Romantisme di Bumi Allah; Karanganyar dan Jogjakarta


            Akhir-akhir ini udara terasa dingin betul. Kota solo yang biasanya panas menyengat, kini perlahan mulai menunjukkan perubahannya. Hmm, yang penting sih udara aja yang dingin, jangan sampai sikap kita ke orang-orang juga dingin, hehe.
            Gaes pada postingan kali ini gue pengen cerita ke kalian tentang dua perjalanan yang amat sangat berbeda. Sebuah perjalanan di bumi allah ta’ala dengan segala keunikan dan kisah tersendiri. Dengan bersama sobat atau orang yang bersedia meluangkan waktu berharganya hanya untuk mendengarkan keluh kesah atau menghabiskan segelas cocktail halal di kaki pegunungan.
            Akhir-akhir ini gue banyak melangkah daripada cuma gabut di kost doank. Destinasi yang gue kunjungi pun beragam. Mm, tapi fokus pada tulisan kali ini 2 aja yaa.. gue bakal bercerita mengenai perjalanan gue menjelajahi bumi allah ta’ala yaitu di karanganyar dan jogja istimewa!
            Tepat pada hari kamis lalu, sesuai rencana gue dan sohib, setelah riweuh persiapan visitasi prodi untuk akreditasi internasional, kami ingin melepas penat dengan melakukan rihlah di alam terbuka. Iyaa, jadi prodi pendidikan luar biasa universitas sebelas maret surakarta, alhamdulillah mendapat kesempatan untuk menjadi prodi berkelas internasional, maka ada yang namanya aun-qa. nah disitu ada beberapa mahasiswa yang dipercaya buat bantu menyukseskan akreditasi ini, gue dan sohib masuk ke dalemnya. Disini kami benar-benar bekerja keras entah itu buat translate, urus web, atau begadang buat ngejar deadline. Gue dan ili terkadang juga pergi ke kedai kopi buat menyelesaikan amanah bareng dengan suasana yang cozy, seperti biasa kesukaannya adalah latte sementara gue selalu setia dengan green tea.. dan inshaallah bulan depan adalah pengumuman apakah prodi kami lulus akreditasi internasional atau ga, mohon doa terbaik yaa dari kawan-kawan semua.
Back to cerita rihlah.. Gue sendiri sih lebih seneng pergi ke tempat-tempat wisata yang berbau alam gitu daripada ke mall. Yaa, salah satu alasannya, kalau ke mall budget yang dikeluarkan pasti lebih dan itu semua kayak feel nya kurang gitu dan yaah hal terseram adalah ketika lo kalap pas liat diskonan dan ga sadar uang bulanan sisa dikit cuma karena buat beli sesuatu yang harusnya gausah dibeli.
            So, me and my bestie, ili, pergi ke suatu wisata alam di karanganyar. Sebenernya ada teteh lany juga yang mau ikut, eh tapi doi udah duluan balik ke bogor. Yauda yaa teh cukup puas-puasin aja liat foto kita :p wkk.. nah, gue dan ili memutuskan untuk pergi ke rumah atsiri karanganyar. Ini tuh semacam tempat penyulingan daun-daun bermujarab buat dijadikan essential oil, disini juga zero waste banget. ramah lingkungan. Daaann the most lovely thing i found adalah banyak bunga-bunga cantik disini!! Banyak juga tanaman-tanaman yang aneh-aneh dengan aroma yang berbeda. Gue sih yang kepo, suka pegang-pegang sembarang tanaman, jadinya tangan gue saat itu baunya campur aduk tak terdefiniskan, ehe.. and here some photos that probably please us

disini buanyak bunga lucuuu

beautiful roses, right?

bisa buat jamu, gue lupa namanya

hi, it's me

say hi to ili and also ladybug!

            Setelah tour dan jeprat jepret sana-sini, kami rada tepar. Adzan dhuhur terdengar, kami putuskan untuk break terlebih dahulu. Usai dhuhur, kami tour ke tempat souvenir. Yaa liat-liat doank sih wkk, i  don’t buy anything because no one that really attract me..  kayak gini nih yang beberapa yang dijual



               setelah itu, kami mampir ke cafetaria dengan memesan 2 gelas cocktail (we know it’s halal because the ingredients has written, no alcohol inside). 
it's pretty fresh!!

Tapi menengok harga makanan yang ga bersahabat dengan kantong mahasiswa, kami urung melepas lapar disitu. Alhasil, pulangnya masih mampir ke warteg buat beli sate kelinci wkk..
penampakan si sate

            Nah gaes kan saat itu waktu ashar hampir tiba yaa. Kami putuskan untuk mampir di masjid pinggir jalan setelah makan sate. Eehh, pas parkir dan liat papan di depannya, terpampang jelas kalau tempat tersebut bukan hanya masjid doank, tapi kami ada di ponpes isy karima, aaaa gue saat itu seneng bangeeettt terhura juga eeh terharu maksudnya!!
            Kami masuk ke dalamnya. terasa sejuk dan menenangkan. ashar pun tiba, adzan nan merdu berkumandang. Diam sejenak untuk mendengar dan menjawab adzan, dilanjut dengan melangitkan doa terbaik. Suasana pesantren ketika itu ga begitu ramai, karena sebelumnya gue liat banyak yang bawa koper dan kayak mau liburan gitu, mungkin emang jadwal liburan kali yaa..
ketika di dalam masjid 

           
Sembari menunggu ili selesai berdoa, gue membuka buku karya ustadz felix siauw yang gue bawa dan berusaha membaca. Ah, tapi konsentrasi gue buyar, gabisa fokus. Gue memandang lurus ke arah jendela yang disuguhkan dengan pemandangan indah disana. Ingatan gue melayang, pada keinginan terpendam yang udah ada sejak lama. Hati gue kayak berteriak “i belong to be in a place like here. I deserve!” dan lagi, mata gue berkaca. Air mata gue tumpah. Dulu flashback karena liat negeri 5 menara yang mengambil setting di gontor, sekarang gue dengan nyata ada langsung di pondok tahfidz yang cukup terkenal disini. Dan yaa, gue baper. Huhu, sebuah harapan yang tak sampai namun tak membuat apa yang gue semogakan terhenti hanya karena adanya perbedaan pendapat dengan orangtua. Semoga, kelak akan ada yang mewariskan cita-cita ibunya yang dulu tidak bisa terealisasikan :’)
            Udah ah, gue nulisnya jadi kebayang 1 tahun yang lalu. Nah, nah.. rihlah di karanganyar ini berkesan banget buat gue! Yaa sampai-sampai kami datang terlalu gasik sebelum jam buka wkk, dan suatu bonus gue bisa main ke pesantren tanpa sengaja, memanjatkan sebuah harapan terbesar pada allah ta’ala di dalamnya.
            terus gaes, ahadnya gue ke jogja dalam acara sebuah yayasan. Gini, yayasan ini berpusat di sleman, diy. sementara di solo, ada cabangnya yang baru aja dirintis sekitar satu tahun yang lalu. Nama yayasannya adalah senyum kita, fokus pada pemberdayaan pendidikan bagi anak yatim dhuafa, juga penyandang difabel. Gue pengen belajar di dalamnya, maka gue putuskan untuk ikut ke jogja pada ahad kemarin.
            Awalnya kami putuskan untuk naik kereta, qodarullah malah kehabisan tiket. Maka terpaksa kami naik bus. Yaa rabb, rasanya naik bus itu hhhh. Nano nano! Ketika itu bus penuh, gue, riska, dan mba hana ada di deket pintu. Ini awal kalinya gue berdesak-desakan seperti itu di angkutan umum, alhamdulillah ketika itu di sekitar gue adalah perempuan. Kecuali pak kernet yang setia ada di deket pintu bus. Perjuangan banget dah naik bus gitu, hiks.. alhamdulillah, bus mulai sedikit lengang ketika sampai di terminal tirtonadi, sebagian besar penumpang turun, gue dkk bisa dapet tempat duduk, yeaay! Sesampainya di jogja kami menghela napas lega dan langsung gas ke sekre senyum kita. Disana kami bertemu dan berdiskusi dengan mas arif, selaku koor senyum kita di jogja. Inspiratif dan menarik walau maap nih di tengah-tengah membuat notulensi gue ngantuk berat dan bayangan mas arif yang masih menjelaskan panjang lebar mulai terlihat burem dan saat itu juga, door! Mas arif bilang “gimana, zalfaa mudeng ga?” haaah apa? Apa? Pie? Batin gue dalam hati wkk.. tapi dikit-dikit nyantol juga kok apa yang beliau katakan, maka manggut-manggut adalah jawaban terbaik..
            Usai kami berdikusi dan membahas beberapa program kerja, kami putuskan untuk pulang. Daan yeaa, gue harus siap sedia dengan bayangan bus yang penuh sesak. Tapi, ga boleh manja! Hidup itu ga selalu dalam comfort zone.. jadi ya nikmati ajalah
di jogja ga sempet jeprat-jepret, yauda foto botol minum gue aja hari itu hehe

            Kami pun pergi ke terminal dengan memesan grab car. Sesampainya di terminal kami makan dulu. Nah disinilah kebiasaan gue muncul. Gue kan termasuk orang yang lebih suka diam dan mengamati yaa daripada menjadi the center of attention. Selama makan, gue mengamati keadaan di sekitar terminal. Yaa rabb, keadaan yang gapernah gue bayangkan ternyata memang betul ada. Saat di terminal gue liat, ada kakek-kakek udah sepuh gitu, kelopak matanya menghitam, tanda kurang tidur, namun beliau tetap terjaga dan menjaga staminanya untuk bekerja di terminal entah sebagai supir atau kernet. Hei kakek, bukankah seharusnya masa senjamu kau nikmati saja dengan bersantai atau bercanda ria dengan cucu-cucu mu yang menggemaskan? Dan lihat para pedagang asongan, kesana-kemari mereka menawarkan dagangannya, aah penghasilan yang tak seberapa itu, namun waktu yang terkuras sangat lah banyak. Meninggalkan anak istri di rumah. Belum lagi respon para manusia yang tidak memanusiakan manusia. Dan lihat, ada serombongan keluarga, terlihat lelah dan sedikit cemas.

            Sisi lain kehidupan yang baru ku ketahui. Bersyukurlah kamu apabila sekarang tinggal di tempat yang nyaman, makan selalu tersedia, dan tidak terbebani hal-hal seperti orang-orang terminal. Ahh, rasanya hatiku sedikit gerimis menyaksikan itu semua.. alhamdulillah ketika pulang, gue dkk dapet bus yang lengang, ber ac juga, ga desak-desakan. Sepanjang perjalanan riska dan mba hana banyak bercerita panjang lebar. Gue lebih banyak mendengarkan, sesekali menanggapi atau tersenyum.
            Namun saat itu pula, gue merasa ga nyaman. Dimana di dalem bus diputar musik yang tidak mendidik dengan video yang kurang pantas menurut gue. Berisik euy! Namun suasana menjadi sedikit terbantu ketika mba hana bercerita track and recordnya selama mengikuti ukm univ bernama ilmu qur’an. Disana ia bercerita, bahwa banyak teman-teman yang sudah hafidz-hafidzah, ia pun termotivasi. Riska yang juga ikut ukm tersebut, menambahkan beberapa cerita. Gue yang mendengarkan menjadi termotivasi dengan beberapa cerita dari mba hana untuk terus menghafal walau ga hafal-hafal :’). Sampai kami membahas masjid kampus juga, gue nyeletuk “ah iya, imam di masjid nurul huda (nama masjid kampus) emang bagus-bagus yaa (suaranya)..” riska tersenyum dan menjawab “mau satu zal?” gue mengerutkan dahi “hah?”
Riska tertawa lepas dan gue ngerti maksud terselubungnya. “engga ris, ga pantes lah!” gue tau diri dan ingin menimpuknya dengan tas yang gue bawa tapi jangan lah ntar nangis lagi hehehe.. “yaa gapapa kali, ntar malah dibimbing gitu.” gue ga kalah jahil, maka gue bales “hmm, ya kalau gitu mah, w siap untuk dibimbing” kami pun tertawa..
            Sesampainya di uns lumayan malem. Kami segera ke kost masing-masing. Di kost gue sebenernya pengen nulis langsung tapi mata gabisa diajak kompromi sebelum akhirnya gue jatuh tertidur. Gue pengen menggarisbawahi 2 perjalanan yang amat sangat berbeda gaes. di karanganyar, gue bener-bener merasa enjoy dan nyaman, ditambah sarana dan prasarana yang lebih mudah. Saat berwisata ke karanganyar pula, banyak gue temui orang-orang berpenampilan nyentrik dengan kamera yang dibopong seperti turis-turis yang menikmati liburannya. Semua berpakaian bagus dengan kendaraan yang nyaman. Namun ketika gue pergi ke jogja, gue melihat sisi lain dari kehidupan. Dari awal berangkat aja bener-bener butuh perjuangan lebih, terus melihat orang-orang yang tidak seberuntung orang-orang pada umumnya. Maka benarlah kalau kita hidup di dunia ini harusnya woles aja.
            Yep, act like u’re a musafir.. iyaa, kita ini sebenernya kan musafir di dunia. Kalau dikasih kelebihan sama allah ta’ala entah dari segi materi, fisik, atau kecerdasan yaa disyukuri dan jangan berlaku sombong. Pun kalau dalam keadaan kurang dari segi materi, fisik pas-pasan, tidak fasih dalam berbicara, mau pun hal yang lain yaa sabar aja, malah besok hisabnya ga berat, asalkan kaya hati juga qona’ah, tak usah ambil pusing lah karena itu. Inget kan kampung abadi kita sebenernya di akhirat, hakikat dunia itu adalah untuk persiapan.. iya, persiapan dalam mempersiapkan bekal ke akhirat. Selfreminder juga nih buat gue..
            Kadang gue cemburu pada mereka yang di dunia low profil, ga keliatan orang wow, seolah-olah dia ga punya efek apa pun terhadap dunia. Ah, tapi sayang, manusia hanya menilai dari segi yang terlihat, ia lupa bisa jadi orang itu diam-diam pada sepertiga malam bersimpuh berdoa memohon ampun pada allah ta’ala, bisa jadi diam-diam ia sering bersedekah walau uangnya pas-pasan. Dia memang tidak populer di kalangan manusia tapi mungkin penduduk langit mengenalnya secara baik. Aku cemburu.. seperti kisah uwais al qarni yang ketika hidup dipandang sebelah mata namun ketika hari wafatnya menggemparkan penduduk yaman karena begitu banyaknya orang asing tak dikenal yang membantu mengurus sang jenazah. Terberkahilah orang-orang seperti itu! tolong kalau kamu salah satu orang seperti uwais, ajari aku bagaimana caranya! Agar fatamorgana dunia tidak menipuku dan aku tidak silau terhadap gemerlap dunia, ingatkan aku bahwa yang abadi adalah akhirat, begitulah romantisme di bumi Allah ta'ala yang gue ceritakan, akan indah apabila kita memahami dan saling mengerti satu sama lain ditambah rasa syukur dari hati yang qana'ah dan mengagumi betapa Allah ta'ala sangat sayang pada kita, Allah ta'ala menciptkan pemandangan nan elok yang sedap dipandang mata.. ah, alam tak kalah romantis bukan kala memanjakan mata kita.. Sekian..

Menuju Perayaan Cinta

Menuju Perayaan Cinta


            Holahola gaes! apa kabar? Semoga sehat selalu dan dalam naungan rahmat allah ta’ala yaak! Sekian lama gue ga nulis personal life kayak gini. Eh bentar boleh cerita sebentar ga, gue rada sedih nih.. masa capslock di laptop gue ga berfungsi sama sekali, hiks. Jadi maapkeun yak kalau ada eyd yang salah. Ini beberapa huruf bisa kapital karena gue harus menekan tombol ctrl+shif+A secara bersamaan kalau pas rajin mwehehe, jadinya bisa huruf gede..
            Langsung aja deh yaa. Gue sedang naksir nih sama... sama apa hayoo wkk. cuman gimana yaa, rasanya hati gue bahagia ketika bertemu, yaitu bertemu dengan suatu gagasan yang menurut gue cukup cakep. Catet yaa, gue naksir sama suatu pemikiran dari tulisan yang gue baca. So, let’s begin!
            Adalah soal pacaran. Apalagi di masa-masa kuliah kayak gini. Seolah-olah adalah hal yang emang wajar dan terlihat menyenangkan ketika dipandang. Coba lihat, sepasang muda-mudi yang duduk berdua di taman, beralaskan tikar kredit yang baru saja dibeli, makan es krim berdua dengan saling bersuapan satu sama lain. Sesekali, apabila ada es krim tercecer di mulut, sang pasangan akan dengan sigap mengelapnya. Atau lihat ketika pergi ke mall bagian foodcourt, sepasang kekasih yang palingan cuma beli es krim mcd, beuuh tapi waktu makannya bisa berjam-jam padahal banyak yang ngantri duduk.
            See?
            Lalu bagaimana perspektif gue menghadapi hal ini? Pengen kah? Ngeri kah? Pengen guling-guling kah?
Love Roses
source : lovethispic
            Ehem, jadi gini..
            Mungkin deskripsi singkat yang gue jabarkan di atas adalah realita yang terjadi sekarang. Melalui kontemplasi setelah membaca, tetep gue mah ga pengen karena gue yakin pacaran gue bakal lebih romantis kelak!
            Akan ada seseorang yang gugup sekali bilang suka, gemetaran hebat ketika akan mengatakannya. Mulutnya kaku, sulit mengucap. Keringatnya bercucuran kayak habis melakukan salto, kayang 100x. Tapi gaes, sekali dia bilang suka, dia langsung bawa rombongan keluarga. Tsaahh!!
            That’s the point!
            Ibaratnya merayakan cinta itu kayak puasa. Kayaknya pernah gue tulis juga deh. Misal, lo puasa tapi jam 12 denger adzan pengen ikut-ikut kayak adek lo, buka di siang bolong. Nah pas adzan maghrib, apakah nikmatnya sama dengan orang yang mampu menahan lapar, haus selama dari terbit fajar hingga adzan maghrib berkumandang? Tentu berbeda bukan?
            Nah sama aja kayak orang yang dengan mudahnya memberikan hati pada banyak orang. Sekarang, bilang suka sama si a, eh baru 3 bulan bosen, terus putus. Cari yang lain, bilang suka lagi, bosen, putus. Cari yang lain. Gitu terus siklusnya. Sampai pada titik dimana menggombali lawan jenis yang bukan mahram adalah hal yang biasa, pegangan tangan setiap hari, berduaan udah biasa. Dan gawatnya itu semua dilakukan before married gaes! yuup, belum menikah tapi udah merayakan cinta terlebih dahulu. Nahloh, kalau pas nikah kan malah hambar rasanya. Karena pegangan tangan udah biasa, ngegombal udah biasa, jadi yaa feelnya ga se-excited jomblo fii sabilillah yang gapernah pacaran sebelum nikah.
            Pun, ketika pacaran. Apakah allah suka? Meski pun terlihat wajar pada sebagian banyak orang namun tetep aja kita gabisa melakukan hal yang tidak disukai allah. Kata penulis favorit gue sih, niat yang baik haruslah dibarengi pula dengan cara yang baik. Gitu..
            So, jauhi pacaran yaa..
            Tapi zaa, gue kan masih di semester 2 dan rasa cinta gue sama doi tak terbendung bagaikan aliran deras samudra?
            Hmm, gitu yaa. Lu lebay banget sih! Yaa tahan dulu lah.. gue ga menyarankan yaa kalau lo belum siap ilmu agama, niat nikah yang belum lurus, dan juga finansial yang pas-pasan buat cepet-cepet nikah. Kata rasul mah, puasa aja dulu kalau belum mampu menikah karena gue cukup prihatin sih sama akun-akun yang menggemborkan buat cepet-cepet nikah tanpa memperhatikan aspek-aspek vital ke depannya. Well, hidup harus realistis. Sebelum nikah, tanyakan pada diri, apakah memang benar-benar sudah siap secara keseluruhan? Tanya pada tuan nyonya besar eh maksud gue ayah ibu, apakah mereka pikir kita sudah pantas untuk menikah? Jika 2 poin itu positif ada di diri lo, ya sok atuh kalau mau nikah..
            mmm, tapi kalau gue pribadi yaa, yang sekarang duduk di semester 2, dimana emang ada temen gue yang udah nikah dan gue diundang, pas dateng gue ngajak ibu sama adek karena ga ada gandengan, eeh kok malah cerita ini. Skip. Gini, gini, kalau gue pribadi gue tidak akan menikah di waktu yang dekat ini, dalam life plan yang gue buat gue udah menargetkan umur sekian untuk menikah dengan kriteria calon yang spesifik versi gue.
            Tapi, di sisi lain, bukan berarti gue ga menaruh peduli sama sekali tentang fiqh munakahat karena orientasi gue menikah adalah mukadimah dalam mendidik anak. yaa, gue gabisa donk egois, memikirkan kesenangan gue aja dalam memilih si dia kelak. Bukan hanya karena cakep atau tajir, but it’s more than that. Gue sih lebih butuh laki-laki yang bertanggungjawab dan mampu menjadi seorang ayah yang baik kelak. Ohya, saleh! Itu poin yang penting buanget. Tentunya, bervisi misi sama kayak gue juga. Karena nikah itu ga cuman sekedar nikah tapi ada visi misi yang harus diraih juga, biar ke depannya ada target-target yang akan dicapai bersama.
            Nah maka dari itu, walau gue ga pengen nikah cepet-cepet atau dalam waktu dekat ini, bukan berarti gue lepas tanggung jawab dalam mempersiapkan hal-hal tersebut karena mindset nya kalau begitu terus gabakal berkembang. Yaa, lo akan merasa kayak lepas tanggungjawab gitu. berbeda kalau dari sekarang kalau kita udah mikir “ohya, gue besok bakal nikah, terus akan jadi ibu/ayah, kalau punya anak pengen mereka jadi sholih sholihah, penyejuk mata, berwawasan luas, dan hafidz hafidzah qur’an” nah kalau udah ada goals yang di setting, tentu dari sekarang kita harus mulai persiapan.
            Ingaaattt!!! Mempersiapkan bukan berarti pengen cepet-cepet nikah yaa.. udah sih, itu yang pengen gue tulis hehe. Nulis beginian karena efek masih syawal dimana salah satu dosen gue menyarankan untuk cari pendamping hidup yang merupakan salah satu syarat kalau gue pengen mengikuti suatu course di uea wkk. Terima mundur lah saya pak. Dan ketika nyonya besar mengatakan senjata andalannya ketika gue mager ngapa-ngapain “hmm, besok kan kamu juga bakal nikah, mbok yang rajin lho yoo” satu lagi, gue yakin pacaran gue akan lebih romantis! Iyaa, pacaran setelah nikah. Dah yaa, bye mbloo..

Hati yang Gerimis


            Rasa sedih yang tak bisa terbendung. Kehabisan kata-kata aku dibuatnya. Gerimis hatiku terasa. Air mataku kesekian yang tumpah di bulan Ramadhan yang akan segera pergi. Hatiku serasa dicabik tanpa ampun, ia menganga terluka ikut merasakan derita. Ada dua duka dalam waktu yang sama.
            Pertama, tamu yang agung akan segera pergi. Terasa belum maksimal aku menyambutnya. Terkesan seadanya tanpa hidangan lengkap apalagi mewah. Namun, Allah ta’ala terus mengetuk pintu hatiku dengan tamparan-tamparan halus. Ramadhan, duhai kamu tamu agung yang selalu dinanti kaum Muslimin, akankah kita bertemu lagi di tahun depan? Kuharap..
            Kedua, seolah-olah lunglai tulang belulangku. Remuk redam mengetahui fakta-fakta yang menunjukkan duka mendalam pada saudara-saudariku yang jauh disana. Disini, aku bisa menikmati buka puasa dengan leluasa memilih menu apa yang aku inginkan. Disini, seorang ayah dan ibu membanggakan buah hati mereka atas prestasi yang dihasilkan. Disini, tidur minimal di kasur busa sudah menjadi hal wajar.
source : tumblr
            Namun disana, saudara-saudariku sedang terluka. Tak pernah terpikir makanan apa yang mereka beli, bayam adalah makanan mewah, tak ada makanan, rumput dan ranting pun bisa diolah menjadi makanan istimewa. Disana, seorang ibu kehilangan suami tercinta hingga rela bermandikan peluru untuk melindungi sang buah hati. Disana, tidur nyenyak hanyalah khayalan belaka, mereka selalu was-was apabila ada peluru atau bom setiap saat, tidak pernah tidur lelap walau sedetik.
            Yaa Rabb, aku merasa lara, merasa bersalah. Disana, orang-orang yang dicinta, saudara-saudari sesama Muslimku sedang menderita. Apa kabar saudara-saudariku di Palestina, Muslim Rohingya, Uyghur, Syria, dan mereka yang berjuang mati-matian mempertahankan akidah mereka dengan nyawa sebagai taruhan utama.
            Disini, kebanyakan anak-anak kecil sibuk bermain PUBG, mobile legend. Disana mereka menahan sakit akibat perlakukan kejam zionis, atau pun pemerintah yang berkuasa. Disini kebanyakan para pemuda sibuk kasmaran, hanya memikirkan nikah muda atau mungkin cinta semu bernama pacaran. Disana para pemuda tangguh pemberani siap meregang nyawa untuk syahid di jalan-Nya, demi menjaga kehormatan tanah tercinta. Tanganku terasa lemas ketika menulis ini.
            Disini kebanyakan wanita berlomba-lomba menjadi cantik dengan make up ala selebgram yang sedang hits, disana para wanita mati-matian menjaga kehormatan dirinya. Tak jarang terjadi pelecehan-pelecehan yang dapat merusak fisik dan kejiwaan mereka. Kehilangan kekasih tercinta untuk syahid di jalan-Nya, pontang-panting menjaga keselamatan si kecil. Duhai Muslimah tangguh, semoga Allah selalu bersama kalian wahai saudariku.
            Sobat, tidak kah hati kita bergetar mengetahui keadaan saudara-saudari terkasih di belahan dunia yang lain? Apakah hatimu merasa remuk? Hancur? Bahkan air matamu bercucuran dengan deras? Aku menulis ini setelah membuka linimasa instagram akun kemanusiaan yang berkecimpung disana. Bahkan dalam salah satu video, kau tahu, adik-adik kita di negeri Syam tidak membaca lafadz Allah :”” bahkan tidak hafal surah An Nas. Juga, dalam salah foto, kudapati seorang anak bermuka cacat, telinganya tidak utuh, wajahnya terluka sebelah sehingga terlihat tidak seperti anak pada umumnya, rambutnya botak sebelah. Dik, apa yang telah terjadi padamu? Semoga kamu sabar menghadapi masa-masamu ke depan yaa..
            Aku tidak akan bercerita lebih mengenai penderitaan-penderitaan mereka. Tidak kuasa lagi jari ini mengetikkan penderitaan mereka. Apalagi jika menyangkut wanita dan anak-anak. Kau pasti juga akan merasa lemas dan marah akan apa saja yang perlakuan pada saudara-saudari Muslim kita disana.
            Sobat, marilah kita langitkan doa-doa terbaik di bulan Ramadhan ini untuk mereka. Percayalah, doa adalah kekuatan terbaik bagi kaum Muslim. Jika ada materi berlebih, salurkanlah donasi terbaikmu, banyak lembaga kemanusiaan yang inshaallah amanah seperti Aksi Cepat Tanggap, Dompet Dhuafa, Indonesia Muda, dan banyak lainnya. Atau seperti teman-teman yang mashaallah, rela menjadi relawan disana. Wahai, semoga Allah meneguhkan hati kalian para relawan berhati baik. Semangat yaa hati yang baik..
            WALLAHI, AKU TIDAK PERNAH RIDHO AKAN KEADAAN SAUDARA-SAUDARI MUSLIMKU DISANA!! YAA RABB, MAAFKAN AKU YANG MINIM PERJUANGAN SELAMA INI DALAM MENYUARAKAN MEREKA. SEMOGA TULISAN INI BISA MENJADI HUJJAH KELAK. DAN UNTUK MEREKA YANG BERUSAHA MEMADAMKAN CAHAYA ISLAM! KUASA ALLAH LEBIH BESAR, BERSIAPLAH UNTUK PENGADILAN PALING ADIL KELAK!
            Semoga Allah meneguhkan hati kaum Muslim yang berjuang mati-matian dalam mempertahankan agamanya. Dan bersyukurlah kita yang hidup aman dan damai di Indonesia. Tidak usah membuat kerusuhan baru yang menambah beban pemimpin negeri tercinta ini. Doakan saja yang terbaik untuk pemimpin kita. Semua terjadi atas kehendak-Nya. Sekian..

Ditulis dengan hati yang gerimis pada midnight
Surakarta, 23 Ramadhan 1440

Sudah Siap?


            Hari ini tarwihku berdurasi lebih singkat daripada kemarin. Yaa, aku tidak sedang bertarwih di masjid yang paling besar seantero kampus yang mana para imam biasanya adalah mahasiswa-mahasiswa UNS bergelar hafidz dengan suara merdu yang menyertai. Ketika di masjid kampus, jarang sekali apabila sang imam hanya membaca surah-surah pendek dari juz 30, alhasil baru selesai lah tarwih sekitar pukul 20.30-20.40
source : yumfoodz
            Hari ini ada agenda di SLB A YKAB, aku bertugas sebagai MC dadakan plus amatiran untuk acara buka bersama adik-adik penyandang disabilitas. Sore tadi, kulihat beberapa pemandangan yang membuat hati trenyuh. Beberapa orang tua anak berkebutuhan khusus datang dengan wajah berbinar dan ketabahan yang tak bisa disembunyikan. Yaa Allah bagaimana bisa hati mereka begitu tabah untuk menerima, maksudku dengan penerimaan yang indah tanpa kepalsuan
            Kulihat ada seorang bapak paruh baya yang menggendong anaknya (padahal sudah lumayan besar), ada pula seorang ibu yang dengan sabar menuntun anaknya yang memiliki hambatan mobilitas. Ah, aku yakin, kalau kamu tidak terbiasa, kamu akan sulit menahan air mata.
            Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar. Ketika berbuka, aku melingkar bersama sobat baikku, Ili dan Lany. Kami membahas beberapa topik yang hangat. Salah satunya kami berdiskusi mengenai “apakah kamu yakin bahwa tidak menikah hingga akhir hayat adalah pilihan bijak apabila memang tidak ingin” mengingat snapgram seorang public figure yang kami ikuti.
            Well, sebenarnya ketika kami bersama, kami lebih sering berbincang mengenai mimpi sekaligus ambisi masing-masing dan kemudian kami akan memberi semangat satu sama lain. Seperti kemarin sore, ketika aku mengabarkan pada mereka bahwa aku menjadi finalis sebuah perlombaan, dan sore ini kupaksa mereka untuk menjadi support system ku ketika hari h, haha.. nah, sore ini beda, kami membahas topik yang tidak akan pernah selesai dibahas sebelum kami menemukan Mr. Right kami masing-masing.
            Mmm, setelah diskusi tadi sekarang aku berpikir. “Well, memang benar bahwa menikah tidak main-main seperti itu” maksudku, banyak pertimbangan yang harus diperhatikan detailnya sejak awal. Tidak hanya bermodalkan nekat saja dan asumsi mengikuti sunah Rasul namun hey you must prepare many things before step in it!
            Jujur saja, aku sedih ketika mengingat realita hijrah yang sering disangkut pautkan dengan nikah muda. Aku pernah di posisi itu, di posisi ketika rasa ingin menikah begitu menggebu hanya karena tulisan-tulisan persuasif tanpa memandang realita. Huee, sedih gue.
            Alhamdulillah, Allah sabarkan diri hingga melarutkanku dalam kesibukan-kesibukan yang membuatku tidak pernah lagi mengkhayal terlalu tinggi mengenai pernikahan impian. Rasanya, aku ingin berbisik pada mereka kawula muda yang sedang berhijrah, mm hei hijrah bukanlah hanya soal nikah muda yaa. Kita bisa jadi harus lebih belajar dulu mengenai aqidah, fiqh, dan shirah-shirah ulama salaf. Tanpa landasan ilmu, jika nikah hanya modal langsung tancap gas, kukira hal tersebut kurang bijak.
            Kalau aku sendiri, ketika melihat life-plan yang telah kubuat, rasanya ingin tertawa, menanti, dan tidak sabar. Yaa, aku sudah menargetkan untuk menikah di umur sekian dengan kriteria yang seperti itu. Namun, semua masih misteri dan tugasku sekarang bukanlah larut dalam kesedihan atau merasa ngenes di pojokan kamar karena si dia belum datang, namun masih banyak kegiatan bermanfaat yang dapat dilakukan. Yaa, poinnya menyibukkan diri!
            I made it! Dan aku semakin percaya kutipan-kutipan bang Tere dalam novelnya yang berjudul “Rindu” mm, yaa pokoknya sudah aku buktikan. Ohya, dan bicara mengenai nikah lagi, hal ini bersifat visioner sekali seharusnya. Karena kamu tidak hanya menikah selama satu hari dua hari tapi dengan harapan sehidup sesurga bukan?
            Nah makanya, make your own dreams now! Ingin seperti apa besok. Yaa, tidak salah kok kalau mulai merencanakan sekarang. Tapi jika untuk seumuranku, yaa mm disimpan dulu saja lah hehe..
            Dan yeaa, tadi aku tarwih di sebuah mushola dekat dengan SLB A YKAB, aku tidak terlalu memperhatikan nama mushola itu namun perhatianku lebih ke ucapan sahabatku, Lany yang ketika itu berada di sampingku. “Hmm, biasanya sih yang diem-diem itu duluan lhoh” aku masih mencerna kalimatnya. “Iyaa, dulu mbak mentorku kan pendiem, eh dia tau-tau nikah donk”
            Hmm OK, kita lihat aja besok.
            Ohya teman-teman, aku mungkin tidak bisa menulis secara konsisten setiap hari di blog. Mungkin akan lebih fokus ke update story dan postingan di instagram kali yaa.. Hmm, let’s be friend! Add my ig : @zalfaaza


Sebuah Pinta


            Malam ini Allah mengabulkan sebuah doa yang sudah lama kulangitkan pada-Nya. Sebuah harapan sederhana namun berkesan. Ya, Allah mengabulkannya ketika aku mengikuti sholat tarawih di Masjid Nurul Huda UNS. Inilah awal Ramadhanku tanpa keluarga.
            Awalnya terasa aneh memang. Sahur bangun sendiri, tidak ada yang marah ketika diri terlalu malas untuk beranjak dari tempat tidur karena masih mengantuk. Buka puasa tidak di meja makan bersama orang-orang tercinta. Ah, butuh adaptasi memang.
            Ohya, ngomong-ngomong sebuah pinta yang aku maksud adalah bacaan imam. Yaa, bacaan imam. Jujur, sudah lama aku ingin mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an tepatnya Surah Ar-Rahman ketika sholat berjamaah dan tahun ini Allah mengabulkan pintaku.
            Tepat ketika rakaat pertama terdengar syahdu Surah Ar-Rahman dikumandangkan. Bergetar rasanya. Tak terasa kedua mataku memanas karena terharu. Semoga keberkahan tercurah pada imam NH (Nurul Huda) malam ini.
            Bukan tentang “siapa” yang membaca surah itu namun adalah makna yang terkandung di dalamnya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
            Pada Ramadhan kali ini aku ingin menulis satu hari satu post di blog. Mm, sebenarnya ada tema tertentu setiap harinya namun sebentar aku masih merancangnya, masih terlalu abstrak jika aku share sekarang. Tunggu sebentar yaa.. Semoga, aku dapat berbagi hikmah kepada teman-teman semua. Doakan yaa agar aku termasuk ke dalam #AntiMagerMagerClub dan bisa produktif ketika Ramadhan. Begitu pun kamu, semangat yaa dalam menjalani ibadah puasa dan tilawah pada bulan ini. Kalau capek istirahatlah sebentar, namun jangan sampai terlena.

            Pahala tercurah deras. Pengampunan dosa dibuka selebar-lebarnya. Apa yang kita tunggu. Aku tidak tau apakah Ramadhan ini menjadi yang terakhir bagiku. Mungkin bisa jadi. Umur tidak ada yang tahu, mari fastabiqul khoirot. Saling berlomba-lomba dalam kebaikan dan saling mengingatkan ketika futur. Ayo semangat! Baarakallahu fiikum..


Untukmu Aktivis Kampus


quotesblog


            Halo semua! Alhamdulillah yaa bentar lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Gimana nih perasaan lo menyambut doi. B aja apa udah dari jauh-jauh hari. Gue ada rencana sih pas bulan Ramadhan bisa menjalankan program one day one post, yeaa gue pengen gitu menebar hikmah melalui tulisan di blog dengan tema yang berbeda setiap harinya.
            Gue pengen cerita nih ke kalian tentang well I don’t know exactly what’s going on, tapi gue cuma pengen nulis aja menumpahkan segala hal yang berkecamuk dalam hati. Tsaahh.. sebuah penelitian pernah bilang, kalau kita sedih, seneng, or maybe confuse at all dan kita menulis, hal tersebut membuat perasaan semakin lega dan plooong and let me write.
            Alhamdulillah hari-hari yang sibuk telah terlewati. I mean, disini gue berbicara mengenai organisasi. Pada hari-hari bahkan pekan-pekan sebelumnya banyak amanah yang harus terselesaikan. Saat itu ada dua amanah yang lumayan menyita waktu dan pikiran gue, adalah sebagai sekretaris di event UNS Cultural Night (UCN) dan sebagai koor acara di suatu event SKI.
            To be honestly, gue rada trauma sih jadi sie acara, keinget dulu pas event Hari Difabel Internasional yang menuntut sie acara harus segitu bakohnya segitu strongnya, wkk.. mendekati hari h muka-muka lelah dan frustasi campur aduk jadi satu dan qodarullah gue malah ditunjuk lagi jadi sie acara, jadi korwat lagi.
            Nah di UCN ini gue berinteraksi dengan banyak orang berlatar belakang berbeda. Entah itu dari FISIP, FK, FEB, dan fakultas lain yang ada di UNS. Sering bolak balik ke International Office mengurus surat atau tiket, dan yeah disini gue rasa adalah saat-saat gue keluar dari zona nyaman. Kenapa gue bisa bilang kalau keluar dari zona nyaman? Karena di UCN gue harus beradaptasi gaes, yang notabene gue sering berinteraksi dengan ukhti ukhti yang udah tau batasan agama, tapi disini I feel totally different.
            Persiapan sekitar 1 bulan menuju hari H. Pas hari H pun ga main-main, gue dapet amanah di meja registrasi tamu undangan. Bertemu dengan Dekan beberapa fakultas, orang-orang penting di UNS, bahkan menghadapi mas-mas komda yang jahil ketika itu. Di tengah capek yang melanda, lo harus tetep senyum dan menampilkan seolah-olah “Hey dude, we are a happy volunteer and we have a million spirit!” Hahaha..
            Ada momen yang paling berharga ketika gue jadi sekretaris UCN. Ketika hari h pula gue diamanahi untuk mengabsen mahasiswa asing yang hadir saat itu. Disini gue bisa praktek langsung dan menguji kemampuan bahasa Inggris gue. Well, ketemu langsung sama native speaker gaes!
            Well itulah ke-hectic-an gue selama di UCN beda lagi di SKI. Bikin rundown, mikir gimana film yang akan diputar saat acara, dan tentunya mengkoordinasi temen-temen sedivisi. Pernah ketika itu hari libur, gue di rumah, harusnya santuy menikmati momen bareng keluarga eh HP tut tut ada notif masuk dari kepanitiaan UCN mau pun SKI yang harus mengurangi rasa nyaman dan tentram gue saat itu. Tapi disenyumin aja lah yeaa.
            Tentu gaes, ada hal-hal yang sesuai ekspetasi mau pun ga. Ada hal yang bikin gue bisa tersenyum cerah namun ada pula hal-hal diluar dugaan yang membuat hati gue menjadi mendung bagaikan awan hitam yang siap jatuh menurunkan sendu di muka bumi. Tsaah bahasanya wkk.
            Pernah gue disuatu titik dimana capeek banget, mangkel! Pokoknya ga karuan gitu, dimana ketika gue merasa ada hal yang mengganjel dan mengecewakan karena ada hal-hal diluar kendali yang menyimpang dari kesepakatan forum sebelumnya. Heuu, gue kayak pengen berhenti sejenak gitu.
            Tapi pada saat yang sama gue merasa sedih, apa mungkin kesibukan-kesibukan di atas mengurangi waktu kedekatan gue dengan Allah :’) jadinya yaa gitu, gue capek hati. Ya Allah..
            Pada saat yang sama gue lupa, gue lupa kalau Allah pun masih sayang sama gue. Apa buktinya? Allah masih mengizinkan gue dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang penuh pengertian. Sahibul Menara, tempat curcol asyik dan berbagi ambisi masing-masing. Ada juga Riska, Ceunur, menambah manis senang sedih ketika di kampus. Ada juga sekbid gue yang dengan sabar mau membimbing gue, Mba Umi. Ya Allah semoga Engkau limpahkan rahmat-Mu pada mereka semua
            Ketika gue jatuh dan bimbang dalam menentukan pilihan, para sahabat gue di Sahibul Menara siap menguatkan pundak! Dan gue inget ketika kami pernah begadang bareng di kost gue buat essay full English karena mau apply suatu hal. Sekitar pukul 02.00 kami baru terlelap padahal besok ada kelas jam 07.30. Alhasil, mata lengket susah buat melek. Yaa walau pun belum sesuai harapan paling ga we one step further!
            Riska yang bangunin gue ketika hari sebelumnya pulang malem urusan volunteering temen-temen difabel. Keinget itu drama banget Ya Allah wkk. Paginya gue udah bangun buat isi bensin dan jalan-jalan bentar. Eh sampai kamar balik tidur dan gue terlena kalau ada kumpul. Di undangan jam setengah 9, Riska misscall gue.. “Zal kamu dimana” sebuah pesan yang gue bacanya masih mengumpulkan nyawa karena baru aja bangun tidur. Sadar kalau udah siang bangettt gue langsung kilat siap-siap dan cabut gitu aja. Kadang gue mengutuk keras jam ngaret di segala kumpul terkadang pula gue bersyukur dengan adanya jam ngaret, nah ketika gue dateng padahal udah telat banget, eehh acara belum masuk ke materi donk dan baru aja dimulai haha.. dan Ceunur yang sering banget nge-ship gue sama ikhwan kenalan dia. Ntahlah, gue sering gahabis pikir aja gitu dan berkali-kali bilang “Ngga Ceu, terlalu tinggi” but she always make sure if I deserve! Haha..dan kadang pula kami diskusi masalah Islam bersama. Dan Mba Umi yang sering banget WA “Dek....” “Dek...” wkk I’m grateful punya sekbid kayak kamu Mbak hehe. Ga pernah lupa buat ngingetin dan selalu fast respon kalau ditanyain, jazakillah khoir..
            Sampai titik ini gue jadi sadar. Amanah semakin berat namun langkah terkadang masih tersandung bahkan jatuh. Disinilah gue butuh penyempurna separuh agaa..
Eh salah
            Disinilah gue harus menguatkan diri gue! Ya harus! Karena mereka percaya kalau gue bisa mengemban amanah itu. Ingat, ada Allah yang menguatkan :’) Gue bisa kayak gini juga semua karena Allah. So, kurang-kurangin ngeluh deh Zal, udah nggak zamannya! Sekarang zamannya elo harus move faster. Buat visi misi, rencana hidup yang berfaedah! Ngga Cuma berfaedah buat diri sendiri, kalau gitu lo egois Zal tapi cobalah buat plan yang bermanfaat untuk orang lain juga!
            Bismillah, gue harus lebih tabah dan dewasa dalam menyikapi hal-hal yang terjadi. Lelah boleh asalkan lillah agar bernilai berkah :) dan selamat datang amanah-amanah baru yang akan datang. Dengan senyum semangat dan hati yang lapang gue siap menangkap kalian! Gue percaya diri karena innallaha ma’ana.
Dan untuk kalian para aktivis pengemban amanah. Capek? Iya.. Merasa kerja sendirian? Mungkin.. frustasi karena proker yang gaberhasil? Gapapa. Gue kasih tau lo spesial! Iya spesial! Di saat yang lain sibuk galau ga berfaedah, lo masi aja mikirin kebermanfaatan yang ajib. Nah, makanya jangan ngeluh yaa tentang kesibukan yang udah lo ambil. Hamasah yooo, libatkan Allah biar ga capek. Sekian..

An Escape

source: juliamstar

            We were both a kid when I first saw you. Act like don’t care what’s really going on. Actually, it’s memorable and I still remember. As I open my memories, it screams a loud for this one.
            That day is a freshman year at the college and I’m gonna be here for the next four years in this town. It feels strange and however I just sit and just know a little what’s going on until one day I saw you.
            I still remember in the past. You act well to me. Talk about the future and hope one day we will at the same place to embody those dreams. I told you how much my desire to watch Ramayana show at Prambanan temple and you always kidding me that you will be the one who always accompanies me wherever I go. Talk everything, share our dreams, and know our favorite movie each other.
            Until one day, it changes drastically. A sentence that changes a lot and makes a space between us. You’ve should never say that to me. The impacts are many. Nothing conversation, nothing jokes, nothing everything. Lost.
            Day by day passed until year by year passed, we don’t know each other and lost contact. I’m grateful, Allah sent me some nice friends. They hold my hand to do hijra. I mean, learn Islam more and leave bad habits before. It really helps me to forget you.
            But, destiny has written until I met you again. You saw me and I saw you. I really surprised about this. I still recognize you, maybe so do you. But we just keep silent and busy with our own mind. You stand awkwardly. No smile, no conversation.
            I don’t know what’s on your mind when you saw me. You’ve been hurt and I’m sorry for that because I don’t wanna make a special relationship before the day that blessed by Allah ta'ala. How deep you get hurt? I don’t know, but I hope you don’t mind the past. Stand the new you as a law student. Congrats, you made it.
            As surprised as I saw you. I learn much. Forget the past, and accept it gracefully. Would you mind to follow my way? Today, I can remember the sour moment in the past with a smile and a shiny acceptance because I realize, it’s not a big deal. During my effort to follow His guidance, I’m sure if Allah will rescue me unconditionally. Such a great learning the day that I saw you.

Written on a rainy day approaching midnight,
Surakarta, March 25, 2019