Sudah Siap?


            Hari ini tarwihku berdurasi lebih singkat daripada kemarin. Yaa, aku tidak sedang bertarwih di masjid yang paling besar seantero kampus yang mana para imam biasanya adalah mahasiswa-mahasiswa UNS bergelar hafidz dengan suara merdu yang menyertai. Ketika di masjid kampus, jarang sekali apabila sang imam hanya membaca surah-surah pendek dari juz 30, alhasil baru selesai lah tarwih sekitar pukul 20.30-20.40
source : yumfoodz
            Hari ini ada agenda di SLB A YKAB, aku bertugas sebagai MC dadakan plus amatiran untuk acara buka bersama adik-adik penyandang disabilitas. Sore tadi, kulihat beberapa pemandangan yang membuat hati trenyuh. Beberapa orang tua anak berkebutuhan khusus datang dengan wajah berbinar dan ketabahan yang tak bisa disembunyikan. Yaa Allah bagaimana bisa hati mereka begitu tabah untuk menerima, maksudku dengan penerimaan yang indah tanpa kepalsuan
            Kulihat ada seorang bapak paruh baya yang menggendong anaknya (padahal sudah lumayan besar), ada pula seorang ibu yang dengan sabar menuntun anaknya yang memiliki hambatan mobilitas. Ah, aku yakin, kalau kamu tidak terbiasa, kamu akan sulit menahan air mata.
            Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar. Ketika berbuka, aku melingkar bersama sobat baikku, Ili dan Lany. Kami membahas beberapa topik yang hangat. Salah satunya kami berdiskusi mengenai “apakah kamu yakin bahwa tidak menikah hingga akhir hayat adalah pilihan bijak apabila memang tidak ingin” mengingat snapgram seorang public figure yang kami ikuti.
            Well, sebenarnya ketika kami bersama, kami lebih sering berbincang mengenai mimpi sekaligus ambisi masing-masing dan kemudian kami akan memberi semangat satu sama lain. Seperti kemarin sore, ketika aku mengabarkan pada mereka bahwa aku menjadi finalis sebuah perlombaan, dan sore ini kupaksa mereka untuk menjadi support system ku ketika hari h, haha.. nah, sore ini beda, kami membahas topik yang tidak akan pernah selesai dibahas sebelum kami menemukan Mr. Right kami masing-masing.
            Mmm, setelah diskusi tadi sekarang aku berpikir. “Well, memang benar bahwa menikah tidak main-main seperti itu” maksudku, banyak pertimbangan yang harus diperhatikan detailnya sejak awal. Tidak hanya bermodalkan nekat saja dan asumsi mengikuti sunah Rasul namun hey you must prepare many things before step in it!
            Jujur saja, aku sedih ketika mengingat realita hijrah yang sering disangkut pautkan dengan nikah muda. Aku pernah di posisi itu, di posisi ketika rasa ingin menikah begitu menggebu hanya karena tulisan-tulisan persuasif tanpa memandang realita. Huee, sedih gue.
            Alhamdulillah, Allah sabarkan diri hingga melarutkanku dalam kesibukan-kesibukan yang membuatku tidak pernah lagi mengkhayal terlalu tinggi mengenai pernikahan impian. Rasanya, aku ingin berbisik pada mereka kawula muda yang sedang berhijrah, mm hei hijrah bukanlah hanya soal nikah muda yaa. Kita bisa jadi harus lebih belajar dulu mengenai aqidah, fiqh, dan shirah-shirah ulama salaf. Tanpa landasan ilmu, jika nikah hanya modal langsung tancap gas, kukira hal tersebut kurang bijak.
            Kalau aku sendiri, ketika melihat life-plan yang telah kubuat, rasanya ingin tertawa, menanti, dan tidak sabar. Yaa, aku sudah menargetkan untuk menikah di umur sekian dengan kriteria yang seperti itu. Namun, semua masih misteri dan tugasku sekarang bukanlah larut dalam kesedihan atau merasa ngenes di pojokan kamar karena si dia belum datang, namun masih banyak kegiatan bermanfaat yang dapat dilakukan. Yaa, poinnya menyibukkan diri!
            I made it! Dan aku semakin percaya kutipan-kutipan bang Tere dalam novelnya yang berjudul “Rindu” mm, yaa pokoknya sudah aku buktikan. Ohya, dan bicara mengenai nikah lagi, hal ini bersifat visioner sekali seharusnya. Karena kamu tidak hanya menikah selama satu hari dua hari tapi dengan harapan sehidup sesurga bukan?
            Nah makanya, make your own dreams now! Ingin seperti apa besok. Yaa, tidak salah kok kalau mulai merencanakan sekarang. Tapi jika untuk seumuranku, yaa mm disimpan dulu saja lah hehe..
            Dan yeaa, tadi aku tarwih di sebuah mushola dekat dengan SLB A YKAB, aku tidak terlalu memperhatikan nama mushola itu namun perhatianku lebih ke ucapan sahabatku, Lany yang ketika itu berada di sampingku. “Hmm, biasanya sih yang diem-diem itu duluan lhoh” aku masih mencerna kalimatnya. “Iyaa, dulu mbak mentorku kan pendiem, eh dia tau-tau nikah donk”
            Hmm OK, kita lihat aja besok.
            Ohya teman-teman, aku mungkin tidak bisa menulis secara konsisten setiap hari di blog. Mungkin akan lebih fokus ke update story dan postingan di instagram kali yaa.. Hmm, let’s be friend! Add my ig : @zalfaaza


Sebuah Pinta


            Malam ini Allah mengabulkan sebuah doa yang sudah lama kulangitkan pada-Nya. Sebuah harapan sederhana namun berkesan. Ya, Allah mengabulkannya ketika aku mengikuti sholat tarawih di Masjid Nurul Huda UNS. Inilah awal Ramadhanku tanpa keluarga.
            Awalnya terasa aneh memang. Sahur bangun sendiri, tidak ada yang marah ketika diri terlalu malas untuk beranjak dari tempat tidur karena masih mengantuk. Buka puasa tidak di meja makan bersama orang-orang tercinta. Ah, butuh adaptasi memang.
            Ohya, ngomong-ngomong sebuah pinta yang aku maksud adalah bacaan imam. Yaa, bacaan imam. Jujur, sudah lama aku ingin mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an tepatnya Surah Ar-Rahman ketika sholat berjamaah dan tahun ini Allah mengabulkan pintaku.
            Tepat ketika rakaat pertama terdengar syahdu Surah Ar-Rahman dikumandangkan. Bergetar rasanya. Tak terasa kedua mataku memanas karena terharu. Semoga keberkahan tercurah pada imam NH (Nurul Huda) malam ini.
            Bukan tentang “siapa” yang membaca surah itu namun adalah makna yang terkandung di dalamnya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
            Pada Ramadhan kali ini aku ingin menulis satu hari satu post di blog. Mm, sebenarnya ada tema tertentu setiap harinya namun sebentar aku masih merancangnya, masih terlalu abstrak jika aku share sekarang. Tunggu sebentar yaa.. Semoga, aku dapat berbagi hikmah kepada teman-teman semua. Doakan yaa agar aku termasuk ke dalam #AntiMagerMagerClub dan bisa produktif ketika Ramadhan. Begitu pun kamu, semangat yaa dalam menjalani ibadah puasa dan tilawah pada bulan ini. Kalau capek istirahatlah sebentar, namun jangan sampai terlena.

            Pahala tercurah deras. Pengampunan dosa dibuka selebar-lebarnya. Apa yang kita tunggu. Aku tidak tau apakah Ramadhan ini menjadi yang terakhir bagiku. Mungkin bisa jadi. Umur tidak ada yang tahu, mari fastabiqul khoirot. Saling berlomba-lomba dalam kebaikan dan saling mengingatkan ketika futur. Ayo semangat! Baarakallahu fiikum..


Untukmu Aktivis Kampus


quotesblog


            Halo semua! Alhamdulillah yaa bentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Gimana nih perasaan lo menyambut doi. B aja apa udah dari jauh-jauh hari. Gue ada rencana sih pas bulan Ramadhan bisa menjalankan program one day one post, yeaa gue pengen gitu menebar hikmah melalui tulisan di blog dengan tema yang berbeda setiap harinya.
            Gue pengen cerita nih ke kalian tentang well I don’t know exactly what’s going on, tapi gue cuma pengen nulis aja menumpahkan segala hal yang berkecamuk dalam hati. Tsaahh.. sebuah penelitian pernah bilang, kalau kita sedih, seneng, or maybe confuse at all dan kita menulis, hal tersebut membuat perasaan semakin lega dan plooong and let me write.
            Alhamdulillah hari-hari yang sibuk telah terlewati. I mean, disini gue berbicara mengenai organisasi. Pada hari-hari bahkan pekan-pekan sebelumnya banyak amanah yang harus terselesaikan. Saat itu ada dua amanah yang lumayan menyita waktu dan pikiran gue, adalah sebagai sekretaris di event UNS Cultural Night (UCN) dan sebagai koor acara di suatu event SKI.
            To be honestly, gue rada trauma sih jadi sie acara, keinget dulu pas event Hari Difabel Internasional yang menuntut sie acara harus segitu bakohnya segitu strongnya, wkk.. mendekati hari h muka-muka lelah dan frustasi campur aduk jadi satu dan qodarullah gue malah ditunjuk lagi jadi sie acara, jadi korwat lagi.
            Nah di UCN ini gue berinteraksi dengan banyak orang berlatar belakang berbeda. Entah itu dari FISIP, FK, FEB, dan fakultas lain yang ada di UNS. Sering bolak balik ke International Office mengurus surat atau tiket, dan yeah disini gue rasa adalah saat-saat gue keluar dari zona nyaman. Kenapa gue bisa bilang kalau keluar dari zona nyaman? Karena di UCN gue harus beradaptasi gaes, yang notabene gue sering berinteraksi dengan ukhti ukhti yang udah tau batasan agama, tapi disini I feel totally different.
            Persiapan sekitar 1 bulan menuju hari H. Pas hari H pun ga main-main, gue dapet amanah di meja registrasi tamu undangan. Bertemu dengan Dekan beberapa fakultas, orang-orang penting di UNS, bahkan menghadapi mas-mas komda yang jahil ketika itu. Di tengah capek yang melanda, lo harus tetep senyum dan menampilkan seolah-olah “Hey dude, we are a happy volunteer and we have a million spirit!” Hahaha..
            Ada momen yang paling berharga ketika gue jadi sekretaris UCN. Ketika hari h pula gue diamanahi untuk mengabsen mahasiswa asing yang hadir saat itu. Disini gue bisa praktek langsung dan menguji kemampuan bahasa Inggris gue. Well, ketemu langsung sama native speaker gaes!
            Well itulah ke-hectic-an gue selama di UCN beda lagi di SKI. Bikin rundown, mikir gimana film yang akan diputar saat acara, dan tentunya mengkoordinasi temen-temen sedivisi. Pernah ketika itu hari libur, gue di rumah, harusnya santuy menikmati momen bareng keluarga eh HP tut tut ada notif masuk dari kepanitiaan UCN mau pun SKI yang harus mengurangi rasa nyaman dan tentram gue saat itu. Tapi disenyumin aja lah yeaa.
            Tentu gaes, ada hal-hal yang sesuai ekspetasi mau pun ga. Ada hal yang bikin gue bisa tersenyum cerah namun ada pula hal-hal diluar dugaan yang membuat hati gue menjadi mendung bagaikan awan hitam yang siap jatuh menurunkan sendu di muka bumi. Tsaah bahasanya wkk.
            Pernah gue disuatu titik dimana capeek banget, mangkel! Pokoknya ga karuan gitu, dimana ketika gue merasa ada hal yang mengganjel dan mengecewakan karena ada hal-hal diluar kendali yang menyimpang dari kesepakatan forum sebelumnya. Heuu, gue kayak pengen berhenti sejenak gitu.
            Tapi pada saat yang sama gue merasa sedih, apa mungkin kesibukan-kesibukan di atas mengurangi waktu kedekatan gue dengan Allah :’) jadinya yaa gitu, gue capek hati. Ya Allah..
            Pada saat yang sama gue lupa, gue lupa kalau Allah pun masih sayang sama gue. Apa buktinya? Allah masih mengizinkan gue dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang penuh pengertian. Sahibul Menara, tempat curcol asyik dan berbagi ambisi masing-masing. Ada juga Riska, Ceunur, menambah manis senang sedih ketika di kampus. Ada juga sekbid gue yang dengan sabar mau membimbing gue, Mba Umi. Ya Allah semoga Engkau limpahkan rahmat-Mu pada mereka semua
            Ketika gue jatuh dan bimbang dalam menentukan pilihan, para sahabat gue di Sahibul Menara siap menguatkan pundak! Dan gue inget ketika kami pernah begadang bareng di kost gue buat essay full English karena mau apply suatu hal. Sekitar pukul 02.00 kami baru terlelap padahal besok ada kelas jam 07.30. Alhasil, mata lengket susah buat melek. Yaa walau pun belum sesuai harapan paling ga we one step further!
            Riska yang bangunin gue ketika hari sebelumnya pulang malem urusan volunteering temen-temen difabel. Keinget itu drama banget Ya Allah wkk. Paginya gue udah bangun buat isi bensin dan jalan-jalan bentar. Eh sampai kamar balik tidur dan gue terlena kalau ada kumpul. Di undangan jam setengah 9, Riska misscall gue.. “Zal kamu dimana” sebuah pesan yang gue bacanya masih mengumpulkan nyawa karena baru aja bangun tidur. Sadar kalau udah siang bangettt gue langsung kilat siap-siap dan cabut gitu aja. Kadang gue mengutuk keras jam ngaret di segala kumpul terkadang pula gue bersyukur dengan adanya jam ngaret, nah ketika gue dateng padahal udah telat banget, eehh acara belum masuk ke materi donk dan baru aja dimulai haha.. dan Ceunur yang sering banget nge-ship gue sama ikhwan kenalan dia. Ntahlah, gue sering gahabis pikir aja gitu dan berkali-kali bilang “Ngga Ceu, terlalu tinggi” but she always make sure if I deserve! Haha..dan kadang pula kami diskusi masalah Islam bersama. Dan Mba Umi yang sering banget WA “Dek....” “Dek...” wkk I’m grateful punya sekbid kayak kamu Mbak hehe. Ga pernah lupa buat ngingetin dan selalu fast respon kalau ditanyain, jazakillah khoir..
            Sampai titik ini gue jadi sadar. Amanah semakin berat namun langkah terkadang masih tersandung bahkan jatuh. Disinilah gue butuh penyempurna separuh agaa..
Eh salah
            Disinilah gue harus menguatkan diri gue! Ya harus! Karena mereka percaya kalau gue bisa mengemban amanah itu. Ingat, ada Allah yang menguatkan :’) Gue bisa kayak gini juga semua karena Allah. So, kurang-kurangin ngeluh deh Zal, udah nggak zamannya! Sekarang zamannya elo harus move faster. Buat visi misi, rencana hidup yang berfaedah! Ngga Cuma berfaedah buat diri sendiri, kalau gitu lo egois Zal tapi cobalah buat plan yang bermanfaat untuk orang lain juga!
            Bismillah, gue harus lebih tabah dan dewasa dalam menyikapi hal-hal yang terjadi. Lelah boleh asalkan lillah agar bernilai berkah :) dan selamat datang amanah-amanah baru yang akan datang. Dengan senyum semangat dan hati yang lapang gue siap menangkap kalian! Gue percaya diri karena innallaha ma’ana.
Dan untuk kalian para aktivis pengemban amanah. Capek? Iya.. Merasa kerja sendirian? Mungkin.. frustasi karena proker yang gaberhasil? Gapapa. Gue kasih tau lo spesial! Iya spesial! Di saat yang lain sibuk galau ga berfaedah, lo masi aja mikirin kebermanfaatan yang ajib. Nah, makanya jangan ngeluh yaa tentang kesibukan yang udah lo ambil. Hamasah yooo, libatkan Allah biar ga capek. Sekian..

An Escape

source: juliamstar

            We were both a kid when I first saw you. Act like don’t care what’s really going on. Actually, it’s memorable and I still remember. As I open my memories, it screams a loud for this one.
            That day is a freshman year at the college and I’m gonna be here for the next four years in this town. It feels strange and however I just sit and just know a little what’s going on until one day I saw you.
            I still remember in the past. You act well to me. Talk about the future and hope one day we will at the same place to embody those dreams. I told you how much my desire to watch Ramayana show at Prambanan temple and you always kidding me that you will be the one who always accompanies me wherever I go. Talk everything, share our dreams, and know our favorite movie each other.
            Until one day, it changes drastically. A sentence that changes a lot and makes a space between us. You’ve should never say that to me. The impacts are many. Nothing conversation, nothing jokes, nothing everything. Lost.
            Day by day passed until year by year passed, we don’t know each other and lost contact. I’m grateful, Allah sent me some nice friends. They hold my hand to do hijra. I mean, learn Islam more and leave bad habits before. It really helps me to forget you.
            But, destiny has written until I met you again. You saw me and I saw you. I really surprised about this. I still recognize you, maybe so do you. But we just keep silent and busy with our own mind. You stand awkwardly. No smile, no conversation.
            I don’t know what’s on your mind when you saw me. You’ve been hurt and I’m sorry for that because I don’t wanna make a special relationship before the day that blessed by Allah ta'ala. How deep you get hurt? I don’t know, but I hope you don’t mind the past. Stand the new you as a law student. Congrats, you made it.
            As surprised as I saw you. I learn much. Forget the past, and accept it gracefully. Would you mind to follow my way? Today, I can remember the sour moment in the past with a smile and a shiny acceptance because I realize, it’s not a big deal. During my effort to follow His guidance, I’m sure if Allah will rescue me unconditionally. Such a great learning the day that I saw you.

Written on a rainy day approaching midnight,
Surakarta, March 25, 2019

Sehat itu Mahal


            Sehat itu mahal. Mahal itu sehat. Sebuah ungkapan yang ga asing di telinga. Wajar sih, kan kalau sakit repot juga, keluar biaya juga buat periksa dan beli obat. So, that’s why we can’t called it just a cheap stuff. Sekali-kali ngomongin tentang healthy-life kuy. Teringat sabda Rasul :
            “Sesungguhnya mukmin yang kuat itu lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i” so kuy bahas tentang healthy-life
Gue emang anak keguruan but you must know guys, di prodi gue itu prodi soshum rasa IPA :’) huhu, ganyangka gue, lebih banyak ke IPA-nya. Di PLB belajar pediatri, psikologi, tumbuh kembang anak, ortopedagogik yang bener-bener rasa IPA.
            Disini bapak ibu dosen gue sering banget bahas parenting. Gue seneng sih karena masuk PLB gue jadi tau gimana treatmen saat akan menjadi ibu, gimana mengurus anak, hal-hal apa yang harus diperhatikan ketika anak masih dalam usia dini, juga hal-hal yang perlu dihindari saat kehamilan agar anak lahir dengan normal. Pokoknya seru deh! Ga terbayang sebelumnya. Kalau anak PLB serius belajar setiap saat, inshaallah bisa masuk kriteria mantu idaman wkk. Why? Ya itu tadi, kita udah diajarkan pernak-pernik parenting dan asahan ekstra kesabaran dalam mendidik anak berkebutuhan khusus.
love yourself ;) source : lovethispic
            But today, I wouln’t write about parenting. But tips n trik gimana sih kita sebagai mahasiswa, aktivis, juga volunteer tetep memiliki tubuh yang prima? Gue pengen nulis ini buat reminder gue juga. Karena to be honestly, gue masih dalam masa penyembuhan alias baru aja drop karena kecapekan dan kehujanan kali yaa..
            Saat berstatus sebagai mahasiswa, gue memutuskan untuk ikut terlibat aktif dalam berbagai kegiatan entah itu organisasi mau pun volunteering. Karena apa? Karena gue gamau hidup mengalir gitu aja, cuman ngikut arus aja. Teringat perkataan Iman asy-Syafi’i rahimahullah bahwa kalau kita ga disibukkan dengan kebaikan maka so pasti hidup kita disibukkan dengan hal-hal unfaedah. Maka dari itu gue pengen gacuma gabut di kost but at least ikut apa gitu yang bisa menambah faedah.
            Kalau liat jadwal keseharian gue, bisa dibilang lumayan padet. Emang, di kampus gue ikut 2 organisasi, tapi di samping itu gue juga ikut beberapa kegiatan volunteering. Dan, kalau ada semacem kegiatan di kampus maupun diluar kayak seminar, talk show, atau apalah, selama itu positif dan jadi pon tambahan kalau FREE, langsung gaskeun lah hehe. Naah, mungkin karena akhir-akhir ini gue ga memerhatikan pola makan dan istirahat yang cukup jadilah nge-drop.
            Kemarin lusa, setelah bangun tidur, gue merasa pusing, tenggorokan sakit, pilek, dan yeah ga enak badan. Sejenak gue cuma berdiam diri kasur. Mau gerak, rasanya ga enak. Berbaring ke kanan ga pw, berbaring ke kiri ga pw juga. Gue menghela nafas, rada cemas mengingat kondisi gue pagi itu, gatau cicak-cicak yang ada di dinding atau semut yang berbaris juga ikutan cemas ga. Rasanya kayak sungkan mau kuliah karena kondisi gue yang sangat tidak mendukung. Cukup lama gue cuma berbaring di kasur, sesekali mengecek jam karena gue ada kuliah pagi.
            Mengingat hari ini cuma ada satu matkul dan gue udah dipercaya sama temen-temen buat jadi ketua kelompok di suatu penugasan, gue bulatkan tekad buat berangkat. Yaah, lagipula kalau gaberangkat kan sayang karena maksimal absen cuma 2X. Dengan langkah yang gue paksai-in buat semangat berangkatlah gue ke kampus.
            Gue rasanya kayak irit bicara saat itu, karena buat ngomong susah jadi yaa komunikasi pakai bahasa isyarat, anak PLB pasti mudeng wkk.. setelah matkul selesai ada agenda kerja kelompok tapi badan rasanya bener-bener udah gabisa diajak kompromi, apalagi kepala. Ya Rabb, rasanya ada bintang-gemintang yang menyapa gue saat itu, pusingnyaa. Melihat kondisi gue, temen-temen sekelompok menyarankan gue buat ke klinik aja, dan yea akhirnya gue kesana bersama Ili. Gue periksa ke klinik terdekat yang namanya Solo Peduli, karena di medical center rame dan terlalu adem karena AC, sementara gue udah gakuat, kami memutuskan kesana. Selama gue sakit dan periksa biasanya bareng nyonya besar, ini gue sama temen for the first time in forever,  ternyata biaya periksa dan beli obat gabisa dikatakan murah ya mwehehe, bisa buat beli makan beberapa hari.
            Setelah membayar, gue mendapatkan 4 macam obat, butuh perjuangan untuk menelan mereka semua. Gue pulang masi dianter Ili,  fyi she’s really sweet and kindly hearted girl I ever met :’). Sebelum dia balik, si Ili pesen “Za ntar kalau kamu habis tidur siang dan mau makan, WA aku aja yaa..” gue pikir Ili mau ngajak makan, yaudah gue iya-in.
            After had a little long rest, gue WA ili.
            Lii, wanna have a lunch? Kuy
            Ajak gue. Ili pun bertanya apa gue udah kuat buat keluar dan makan diluar. Gue jawab kalau udah mendingan dan kalau tempatnya deket kuy aja lah. Namun siapa sangka, Ili malah dengan senang hati mau nganterin gue makanan :’) padahal jarak kost kita ga deket, Ili di deket gerbang depan gue deket gerbang belakang. Jazakillah khayr yaa shalihah..

from ili! syukron yeaa

            Inilah bukti ukhuwah yang sesungguhnya mwehehe. Saat sakit gue jadi tau who really cares about me. Terutama kerasa banget siapa yang paling peduli buat ngingetin minum obat di samping ibu yang terus-menerus telpon menanyakan kondisi. Ah, siapa lagi kalau bukan shahibul menaraku :’) kalian ter-eeh di pc ga ada emot love.. Yaah, kalian terbaik lah. The most outstanding Muslimah in my eyes, eaa haha. I’m feeling lucky to be surrounding by u gurls.. Dan temen-temen yang udah nanyain dan doain lewat WA, jazakumullah yaa..
            Ehh kok gue malah jadi cerita yaa, kan mau share tips n trik buat jaga kesehatan buat kamu para mahasiswa yang juga aktivis top! Nih langsung aja, gue ambil sumber dari buku yang baru gue baca, berjudul “Awe, Inspiring Me” karya Dewi Nur Aisyah berikut gaes beberapa cara menjaga kesehatan tubuh :
1.      Mencukupi kebutuhan gizi
Hayoo buat temen-temen anak kost, ngirit sih boleh tapi yaa diperhatikan juga lho kesehatanmu. Perhatikan apa aja yang masuk ke mulut, jangan cuma cari murah aja tapi kita gatau apakah makanan itu mengandung gizi ndak, baik butuh tubuh ndak, banyak micin apa ga. Jangan sampai hanya karena berdalih “Gue pengen hemat cuy! Biarin lah gue makan nasi garem sama indomie aja.” No No No. Jangan yaa :) karena setelah sakit gue merasakan betapa mahalnya sehat. Jangan lupa juga, pastikan makanan yang kita makan adalah makanan yang halal dan thoyyib yaa.. So, dari sekarang ubahlah pola makan kalian. Perhatikan gizi yang cukup. Kalau sekitaran UNS mau nyari healthy-food ada tuh di Jalan Surya, yang slogannya anti-micin.
Nah, tips dari gue buat kalian, paling ga kalau bisa diusahain deh setiap hari makan harus ada sayur dan lauk pauk yang mengandung protein. Ga lupa, sebulan 2X atau sekali beli lah sekali-kali salad buah yang menyehatkan. Seminggu sekali atau dua kali, beli jus yang bisa menambah kadar vitamin dan mineral dalam tubuh. Irit boleh, tapi sayang juga yaa sama tubuh.. Manage uang kalian, buat pembagian pengeluaran mau buat apa, gapapa nambah budget dikit buat makanan yang bergizi karena toh ini kepentingan buat tubuh sendiri juga toh.
2.      Jangan lupa sarapan
Hayoloo siapa yang sering skip sarapan di pagi hari? Cung! Eh gue juga termasuk huhu.. selfreminder buat gue juga nih, kalau gaboleh skip sarapan sembarangan karena sarapan bisa memberi kekuatan bagi metabolisme tubuh setelah kita tidur sepanjang malam. Selain itu, sarapan juga bisa menambah nutrisi esensial sama tingkat keseluruhan energi, memberi bahan bakar untuk konsentrasi, mencegah makan berlebih saat siang, serta memperbaiki memori. Nahlo, masih males buat sarapan? (nanya ke diri sendiri)
3.      Perhatikan berat badan yang ideal
Waduh, rada sensitif ga sih kalau bahas berat badan. Eits, tenang.. gue ga bakal mengeluarkan judge statement, hehe. I just wanna say kalau BB yang ideal itu penting. World Health Organization (WHO) udang ngasih patokan kok buat hal ini dalam BMI (Body Mass Index) atau Masa Indeks Tubuh. Caranya coba bagi berat badan sama tinggi badan dalam (m2)  terus cocokkan sama tabel klasifikasi. Coba deh search gugel buat BMI ini.
4.      Olahraga yang teratur
Berolahraga merupakan hal yang sangat diajurkan dalam Islam. Bahkan dalam pandangan ulama fikih, olahraga (dalam bahasa Arab, al-riyadhat) termasuk bidang ijtihad. Secara umum, hukum melakukannya adalah mubah bahkan bisa bernilai ibadah jika diniatkan sebagai ibadah dalam pelaksanannya dan tidak bertentangan dengan syariat. Selfreminder juga nih buat gue yang masi mager buat olahraga, paling ga paksa dirilah buat olahraga seminggu sekali walau idealnya 3-5X seminggu. Gapapa, dikit-dikit dulu hehe..
5.      Memperhatikan kebersihan
Ingat ga suatu hadist yang mengatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman? Nah disini siapa yang masih hobi mandi 3 hari sekali? Ada ga? Ga? Alhamdulillah.. nah gitu donk.. kebersihan juga harus kita perhatikan gaes. Dari kerapian kamar, kebersihan sekitar biar terhindar dari kuman nakal yang bisa menyerang imun tubuh.
6.      Istirahat yang cukup
Yaps, idelanya 7-8 jam. Tapi, terkadang sebagai mahasiswa sekaligus aktivis rasanya cukup sulit bisa tidur selama itu. Tapi paling ga usahakan yaa gaes. Reminder buat gue juga nih yang tidurnya belum bisa ideal. Eits, tapi jangan juga yaa kelebihan tidur, hal itu gabaik juga buat kesehatan karena bisa berdampak buruk kayak sakit kepala, nyeri punggung, dan bahkan sulit hamil.
Nah gimana udah tau belum cara-cara menjaga kesehatan tubuh? Tulisan ini gue buat juga untuk menasehati diri sendiri.. Boleh kok jadi mahasiswa dengan IPK bagus ditambah jadi aktivis organisasi, volunteer atau pun seabrek kegiatan lainnya. Keren malah! Tapi yaa itu lho temans, kesehatan adalah investasi yang berharga. Jangan lupa jaga kesehatan dan tetep makan yaa, iyaa gue tau kalian udah besar dan gaperlu diingetin buat makan. But, kegiatan yang seabrek, sibuk jadi aktivis sana-sini, terkadang jadi lupa buat makan, so gada salahnya kan gue ingetin hehe. Semoga Allah ringankan langkah kita..


MEMORI

            Halo temen-temen! Apa kabar semua? Semoga kesehatan berlimpah yak dan tak lupa, moga kita semua makin dirahmati Allah, aamiin.. Gue mau cerita nih tentang suatu film yang hmm mashaallah, mantul dah alias mantap betul! Eits, tapi nih film udah lumayan lama sih. Awal rilis gue masih kecil jadi gabisa mencerna pesannya hehe. Hayoo, ada yang bisa nebak ga, film yang akan gue bahas disini?
            Gue kasih clue nih. Tokoh utama bernama Alif, ngambil lokasi syuting di pondok Gontor. Diangkat dari novel fenomenal karya Ahmad Fuadi. Nih film sesuatu banget deh, gue kasih rating 9,5 dari 10. Hayo apaa
            Apa gaes?
            Ayo tebak!
            Mikir dulu deh 1 menit..
            Nyerah?
            Ahaha yauda deh gue kasih tau. Film ini berjudul....
            NEGERI 5 MENARA
            Nah iya kan, ini film udah berumur. Dulu sering banget diputer di TV, tapi gue merasa ga tertarik dulu pas kecil. Nah, ketika gue gabut di kost, gue pun browsing mengenai film-film yang ada hubungannya dengan pendidikan di Indonesia. Disitu munculah beberapa deret judul film. Ada Laskar Pelangi, Sakola Rimba, Alangkah Lucunya Negeriku, dan yang pasti ini nih Negeri 5 Menara yang berhasil menyedot perhatian gue.
            Gue tertarik karena judulnya hampir sama kayak julukannya Mesir haha, Negeri Seribu Menara. Walau cuma beda 1 kata ternyata udah beda makna yak. Yaiyalah, 5 banding 1000. Ini beda banget. Tapi namanya juga tertarik kan yak.
            Gue cari tuh sinopsisnya. Wah ok juga nih. Langsung deh gue menuju web yang biasanya buat streaming nonton film. Tapi kali itu gue download sih, karena gue masih mengurus beberapa hal. Baru sempet gue puter beberapa hari yang lalu.
            Dan ternyataaaaa...
            MASHAALLAH, INI FILM BAGUS BANGET!! BAGUS. BANGET. !!
            Lo udah pada tau kan gimana ceritanya atau bahkan udah baca novelnya? N5M (Negeri 5 Menara) berhasil mencuri hati gue. Eh tapi tetep yaa. Urutan pertama, my favorite movie is Ayat-Ayat Cinta 1. Ini film tuh bermutu banget! Dan gue kayak ada semacam kontak batin gitu, eh bukan tu.. apa yaa.. intinya gue merasa ada beberapa kesamaan antara gue dan tokoh pertama dalam cerita di N5M.
            Nih yaa, si Alif sang tokoh pertama itu orangnya cenderung pendiam kalau deket dengan orang yang dirasa belum “klik”, hmm gue juga gitu sih. Terus yang paling sama adalah ketika si Alif mau lanjut ke SMA di Bandung terus ke ITB namun orangtua ga setuju. Orangtua Alif menghendaki agar dia mau sekolah di pondok pesantren Madani, nah lokasi syutingnya ini di Gontor. Mau gamau, Alif yang anak baik dan penurut, menuruti keinginan orangtua. Sama kayak gue yang gabisa menentukan pilihan gue sendiri :’) dulu banget habis lulus SMP, gue pengen lanjut ke Gontor tapi orangtua gaboleh. Yaudah manut, dan lagi sehabis SMA sebenernya gue pengen lanjut ke pondok pasca SMA dan bahkan setelah seleksi gue udah dinyatakan lolos, tapi lagi-lagi karena ada SNMPTN gue ga diizinkan.
doc pribadi, a piece of Senior High School
            Kalau inget ini masih agak sendu rasanya. Ah, tapi kan pilihan orangtua pasti yang terbaik yaa. Alhasil, sekarang gue jadi mahasiswi keguruan di sebuah PTN di Surakarta. Jujur gaes, baru beberapa menit juga, waktu take adegan dimana Alif jadi santri baru dan dibacakan peraturan-peraturan pondok, gue gabisa nahan air mata. Huhu, ada rasa haru, trenyuh, dan yaah kayak ada semacam perasaan kasih tak tersampaikan gitu. Hadeh, zaman gue SMA kisah kasih yang tak tersampaikan ini kepada sebuah pondok nan ada disana bukan sama seseorang.
            Inilah yang membuat gue sangat jatuh cinta dengan N5M. Ketika menjalani hari-hari di pondok, hmm mashaallah, ternyata begitu indahnya yaa. Eh tapi ini sesuai persepsi masing-masing dink, kalau gue sih gitu. Tapi ada juga kan yak, yang ga pengen mondok tapi dipaksa orangtua, biasanya mereka-mereka yang kayak gini menyebut pondok sebagai penjara suci, ada-ada aja yak..
            Tapi dari kisah Alif ini, yang semula ia merasa terpaksa buat singgah di pondok, namun lama-kelamaan, dia in love juga sama tuh pondok. Nah persamaan lagi antara gue sama tokoh utama ini, adalah suka dalam hal-hal yang berhubungan dengan menulis. Iyaa, jadi sewaktu di pondok Alif ikut kayak kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik gitu, persis kayak gue ketika masih berstatus pelajar. Gue pernah jadi kontributor majalah, pengurus majalah sekolah, jadi jurnalis, bahkan sampai pelatihan jurnalistik ke Solopos dan JogjaTV juga pernah. Kangen gue. Aseli..
            Poinnya gaes, ini film bikin gue kayak nostalgia walau gue ga mengalami kehidupan di pondok secara langsung. Mengenai sebuah persahabatan yang terbalut indah dalam ukhuwah islamiyyah, dikelilingi teman-teman yang terus berlomba-lomba dalam kebaikan, saling support, dan kehidupan pondok yang Islami namun modern.
            Ah, berapa kali yaa gue mewek saat adegan-adegan tertentu. Fix banget, kelak semoga jika Allah menghendaki, gue pengen anak-anak gue bisa menjadi pelajar Muslim yang cerdas dan sholih, dan gue pengen mereka mengenyam pendidikan di pondok. Pokoknya gitu, harus... Kalau bisa semoga masuk Gontor deh, aamiin. Ah, tapi gue sebagai ibu juga gabisa memaksa kan :) Cuma berharap, emaknya dulu ga kesampaian merasakan manisnya pendidikan di pondok, yaa semoga anak gue kelak lah. Karena gue pengennya, ada pendidikan yang bagus tapi dalam hal Islam juga mantep, yaa disitulah dibutuhkan peran pondok modern Islami, dan gue rasa Gontor adalah jawaban yang tepat karena ada beberapa kisah kalau ada orang yang dari awal emang udah anak pondok tapi setelah dilepas karena harus masuk perguruan tinggi atau berbaur dengan masyarakat di luar, mereka kaget, mentalnya nge-down. Yang awalnya cowok cewek dipisah, eh ini campur baur. Dan karena mereka gamau berbaur dengan masyarakat atau temen-temen, dicaplah mereka kaku, aneh, dan ansos. Inilah pentingnya antara pendidikan, pengembangan bersosialisasi, dan juga peningkatan soft skill yang semuanya bisa ditemukan di Gontor, walau ada beberapa yang sama bagusnya tapi gue pengennya gitu mwehehe..
            Gaes, film religi zaman dulu kok bagus-bagus yaa :’ beda banget sama zaman now walau dari sinematografi jelas menang film zaman now. Tapi dari segi kualitas dan pesan yang ingin disampaikan itu lho, kalah jauuuuh. Makanya, gue jarang nonton ke bioskop sekarang. Terakhir banget, gue nonton itu ya pas film Ayat-Ayat Cinta 2 dan itu pun ga sesuai ekspektasi, hiks, lebih bagus versi novel kalau menurut gue. Dan gue pribadi, masih prefer ke versi pertamanya sih tapi bukan berarti yaa seri keduanya ga bagus.
            Sedih deh rasanya. Film-film bermutu semakin minim di tengah moral pemuda yang semakin kehilangan arah. Lihat deh, zaman now kebanyakan film tuh tentang cinta-cinta roman picisan yang, yaah apa pesan yang bisa didapet sih. Pesan cetek, pengetahuan buat nge-gombal yang ada. Atau film horror yang malah lebih fokus ke hal lain daripada sisi ke-horrorannya. Atau emang ada sih film religi yang diangkat ke layar lebar tapi kenapa pada nyorotin tentang nikah muda aja siiihh..
            Lihat yang dulu, dalam AAC 1, gue terinspirasi banget sama Fahri, mahasiswa Indonesia di Al Azhar yang sholeh, pemberani, ga pantang nyerah, dan pinter. Terlepas dari yang memerankan Fahri kalem dan good looking juga, disini Kang Abik berhasil membuat alur yang inspiratif dan inovatif. Bisa banget kalau nge-fans sama Fahri dan berusaha menjadi Muslim ideal kayak dia. Atau, masih inget ga film Ketika Cinta Bertasbih, itu tuh kisahnya Kang Azzam, mahasiswa di Al Azhar juga yang jualan tempe buat bertahan hidup di Mesir. That’s the point! Emang, judulnya ada kata cinta semua, tapi kenyataannya, that’s more than a great love story! Lebih gaes, lebih.. apalagi kalau lo baca versi novelnya dulu, mashaallah, hmm mantap deh.
            Semoga ya, industri film di Indonesia bisa kembali hadir membuat film inspiratif kayak dulu. Yaah, yang terbaru sih ini, yang bagus.. kisahnya Pak Habibie, itu bagus juga. Tapi, gue rindu film-film Islami yang bagus dari segi pesan dan moral yang ingin disampaikan.
            Apa mungkin ya gaes, kalau penulis Ayat-Ayat Cinta dan Negeri 5 Menara adalah orang-orang yang ikhlas? Jadi, semua kesuksesan di atas itu adalah buah dari keihlasan mereka. Karena gue pernah baca kalau orang nulis ikhlas ntar pasti membekas dan menyentuh qolbu terdalam. Kayak AAC yang sampai sekarang masih hidup dalam ingatan dan pesan yang disampaikan berhasil nyerap ke diri gue. Semoga Allah merahmati Kang Abik dan penulis baik lainnya selalu agar bisa terus menulis dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi umat, aamiin.. Kalau versi gue sih penulis top yang gue suka ada beberapa hehe, Habiburrahman el-Shirazy (Kang Abik), Tere Liye, Sapardi Djoko Damono, John Green. Kalau penulis artikel lebih ke Ustadz Aan Chandra Thalib (fyi, nih ustadz bisa jadi gambaran Muslim ideal, lo coba follow deh akun IG nya @act_elgharantaly, selain pengetahuan Islamnya bagus, beliau juga suka baca. Bahkan literatur beliau beragam, mengikuti trend pengetahuan Barat juga. Sekarang, domisili di German. Yang gue inget sampai sekarang beliau pernah berpesan, kurleb gini “Salafy itu bukan sebatas pengakuan tapi lebih ke tindakan secara nyata, bukan hanya pengakuan semata”) Lanjut, ada Ust Musyaffa Ad-Dariny, Ust Raehanul Bahraen, dan Ust Muhammad Abduh Tuasikal.

            Terakhir, ini selfremider juga buat gue, seperti Alif yang awalnya menolak untuk menjalani pendidikan di pondok namun akhirnya berbuah manis, ia berhasil menjadi jurnalis di Amerika. Gue juga harus bisa bersabar untuk menjalani apa yang telah tertakdir dan menjadi pilihan orangtua, hidup di dunia modern, bersosialisasi dengan banyak orang yang bertalar belakang berbeda, disitulah tantangan untuk tetap berpegang teguh pada Islam namun tidak terkesan menjadi orang yang kaku. Dan seperti Fahri, semoga bisa menjadi Muslim ideal yang lebih menunjukkan langsung lewat perbuatannya daripada banyak omong doank. Selamat berproses untuk jadi lebih baik! Semangaaatt!  MAN JADDA WA JADA...

Kayu dan Pengukir

source : irene tumblr


            Bisu, tak bersuara. Senyap, tak ada tanda-tanda. Untuk menerima sebuah goresan pun enggan. Kamu terlalu cepat dan naif jika memaksakan untuk mengukir lebih dalam dan membuat harmoni ukiran yang indah.
            Sudah kubilang, tidak usah mencoba mengukir pola pada kayu itu. Dia terlalu rapuh dan tidak siap dengan ukiran indah darimu. Bahkan, pisaumu yang tajam pun tak akan mampu meluluhlantakkan pendirian si kayu.
            Sadarlah. Sudahi semua ini sebelum tenagamu habis sia-sia. Tak akan ada manfaat yang kamu peroleh. Sekuat apa pun caramu dan beragam aksi tak terduga lainnya, tetap saja si kayu tidak mau diukir. Walau pun kamu membawa gergaji super power yang kau dapat dari Puncak Himalaya, tetap saja, kayu tak akan bergeming.
            Saya harap kamu baca, supaya tidak dalam sakitnya. Sekian.


Surakarta, 7 Februari 2019