakan, terus udah menginjak Edinburgh kayak gue, iya gue, tapi lewat film Ayat-Ayat Cinta 2, hiya hiya wkwk #peace. Walau belum nyata, jelajahi dulu secara daring, bisa via film, video atau baca-baca artikel yang berlatar disitu. Sekian.

Sungguh, Tidak Apa

doc pribadi : pantulan indah langit lazuardi, no filter no effect
doc pribadi : pantulan langit lazuardi, no filter no effect

Masih adakah cahaya itu di matamu? Menembus langit malam yang gelap karena rembulan enggan menampakkan pesonanya. Bukannya aku tak merasa bahwa sinar rembulan sejuk adanya. Bukannya aku tak pernah melihat bahwa langit lazuardi selalu memiliki pesona yang mendalam. bukannya aku tak menyadari bahwa teratai yang semula indah kini kian rapuh adanya.

Hari itu, aku sudah mengambil ponselku. Mengetikkan satu dua kata di bagian catatan. Membacanya berulang kali hingga hafal di luar kepala. Nanar melintang, hanya sebatas itu keberanianku beradu. Secangkir coklat panas di hadapanku pun mulai dingin.

Hari itu, kau akan pergi bukan? Merajut asa yang selama ini telah kamu tunggu. Iya, aku turut bersuka cita untukmu. Satu dari sekian banyak mimpimu telah berhasil kau gapai. Pengajar, pembimbing skripsi, atau apa pun itu, semua turut mengucap selamat dan berpesan agar hati-hati disana. Teman-teman satu fakultasmu itu, tampak berbinar lagi cerah dan memberi untaian ucapan selamat yang bahkan membuat angsana yang sedang berguguran itu pun cemburu.

Hari itu, iya aku membaca pesanmu. Serangkaian persiapan perjalanan panjang. Ingatkah kau saat awal kali berjumpa karena sebuah jurnal yang terjatuh? Ah, tidak tidak. Tidak perlu kau bawa sekeping  ingatan ini menuju tempat barumu disana. Bahkan selama ini pun kita tidak pernah saling— 

Hari itu, aku hanya bisa berdoa dalam diam mendoakan keselamatanmu. Setelah dering telepon di kafe hari itu. sungguh, kau boleh pergi. Lagipula, untuk saat ini, ya sebatas ini saja. cukup rumit memang mendefiniskannya. namun inilah jalan yang sama-sama kita ambil.

menyesal? Tidak. Sungguh. Hati selalu tahu dimana tempatnya pulang. Buku aan mansyur yang selalu kau bawa itu, selalu berkelebat barang sedetik. Jika tidak ada new york hari ini menjadi favoritmu, maka bolehkah aku mengatakan bahwa hal berkesan adalah  rangkaian tulisan ceker ayam yang singkat dan kau selipkan secara sengaja atau hanya iseng belaka diantara lembaran kumal notes yang selalu kubawa itu?

Tak apa. Walau mungkin sebagian dari diriku mengutuk pesan yang tak tersampaikan ini. Biarlah ia tenggelam. Tenggelam bersama pesanmu yang tiba-tiba muncul, “saya akan pergi hari ini.”. dan jariku hanya mampu mengetikkan, oh ya, hati-hati, baik-baik disana.. Padahal, tidak pernah sesederhana itu. tidak–

Hingga pada suatu pagi, ketika ayam sibuk berkokok, dan terlihat seorang tua keriput yang tertatih berjalan ke surau, sekali lagi, aku menguatkan diri. bukankah ridho-nya lebih pantas dipertimbangkan dalam mengambil sikap apa pun? Sudah, cukup. Jadi, tak apa.


Tumpahkan Saja

Meminjam nada bicara tokoh cinta dalam film ada apa dengan cinta saat dialog pecahkan saja gelas-gelas itu. Judul diatas bisa teman-teman ucapan seperti itu pula.

 

dokumen pribadi


Tumpahkan saja gelas-gelas itu.

Gelas-gelas kaca yang ada dalam pikiranmu. Gelas-gelas yang telah penuh. Tumpahkan saja. Jangan dibiarkan. Nanti kau malah akan pusing, mau ditaruh mana lagi. Segala beban pikiranmu.

Tumpahkan saja gelas-gelas penyimpanan memori hidupmu. Tumpahkan ia dalam sebuah wadah tak terbatas, yang akan memuat lebih dari segala batas penyimpanan yang ada di seluruh jagat raya. Tumpah ke dalam wadah yang tak akan lekang oleh waktu. Sebuah wadah yang ku sebut tulisan.

Tumpahkan ia ke dalam wadah yang bernama tulisan. Menulislah.

Baik sepatah atau hanya dua patah kata, tulisan telah mampu menghadirkan ketenangan bagi setiap orang. Jika belum bagimu, mungkin hanya kau sajalah yang belum terbiasa. Tapi cobalah itu sangat berguna. Tak perlu kau harus mengunggahnya ke umum, jika itu hal privatmu. Cukup kau tumpuhkan setiap kata yang telah terlalu sesak memenuhi pikiranmu, dan tak butuh waktu lama kau akan benar-benar merasa lega.

Karena pernah di satu kesempatan, seorang kakak tingkat di kampusku merespon pernyataan hasil eksperimen menulisku. Saat itu apalah bagi orang awam sepertiku yang dapat menyimpulkan suatu hal baru, rasanya sudah seperti penemu  yang bangga akan teorinya xixixi. Singkat cerita aku merutinkan menulis setiap saat kala beban pikitan menumpuk dam mulai menggagu fokusku pada hari itu. Kadang banyak, kadang juga sedikit. Tergantung ruang kosong dalam pikiranku yang aku butuhkan, sehingga berpengaruh pada kapasitas penyimpanan yang telah penuh yang harus aku tumpahkan.

Katingku merespon dengan sebuah ilmu yang ternyata menjadi makanan beliau sehari-sehari sebagai seorang mahasiswa psikologi. Tentang salah satu langkah dalam sebuah teori yang dapat digunakan bagi mereka yang mengalami depresi atupun stres pikiran untuk melakukan pemulihan, yups sebuah katarsis emosi. Maa syaa aAllah, keren bukan? Betapa luas ya ilmu-Nya.

 

Nah bagaimana teman-teman, bahkan metode healing melalui menulis ini bukan hanya teori ecek-ecek aku semata lho, hehe. Ternyata bahakan memang benaran terbuktinya nyata dalam bidang profesional keilmiahan psikologi. So masih ragu untuk menulis? Udah coba aja dulu.

 

Tumpahkan saja gelas-gelas itu.

Happy writing, -silmy


How to be Different

dokumen pribadi


Assalamualaikum,

Ola temans, apa kabs ? Rasanya udah lama nih tidak mengunjungi ruang perjumpaan ini. Bu editor nggak usah senyum - senyum ya, mentang - mentang udah bikin gue enjoy nulis. By the way, hari ini gue mau sedikit cerita aja. Take it relax ya.

Jadi gini, gue mau sharing tentang gimana sih caranya menjalani hidup dengan orang yang totally different dengan kita. Karena gue dan keluarga gue punya pola pikir yang beda. Gue minimalis, keluarga gue enggak. Gue vegan, keluarga gue enggak. Gue susah sosialisasi, keluarga gue enggak, and so on and so on. Intinya, banyak banget hal yang harus dikomunikasikan dan dikompromikan. Ya berantem - berantem dikit pasti ada lah, namanya juga hidup berdampingan ye kan. Tapi, gue dan keluarga gue fine fine aja karena kami nggak saling memaksakan kehendak untuk punya pola pikir yang sama, selain itu, gue dan keluarga gue juga sama - sama saling menyesuaikan. Contoh, keluarga gue nggak masalah kalau makanan gue kadang beda dari yang mereka makan. Mereka nggak komplain ? awal - awal mungkin iya, tapi ngelarang ? no, nggak pernah.

Kalau pun masih ada konflik, menurut gue stabilitas emosinya yang harus di cek ulang. Mau saling turunin ego biar hilal jalan tengahnya keliatan apa engggak, masih punya nafsu buat menangin debat apa enggak. Ya namanya orang beda - beda, tinggal kita bisa terima apa enggak. Kalau enggak, kan masih bisa di ajak ngomong baik - baik, gimana caranya biat bisa menyesuaikan satu sama lain. Di ajak ngomong loh ya, bukan diomongi :)


Penulis : bu syaf temennya zal


LGBT? Feminisme? Orang Baik? Bisakah?

doc pribadi: once in my life, blur

Hi gais, balik lagi di blog gue! Kali ini gue sendiri yang akan menuliskan sesuatu. Apakah itu? mengenai.. circle dan sesuatu yang penting

yap! Setiap orang pasti punya lingkaran pertemanannya masing-masing. Yang suka baca buku, secara gasadar dia bakal ada di club pencinta buku. Yang anaknya ilmiah abeez, suka ikut lomba, dia pasti bakal mudah ditemukan di ukm keilmiahan. Yang suka guling-guling di lantai karena gabut secara ga langsung dia pasti akan ikut di.. eh yang ini ga ada. Skip.skip. don’t mind.

Nah, gue pernah tuh baca suatu hadist rasul yang intinya kalau kita itu seperti ruh, lo ngerasa ga sih kalau lo temenan sama orang yang sikap mau pun perilakunya ga jauh sama diri lo sendiri? Nah! That’s it, bagaikan cermin, kalau mau lihat bagaimana seseorang lihat aja temennya nongkrong atau ngopi siapa, dari situ bisa ketebak bagaimana. Rasul pun juga gitu, kalau kita mau melihat baiknya agama seseorang, lihatlah temannya.

Tapi nih gaes, ga fair donk yaa kalau orang baik cuma ngumpul sama orang baik doank? Teringat suatu pertemuan di truntum cafe, saat itu ada kumpul youlead dengan menghadirkan mas naren. Sepenangkap gue sih, ini termasuk privilege yaa ketika lingkungan kita baik-baik aja, produktif, punya mimpi yang tinggi dan saling support, orangnya ga aneh-aneh, gapernah clubbing atau yaa hal semacam itu tapi kalau kita mainnya sama orang baik terus lantas siapa yang mengambil tanggungjawab untuk mendakwahi orang-orang di luar circle kebaikan itu?

tapi zal, gue kalau ikut terjerumus gimana?

Jawaban gue, nope. Percayalah bagi lo yang sekarang merasa di lingkungan baik-baik, di luar sana kehidupan ga sebaik yang kita pikirkan. Masih banyak kok orang yang menganggap kalau seks di luar nikah itu, fine fine aja. Masih banyak kok orang yang yang beranggapan bahwa lgbt itu yaa bagus-bagus aja, asalkan ga merugikan yang lain. Masih banyak kok yang gangerti caranya berwudhu dengan benar daaan lainnya.

Siapa yang mau ambil tanggungjawab kalau kita ga mau keluar comfort zone dengan dalih biarlah gue berteman dengan yang sekufu yang lain biar lah berlalu.

Ga gais. Jadi, pernah yaa gue itu ada diantara 2 circle yaa bener-bener beda. Di circle satunya nih isinya orang-orang alim, taat agama, pakaiannya gausa ditanya, beuh syar’i! Nah, di sisi lain juga gue ada di circle dimana ada orang yang mendukung lgbt, menggemborkan kalau feminisme itu suatu kebaikan. Kok bisa zal? Ya bisa lah! Di kampus kan latar belakang orang banyak.

Nah kata mas naren nih, gue kan sempet tanya yaa perihal gue yang ada di 2 circle itu apakah gue harus hengkang dari circle yang pro lgbt itu atau masih stay. Dia bilang yaa sebaiknya sebisa mungkin gue ambil tanggunggjawab dengan cara masuk ke core mereka. I mean, know their fondness and try to in it! Coba cari apa kesukaan mereka, misal nih saat itu baru heboh drakor goblin, gue sendiri ga ga ga nonton drakor kecuali the jewel in the palace yang mana itu adalah serial sejarah. Nah, untuk masuk ke core mereka coba liat goblin walau sejenak ntar pas ngobrol coba singgung deh, pasti obrolan bakal berlanjut dan mengalir! Setelah itu coba sedikit-sedikit masukkan nilai kebaikan. Kalau gabisa, yauda cabut aja. Gitu.

Nah dari situ, gue sekarang mencoba berpikiran moderat dan lebih terbuka. Apalagi, alhamdulillah setelah diterima magang menjadi jurnalis di kampus gue, gue banyak bertemu orang dengan latar belakang yang beda. Pernah gue wawancara orang yang buaiknya mashaallah, pernah juga wawancara anak seni yang anti mainstream banget, pernah juga wawancara temen-temen yang udah go internasional, d e e l e l. Darisitu, gue banyak belajar!

Iya, biasanya setelah wawancara usai, gue ga langsung pergi gitu aja. Gatau yaa yang bener apakah langsung bilang terimakasih dan permisi sampai jumpa. Tapi, gue pikir ada baiknya untuk duduk sejenak sambil mendengarkan kisah narasumber yang ngalor ngidul, bahkan pernah ada yang curhat masalah asmara padahal baru sekali itu ketemu, dipikirnya gue pro apa dalam begituan wkwk, nope. Ya gue kan pendengar yang baik. ga jarang gue dapat banyak hikmah setelah percakapan ngalor ngidul itu.

Dari situ biasanya gue nambah temen entah di dunia nyata mau pun maya. Ada yang jadi saling save nomor wa, jadi bisa saling lihat story. Eh tapi, kadang gue ketawa, kayak pas wawancara mahasiswa kkn karena cuma dapet nomornya nama kontaknya gue save jadi kkn dimana dia berada misal kkn manado, kkn ntt, dll wkwk, padahal harusnya mas atau mbak siapa gitu eh tapi sekarang beberapa udah gue ganti karena tau namanya :d Darisitu, circle gue gacuma anak ski yang alim aja, kalau dipikir-pikir gue juga terhura gitu bisa stay di ski wkwk, gue masih merangkak untuk menyusul temen-temen yang mashaallah menurut gue baik-baik.

Nah darisini gue pikir, gue gabisa menerapkan metode dakwah kayak pas awal dulu yang langsung memvonis tanpa lihat culturenya kayak gimana. Kayak kemarin malam, gue baru aja tau suatu karya seni yang, emm, gimana yaa bilangnya, woaa bagus dan keren banget menurut gue! Di sisi lain membawa unsur modern namun budaya jawa ada disitu. Kalau misal gue nanya ke circle yang moderat kayak gue yaa mereka sama bakal bilang keren tapi nih misal gue menunjukkan karya itu ke anak-anak yang udah ngaji lama, mungkin gue bakal diceramahin.

Nah gaes, gue jadi butuh deep talk dulu dalam pikiran kalau mau ngepost something. Dimana ga terlihat kaku banget namun juga ga keluar dari syariat. So, gaes, gue pikir ini penting untuk memikirkan apakah selama ini kita merasa ada di lingkungan baik tapi boleh jadi allah inginkan kita agar menjadi perantara hidayah bagi orang yang belum mengenal islam secara mendalam. Karena berdakwah itu juga butuh seni, ada metodenya dan liat siapakah sasaran dakwah kita. So, be wise yah dalam menasehati!

Salam hangat dari gue, yang terkesiap karena beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba dapat notif media sosial dari seorang teman yang sepertinya kita pernah bertemu di bagian indonesia paling ujung barat.


Berdamai dengan Diri Sendiri

Wahai diriku,

Di dunia ini ada dirimu, juga orang lain

was taken by zalfaa


Kamu bebas bertindak, begitu pula orang lain

Kamu bebas menentukan, begitu pula orang lain

Jika kamu memilih sesuatu,

Mengapa orang lain harus setuju denganmu

Jika kamu melakukan sesuatu

Mengapa orang lain harus sejalan denganmu

Mengapa kamu begitu terpuruk,

Seakan - akan dunia tiada berpihak kepadamu

Toh kamu juga punya hak untuk tidak menyetujui mereka

Sudah,

Tidak usah terlalu dipikirkan

Yang penting bagimu,

Apakah Allah ridho kepadamu?

 

Written by : ersya afiliana hf who is trying to be mindful.


BERMAIN DAN MENGAMBIL PERAN (Sebuah Perspektif Vertikal Dan Horizontal)

sumber gambar : pinterest


Peran adalah deskripsi sosial tentang siapa kita. Menurut seorang ahli yang juga merupakan penulis buku ajar fundamental keperawatan, Kozier Barbara, peran adalah tingkah laku seseorang sesuai kedudukannya. Setiap manusia, setiap orang didunia ini memiliki perannya masing-masing. Baik itu dalam bidang keahliannya, pekerjaanya, keberadaanya dalam masyarakat maupun keluarga.
Peran-peran yang dimainkan oleh setiap orang, pasti akan saling berkaitan satu sama lain. Peran ini pula yang nanti dalam pelaksanaannya menjadi tokoh-tokoh penting dalam perjalanan hidup seseorang.
--------
Dia tampak begitu sempurna. Sosok seorang muslimah shalihah. Hijabnya syari, semangatnya menuntut ilmu sangatlah tinggi, punya rasa empati dalam dan peka terhadap keadaan di lingkungan sekitarnya. Sepertinya banyak manusia yang kenal dan menyayanginya.
Dia selalu berdiri paling depan. Bersuara paling lantang. Paling berani berbeda dan teguh dalam pendiriannya sebagai seorang muslimah. Tutur katanya terjaga, meskipun bukan dari kalangan intovert sepertiku. Dia sangat suka bicara.
Entah sejak kapan pastinya, aku lupa awal aku dan dia bertemu, berteman, nampak hampir menjadi sahabat, hingga renggang. Aku, menghilang.
Jatuh dan bangunnya kami selalu bersama, saat itu. Saat aku belum menemukan diriku yang sekarang. Aku ada untuknya. Dia tak ada untukku. Salahku. Salahku, yang terlalu naif. Mencoba menghadapi semuanya sendiri. Hingga aku lupa, apa hidupku tak ada masalah? Kenapa aku tak bisa mendefinisikannya. Semua nampak baik-baik saja. Tapi, jelas ada luka dalam yang tak kusadari menggerogotiku secara perlahan. Namun ku tahan. Hingga ku bisa melesat sejauh ini terlihat tanpa beban.

Ah, tuh kan. Lagi-lagi pikiran naifku menghalangiku untuk mengakui alasan jelasku menghilang. Tidak, tidak.. kami hanya tidak cocok. Bohong!
Kau iri, bukan. Kau iri pada keshalihahannya. Pada teguh prinsipnya. Kau iri karena penampilannya di atas panggung dakwah yang begitu megahnya. Kau iri pada betapa gesit dan cekatannya dia merealisasikan ide-idenya. Kau iri pada nampak mulia tutur, laku dan niatnya.
Iya. Kau iri, bukan! Jujur saja.
Kau terlalu lama berada dalam kepura-puraan bayangan orang. Kau ingin sepertinya. Tapi kau bukan dia!
---------
Sepenggal cerita semi-fiksi dia atas mengawali perjalananku mencari siapa diriku. Perjalanan memainkan peran dan mengambil peran di megahnya panggung dakwah. Sambil terus memaknai QS. Adz-Dzariyat: 56 dan QS. Al-Baqarah: 30 tentang peran sebenarnya siapa kita. Seorang hamba dan juga khalifah penjaga bumi ini.
Tulisannya ini nampaknya akan membawamu berputar maju dan mundur. Namun sedikitnya semoga ada hikmah yang bisa kau maknai lebih. Karena membahas tentang peran akan butuh berlembar-lembar tulisan. Namun singkatnya kedua ayat diatas telah mencakup kedua perspektif kehidupan kita. Perspektif vertikal sebagai seorang hamba yang mengabdikan diri beribadah kebada Rabbnya, dan perspektif horizontal sebagai seorang pewaris bumi yang bertanggung jawab menjaga kehidupan sekelilingnya.
Hingga di sebuah keheningan siang hari di bulan Ramadhan ku menemukan sebauh tulisan yg menjawab kegelisahanku yg tertuang dalam kisah diawal tulisan ini. Kisah dari seorang guru yang persis sama seperti yang terjadi padaku
----------

Jika ras benci atau cinta yang berlebihan tanpa sebab yang jelas adalah salah satu penyakit yang harus diobati, itu sudah kutahu dari dulu. Tapi kalau diobatinya adalah dengan cara dadamu diusap, kepala dipegang sembari didoakan agar kebencian di hatimu terhadap seseorang bisa hilang, seumur hidup.
Aneh memang.
Bagaimana rasa benci terhadap salah satu pelajar yang aku mengajar dikelasnya bisa datang begitu tiba-tiba, tanpa ada sebab bahkan tanpa aba-aba. Aku tiba-tiba tidak ingin memandang wajahnya, pusing mendengar suaranya. Bahkan sungguh baru kutahu bahwa aku bisa benar-benar muntah tatkala secara tidak sengaja melihat wajahnya.
Lebih anehnya lagi dia termasuk pelajar terbaik di kelas, cerdas, aktif, penurut dan yang jelas dia tidak bermasalah apapun denganku. Dia pasti bertanya-tanya dan bingung ketika kemudian aku memintanya untuk duduk di barisan belakang dan tidak dapat dihadapanku. Karena aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi sama sekali dalam posisi seperti ini. Dia dan juga teman-teman sekelasnya pasti bingung ketika aku memintanya untuk menuliskan saja pertanyaan yang akan dia lontarkan agar tidak mendengar suarannya yang bisa membuat isi perutku naik ke dada dan menyebabkan mual secara mendadak begitu saja.
Jangan kau kira aku tak ada usaha apa-apa untuk menghilangkannya. Berulang kali aku merenung,berperang dengan diri sendiri dan mencoba menenangkan hati saat kebencian itu memanas-manasi.Usahaku tidak membuahkan hasil
Doa dan dzikir selalu kubaca setiap kali terpikir bahwa ini merupakan salah satu ujian untukku. Namun semuanya belum cukup untuk menghilangkan rasa itu
Setengah mati kucoba sembunyikan kebencian ini darinya, namun sepertinya dia mulai merasakannya juga. Dia lebih baik dia disepanjang mata pelajaranku. Duduk paling belakang dan tak lagi terlihat tersenyum seperti bisanya.
Duuh... Aku telah melukai hatinya, aku telah menyakiti perasaannya
Teman sekamarku yang juga seorang ustdzah mulai merasakan ketidak nyamanan ini, kuceritakan padanya keanehan yang terjadi lengkap dengan pembelaan bahwa rasa itu muncul tiba-tiba dan tanpa sebab apa-apa
Dan entah apa yang ada dalam benaknya, hingga suatu siang sepulang dari masjid selepas shalat Dzuhur dia memintaku berkemas dan kemudian kami berdua bergegas pergi menemui seorang wanita berumur 60 an tahun, temanku ini memanggilnya dengan panggilan Hubabah Umairoh
Kami menunggu cukup lama diruang tamu karna beliau masih menemui tamu yang lain sebelum kami kemudian dipersilahkan menemui beliau diruang tengah rumahnya.
“Therapis?” Dokter jiwa? Psikolog? Atau bahkan dukun? Aku menerka-nerka
Namun bayangan itu hilang seketika, saat aku melihat sosoknya, beliau adalah seorang wanita dengan wajah keibuan, bicaranya lembut dan penuh senyuman, dihadapanya aku mersa seolah bertemu dengan sesorang yang telah lama kukenal.
Siang itu masih dengan memakai mukena selepas shalat Dzuhur, beliau menyambut kami dengan hangat lalu menayakan kabar Al Habib Umar bin Hafidz guru kami.
Kemudian dengan penuh perhatian beliau mendengarkan apa yang dituturkan temanku mengenai diriku tentang rasa benci yang tiba-tiba kurasakan sebagai sesuatu yang tidak wajar, mengingat aku sebelumnya tidak pernah membeci sesorang tanpa sebab yang jelas.
Beliau lalu berdiri menghampiriku, memegang kepalaku sembari menggumamkan doa-doa dan dzikir, tanpa lama kemudian beliau duduk dihadapanku, mengusap dadaku sambil tidak berhenti berdoa. Dan beliau mengakhiri bacan-bacannya dengan meminta kita semua membaca surah Alfatihah bersama.
“Ada 2 orang yang paling banyak didengki oleh orang lain diatas muka bumi ini” Kata beliau sembari menuangkan teh dicangkir kecil dan menghidangkan dihadapan kami
“Orang yang berharta dan orang yang berilmu” lanjut beliau
“Jika kamu jadi salah seorang dari mereka, pandai-pandailah menjaga sikap saat bergaul dan berurusan dengan orang lain. Pandai-pandai pula menyimpan rasa. Karna bahkan orang yang terlihat dicintai oleh kedua orang inipun akan menimbulkan iri dan dengki dari yang lainnya. Seperti itulah yang terjadi padamu”  Katanya bijak.
Kami pulang setelah mendengarkan anjuaran beliau untuk membaca bebrapa dzikir saat suasana hati sedang tidak menentu.
Dan Subhanallah....
Apa yang terjadi sesampainya di asrama sungguh luar biasa. Di pintu masuk aku berjumpa dengan pelajar yang pagi tadi perasaanku dengannya masih dipenuhi dengan kebencian. Aku pandang wajahnya dan ia menunduk takut, kucari kebencian yang seminggu ini menyiksaku dan meyiksanya tentu saja, namun rasa itu sungguh-sungguh tak lagi bersisa, sudah hilang entah kemana.
Aku langsung menyalami dan memeluknya, sementara dia kebingungan, tak mengerti apa yang terjadi.
----------
Dalam megahnya panggung dakwah ini tak jarang kadang saling bersenggolan sudah pasti terjadi. Namun kita sadar bahwa itu sangat menyiksa. Bagaimana tidak panggung ini adalah panggung kebaikan mana bisa ada selisih diantara para tokohnya. Dari sini, akhirnya Allah tuntun saya untuk terus belajar memaknai setiap peran yang saya emban dan atau akan saya akan ambil kedepannya. Bahwa tak ada niat lain, kecuali semuanya harus karenaNya.
Mengenal siapa diri kita dan memainkan sebaik-baiknya peran kita adalah pesan saya bagi siapa pun kalian, terutama sahabat dan saudara ku para pejuang dakwah. Jalan dakwah ini masih sangat panjang, sebelum jauh melangkah terus memperbaiki diri adalah penting adanya.
Salam ukhuwah

Penulis : teh lany yang berhati lembut