Potret Kehidupan Malam Itu

hari itu, on frame : mas dimas dan mba kaffa, taken by mba ratri/yefta

Halo! Semoga selalu sehat dan semangat yaa. Iya, gue tau, di masa-masa pandemi gini, we must stay at home, ngga usah keluar dulu kecuali keperluan mendesak. Karena bad bad bad sad sad sad news ketika baca berita yang bilang kalau kurva penderita Covid-19 terus naik, belum ada tanda-tanda penurunan. Yaudah lah yaa, kalau lo sama gue punya passion yang sama yakni R E B A H A N, inilah saatnya menjadi pahlawan dengan passion itu..

Nah, tapi bolehkah gue sedikit bercerita mengenai cerita perjalanan gue di malam hari dalam melintasi ruang dan waktu, eeh. Nggak ding. Pas itu ceritanya habis persiapan event, awalnya mau balik kost aja karena udah malem, eh nyonya besar bilang suruh pulang. Yauda lah dengan rasa mager, gue menuju rumah dengan kecepatan yang b aja, karena mager wkwk.

Saat itu gue disuguhi beberapa pemandangan yang mungkin menururt lo biasa aja but it’s really heart touching for me..

Ketika melewati lampu lalu lintas, seorang kakek, mungkin seumuran mbah kakung kali yaa.. ia masih mendorong sebuah gerobak, gue ngga terlalu merhatiin apa yang ditawarkan dalam gerobak itu karena lucky me, gue dapat lampu ijo terus saat itu. Samar-samar, kayaknya ada tulisan “Ra metu mergo Corona, ra mangan”. Sekilas gitu gais kayaknya. Kalau di translate ke Indo “Nggak keluar karena adanya Coronan bikin nggak bisa makan” Lalu, saat gue perjalanan pulang juga, Allah kembali tunjukkan betapa memang harus kita menambah rasa syukur dalam hati. Di pinggir jalan, gue lihat seorang difabel, yang kedua kakinya tiada masih mencoba mengais rezeki dengan kemampuan yang dimilikinya. Hati gue kembali gerimis. Ohya, ini malem yaa gais, sekitar jam 9 lebih.

There are so many people who try their best to survive during this pandemic.

Atau lo mau denger kisah lain nggak? Sebut aja namanya Pak Tono yang bersama keluarganya masih megontrak di sebuah rumah kecil. Pak Tono ini kesehariannya bekerja sebagai kuli bangunan. Istrinya bekerja sebagai buruh cuci tetangga. Anaknya 3 masih SD semua. Let’s see what happen. Semenjak adanya pandemic ini, Pak Tono tidak lagi bekerja sebagai buruh bangunan. Semua di stop, siapa juga yang mau menghamburkan uang untuk memperindah/renov rumahnya, lha wong buat sehari-hari aja susah, mending di-stop kan pembangunannya. Nah, begitu pun nasib istrinya, Bude Inah (nama nggak asli), nggak ada yang mau memperkerjakan dia lagi. Bingung bin pusing lah mereka. Untuk makan, bayar kontrakan, biaya pendidikan anak-anak? Darimana mereka mendapatkan itu semua? :’)

Kisah kayak gitu nyata ada gais. Coba tengok kanan kiri kalian. Pernah juga ketika gue wawancara relawan suatu kegiatan kemanusiaan, dia sampai nangis pas cerita keadaan orang yang ditolong. Intinya, roda ekonomi sedang mandeg karena pandemi, nggak ada duit buat hidup. Terus gimana? Nggak tau gue. Mereka udah berusaha cari kerja kesana-kemari tapi karena minim skill dan keadaan banyak perusahaan yang PHK, yaa gitu, mereka ngga bisa mencari uang lagi.

Ngandalin bansos? Bagus sih programnya.. It means, pemerintah peduli sama orang-orang yang terdampak tapi pelaksana teknisnya? Hh, gue greget, keadaan sedang sulit, transparansi bansos kurang jadinya uang rentan dikorup atau pilih-pilih orang berdasarkan tingkat kedekatan mereka bukan seberapa nggak mampu orang itu. Jadinya kan nggak merata. Negara butuh orang-orang kayak H. Agus Salim, Moh. Natsir, Moh. Hatta, negarawan yang peduliiiii banget sama rakyatnya, mereka membuktikan ungkapan leiden is lijden. Yang mau beli barang tapi susah, yaa pendiri bangsa terdahulu. Eh, back to topic.

Just imagine, how’s life changed drastically during this pandemic.

Gini, selama pandemi ini sudah berapa kali kita sambat akan suatu keadaan? Atau sudah berapa kali seenaknya menikmati karya orang entah itu buku/film secara ilegal? I’m not a writer of book or producer, tapi gue tau di balik proses kreatif suatu karya itu melibatkan banyak pihak. Kayak misal sebuah buku nih yaaa. Ada editor, desain cover, penerbit, pengurus ISBN, dan apalagi si penulis butuh waktu lama buat menghasilkan sebuah gagasan kreatif. Terus, without considering those stuff, kita baca buku PDF ilegal yang marak beredar? Please, stop. Kelak, nggak mau kan kalau kita punya karya dan dijual seharga cilok atau bahkan gratis? Hhh..

Terus pernah nggak bertanya-tanya nggak “Hari ini gue mau jajan apa yaa?” atau “Hari ini gue mau makan apa?”

Well, berbahagialah. Di luar sana, banyak orang-orang yang bertanya “How could I survive?”. Mereka bener-bener nggak tahu, hari itu harus ngapain, buat makan, mencukupi kebutuhan, mereka nggak ada ide sama sekali. Saat inilah biasanya manusia akan sadar mengenai titik terendah kehidupan. Bagi orang-orang yang melupakan Tuhannya di saat senang, dalam titik terendah ini, biasanya ia akan kembali. Mengiba, meminta pertolongan pada Yang Maha Pengasih. Tapi sejatinya, bukankah kehidupan ini juga hanyalah sebuah senda-gurau permainan? Dalam kitab suci, banyak sekali ayat yang mewanti-wanti supaya jangan terperdaya kehidupan dunia. Karena kekekalan itu di sana tempatnya.

Akhir kata, tetap semangat yaa. Kamu yang sedang membaca ini, semoga selalu dikuatkan oleh Allah. Yang sedang dalam masa sangat sulit, aku memang nggak tau gimana perasaanmu sekarang, tapi kuharap kamu tetap bisa bertahan saat ini, jangan pernah merasa lemah, kamu punya Tuhan Yang Maha Kuat, kenapa nggak pdkt aja dengan sabar dan sholat biar diberi kemudahan? :)

Dan untuk kamu yang masih bisa makan 3x sehari, masih punya kendaraan, rumah, gadget, bisa rebahan dengan nyaman karena ada wi-fi atau kuota sambil netflixan, jangan lupa bersyukur yaaa. Malu nggak sih misal masih mengeluh ini itu kalau melihat cerita di atas? Mereka nggak punya apa pun untuk bertahan hidup kecuali keimanan dan kerja keras, itulah satu-satunya hal berharga yang tersisa. Rawatlah rasa syukur itu agar kebahagiaan bermekeran dengan indah dalam hatimu. Masih banyak orang di luar sana yang nggak seberuntung kamu hidupnya.



Salam hangat,

Zalfaa 

Hidup Tidak Sebercanda Itu

dokumen pribadi


Halo Agustus! Terima kasih atas kenangan yang bagus! Untuk seorang teman yang tahun lalu mengucap “wkwk” diiringi dengan kalimat manis, semoga harimu selalu cerah yaa! Seperti dandelion, walau terlihat rapuh, kecil, tidak sepopuler peace white lily, kamu tetap OK!

Ngomong-ngomong, karena kamu, aku ingin menulis. Iya, temanku yang tangguh namun pemalu. Tidak perlu aku sebutkan yaaa siapa kamu tapi kuharap kamu baca. Aku ingin memulai tulisan ini mengenai mimpi, ambisi, realita, dan love yourself.

Alkisah, aku mengenal seseorang. Btw, she is an amazing girl! Kepribadiannya introvert eh tidak juga. Kadang, suka ngoceh dan jago public speaking. Orangnya kalem, sopan, dan tidak pernah berkata nggak baik tapi dia beberapa kali menjuarai kompetisi debat. Sebenarnya kamu masuk tipe yang mana sih? Wkwk. Yasudah, anggap saja dia ambivert.

Suatu hari dia ikut forum keren. Disitu, ia bertemu dengan banyak teman-teman keren. Katanya “Faa, gue minder deh, semua keren. Beberapa aktivis terkemuka di kampusnya. Mana, pas gue stalking sosmednya, beuhhh aktif banget dan selalu dapet respon positif.”

Dengan terheran-heran, kujawab “Lah terus kenapa, lu kan juga keren!”

Saat itu, saat aku menikmati matcha dan salad buah yang menyegarkan. Lahap aku menyantapnya sebagai self reward setelah beberapa hari terakhir aku dipusingkan dengan LPJ-an, beberapa kompetisi, dan seleksi sebuah komunitas. Gadis berkerudung pashmina di hadapanku masih tampak gelisah bahkan tidak menyentuh smootiez pesanannya.

“Mm, gue minder.”

Aku menganga. Orang sepertinya bisa minder? Good looking iya. Aktif di komunitas iya, bahkan jabatannya selalu memegang inti suatu organisasi. Jago bahasa Inggris iya. Suka baca buku iya. Secara dhohir semua OK.

“Hah?” Aku menghentikan makan dan mulai menatapnya dengan serius.

“Mm, gimana ya Faa kenapa ya pas gue posting di IG di kolom komentar sepi, gitu-gitu aja ga kayak temen-temen di komunitas keren itu. Oh iya, sekarang mana likesnya turun lagi dan gue lihat beberapa hari terakhir ada yang unfollow gue 5 akun entah siapa. Apa konten gue nggak menarik yaa? Atau ada yang salah yaa sama kata-kata gue?”

Aku mangap dan ternganga tapi tidak ada laler saat itu.

Aku terdiam, menyusun kalimat yang tepat.

“(memanggil nama temen gue), lo minder karena aspek sosmed lo ya?”

Dia mengangguk dan menggigit bibir bawah.

“Gue boleh ngomong sedikit?”

Dia menatapku “Ya boleh lah!”

Aku tersenyum jahil saat itu “Sini dulu smootiznya daripada mubazir nggak lo makan dari tadi!”

Dia melotot dan ingin menimpukku dengan buku berjudul Ranah 3 Warna yang dibawanya. Aku kembali terkekeh dan mulai menimpali.

“(kusebut namanya), sebenernya lo udah keren kok. Coba pikir-pikir lagi, satu bulan terakhir udah berapa kompetisi yang lo menangkan? Satu bulan terakhir, udah berapa rupiah yang elo sedekahkan? Satu bulan terakhir, sudah berapa banyak ucapan dedek gemes yang bilang terimakasih karena lo ajarin bahasa Inggris secara cuma-cuma. Satu bulan terakhir, udah berapa banyak keberkahan hidup yang nggak lo sadari?”

Aku merasa seret dan minum matcha dulu. Lalu kulanjutkan, “Semua itu ada di real life elo! Gue kenal betul dengan lo. Buat self-branding kayaknya emang lo nggak bakat bahkan lebih baik lo bantu gue nyuci baju yang udah numpuk di kost-kostan.” Aku terkekeh melihat ekspresi sahabat di depanku.

“Gue lanjutin yaa (gue sebut nama dia), emang lo keliatan b aja di sosial media. Gue tahu cita-cita lo kelak emang menuntut self-branding ya bagus tapi plis jadi diri lo sendiri. Lo nggak perlu pengen terlihat keren seperti temen-temen yang baru aja lo temui di forum apa itu. Gue kenal betul dengan lo dan menurut gue lo sahabat yang keren dan produktif! Bukan berarti kalau lo nggak menunjukkan suatu kegiatan di sosmed, you do nothing. No!”

Raut mukanya menjadi sendu. “Faa, yang santai donk bahasannya, huhu” dia mulai tersedu. Untung saja kita mengambil posisi pojok di tempat ini.

“Ihh, jangan cengeng donk ntar gue ikut baper. Intinya (gue sebut lagi namanya), kepopuleran itu bukan suatu tujuan. Gue inget perkataan seorang ulama yang intinya berpesan kalau jangan sampai kita hanya mengejar ketenaran itu sendiri. Bahkan kalau disuruh memilih, mending jadi orang yang b aja, tidak menjadi sorotan, alangkah teduh hidupnya.. Followers boleh dikit tapi tetap kontinu share kebaikan.”

Dia mulai tersenyum dan bilang “Siap Bu Jurnalis. Lo nyomot kata-kata ini dari siapa?”

Aku terkekeh dan geleng-geleng. Sebenarnya, aku tidak bijak-bijak amat kok! Wkwk. Aku hanya mengingat kutipan-kutipan akun teduh yang kuikuti seperti Aida Azlin, Alvi Syahrin, Febriawan Jauhari, dll lalu kurangkum saja! Kuucapkan terimakasih pada kalian atas tulisan-tulisan itu.

Yaa intinya sih, menurutku bukan cuma buat temanku yaa, tapi untuk aku sendiri, kamu pembaca baikku, dan kita semua. Sekarang, di masa pandemi ini, ketika tidak ada kegiatan, biasanya kita akan lari ke sosmed hanya untuk scrolling tanpa tujuan yang jelas hingga 3-5 jam terbuang sia-sia. Bahkan, setelah scrolling itu tak jarang kita merasa insecure karena pencapaian orang lain entah itu prestasinya, kegiatannya yang begitu positif, karyanya yang banyak menuai apresiasi, atau se-simpel kulitnya yang makin shining, shimmering, splendid.

Sebenernya, nggak perlu kok kita merasa sakit hati atau bahkan minder. Kan setiap orang punya prosesnya masing-masing bukan? :) kita nggak pernah tau di balik sebelum aplut keberhasilannya itu, usaha keras apa yang telah ia lakukan, entah seperti tidur hanya 5 jam sehari, berlatih keras setiap hari, atau merogoh dompet hanya untuk kulit bersih yang diidamkan.

Ingat pula, di sosmed kan hanya dunia maya. Why u take it so serious? Gamungkin kan orang bakal posting kesedihan di sosmed. Semua yang di post pasti tentang kebahagiaan. Bagaikan pucuk gunung es yang terlihat di permukaan, kita nggak pernah tahu di bawahnya sedalam apa dan kayak gimana. Well, hidup bukan hanya untuk memenuhi ekspektasi orang, berharap followers, like, dan komen. Lagipula yang tahu kalau kita keren betulan atau tidak itu yaa hanya orang-orang terdekat dan diri kita sendiri.

So, pesanku untuk yang sudah mau baca sampai paragraf ini. Keep going and shining with your own kindness! Kamu keren :). Jangan terlalu mengurusi hidup orang lain yaa sampai lupa dengan diri sendiri. Cintai dirimu sendiri. Rayakan setiap pencapaian dengan orang terdekat seperti ayah mama (they deserve!)  atau berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Selalu ada Allah yang siap mendengar segala keluh kesahmu. Keren tidak harus populer  kok. Coba deh baca kisah Uwais Al Qarni.

Cukup sekian yaah. Semoga melegakan.

 

Salam hangat,

Zalfaa Azalia Pursita


Dari Surakarta hingga Edinburgh

           

ada yang bermimpi ingin bertemu kak alfito? seorang jurnalis, moderator debat cawapres lalu? we did!

        Gue selalu yakin dan percaya, bahwa setiap manusia yang berjiwa hanif di muka bumi ini memiliki misi kebaikan masing-masing. Ada yang menyalurkannya lewat pergerakan, menulis, berkarya, bahkan merantau ke negeri orang untuk melihat cakrawala yang menarik hati. Semua mengekspresikannya dengan cara yang berbeda, namun muaranya tetap satu, kebaikan.

            Dan semua itu berawal dari mimpi. Iya, mimpi untuk mewujudkan misi itu. Sst, gue kasih tau ya, masa depan seseorang itu sedikit bisa ditebak melalui apa yang menjadi kebiasaannya saat ini dan apa yang sedang diperjuangkannya sekarang. Gue bukan cenayang btw, cuma menerka aja. Yang sekarang pas masa pandemi terus menerus mengeluh, bikin alesan, bahkan memaki sampai bikin istilah the f corona, hadeh,  sayang banget energinya kebuang cuma buat hal-hal negatif aja. Besok setelah pandemi, ya ga dapet apa-apa. Beda yang terus upgrade diri walau kadang rasa mager menyerang, ahaha.

          Alhamdulillah, selama masa pandemi ini gue dapat 3 beasiswa yang semuanya dilakukan secara daring. Apa pun sesuatu yang seharusnya berbayar dan gue dapet gratis, gue menyebutnya beasiswa, ga peduli berapa nominalnya. Kalau kita mau ubet dikit aja ya gais, atau aktif dikit aja, banyak kok kegiatan berfaedah yang bisa diikuti selama masa pandemi ini baik yang berbayar mau pun gratis. 3 beasiswa yang gue dapet tersebut, sebagian besar infonya dari Instagram, bahkan sambil rebahan pun bisa dapat beasiswa! 2 beasiswa gue dapatkan mengenai workshop jurnalistik, 1 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surakarta, 1nya dari instansi tempat gue mengabdi, aseek, iya dari Humas UNS di Solopos Institue. Nah, beasiswa yang terakhir, gue dapet dari Bang Rendy untuk ikut kelas persiapan beasiswa ke luar negeri, uhuyyy.

            Nah, tapi kali ini gue gabakal mengupas semua. Misal lo kepo tentang beasiswa yang workshop jurnalistik, send me message for personal, with pleasure, I’ll reply inshaallah. Nah, gue akan sedikit mengupas kelas persiapan beasiswa untuk studi ke luar negeri. Yohoo, para scholarship hunter, sini merapat dulu!

            Kelas persiapan beasiswa ini, diadakan oleh Uda Fuadi. Iyaaa, yang nulis trilogi negeri 5 menara itu! Ganyangka gue bisa satu grup WA bareng beliau, yang tulisannya mashaallah, lo baca sendiri deh, sebelumnya gue pernah sedikit mengulas film N5M disini. Pada Minggu, 14 Juni 2020, para pemimpi di malam nan syahdu, semua menyimak materi yang diberikan oleh Uda Fuadi melalui grup WA yang dibuat. Pada awalnya, Uda menanyakan pada kami, mau dapet beasiswa apa dan dimana sih? Ada yang mau dapat Fullbright, LPDP, AAS, Chevening, dll. Negaranya pun beragam, ada yang pengen ke UK, Australia, Belanda, Jerman, Turki, Prancis, Mesir, dll.

            Uda Fuadi sendiri, selain menjadi penulis, beliau telah mendapat 12 beasiswa ke luar negeri, mashaallah. Nah, tak boleh dilupa beliau ni juga dulunya lulusan pondok loh! So, jangan remehkan lulusan pondok yaa, ehe. #AyoMondok untuk generasi yang madani. Back to topic, buat temen-temen pemburu beasiswa, yang harus kita tanamkan mulai sekarang adalah POLA PIKIR. Yap, tanamkan dalam diri bahwa beasiswa ke luar negeri itu banyak! Buanyak! Kalau Uda ibaratkan beasiswa ke luar negeri itu seperti pohon mangga yang rimbun sedang berbuah, yakalau kita cuma pengen aja, ya sebates gitu aja, beda kalau ada effort buat mencapainya, bisa jadi dapet satu dua mangga.

            Tidak kalah penting adalah mengenai heartset atau niat. Iya, kayak kata narasumber gue kapan hari, niat adalah pekerjaan seumur hidup. Sama seperti ketika ingin dapet beasiswa ke luar negeri, apa niat terbesarnya? Apakah sebatas ingin foto-foto keren ala selebgram? Atau ingin mendapat likes, comments dari netizen? Hmm, luruskan niat dulu kalau kita pengen dapet beasiswa itu karena emang bener-bener pure menuntut ilmu dan belajar lebih dalam ilmu yang ingin kita tekuni dari sumber terbaiknya.

            Tidak ada yang instan di dunia ini, bikin mi instan aja butuh proses buat masak, apalagi buat hal segede ini. Ada yang sampai jungkir balik mendapatkannya. Gabisa santai-santai aja. Persiapkan sedini mungkin kalau emang bener-bener ingin mendapatkan beasiswa. Kalau bisa sekarang udah nargetin, mau gimana detailnya. Kayak, pengen ambil jurusan apa, dimana, dokumen apa aja yang perlu dipersiapkan, bahkan berapa skor minim IELTS pun perlu tahu. Cari tahu mulai sekarang, yaa intinya jangan males dan manja sih! Belum apa-apa udah bilang, aah gue gatau carinya dimana, cariin donk. Enggak gais, kita nggak hidup di gua atau zaman purbakala, sekarang udah ada yang namanya Google, use it wisely.

            Poin yang gakalah penting adalah, ketika kita memutuskan untuk lanjut studi ke luar negeri, make sure, kalau lo emang bener-bener punya passion di bidang yang ingin ditekuni lebih lanjut. Gaperlu memaksakan diri untuk seperti orang lain. Setiap orang beda-beda btw. Based on my experience, setiap orang itu unik. Ketika gue wawancara anah hukum, wadaw nada bicaranya berwibawa, suaranya berat, sedikit bercanda. Anak sastra, uww romantis, manis, puitis, tapi kadang melankolis! Anak teknik, hemat bicara, cenderung to the point. Anak keguruan, sopan, halus, dewasa, dan bijaksana! Eh tapi gabisa digeneralisir sih.  Intinya, setiap orang itu unik dan mereka bisa mengembangkan keunikan masing-masing tanpa harus insecure ketika melihat keunikan orang lain.

            Nah, kelas beasiswa ini berlangsung selama 2 pertemuan. Pertemuan selanjutnya adalah hari Selasa, 16 Juni 2020. Disini Uda Fuadi tidak banyak memberi materi seperti pertemuan sebelumnya. Alhamdulillah, beliau membuka sesi tanya jawab. Jadi, pada sesi ini lebih banyak digunakan untuk tanya-tanya gitu gais dan di akhir, ada zoom meeting buat tanya langsung dan foto. Kesempatan ini pun, ga gue sia-siakan. Gue juga ikut bertanya, eh tapi pertanyaan gue udah ada yang nanyain di awal, jadi gue ganti deh. Ketika itu ada yang bertanya, intinya doi lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris apa memungkinkan kalau besok ambil lintas jurusan?  Uda Fuadi pun, memberi jawaban yang menyejukkan. “Yang penting alasan pindah jalur itu logis. Apalagi keluarga ilmunya masih ada keterhubungan. Jadi, bangunlah personal statement yang logis. Saya sendiri pindah jurusan. S1 Hub Internasional. S2 Media. S2 yang kedua film. Bisa kalau kita buat alur logisnya.” Begitu jawabnya.

            Terus ada yang bertanya lebih lanjut, yang dimaksud alur logis oleh Uda Fuadi itu macam mana, wkwk kayaknya banyak yaa yang merasa salah jurusan. Nah Uda bilang “Saya belajar HI waktu S1, tapi saya jadi redaktur di majalah kampus dan tertarik dengan jurnalisme. Ketika lulus, saya bekerja sebagai wartawan, mengikuti ketertarikan di bidang jurnalistik. Kini, saya sudah jadi wartawan, tapi rasanya kurang ilmu teori media dan komunikasi karena S1nya beda,” ujar Uda Fuadi.

            So, never lose hope. Selalu ada jalan bagi mereka yang berjuang walau mungkin akan banyak statement “ah masa bisa?”, “ngimpi jangan tinggi-tinggi, ntar jatuh sakit loh!”, “halah, mbok uis, rasah muluk-muluk.” Kalimat terakhir tau ga artinya? Translate yaa biar sekalian belajar bahasa Jawa wkwk.  Gitu gais.

            Disini, gue hanya mengupas sebagian kecil dari materi bergizi nan lezat yang lumer disantap yang disampaikan Uda Fuadi. Furthermore, bisa kok baca buku beliau yang berjudul Beasiswa 5 Benua. Gue nulis begini juga belum tau gimana besoknya. But, at least, dengan begini gue menegaskan kalau mimpi itu masih gue perjuangkan. Entah gimana besok hasil akhirnya, let Allah do the rest. Dan gue yakin, apa pun hasil akhirnya setelah berusaha dan berdoa, itulah yang terbaik.

Gue tekankan, dalam berproses jangan berharap selain pada-Nya, kayak kejadian baru aja banget nget, masih anget. Suatu hari, gue dinyatakan diterima jadi something. Tapi disitu tertulis syaratnya minimal semester sekian dan dari Pendidikan Bahasa Inggris FKIP, sementara gue belum semester itu dan dari jurusan berbeda, singkat cerita, gue nekat daftar dan awalnya gue dinyatakan diterima karena pewawancara bilang, kapabilitas gue memenuhi. But beberapa hari kemudian, Mbaknya bilang minta maaf kalau ternyata setelah berdiskusi dengan yang lain gue belum bisa bergabung disitu dengan alasan gue masih semester dibawahnya. Kecewa?  Pas detik menit awal-awal ya gitu, tapi gue seketika teringat, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu yang terbaik untukmu. Gue tarik napas, gaboleh ngeluh apalagi guling-guling. Ini yang terbaik! Gue gaboleh sedih! Pasti ada alasan terbaik versi Allah gue gajadi disitu, ya gapapa. Itulah salah satu rasa enak ketika kita bener-bener berprasangka baik pada Allah setiap saat, bisa menelan hal-hal pahit dengan perasaan lega.

Oiya, ngomongin Fakultas Keguruan, gue jadi inget, video yang viral beberapa waktu lalu. Salah satu mutual gue di twitter, meretweet sebuah video yang menampilkan seorang guru laki-laki honorer muda yang mengeluh akan gajinya. Berapa yaa 100K atau berapa gitu, pokoknya kalau gue asumsikan, minus juga sih buat hidup sehari-hari. Nah, let me share to yaa, sedikit, tentang guru honorer ini. Menurut gue sih, kesejahteraan guru itu adalah nomor wahid! Gabisa ditawar! Kenapa gue ngomong begini? Menurut buka Teach Like Finland (Mengajar Seperti Finlandia) yang gue baca, profesi guru disana itu diisi oleh akademisi terbaik dengan gaji yang menjanjikan pula. Ya, anak muda yg SDMnya bagus yaa siapa yang gamau jadi guru di Finland.

Gini deh, misal, para guru buat mencukupi kehidupan sehari-hari aja susah, mikir tagihan listrik, pulsa, air, eh di sisi lain mereka dituntut untuk bisa mengikuti reorientasi akselerasi pembelajaran berbasis teknologi. Ya punten, kalau masih terbebani hal personal aja bikin pusing, ini guru-guru apalagi yang sepuh, sudah tua, diminta untuk menguasai teknologi. Hadeh. Pepatah Jawa yang bilang rego nggawa rupa, harga membawa wujud/rupa, kalau mau mendapatkan hal yang berkualitas yaa setidaknya pemerintah menganggarkan dana yang lebih serius untuk kesejahteraan guru ini. Guru adalah kunci kemajuan pendidikan. Inget ketika Jepang setelah di bom apa yang dicari? Oppa gangnam style? Nggak! Yang ditanyakan adalah berapa guru yang masih hidup?

Disini, bukannya gue pesimis sih akan sikap guru yang masih tulus mengabdi. Tapi nih yaa, monmaap lagi, sepanjang pengalaman gue wawancara dengan anak Fakultas Keguruan hanya 1 dari 5 orang yang menyatakan ketika lulus benar-benar ingin menjadi guru. But, perlu gue garis bawahi, menjadi guru itu bukanlah ironi seperti yang dikatakan mas-mas honorer di video itu, menjadi guru adalah pilihan mulia yang patut diacungi jempol. Memang, kebanyakan tidak kaya materi tapi inshaallah kaya hati. Mungkin pemikiran ini dirasa naif, tapi gue inget hadist Rasul yang bilang kalau sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Nah, boleh jadi Mbak Mas Guru honorer yang masih kinyis-kinyis ga dapet kenikmatan materi di dunia, tapi semoga kelak di hari akhir, pahalanya berlimpah yah :) gue pernah punya tetangga seorang guru dan sudah meninggal, ketika itu para peserta didiknya banyak yang melayat, ah betapa banyak untaian doa yang didapat karena jasa yang telah diberikan itu. Tapi bukan berarti, pemerintah berpangku tangan dalam menimbang kebijakan terkait kesejahteraan guru honorer. PR banget sih ini.

Udah yaa, malah sampai guru honorer wkwk. Gue berterimakasih pada Uda Fuadi dan tim yang mau berbagi banyak manis pahit dalam dunia beasiswa, yang beberapanya membuat gue berpikir, oh gitu yaa, baru tahu gue. Di akhir tulisan ini, gue mau mengutip kalimat Uda Fuadi dalam kelas beasiswa ini. “Pepatah Arab mengatakan, iza shadaqal azhmu wadaha sabil. Jika  sudah jelas keinginan, semoga nanti jalan beasiswa akan makin terang,” ujar Uda Fuadi. So, mulai sekarang segera tentukan detail mimpimu, kalau perlu buat proposal hidup :) tuliskan, minta restu dan doa ortu, eksekusi, cari teman/partner yang mendukung, semoga Allah mengabulkan agar menjadi nyata! Ganbatte kudasai— dan untuk Bang Rendy, sekali lagi terimakasih! Semoga diterima yaa dalam forum bea cukai sedunia yang hendak diikuti, eh apa ya namanya, pokoknya yang itu lah, ehe. Ohya, kenapa gue kasih judul dari Surakarta hingga Edinburgh? Gapapa, bisa jadi sekarang lo kuliah di suatu tempat, Surakarta katakan, terus udah menginjak Edinburgh kayak gue, iya gue, tapi lewat film Ayat-Ayat Cinta 2, hiya hiya wkwk #peace. Walau belum nyata, jelajahi dulu secara daring, bisa via film, video atau baca-baca artikel yang berlatar disitu. Sekian.

Sungguh, Tidak Apa

doc pribadi : pantulan indah langit lazuardi, no filter no effect
doc pribadi : pantulan langit lazuardi, no filter no effect

Masih adakah cahaya itu di matamu? Menembus langit malam yang gelap karena rembulan enggan menampakkan pesonanya. Bukannya aku tak merasa bahwa sinar rembulan sejuk adanya. Bukannya aku tak pernah melihat bahwa langit lazuardi selalu memiliki pesona yang mendalam. bukannya aku tak menyadari bahwa teratai yang semula indah kini kian rapuh adanya.

Hari itu, aku sudah mengambil ponselku. Mengetikkan satu dua kata di bagian catatan. Membacanya berulang kali hingga hafal di luar kepala. Nanar melintang, hanya sebatas itu keberanianku beradu. Secangkir coklat panas di hadapanku pun mulai dingin.

Hari itu, kau akan pergi bukan? Merajut asa yang selama ini telah kamu tunggu. Iya, aku turut bersuka cita untukmu. Satu dari sekian banyak mimpimu telah berhasil kau gapai. Pengajar, pembimbing skripsi, atau apa pun itu, semua turut mengucap selamat dan berpesan agar hati-hati disana. Teman-teman satu fakultasmu itu, tampak berbinar lagi cerah dan memberi untaian ucapan selamat yang bahkan membuat angsana yang sedang berguguran itu pun cemburu.

Hari itu, iya aku membaca pesanmu. Serangkaian persiapan perjalanan panjang. Ingatkah kau saat awal kali berjumpa karena sebuah jurnal yang terjatuh? Ah, tidak tidak. Tidak perlu kau bawa sekeping  ingatan ini menuju tempat barumu disana. Bahkan selama ini pun kita tidak pernah saling— 

Hari itu, aku hanya bisa berdoa dalam diam mendoakan keselamatanmu. Setelah dering telepon di kafe hari itu. sungguh, kau boleh pergi. Lagipula, untuk saat ini, ya sebatas ini saja. cukup rumit memang mendefiniskannya. namun inilah jalan yang sama-sama kita ambil.

menyesal? Tidak. Sungguh. Hati selalu tahu dimana tempatnya pulang. Buku aan mansyur yang selalu kau bawa itu, selalu berkelebat barang sedetik. Jika tidak ada new york hari ini menjadi favoritmu, maka bolehkah aku mengatakan bahwa hal berkesan adalah  rangkaian tulisan ceker ayam yang singkat dan kau selipkan secara sengaja atau hanya iseng belaka diantara lembaran kumal notes yang selalu kubawa itu?

Tak apa. Walau mungkin sebagian dari diriku mengutuk pesan yang tak tersampaikan ini. Biarlah ia tenggelam. Tenggelam bersama pesanmu yang tiba-tiba muncul, “saya akan pergi hari ini.”. dan jariku hanya mampu mengetikkan, oh ya, hati-hati, baik-baik disana.. Padahal, tidak pernah sesederhana itu. tidak–

Hingga pada suatu pagi, ketika ayam sibuk berkokok, dan terlihat seorang tua keriput yang tertatih berjalan ke surau, sekali lagi, aku menguatkan diri. bukankah ridho-nya lebih pantas dipertimbangkan dalam mengambil sikap apa pun? Sudah, cukup. Jadi, tak apa.


Tumpahkan Saja

Meminjam nada bicara tokoh cinta dalam film ada apa dengan cinta saat dialog pecahkan saja gelas-gelas itu. Judul diatas bisa teman-teman ucapan seperti itu pula.

 

dokumen pribadi


Tumpahkan saja gelas-gelas itu.

Gelas-gelas kaca yang ada dalam pikiranmu. Gelas-gelas yang telah penuh. Tumpahkan saja. Jangan dibiarkan. Nanti kau malah akan pusing, mau ditaruh mana lagi. Segala beban pikiranmu.

Tumpahkan saja gelas-gelas penyimpanan memori hidupmu. Tumpahkan ia dalam sebuah wadah tak terbatas, yang akan memuat lebih dari segala batas penyimpanan yang ada di seluruh jagat raya. Tumpah ke dalam wadah yang tak akan lekang oleh waktu. Sebuah wadah yang ku sebut tulisan.

Tumpahkan ia ke dalam wadah yang bernama tulisan. Menulislah.

Baik sepatah atau hanya dua patah kata, tulisan telah mampu menghadirkan ketenangan bagi setiap orang. Jika belum bagimu, mungkin hanya kau sajalah yang belum terbiasa. Tapi cobalah itu sangat berguna. Tak perlu kau harus mengunggahnya ke umum, jika itu hal privatmu. Cukup kau tumpuhkan setiap kata yang telah terlalu sesak memenuhi pikiranmu, dan tak butuh waktu lama kau akan benar-benar merasa lega.

Karena pernah di satu kesempatan, seorang kakak tingkat di kampusku merespon pernyataan hasil eksperimen menulisku. Saat itu apalah bagi orang awam sepertiku yang dapat menyimpulkan suatu hal baru, rasanya sudah seperti penemu  yang bangga akan teorinya xixixi. Singkat cerita aku merutinkan menulis setiap saat kala beban pikitan menumpuk dam mulai menggagu fokusku pada hari itu. Kadang banyak, kadang juga sedikit. Tergantung ruang kosong dalam pikiranku yang aku butuhkan, sehingga berpengaruh pada kapasitas penyimpanan yang telah penuh yang harus aku tumpahkan.

Katingku merespon dengan sebuah ilmu yang ternyata menjadi makanan beliau sehari-sehari sebagai seorang mahasiswa psikologi. Tentang salah satu langkah dalam sebuah teori yang dapat digunakan bagi mereka yang mengalami depresi atupun stres pikiran untuk melakukan pemulihan, yups sebuah katarsis emosi. Maa syaa aAllah, keren bukan? Betapa luas ya ilmu-Nya.

 

Nah bagaimana teman-teman, bahkan metode healing melalui menulis ini bukan hanya teori ecek-ecek aku semata lho, hehe. Ternyata bahakan memang benaran terbuktinya nyata dalam bidang profesional keilmiahan psikologi. So masih ragu untuk menulis? Udah coba aja dulu.

 

Tumpahkan saja gelas-gelas itu.

Happy writing, -silmy


How to be Different

dokumen pribadi


Assalamualaikum,

Ola temans, apa kabs ? Rasanya udah lama nih tidak mengunjungi ruang perjumpaan ini. Bu editor nggak usah senyum - senyum ya, mentang - mentang udah bikin gue enjoy nulis. By the way, hari ini gue mau sedikit cerita aja. Take it relax ya.

Jadi gini, gue mau sharing tentang gimana sih caranya menjalani hidup dengan orang yang totally different dengan kita. Karena gue dan keluarga gue punya pola pikir yang beda. Gue minimalis, keluarga gue enggak. Gue vegan, keluarga gue enggak. Gue susah sosialisasi, keluarga gue enggak, and so on and so on. Intinya, banyak banget hal yang harus dikomunikasikan dan dikompromikan. Ya berantem - berantem dikit pasti ada lah, namanya juga hidup berdampingan ye kan. Tapi, gue dan keluarga gue fine fine aja karena kami nggak saling memaksakan kehendak untuk punya pola pikir yang sama, selain itu, gue dan keluarga gue juga sama - sama saling menyesuaikan. Contoh, keluarga gue nggak masalah kalau makanan gue kadang beda dari yang mereka makan. Mereka nggak komplain ? awal - awal mungkin iya, tapi ngelarang ? no, nggak pernah.

Kalau pun masih ada konflik, menurut gue stabilitas emosinya yang harus di cek ulang. Mau saling turunin ego biar hilal jalan tengahnya keliatan apa engggak, masih punya nafsu buat menangin debat apa enggak. Ya namanya orang beda - beda, tinggal kita bisa terima apa enggak. Kalau enggak, kan masih bisa di ajak ngomong baik - baik, gimana caranya biat bisa menyesuaikan satu sama lain. Di ajak ngomong loh ya, bukan diomongi :)


Penulis : bu syaf temennya zal


LGBT? Feminisme? Orang Baik? Bisakah?

doc pribadi: once in my life, blur

Hi gais, balik lagi di blog gue! Kali ini gue sendiri yang akan menuliskan sesuatu. Apakah itu? mengenai.. circle dan sesuatu yang penting

yap! Setiap orang pasti punya lingkaran pertemanannya masing-masing. Yang suka baca buku, secara gasadar dia bakal ada di club pencinta buku. Yang anaknya ilmiah abeez, suka ikut lomba, dia pasti bakal mudah ditemukan di ukm keilmiahan. Yang suka guling-guling di lantai karena gabut secara ga langsung dia pasti akan ikut di.. eh yang ini ga ada. Skip.skip. don’t mind.

Nah, gue pernah tuh baca suatu hadist rasul yang intinya kalau kita itu seperti ruh, lo ngerasa ga sih kalau lo temenan sama orang yang sikap mau pun perilakunya ga jauh sama diri lo sendiri? Nah! That’s it, bagaikan cermin, kalau mau lihat bagaimana seseorang lihat aja temennya nongkrong atau ngopi siapa, dari situ bisa ketebak bagaimana. Rasul pun juga gitu, kalau kita mau melihat baiknya agama seseorang, lihatlah temannya.

Tapi nih gaes, ga fair donk yaa kalau orang baik cuma ngumpul sama orang baik doank? Teringat suatu pertemuan di truntum cafe, saat itu ada kumpul youlead dengan menghadirkan mas naren. Sepenangkap gue sih, ini termasuk privilege yaa ketika lingkungan kita baik-baik aja, produktif, punya mimpi yang tinggi dan saling support, orangnya ga aneh-aneh, gapernah clubbing atau yaa hal semacam itu tapi kalau kita mainnya sama orang baik terus lantas siapa yang mengambil tanggungjawab untuk mendakwahi orang-orang di luar circle kebaikan itu?

tapi zal, gue kalau ikut terjerumus gimana?

Jawaban gue, nope. Percayalah bagi lo yang sekarang merasa di lingkungan baik-baik, di luar sana kehidupan ga sebaik yang kita pikirkan. Masih banyak kok orang yang menganggap kalau seks di luar nikah itu, fine fine aja. Masih banyak kok orang yang yang beranggapan bahwa lgbt itu yaa bagus-bagus aja, asalkan ga merugikan yang lain. Masih banyak kok yang gangerti caranya berwudhu dengan benar daaan lainnya.

Siapa yang mau ambil tanggungjawab kalau kita ga mau keluar comfort zone dengan dalih biarlah gue berteman dengan yang sekufu yang lain biar lah berlalu.

Ga gais. Jadi, pernah yaa gue itu ada diantara 2 circle yaa bener-bener beda. Di circle satunya nih isinya orang-orang alim, taat agama, pakaiannya gausa ditanya, beuh syar’i! Nah, di sisi lain juga gue ada di circle dimana ada orang yang mendukung lgbt, menggemborkan kalau feminisme itu suatu kebaikan. Kok bisa zal? Ya bisa lah! Di kampus kan latar belakang orang banyak.

Nah kata mas naren nih, gue kan sempet tanya yaa perihal gue yang ada di 2 circle itu apakah gue harus hengkang dari circle yang pro lgbt itu atau masih stay. Dia bilang yaa sebaiknya sebisa mungkin gue ambil tanggunggjawab dengan cara masuk ke core mereka. I mean, know their fondness and try to in it! Coba cari apa kesukaan mereka, misal nih saat itu baru heboh drakor goblin, gue sendiri ga ga ga nonton drakor kecuali the jewel in the palace yang mana itu adalah serial sejarah. Nah, untuk masuk ke core mereka coba liat goblin walau sejenak ntar pas ngobrol coba singgung deh, pasti obrolan bakal berlanjut dan mengalir! Setelah itu coba sedikit-sedikit masukkan nilai kebaikan. Kalau gabisa, yauda cabut aja. Gitu.

Nah dari situ, gue sekarang mencoba berpikiran moderat dan lebih terbuka. Apalagi, alhamdulillah setelah diterima magang menjadi jurnalis di kampus gue, gue banyak bertemu orang dengan latar belakang yang beda. Pernah gue wawancara orang yang buaiknya mashaallah, pernah juga wawancara anak seni yang anti mainstream banget, pernah juga wawancara temen-temen yang udah go internasional, d e e l e l. Darisitu, gue banyak belajar!

Iya, biasanya setelah wawancara usai, gue ga langsung pergi gitu aja. Gatau yaa yang bener apakah langsung bilang terimakasih dan permisi sampai jumpa. Tapi, gue pikir ada baiknya untuk duduk sejenak sambil mendengarkan kisah narasumber yang ngalor ngidul, bahkan pernah ada yang curhat masalah asmara padahal baru sekali itu ketemu, dipikirnya gue pro apa dalam begituan wkwk, nope. Ya gue kan pendengar yang baik. ga jarang gue dapat banyak hikmah setelah percakapan ngalor ngidul itu.

Dari situ biasanya gue nambah temen entah di dunia nyata mau pun maya. Ada yang jadi saling save nomor wa, jadi bisa saling lihat story. Eh tapi, kadang gue ketawa, kayak pas wawancara mahasiswa kkn karena cuma dapet nomornya nama kontaknya gue save jadi kkn dimana dia berada misal kkn manado, kkn ntt, dll wkwk, padahal harusnya mas atau mbak siapa gitu eh tapi sekarang beberapa udah gue ganti karena tau namanya :d Darisitu, circle gue gacuma anak ski yang alim aja, kalau dipikir-pikir gue juga terhura gitu bisa stay di ski wkwk, gue masih merangkak untuk menyusul temen-temen yang mashaallah menurut gue baik-baik.

Nah darisini gue pikir, gue gabisa menerapkan metode dakwah kayak pas awal dulu yang langsung memvonis tanpa lihat culturenya kayak gimana. Kayak kemarin malam, gue baru aja tau suatu karya seni yang, emm, gimana yaa bilangnya, woaa bagus dan keren banget menurut gue! Di sisi lain membawa unsur modern namun budaya jawa ada disitu. Kalau misal gue nanya ke circle yang moderat kayak gue yaa mereka sama bakal bilang keren tapi nih misal gue menunjukkan karya itu ke anak-anak yang udah ngaji lama, mungkin gue bakal diceramahin.

Nah gaes, gue jadi butuh deep talk dulu dalam pikiran kalau mau ngepost something. Dimana ga terlihat kaku banget namun juga ga keluar dari syariat. So, gaes, gue pikir ini penting untuk memikirkan apakah selama ini kita merasa ada di lingkungan baik tapi boleh jadi allah inginkan kita agar menjadi perantara hidayah bagi orang yang belum mengenal islam secara mendalam. Karena berdakwah itu juga butuh seni, ada metodenya dan liat siapakah sasaran dakwah kita. So, be wise yah dalam menasehati!

Salam hangat dari gue, yang terkesiap karena beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba dapat notif media sosial dari seorang teman yang sepertinya kita pernah bertemu di bagian indonesia paling ujung barat.