Cinta Beda Manhaj

Cinta Beda Manhaj


            Terkadang perlu untuk mengambil jeda, lalu melanjutkan semua yang telah mengalir begitu saja. tanpa rencana, strategi yang matang, apalagi serangkaian kata-kata indah bak pujangga. Aku tidak tahu harus bagaimana. Menulis adalah salah satu caraku untuk mengalirkan apa pun itu.
            Kau tidak perlu bertanya, apakah tulisan kali ini terinspirasi suatu kisah pribadi atau yeah hanya sebuah opini penulis mengkaji suatu hal. Namun, akhir-akhir ini, sesuatu yang krusial, mengenai cinta beda manhaj. Sedih? Tergantung perspektif teman-teman semua dalam memandang hal ini.
            Dunia yang kompleks, pergaulan yang masif, era yang cepat berubah, ah revolusi 4.0. belum lagi berbicara mengenai fintech yang digadang-gadang akan menjadi sektor utama dalam memberdayakan perekonomian indonesia beberapa tahun mendatang. Sikap konsumtif, perusahaan-perusahaan yang menawarkan produk canggih berbasis online, belum lagi jaringan internet yang semakin menjamur. Ya, semoga saja. siapa yang tidak bahagia ketika melihat negerinya sejahtera? Rakyatnya berkeceukupan, undang-undang yang jelas dan tidak ngawur. Oh tunggu dulu, tak perlu berbicara lebih, sana perbaiki dulu wakil-wakil rakyat yang terkadang membuat kebijakan penuh dengan humor yang memancing mahasiswa untuk turun ke jalan.
Hasil gambar untuk heart love flower tumblr
source pic : elictrical tumblr
            Ah, tapi kali ini aku tidak selera untuk membahas mengenai pergolakan politik. Serahkan pada teman-teman bem yang pandai dalam mengkaji persoalan itu. disini, pada malam yang tenang, tanpa hujan.
            Wahai, bagaimana perasaanmu apabila seseorang memiliki niat baik dan mengutarakannya dengan cara yang baik? bagaimana apabila sosok itu terlihat sempurna pada pandanganmu? Kuliah di jurusan dengan masa depan yang menjanjikan, seorang hafiz qur’an, wajah teduh menyenangkan.
            Apa reaksimu? Apa yang akan kamu lakukan?
            Well, aku yakin 100% tidak ada kata penolakan apalagi sikap mencemooh untuknya. Apabila kamu paham agama, sosok hafiz tentu memiliki nilai tambah yang besar untuk dipertimbangkan. Apalagi, jika beberapa tahun lagi ia akan lulus, hmm saat wisuda bukan kah akan ada yang mendampingimu? Mengucap selamat dengan seikat bunga indah. Menghujanimu dengan berbagai pujian karena nilaimu cumlaude. Berfoto dengan senyum lebar seperti tak ada beban yang akan dihadapi. Seolah-olah dunia tersenyum menyaksikan kebahagiaan itu. well, namun realita tidak seperti itu kawan.
            Persoalan manhaj. Ya, metode dalam beragama. Aku yakin akan ada perbedaan pendapat dari teman-teman. Kau pasti mengira, “ah, tak apa. Asalkan ia baik dan memahamimu, jalani saja.” namun, pasti ada juga, “jangan! Masih banyak lelaki yang bisa dipertimbangkan selain dia! coba, pikirkan lagi?”
            Kalut.
            Begini, sebenarnya sah-sah saja apabila dua orang yang berbeda manhaj saling mencintai untuk melaksanakan mitsaqan ghaliza. Toh, mereka sama-sama islam. Masih dalam satu kalimat tauhid yang sama. Mengesakan allah, rabb semesta alam.
            Namun, perlu digarisbawahi dan dipertimbangkan. Cinta beda manhaj tidak se-indah film layar lebar berjudul “bid’ah cinta”, percayalah, banyak perbedaan fundamental yang butuh waktu jangka panjang untuk saling menyesuaikan. Sungguh, tidak mudah dan mungkin kenyataan ini akan menyakiti kedua pihak. Mau tidak mau, fakta ini memang lah benar :)
            Ohya, apalagi jika salah satu pihak adalah anak pesantren, apalagi anak pimpinan pondok. Menjadi primadona ponpes, dengan julukan/panggilan tertentu seperti gus atau ning misalnya. Sungguh, ada batas tembok penghalang yang besar, tinggi, kokoh, dan sulit untuk diruntuhkan.
            Menilik latar belakang keluarga yang masing-masing kekeuh dalam bermanhaj, tidak ada pihak yang mau mengalah. Belum lagi, apabila itu keluarga kyai, tentu besanan dengan orang yang tidak pernah bersentuhan dengan pondok menjadi tantangan berat untuk direalisasikan.
            Iya, ada hati yang tersakiti. Murung beberapa kadar waktu, lalu entah kapan bisa bangkit kembali. Namun inilah yang terbaik. Walau kata ustadz aan dalam story instagramnya yang intinya, it’s ok to marry someone who has difference manhaj towards you. So, ya mangga aja. Tapi sohib pernah berkata, “lebih baik jangan. Banyak perbedaan mendasar. Gimana mau jalan ke surga bersama, kalau jalan di dunia aja udah ga barengan. Yang satu ngaji disana, yang satu ngaji disini.”
            Yah begitulah. Eh tapi lagi, seseorang yang mengklaim dirinya menganut suatu manhaj tertentu belum tentu social life nya well educated, but ini gabisa digeneralisasi yaa. Bisa jadi, dia memang ilmiah betul, hafal banyak hadist beserta kandungannya, namun dalam hal memanusiakan manusia itu loh :) i mean, adab dalam menasehati yang kadang terasa pedas misalnya dan gak dugo-dugo. Ada juga yang ia tidak pernah menisbatkan pada manhaj tertentu namun akhlaknya luar biasa mulia, pandai menempatkan rasa. Ah begitulah realita yang tidak sesuai dengan teori.
            Lalu, bagaimana akhir tulisan ini? Akankah aku menyatakan setuju terhadap cinta beda manhaj atau sebaliknya setelah mendalami perspektif lain dan banyak bersosialisasi dengan orang berlatar belakang berbeda? Well, biarkan waktu dari-nya yang mendewasakanku untuk menjawab semua ini :) dan kamu sendiri bagaimana? setuju atau tidak? 
Nb : monmaap gaes, ini kok jadi rada kayak buat esai yaa, padahal niatnya sok nyastra. Huh, mungkin karena ditulis di tengah deadline lomba esai. Jadi gaya bahasa gue masi kebawa. Udah yaa, maap juga mode komentor non-aktif, kalau ada tanggapan, please send it via email through azaliazalfaa@gmail.com

Kau, Aku, dan Siluet Serambi Mekah


            
baiturrahman mosque, dokumen pribadi

         Ditemani kupi gayo dan pisang sale khas aceh, menarilah jari ini di atas keyboard atas dasar rindu. Yaa, rindu dengan sebuah tempat yang terkenal dengan kekentalan nilai-nilai islamnya sehingga ramai khalayak menyebutnya sebagai serambi mekah. Jujur gaes, gue belum bisa move on dari suasana disana, tempat-tempatnya, orang-orang baru yang ditemui, dan kenangan yang tercipta.. sembari melepas penat setelah pre-test toefl tadi pagi yang bener-bener memeras otak dan bikin puyeng, ah gue ga belajar malem ini, mau nulis aja.. emm gue harus mulai darimana yaa..
            Alhamdulillah, kala itu allah ta’ala memercayakan sebuah amanah pada gue. Sebuah amanah yang sebenernya dari semester awal gue udah merencanakan buat ikutan. Iyaa, jadi ketika itu ada talkshow mahasiswa berprestasi, daripada gabut di kost, gue pun mengajak beberapa teman untuk ikut dan saat itu mas mas pembawa acara menyinggung soal event bernama mtqmn (musabaqah tilawatil qur’an mahasiswa nasional) yang pernah ia ikuti, which is the participants followed from mostly indonesia region.. Katanya sih, poinnya besar buat daftar pemilihan mahasiswa berprestasi. Gue dalam hati “wah kesempatan emas nih kalau bisa ikut”
            Akhirnya, ajang mtqmn masuk ke dalam list target gue di tahun ini. Gue tempel tuh mimpi dan terkadang gue liat sambil sholawatin. Niat awalnya sih dulu pengen ikut di bagian lkti. eh ternyata gue baru tau donk kalau di mtqmn ada cabang debat juga. Gue yang ada basic debat pas sma, coba tuh ikut rekruitmen sampai tahap seleksi. Walau ada sedikit drama sihh yang bikin gue malemnya pas hari h keputusan, sulit tidur, ahaha. Ga sia-sia, alhamdulillah gue kepilih juga :’) walau ini sesuatu yang baru, karena debatnya pakai bahasa inggris dan sistemnya pakai british ga kayak pas sma yang pakai sistem asian. Teringat senior gue di sef pas debat, gue merasa bagaikan kapas ringan yang melayang-layang diterpa angin, wkwkm..
            Gue emang berdoa sama allah ta’ala, pas kuliah gue pengen bisa ke luar jawa gratis, eh dikabulkan pas semester 2 :’). Tapi saat itu juga gue seneng sekaligus cemas. Seneng karena allah ta’ala telah mengabulkan apa yang gue pinta, dan perjuangan gue ga sia-sia, seneng juga orangtua tersenyum lega karena anaknya lolos pembinaan mtqmn. Tapi cemas karena ini ajang bukan hahaha hihihi aja, ga kayak pas debat sma yang dengan entengnya lo bisa ketawa, teringat kala itu saat gue mengikuti lomba debat bahasa indonesia tingkat jawa tengah mewakili sma, ada pembicara yang salah menyebut nama susi susanti sebagai menteri padahal mah dia pemain badminton, wkwk, aseli momen itu keinget betul sampai sekarang! Back to mtqmn.. Seolah-olah beban amanah di pundak gue terasa lebih berat daripada biasanya, karena ini menyangkut reputasi, gacuma reputasi gue sendiri tapi institusi bruh.. maka karena itu, karena terlanjur gass-in yaa mau gamau tinggal usaha max sambil berdoa lebih yaa, karena ini juga gue jadi sering kirim pesan ke ibu “maa, bentar lagi gladi resik, doain yaa..”, “maa, bentar lagi uns maju, doain aku sama kawanku yaa”, “maa, hari terakhir, penentuan nih, doain yaa” mungkin macam sms dari operator dengan template yang sama kali yaak.. tapi karena gue yakin doa orangtua terutama ibu adalah mustajab, maka gue ga pernah lelah dalam meminta restu dan doa dari ibu kalau ada apa-apa, termasuk sebelum seleksi mtqmn, gue selalu minta didoakan biar jadi orang yang terpilih.


            Nah berangkatlah kita ke aceh pada jum’at, 26 juli 2019 karena mtqmn tahun ini bertempat di universitas syiah kuala, banda aceh.. saat itu, uns mengikuti semua cabang lomba kecuali qiroah sab’ah, total ada 35 peserta dengan 4 official baik hati yang mendampingi.. disitu gue bersyukur bisa kenal sama temen-temen yang deket al qur’an.. dari mereka gue belajar betapa semangatnya dalam muroja’ah mau pun ziyadah :) kesan pertama ketika menginjakkan kaki di bumi allah ta’ala pada ujung indonesia, hati gue membuncah sekaligus excited karena ajang yang diikuti, terheran-heran pula pada culture aceh yang kental dengan islam. Juga, kehangatan sambutan oleh lo yang sebagian besar adalah mahasiswa/i dari universitas syiah kuala aceh, jazakumullah khoir atas segala keramah-tamahannya..
di aceh, foto dulu, cekreek

            Gue inget ketika hari kedua di aceh, gue bersama aini, temen gue di debat bahasa arab jalan-jalan pagi sambil cari sarapan. Saat itu kami menemukan sebuah warung makan yang bertuliskan serba 5000. Dibandingkan biaya hidup di jawa, gue pikir di aceh jauh lebih terjangkau. Liat deh gambar di bawah nasi yang lengkap dengan lauk pauk ditambah es teh masa cuma 5000, wagelaa sihh, di deket kost mah ga dapet 5000 macem-macem ni wkwk..

ini satu piring harganya 5000, dapet es teh pulak

           
Selama kegiatan lomba berlangsung, tidur larut adalah hal biasa. Paling tidak pukul 1 dini hari baru bisa tidur pulas :’) bayangkan gaes, dari 30 mosi yang keluar cuma 3 doank, per hari 1 mosi sesuai tema yang ditentukan. Kami kerjasama dengan tim debat bahasa arab untuk bedah mosi, karena mosinya sama. Kami bagi setengah-setengah, kalau inget itu wkwk.. betapaaa...
            Ohya, ada satu fenomena menggelitik ketika gue ikut mtqmn. mm, lo tau ga mahasiswa ui yang juara tilawah internasional di turki? Kalau gasalah namanya syamsul eh apa syamsuri yaa, pokoknya itulah.. nah, dia kan jadi nge-hits yaa karena prestasinya itu, pernah juga fotonya menyebar luas di instagram dan masuk di explore gue. pas di kantin dia bukannya sibuk makan donk, tapi sibuk melayani foto bagi yang kepengen wkk. Tapi gue sendiri b aja tuh, ga sampai guling-guling pas ketemu dia, ohya gue ga termasuk golongan yang minta foto yaa wkk. dan bisa lo tebak, dia terbaik 1 di cabang tilawah.. sudah didugaaa..
            Jadi buat debat sendiri 3 hari full kami harus berjuang tapi qodarullah belum bisa masuk final :’) gue inget pas hari kedua, kita yang notabene dari solo, wong jawa yang terkenal alus ketemu lawan debat donk dari dari univ negeri makasar, manado, dan medan, jiaa mau gamau harus lebih nge-gas saat itu wkwk.. but am i disappointed with this stuff karena gamasuk final? Yaa, for the first time sih, kecewalah yaa belum bisa masuk final, lagi-lagi ibu donk yang jadi tempat curhat tapi ternyata? 
after debat, cekrekk bareng kafilah akhwat dan staff mawa

Gue sangat bersyukur atas kesempatan, pengalaman, dan ukhuwah yang tercipta. Ga nyesel ikut ajang debat ini! Dan gue sendiri sudah memberi penghargaan pada diri sendiri dan partner gue, at least, ketika proses kita ga enak-enakan tapi udah berusaha sebisa kita, dan gue pribadi lebih menghargai proses.. memaksimalkan proses dari amanah yang diemban adalah suatu kepuasan tersendiri bagi gue! Dan yeaa, kecewa sedikit aja selanjutnya kuyy cemungudthh buat kesempatan yang menunggu di depan. Btw alhamdulillah uns bisa menyabet juara harapan terbaik 2 pada cabang mmn dan hifzil qur’an 30 juz. Barakallah wa innalillah buat temen-temen gue yang berhasil mengharumkan nama kampus! Next, doain kita yang belum kebagian, semoga nyusul berprestasi yeaa hehe..
            Cerita udah selesai?
            Belum masih panjang.. boleh di close terus tidur kalau ngantuk, atau buat kopi dulu sambil lanjut baca hehe..
            Nah pada hari sebelum kami pulang, kafilah uns memutuskan untuk jalan-jalan refreshing. Sebenernya ada jadwal sendiri sih tapi pas tanggal 1 agustus kami putuskan untuk menengok ikon paling ciami di aceh, yang pas tsunami mashaallah tetap berdiri kokoh menawan. Yap! Masjid raya baiturrahman.. gue yang pertama kali kesitu, tak henti-hentinya mengagumi keindahan arsitektur yang elegan seperti masjid bersejarah di kota suci. Puji syukur gue ucapkan pada maha penyayang yang mengizinkan gue untuk melihat semua ini.. ah mau dibilang katrok atau ndeso gamasalah karena mungkin ekspresi muka gue saat itu tak terdefinisikan, saking indahnya masjid ini! Pankapan mau lah, diajakin balik kesini hehe..

            Nah,mmm, lo baca ga sih postingan gue yang sebelumnya? Iyaa, sebuah pertemuan dengan seseorang dari kafilah univ lain. Ketika menikmati senja sambil mengagumi keindahan baiturrahman, sambil sesekali sibuk memotret detail dari baiturrahman, ketika gue hendak memakai jaket identitas kafilah, seseorang memanggil gue.. ah, udah lah yaa, gausa diceritain secara mendetail. Ah, yaa rabb, bisa-bisanya..
Gara-gara itu gaes, ketika pulang, ketika berada di mobil, fyi kami pakai grab saat itu.. gue duduk di samping bapak grab karena tempat yang tersisa itu. First impression gue ke bapak-bapak ini sih, beliau ramah, ga jutek, tampilan nyunah dan dilihat dari bajunya sepertinya bapak ini ikut relawan kemanusiaan (aksi cepat tanggap atau biasa disebut act).. nah nah gara-gara disamperin orang tadi, temen-temen gue dari kafilah akhwat sibuk meng-ece gue.. eh gimana yaa b indo nya yang baik dan bener wkk..
Gue karena murah senyum yaa ahaha, yauda gue senyumin aja. Nah saat itu si bapak grab nimbrung percakapan donk “hati-hati mba e sama hal begituan” kami terkejut ketika bapak tadi pakai sapaan “mbak”. Fyi, di aceh ga lazim dengan panggilan mas atau mbak, disana pakainya abang dan kakak. Jadi pernah gaes, gue ketika itu beli es teh, “mas beli es teh 1 yaa” masnya menatap gue terheran-heran, bagaikan lihat makhluk tak biasa yang tiba-tiba muncul. Gue ulang dengan lebih jelas “mas, beli es teh 1 yaa..” eh masih gamudeng donk :( alhamdulillah ketika itu gue bepergian sama lo, si zahra, dia pun menjelaskan “bang, beli teh dingin 1 yaa.” Gue tertawa, ah disana juga tak berlaku kata es teh namun teh dingin pemirsa!
Ohya back to bapak grab, ternyata pemirsa bapak ini tuh dulu pernah merantau ke jawa. Beliau berkisah kalau dulu adalah salah seorang santri. Dan mashaallah, kakek beliau adalah imam masjid raya baiturrahman. Nah bapak ini bercerita kalau dulu ia merupakan harapan keluarga agar bisa menjadi penerus sang kakek yang menjadi imam besar. Masuk pondok adalah salah satu ikhtiar yang dilakukan.. saat itu beliau hafal beberapa juz al qur’an dan menguasai lughoh arabiyah. Tapi.. semua berubah ketika..
jatuh cinta
Yaa, beliau menaruh hati pada seorang gadis kala itu. ah, memang yaa, kisah cinta selalu berwarna dan misteri. Saat itu juga hafalan bapak tadi gogrog, emm bahasa indo nya sedikit demi sedikit hafalan qur’an bapak tadi hilang dan beliau menjadi tidak fasih dalam bahasa arab :’( huee gue sedih pas denger ceritanya, tapi bapak tadi ketika bercerita masih dengan ekspresi kalem terlihat seperti seorang bapak yang bijak dalam menasehati anaknya
“maka, hati-hati yaa mba dengan hal yang satu ini.” Beliau sempat menatapku sekilas dan aku meng-iya-kan.
“aah, tenang pak.. inshaallah aman kok!” kata gue mantap sambil tersenyum. Teman-teman yang sedikit rese karena terus memojokkan gue namun sekaligus baik hati yang berada di belakang kemudi mulai diam, mungkin ikut hanyut dalam cerita si bapak.
“mungkin sekarang bisa bilang aman, tapi gatau besok kalau dari pesan jadi turun ke hati”
Deg, what, hmm, yo pie yaaa..
Eh yang suasana sempet syahdu sesaat malah akhir-akhirnya si bapak ikut-ikutan meng-ece gue donk, huhu.. si bapak mah, namun gue gamau kalah yauda donk gue sahut
“yaa dia kan hafiz pak, kalau yaa serius mah ntar pasti bertamu ke rumah”
Temen-temen gue bagaikan pemandu sorak yang kegirangan.. “hmm, jadi gitu yaa zal”
Si bapak bilang “yaa, jodoh ga ada yang tau. Eh bisa jadi lho mba jodohnya malah orang aceh.”
Gue tersenyum “hmm, yaa asalkan sholeh apalagi hafiz, kenapa tidak”
“serius nih mba? Biasanya kan orang jawa susah kalau harus pisah rumah dari orangtua. Ya kan?”
Emang perempuan jawa tapi ga semua yaa, kalau harus jauh dari orangtua rasanya gimana gitu. eum tapi nih yaa, meluruskan apa yang dipikirkan orang-orang di luar jawa, apa bener kalau orang jawa harus nikah sesama orang jawa?
Well, jawaban gue sih.. tergantung pada keluarganya yaa, biasanya sih kalau dari keturunan ningrat yang masih memegang adat-adat jawa, yaa pasti kekeuh harus pilih sesama jawa. Tapi kalau secara umum biasanya orang jawa akan mempertimbangkan 3 hal yang disebut dengan bobot, bibit, dan bebet sebagai filosofi orangtua dalam menyeleksi mantu buat anak kesayangannya. Secara singkat, bobot berhubungan dengan kualitas diri baik lahir maupun batin yang mencakup pemahaman agama, pekerjaan, kecakapan, sopan santun. Yeaa, orang tua pasti pengen yang terbaik lah yaa buat anaknya, maka biasanya siap-siap aja bakal dikepo-in secara detail. Bibit sendiri berhubungan dengan asal usul atau keturunan, apakah sang mantu berasal dari keluarga baik-baik atau bukan. Baik disini bukan berarti harus tajir atau apa yaa tapi dipastikan dia berasal dari keluarga yang memiliki reputasi baik dalam masyarakat. Yang terakhir adalah bebet, yakni status sosial. Mm, kalau yang satu ini sih penting ga penting lah yaa.. karena status sosial belum mampu menjamin baiknya perilaku seseorang, tapi ga jarang beberapa keluarga masih mempertimbangkan bebet dari calon mantu. Tapi perlu gue garisbawahi yaa, bebet disini tidak terlalu diutamakan dan tidak menjadi syarat mutlak.
Lalu bagaimana? Yaa kalau dari sudut pandang gue sih, teringat sabda orang terkasih, manusia paling mulia yang pernah ada di bumi kalau kita nikah perhatikan 4 hal yaitu kebagusan fisik, kekayaan, keturunan, dan agama. Maka pilihlah yang bagus agamanya agar kamu beruntung! Based on this hadist, gue sih gamasalah lah yaa kalau ada kasus nikah sama non jawa. Lagipula allah ta’ala kan memandang seseorang bukan karena dia jawa atau ga tapi karena keimanan dalam hati kan, eaaa.. makanya, selama saleh dan perilaku baik, yaa it’s ok to consider to be the part of my life, hiyaaa.. tribalisme bukanlah hal yang terpuji! Maka, sudahlah gausah dipermasalahkan apakah dia jawa atau bukan.. yang penting sih sekufu dalam manhaj dan visi misi kehidupan. Jadi, gue emang udah condong dalam belajar suatu manhaj tapi untuk istiqomah itu lho :’) kok ga gampang.. maka, perlu partner yang udah mantap dalam menapaki manhaj ini, yang bisa membimbing gue secara sabar dan perlahan. Karena ga kebayang kalau beda pemikiran, sering bentrok pemikiran dan harus menyamakan persepsi terlebih dahulu..
Eh back to topic, akhirnya kami pun sampai asrama dan di akhir saat bayar, masih aja si bapak bercanda. Dan esok harinya ketika mba warih, temen gue, pesen grab car, eeh ketemu bapaknya lagi donk dan kata mba warih beliau menanyakan gue wkwk.. aman pak aman! Dan wa’alaikumussalam untuk salam yang diberikan pada gue! Btw si dia yang bikin heboh sore itu, dapet juara ketika malam penghargaan, ikut seneng lah gue, ga nyangka ternyata dia bisa sampai final.. pls stay positive thinking, dalam artian senang memiliki kenalan yang berprestasi seperti itu.. ah, tapi seperti yang temen gue katakan :) hafiz memang mengagumkan tapi lebih mengagumkan apabila ia benar-benar takut pada allah ta’ala, menjauhi apa yang dibenci-nya, dan menundukkan pandangan.. masyuuk dah nasihat dari lu mba lalaa!

Ahh suatu hari juga, ketika rombongan kafilah hendak berwisata.. gue dan aini jajan bareng (lagi) wkk.. hedoon, astaghfirullah. Bapak penjual es bertanya darimana kami berasal, solo, jawa tengah jawab kami. Kami pun berbincang sejenak dengan bapak penjual es yang ramah. Disitu kami dipersilakan mencicipi gratis bumbu sebuah buah. Apa yaa rasanya lucu, kayak garem ditambah pedes-pedes terus agak masem gimana gitu.. eh di akhir percakapan si bapak berkata yang sama “balik ke aceh lagi kak, siapa tau jodohnya orang sini” gue tersenyum mendengarnya. Who knows awkwk?
Dan ketika di tanah rencong, gue merasa jadi santriwati dadakan. Kehidupan yang bernafas islami di setiap sudut. Lo tau ga, imam disana jarang baca surah pendek dari juz 30, entah yang dibaca surah apa juz berapa, biasanya panjang :d terus pas adzan, mashaallah.. merduuu.. pas waktu sholat jamaah tiba? Mashaallah, penuh cuy! Gue gatau apakah karena peserta mtqmn yang mengisi shaf-shaf itu atau emang disana selalu ramai ketika jamaah tiba tapi ketika sholat di masjid yang tidak dekat dengan asrama, memang selalu ramai. Lihatnya adem gitu.. pas adzan, berbondong-bondong para jamaah pria mengenakan peci hitam, berbalut baju koko, dengan sarung yang terpakai rapi. Sementara, para perempuan dengan mukenanya yang tertiup angin, melambai anggun menyambut sambutan adzan dari muadzin. Hadeeh, mbah-mbah pun mashaallah, gamau kalah! Mereka juga turut serta dalam jamaah kala itu. gue rindu suasana itu :”)
Disana selama mata memandang, para wanita berhijab semua kecuali non muslim, bahkan lo tau ga, masa ibuk-ibuk penyapu jalan di deket asrama, saat menyapu dedaunan yang jatuh di jalan, pakai kaos kaki donk, se-syar’i ituuu.. dan disana sarung adalah hal yang biasa. Bahkan gue lihat, dalam cabang lomba tertentu para juri bukannya pakai celana kain formal tapi malah pakai sarung hehe.. gue pribadi sih juga lebih seneng ketika lihat ayah ke masjid pakai sarung, baju koko, dan peci hitam, keliatan berwibawa dan mashaallah gitu hehe, ayah jadi lebih tampan wkwk..
Well, tulisannya sedikit panjang yaa dari biasanya. Masih banyak yang pengen gue tulis tapi yauda lah yaa segini aja, ada hal-hal yang tidak perlu diceritakan, cukup tersimpan dalam hati agar menjadi sesuatu yang spesial. Sebenernya juga, habis ini gue harus begadang sih nyusun dan mengedit proposal sebuah kegiatan, udah ditagih sama banyak sie, gue sebagai sekretaris di suatu event berasa di teror :’d doain cepet kelar dan semoga eventnya bermanfaat buat khalayak.. Walhamdulillahirobbil’alamin, sekali lagi kuucapkan pada allah ta’ala atas kesempatan luar biasa ini yang diberikan padaku. Yaa rabb, sungguh engkau adalah sebaik-baik perencana dan pembuat skenario terbaik! Dan aku semakin yakin, aku tidak pernah kecewa dalam berdoa pada-mu! Tolong berkahilah orang-orang yang membersamaiku kala itu, para kafilah yang berjuang mengharumkan nama kampus, panitia ilmu qur’an yang perjuangannya luar biasa hebat dalam mempersiapkan segala administrasi, segenap jajaran staff kemahasiswaan yang mendampingi, para lo yang letih dalam membersamai kami, para pelatih setiap cabang lomba, dan orang-orang ramah yang menyapaku di aceh dengan segala kehangatannya kala itu.. ampunilah dosa mereka, dan selama mereka menjauhi dosa besar, semoga engkau membalas segala kebaikan mereka dengan sesuatu yang tak bisa terbayarkan oleh apa pun, adalah syurga, aamiin yaa rabbal ‘alamin.

Sebuah Kontemplasi


dokumen pribadi

            Happy weekend everyone! Hope your day will stunnin’ as your look as every day, mwehehe.. apakah ahad ini bernama hari rindu? Iya ga sih? Masa ada 2 orang yang mau video call gue dan alasannya sama.. yaitu kangen!! Apakah gue emang se-ngangen-in itu, ehee.. hmm, dasar rindu! Kalau benar rindu, berjumpa adalah obat terbaik tentunya..

            Yeah, di siang yang dingin ini.. ini gue doank yang ngerasa dingin apa gimana yaa, gue mau menceritakan sesuatu pada kalian tentang “everything happens for a reason”, yeah, mungkin rada random juga sih karena akan ada banyak cerita di dalamnya. ok, here we go..
            Gue termasuk golongan yang memercayai bahwa tidak ada yang kebetulah di muka bumi ini. Setiap orang yang silih berganti datang dalam hidup, tempat-tempat yang gue kunjungi, kesempatan-kesempatan yang ga akan datang dua kali, dan segala hal yang terjadi pada gue. Tinta telah kering, takdir telah tertulis dalam lauhul mahfudz. Mereka semua datang dan pergi dalam hidup gue untuk skenario terbaik dari allah ta’ala.
            Semester ini, gue pribadi menganggap bahwa libur hanyalah mitos alias gada kata libur dalam kamus gue seperti teman-teman yang lain. Paling tidak, ada 3 project besar yang allah ta’ala percayakan pada gue. Seneng iya, sedih iya. Seneng karena, i feel like really grateful to get this chance after some sacrifices i did and because of allah’s blessing. Sedih karena gue jadi jarang ketemu sama keluarga, my first and my biggest support system in ma life. Juga, rencana gue buat magang di suatu kantor jurnalistik pupus begitu aja. But, everything happens for a reason, right?
            Gue gamau sambat karena satu dua hal yang ga sesuai dengan harapan gue. Sabr and accept are the best way to face it. Untuk saat ini sih, gue masih fokus di satu project  yang inshaallah akan berakhir di tanggal 5 agustus. Habis itu ada dua project yang telah setia menunggu.
             Jujur, hal demi hal yang terjadi saat ini membuat gue semakin mantap berada di jurusan gue. Entah gimana ke depannya, tapi gue yakin, jalan yang allah ta’ala siapkan adalah yang terbaik bagi gue. Berkaca pada perjuangan butet manurung, sang pengajar sejati di pedalaman rimba, ia menginspirasi gue untuk berusaha agar tidak lelah berjuang untuk kebaikan pendidikan di indonesia. Ah, dibandingkan kegigihannya, gue merasa kayak butiran debu gitu :’) mba butet mau susah-susah masuk ke pedalaman, berada di budaya yang sangat kontras berbeda dengan kota asalnya.
            Ohya, balik ke topik segala hal terjadi untuk sebuah alasan yaa. Nah, dalam menjalani project ini gue menjadi bertemu beberapa orang baru dalam hidup. Selalu begitu, bedanya ada yang tinggal dan ada yang pergi. Tergantung gimana kita menyikapinya.
            Ini juga sih yang membuat gue semangat terlibat dalam hal-hal baru dan bertemu banyak orang baru walau pada kenyataannya gue akan gampang lelah jika harus berlama-lama berada di kerumunan banyak orang. Gue lebih seneng buat mengenal mereka secara personal. Nah, ketika kita bertemu dengan banyak orang keren dan inspiratif, kita ga bakal sombong. Di atas langit masih ada langit. Pasti akan ada orang yang lebih dari lo, entah itu dari kecerdasan, hafalan qur’an dia, atau emejingnya dia dalam hal bisnis dan membangun relasi. Terus ketika circle kita orang-orang hebat kayak gitu, inshaallah kita juga bakal terpacu untuk berkontribusi nyata dan berkarya sesuai bakat yang dimiliki.
            Itu dia kalau lo mau tau kenapa gue sering nyoba ini nyoba itu hehe. Syukur-syukur ada satu dua yang nyantol kalau itu adalah dalam hal perlombaan.  Jangan salah niat yaa gaes ketika kalian ikut suatu event, organisasi, atau volunteering cuma pengen dapet gebetan yang cakep. Ah, ini udah bukan zaman sma bruh. Coba mindsetnya diubah, kalau sekarang ngebet pacaran sama temen seorganisasi atau sefakultas atau sekampus, brati besok stuck disitu doank donk. Kayak kata tere liye, bisa jadi jodoh lo besok harusnya seganteng abang zayn malik, sholehnya kayak shyekh thah al-junayd, eeh tapi malah terlanjur pacaran, yaa wasalam dah.
            Dan jujur, ketika lo menyibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat, lo akan dengan gampang melupakan suatu kenangan yang ingin lo hapus. Yea, gue ga akan curhat, cuma ngasih tau fakta sih. Seumapa, dari sma ada satu dua kenangan yang pengen lo hapus, tapi semakin lo mengingatnya malah akan semakin teringat dan sakit. Nah ketika lo menyibukkan diri dalam kebaikan, ga bakal ada waktu dah buat mikirin begituan. Percaya dah..  gue dapet tips ini dari buku rindunya bang tere.. atau mungkin lo bisa juga melakukan kegiatan fisik kayak badminton, salto, atau kayang selama itu bikin lo bahagia dan bisa menghapus hal-hal sendu itu.
            Yaa, intinya sih gue mau bilang buat diri gue sendiri di semester depan dan kepada para pembaca yang ada di masa-masa kuliah.. manfaatkanlah waktu yang ada selama di kampus. Banyak ikut kegiatan-kegiatan bermanfaat yang bisa melejitkan potensi, ga usah takut orang lain ngomong apa tentang kita, selama pilihan yang kita pilih itu baik. Terus berusaha memberikan yang terbaik dan selalu berpikir positif, tidak hanya untuk sebuah gelar namun untuk pengalaman-pengalaman yang akan mengantarkan pada kedewasaan dan menuju diri yang lebih baik pada akhirnya. Sekian, mohon doa terbaik temen-temen agar beberapa project gue berjalan lancar dan berbuah kebaikan yaa..  ohya, also, i wanna thankyou for my partner akhir-akhir ini yang sering menemani, buat mba daisy, aini, mba desi, mas garin, mas haikal, juga pak djatmiko, terimakasih yaa sudah mau berjuang bersama, soal hasil itu nanti, yang terpenting adalah ikhtiar kita untuk menuju kesana :)) syukron, jazakumullah khoir

Romantisme di Bumi Allah; Karanganyar dan Jogjakarta


            Akhir-akhir ini udara terasa dingin betul. Kota solo yang biasanya panas menyengat, kini perlahan mulai menunjukkan perubahannya. Hmm, yang penting sih udara aja yang dingin, jangan sampai sikap kita ke orang-orang juga dingin, hehe.
            Gaes pada postingan kali ini gue pengen cerita ke kalian tentang dua perjalanan yang amat sangat berbeda. Sebuah perjalanan di bumi allah ta’ala dengan segala keunikan dan kisah tersendiri. Dengan bersama sobat atau orang yang bersedia meluangkan waktu berharganya hanya untuk mendengarkan keluh kesah atau menghabiskan segelas cocktail halal di kaki pegunungan.
            Akhir-akhir ini gue banyak melangkah daripada cuma gabut di kost doank. Destinasi yang gue kunjungi pun beragam. Mm, tapi fokus pada tulisan kali ini 2 aja yaa.. gue bakal bercerita mengenai perjalanan gue menjelajahi bumi allah ta’ala yaitu di karanganyar dan jogja istimewa!
            Tepat pada hari kamis lalu, sesuai rencana gue dan sohib, setelah riweuh persiapan visitasi prodi untuk akreditasi internasional, kami ingin melepas penat dengan melakukan rihlah di alam terbuka. Iyaa, jadi prodi pendidikan luar biasa universitas sebelas maret surakarta, alhamdulillah mendapat kesempatan untuk menjadi prodi berkelas internasional, maka ada yang namanya aun-qa. nah disitu ada beberapa mahasiswa yang dipercaya buat bantu menyukseskan akreditasi ini, gue dan sohib masuk ke dalemnya. Disini kami benar-benar bekerja keras entah itu buat translate, urus web, atau begadang buat ngejar deadline. Gue dan ili terkadang juga pergi ke kedai kopi buat menyelesaikan amanah bareng dengan suasana yang cozy, seperti biasa kesukaannya adalah latte sementara gue selalu setia dengan green tea.. dan inshaallah bulan depan adalah pengumuman apakah prodi kami lulus akreditasi internasional atau ga, mohon doa terbaik yaa dari kawan-kawan semua.
Back to cerita rihlah.. Gue sendiri sih lebih seneng pergi ke tempat-tempat wisata yang berbau alam gitu daripada ke mall. Yaa, salah satu alasannya, kalau ke mall budget yang dikeluarkan pasti lebih dan itu semua kayak feel nya kurang gitu dan yaah hal terseram adalah ketika lo kalap pas liat diskonan dan ga sadar uang bulanan sisa dikit cuma karena buat beli sesuatu yang harusnya gausah dibeli.
            So, me and my bestie, ili, pergi ke suatu wisata alam di karanganyar. Sebenernya ada teteh lany juga yang mau ikut, eh tapi doi udah duluan balik ke bogor. Yauda yaa teh cukup puas-puasin aja liat foto kita :p wkk.. nah, gue dan ili memutuskan untuk pergi ke rumah atsiri karanganyar. Ini tuh semacam tempat penyulingan daun-daun bermujarab buat dijadikan essential oil, disini juga zero waste banget. ramah lingkungan. Daaann the most lovely thing i found adalah banyak bunga-bunga cantik disini!! Banyak juga tanaman-tanaman yang aneh-aneh dengan aroma yang berbeda. Gue sih yang kepo, suka pegang-pegang sembarang tanaman, jadinya tangan gue saat itu baunya campur aduk tak terdefiniskan, ehe.. and here some photos that probably please us

disini buanyak bunga lucuuu

beautiful roses, right?

bisa buat jamu, gue lupa namanya

hi, it's me

say hi to ili and also ladybug!

            Setelah tour dan jeprat jepret sana-sini, kami rada tepar. Adzan dhuhur terdengar, kami putuskan untuk break terlebih dahulu. Usai dhuhur, kami tour ke tempat souvenir. Yaa liat-liat doank sih wkk, i  don’t buy anything because no one that really attract me..  kayak gini nih yang beberapa yang dijual



               setelah itu, kami mampir ke cafetaria dengan memesan 2 gelas cocktail (we know it’s halal because the ingredients has written, no alcohol inside). 
it's pretty fresh!!

Tapi menengok harga makanan yang ga bersahabat dengan kantong mahasiswa, kami urung melepas lapar disitu. Alhasil, pulangnya masih mampir ke warteg buat beli sate kelinci wkk..
penampakan si sate

            Nah gaes kan saat itu waktu ashar hampir tiba yaa. Kami putuskan untuk mampir di masjid pinggir jalan setelah makan sate. Eehh, pas parkir dan liat papan di depannya, terpampang jelas kalau tempat tersebut bukan hanya masjid doank, tapi kami ada di ponpes isy karima, aaaa gue saat itu seneng bangeeettt terhura juga eeh terharu maksudnya!!
            Kami masuk ke dalamnya. terasa sejuk dan menenangkan. ashar pun tiba, adzan nan merdu berkumandang. Diam sejenak untuk mendengar dan menjawab adzan, dilanjut dengan melangitkan doa terbaik. Suasana pesantren ketika itu ga begitu ramai, karena sebelumnya gue liat banyak yang bawa koper dan kayak mau liburan gitu, mungkin emang jadwal liburan kali yaa..
ketika di dalam masjid 

           
Sembari menunggu ili selesai berdoa, gue membuka buku karya ustadz felix siauw yang gue bawa dan berusaha membaca. Ah, tapi konsentrasi gue buyar, gabisa fokus. Gue memandang lurus ke arah jendela yang disuguhkan dengan pemandangan indah disana. Ingatan gue melayang, pada keinginan terpendam yang udah ada sejak lama. Hati gue kayak berteriak “i belong to be in a place like here. I deserve!” dan lagi, mata gue berkaca. Air mata gue tumpah. Dulu flashback karena liat negeri 5 menara yang mengambil setting di gontor, sekarang gue dengan nyata ada langsung di pondok tahfidz yang cukup terkenal disini. Dan yaa, gue baper. Huhu, sebuah harapan yang tak sampai namun tak membuat apa yang gue semogakan terhenti hanya karena adanya perbedaan pendapat dengan orangtua. Semoga, kelak akan ada yang mewariskan cita-cita ibunya yang dulu tidak bisa terealisasikan :’)
            Udah ah, gue nulisnya jadi kebayang 1 tahun yang lalu. Nah, nah.. rihlah di karanganyar ini berkesan banget buat gue! Yaa sampai-sampai kami datang terlalu gasik sebelum jam buka wkk, dan suatu bonus gue bisa main ke pesantren tanpa sengaja, memanjatkan sebuah harapan terbesar pada allah ta’ala di dalamnya.
            terus gaes, ahadnya gue ke jogja dalam acara sebuah yayasan. Gini, yayasan ini berpusat di sleman, diy. sementara di solo, ada cabangnya yang baru aja dirintis sekitar satu tahun yang lalu. Nama yayasannya adalah senyum kita, fokus pada pemberdayaan pendidikan bagi anak yatim dhuafa, juga penyandang difabel. Gue pengen belajar di dalamnya, maka gue putuskan untuk ikut ke jogja pada ahad kemarin.
            Awalnya kami putuskan untuk naik kereta, qodarullah malah kehabisan tiket. Maka terpaksa kami naik bus. Yaa rabb, rasanya naik bus itu hhhh. Nano nano! Ketika itu bus penuh, gue, riska, dan mba hana ada di deket pintu. Ini awal kalinya gue berdesak-desakan seperti itu di angkutan umum, alhamdulillah ketika itu di sekitar gue adalah perempuan. Kecuali pak kernet yang setia ada di deket pintu bus. Perjuangan banget dah naik bus gitu, hiks.. alhamdulillah, bus mulai sedikit lengang ketika sampai di terminal tirtonadi, sebagian besar penumpang turun, gue dkk bisa dapet tempat duduk, yeaay! Sesampainya di jogja kami menghela napas lega dan langsung gas ke sekre senyum kita. Disana kami bertemu dan berdiskusi dengan mas arif, selaku koor senyum kita di jogja. Inspiratif dan menarik walau maap nih di tengah-tengah membuat notulensi gue ngantuk berat dan bayangan mas arif yang masih menjelaskan panjang lebar mulai terlihat burem dan saat itu juga, door! Mas arif bilang “gimana, zalfaa mudeng ga?” haaah apa? Apa? Pie? Batin gue dalam hati wkk.. tapi dikit-dikit nyantol juga kok apa yang beliau katakan, maka manggut-manggut adalah jawaban terbaik..
            Usai kami berdikusi dan membahas beberapa program kerja, kami putuskan untuk pulang. Daan yeaa, gue harus siap sedia dengan bayangan bus yang penuh sesak. Tapi, ga boleh manja! Hidup itu ga selalu dalam comfort zone.. jadi ya nikmati ajalah
di jogja ga sempet jeprat-jepret, yauda foto botol minum gue aja hari itu hehe

            Kami pun pergi ke terminal dengan memesan grab car. Sesampainya di terminal kami makan dulu. Nah disinilah kebiasaan gue muncul. Gue kan termasuk orang yang lebih suka diam dan mengamati yaa daripada menjadi the center of attention. Selama makan, gue mengamati keadaan di sekitar terminal. Yaa rabb, keadaan yang gapernah gue bayangkan ternyata memang betul ada. Saat di terminal gue liat, ada kakek-kakek udah sepuh gitu, kelopak matanya menghitam, tanda kurang tidur, namun beliau tetap terjaga dan menjaga staminanya untuk bekerja di terminal entah sebagai supir atau kernet. Hei kakek, bukankah seharusnya masa senjamu kau nikmati saja dengan bersantai atau bercanda ria dengan cucu-cucu mu yang menggemaskan? Dan lihat para pedagang asongan, kesana-kemari mereka menawarkan dagangannya, aah penghasilan yang tak seberapa itu, namun waktu yang terkuras sangat lah banyak. Meninggalkan anak istri di rumah. Belum lagi respon para manusia yang tidak memanusiakan manusia. Dan lihat, ada serombongan keluarga, terlihat lelah dan sedikit cemas.

            Sisi lain kehidupan yang baru ku ketahui. Bersyukurlah kamu apabila sekarang tinggal di tempat yang nyaman, makan selalu tersedia, dan tidak terbebani hal-hal seperti orang-orang terminal. Ahh, rasanya hatiku sedikit gerimis menyaksikan itu semua.. alhamdulillah ketika pulang, gue dkk dapet bus yang lengang, ber ac juga, ga desak-desakan. Sepanjang perjalanan riska dan mba hana banyak bercerita panjang lebar. Gue lebih banyak mendengarkan, sesekali menanggapi atau tersenyum.
            Namun saat itu pula, gue merasa ga nyaman. Dimana di dalem bus diputar musik yang tidak mendidik dengan video yang kurang pantas menurut gue. Berisik euy! Namun suasana menjadi sedikit terbantu ketika mba hana bercerita track and recordnya selama mengikuti ukm univ bernama ilmu qur’an. Disana ia bercerita, bahwa banyak teman-teman yang sudah hafidz-hafidzah, ia pun termotivasi. Riska yang juga ikut ukm tersebut, menambahkan beberapa cerita. Gue yang mendengarkan menjadi termotivasi dengan beberapa cerita dari mba hana untuk terus menghafal walau ga hafal-hafal :’). Sampai kami membahas masjid kampus juga, gue nyeletuk “ah iya, imam di masjid nurul huda (nama masjid kampus) emang bagus-bagus yaa (suaranya)..” riska tersenyum dan menjawab “mau satu zal?” gue mengerutkan dahi “hah?”
Riska tertawa lepas dan gue ngerti maksud terselubungnya. “engga ris, ga pantes lah!” gue tau diri dan ingin menimpuknya dengan tas yang gue bawa tapi jangan lah ntar nangis lagi hehehe.. “yaa gapapa kali, ntar malah dibimbing gitu.” gue ga kalah jahil, maka gue bales “hmm, ya kalau gitu mah, w siap untuk dibimbing” kami pun tertawa..
            Sesampainya di uns lumayan malem. Kami segera ke kost masing-masing. Di kost gue sebenernya pengen nulis langsung tapi mata gabisa diajak kompromi sebelum akhirnya gue jatuh tertidur. Gue pengen menggarisbawahi 2 perjalanan yang amat sangat berbeda gaes. di karanganyar, gue bener-bener merasa enjoy dan nyaman, ditambah sarana dan prasarana yang lebih mudah. Saat berwisata ke karanganyar pula, banyak gue temui orang-orang berpenampilan nyentrik dengan kamera yang dibopong seperti turis-turis yang menikmati liburannya. Semua berpakaian bagus dengan kendaraan yang nyaman. Namun ketika gue pergi ke jogja, gue melihat sisi lain dari kehidupan. Dari awal berangkat aja bener-bener butuh perjuangan lebih, terus melihat orang-orang yang tidak seberuntung orang-orang pada umumnya. Maka benarlah kalau kita hidup di dunia ini harusnya woles aja.
            Yep, act like u’re a musafir.. iyaa, kita ini sebenernya kan musafir di dunia. Kalau dikasih kelebihan sama allah ta’ala entah dari segi materi, fisik, atau kecerdasan yaa disyukuri dan jangan berlaku sombong. Pun kalau dalam keadaan kurang dari segi materi, fisik pas-pasan, tidak fasih dalam berbicara, mau pun hal yang lain yaa sabar aja, malah besok hisabnya ga berat, asalkan kaya hati juga qona’ah, tak usah ambil pusing lah karena itu. Inget kan kampung abadi kita sebenernya di akhirat, hakikat dunia itu adalah untuk persiapan.. iya, persiapan dalam mempersiapkan bekal ke akhirat. Selfreminder juga nih buat gue..
            Kadang gue cemburu pada mereka yang di dunia low profil, ga keliatan orang wow, seolah-olah dia ga punya efek apa pun terhadap dunia. Ah, tapi sayang, manusia hanya menilai dari segi yang terlihat, ia lupa bisa jadi orang itu diam-diam pada sepertiga malam bersimpuh berdoa memohon ampun pada allah ta’ala, bisa jadi diam-diam ia sering bersedekah walau uangnya pas-pasan. Dia memang tidak populer di kalangan manusia tapi mungkin penduduk langit mengenalnya secara baik. Aku cemburu.. seperti kisah uwais al qarni yang ketika hidup dipandang sebelah mata namun ketika hari wafatnya menggemparkan penduduk yaman karena begitu banyaknya orang asing tak dikenal yang membantu mengurus sang jenazah. Terberkahilah orang-orang seperti itu! tolong kalau kamu salah satu orang seperti uwais, ajari aku bagaimana caranya! Agar fatamorgana dunia tidak menipuku dan aku tidak silau terhadap gemerlap dunia, ingatkan aku bahwa yang abadi adalah akhirat, begitulah romantisme di bumi Allah ta'ala yang gue ceritakan, akan indah apabila kita memahami dan saling mengerti satu sama lain ditambah rasa syukur dari hati yang qana'ah dan mengagumi betapa Allah ta'ala sangat sayang pada kita, Allah ta'ala menciptkan pemandangan nan elok yang sedap dipandang mata.. ah, alam tak kalah romantis bukan kala memanjakan mata kita.. Sekian..

Menuju Perayaan Cinta

Menuju Perayaan Cinta


            Holahola gaes! apa kabar? Semoga sehat selalu dan dalam naungan rahmat allah ta’ala yaak! Sekian lama gue ga nulis personal life kayak gini. Eh bentar boleh cerita sebentar ga, gue rada sedih nih.. masa capslock di laptop gue ga berfungsi sama sekali, hiks. Jadi maapkeun yak kalau ada eyd yang salah. Ini beberapa huruf bisa kapital karena gue harus menekan tombol ctrl+shif+A secara bersamaan kalau pas rajin mwehehe, jadinya bisa huruf gede..
            Langsung aja deh yaa. Gue sedang naksir nih sama... sama apa hayoo wkk. cuman gimana yaa, rasanya hati gue bahagia ketika bertemu, yaitu bertemu dengan suatu gagasan yang menurut gue cukup cakep. Catet yaa, gue naksir sama suatu pemikiran dari tulisan yang gue baca. So, let’s begin!
            Adalah soal pacaran. Apalagi di masa-masa kuliah kayak gini. Seolah-olah adalah hal yang emang wajar dan terlihat menyenangkan ketika dipandang. Coba lihat, sepasang muda-mudi yang duduk berdua di taman, beralaskan tikar kredit yang baru saja dibeli, makan es krim berdua dengan saling bersuapan satu sama lain. Sesekali, apabila ada es krim tercecer di mulut, sang pasangan akan dengan sigap mengelapnya. Atau lihat ketika pergi ke mall bagian foodcourt, sepasang kekasih yang palingan cuma beli es krim mcd, beuuh tapi waktu makannya bisa berjam-jam padahal banyak yang ngantri duduk.
            See?
            Lalu bagaimana perspektif gue menghadapi hal ini? Pengen kah? Ngeri kah? Pengen guling-guling kah?
Love Roses
source : lovethispic
            Ehem, jadi gini..
            Mungkin deskripsi singkat yang gue jabarkan di atas adalah realita yang terjadi sekarang. Melalui kontemplasi setelah membaca, tetep gue mah ga pengen karena gue yakin pacaran gue bakal lebih romantis kelak!
            Akan ada seseorang yang gugup sekali bilang suka, gemetaran hebat ketika akan mengatakannya. Mulutnya kaku, sulit mengucap. Keringatnya bercucuran kayak habis melakukan salto, kayang 100x. Tapi gaes, sekali dia bilang suka, dia langsung bawa rombongan keluarga. Tsaahh!!
            That’s the point!
            Ibaratnya merayakan cinta itu kayak puasa. Kayaknya pernah gue tulis juga deh. Misal, lo puasa tapi jam 12 denger adzan pengen ikut-ikut kayak adek lo, buka di siang bolong. Nah pas adzan maghrib, apakah nikmatnya sama dengan orang yang mampu menahan lapar, haus selama dari terbit fajar hingga adzan maghrib berkumandang? Tentu berbeda bukan?
            Nah sama aja kayak orang yang dengan mudahnya memberikan hati pada banyak orang. Sekarang, bilang suka sama si a, eh baru 3 bulan bosen, terus putus. Cari yang lain, bilang suka lagi, bosen, putus. Cari yang lain. Gitu terus siklusnya. Sampai pada titik dimana menggombali lawan jenis yang bukan mahram adalah hal yang biasa, pegangan tangan setiap hari, berduaan udah biasa. Dan gawatnya itu semua dilakukan before married gaes! yuup, belum menikah tapi udah merayakan cinta terlebih dahulu. Nahloh, kalau pas nikah kan malah hambar rasanya. Karena pegangan tangan udah biasa, ngegombal udah biasa, jadi yaa feelnya ga se-excited jomblo fii sabilillah yang gapernah pacaran sebelum nikah.
            Pun, ketika pacaran. Apakah allah suka? Meski pun terlihat wajar pada sebagian banyak orang namun tetep aja kita gabisa melakukan hal yang tidak disukai allah. Kata penulis favorit gue sih, niat yang baik haruslah dibarengi pula dengan cara yang baik. Gitu..
            So, jauhi pacaran yaa..
            Tapi zaa, gue kan masih di semester 2 dan rasa cinta gue sama doi tak terbendung bagaikan aliran deras samudra?
            Hmm, gitu yaa. Lu lebay banget sih! Yaa tahan dulu lah.. gue ga menyarankan yaa kalau lo belum siap ilmu agama, niat nikah yang belum lurus, dan juga finansial yang pas-pasan buat cepet-cepet nikah. Kata rasul mah, puasa aja dulu kalau belum mampu menikah karena gue cukup prihatin sih sama akun-akun yang menggemborkan buat cepet-cepet nikah tanpa memperhatikan aspek-aspek vital ke depannya. Well, hidup harus realistis. Sebelum nikah, tanyakan pada diri, apakah memang benar-benar sudah siap secara keseluruhan? Tanya pada tuan nyonya besar eh maksud gue ayah ibu, apakah mereka pikir kita sudah pantas untuk menikah? Jika 2 poin itu positif ada di diri lo, ya sok atuh kalau mau nikah..
            mmm, tapi kalau gue pribadi yaa, yang sekarang duduk di semester 2, dimana emang ada temen gue yang udah nikah dan gue diundang, pas dateng gue ngajak ibu sama adek karena ga ada gandengan, eeh kok malah cerita ini. Skip. Gini, gini, kalau gue pribadi gue tidak akan menikah di waktu yang dekat ini, dalam life plan yang gue buat gue udah menargetkan umur sekian untuk menikah dengan kriteria calon yang spesifik versi gue.
            Tapi, di sisi lain, bukan berarti gue ga menaruh peduli sama sekali tentang fiqh munakahat karena orientasi gue menikah adalah mukadimah dalam mendidik anak. yaa, gue gabisa donk egois, memikirkan kesenangan gue aja dalam memilih si dia kelak. Bukan hanya karena cakep atau tajir, but it’s more than that. Gue sih lebih butuh laki-laki yang bertanggungjawab dan mampu menjadi seorang ayah yang baik kelak. Ohya, saleh! Itu poin yang penting buanget. Tentunya, bervisi misi sama kayak gue juga. Karena nikah itu ga cuman sekedar nikah tapi ada visi misi yang harus diraih juga, biar ke depannya ada target-target yang akan dicapai bersama.
            Nah maka dari itu, walau gue ga pengen nikah cepet-cepet atau dalam waktu dekat ini, bukan berarti gue lepas tanggung jawab dalam mempersiapkan hal-hal tersebut karena mindset nya kalau begitu terus gabakal berkembang. Yaa, lo akan merasa kayak lepas tanggungjawab gitu. berbeda kalau dari sekarang kalau kita udah mikir “ohya, gue besok bakal nikah, terus akan jadi ibu/ayah, kalau punya anak pengen mereka jadi sholih sholihah, penyejuk mata, berwawasan luas, dan hafidz hafidzah qur’an” nah kalau udah ada goals yang di setting, tentu dari sekarang kita harus mulai persiapan.
            Ingaaattt!!! Mempersiapkan bukan berarti pengen cepet-cepet nikah yaa.. udah sih, itu yang pengen gue tulis hehe. Nulis beginian karena efek masih syawal dimana salah satu dosen gue menyarankan untuk cari pendamping hidup yang merupakan salah satu syarat kalau gue pengen mengikuti suatu course di uea wkk. Terima mundur lah saya pak. Dan ketika nyonya besar mengatakan senjata andalannya ketika gue mager ngapa-ngapain “hmm, besok kan kamu juga bakal nikah, mbok yang rajin lho yoo” satu lagi, gue yakin pacaran gue akan lebih romantis! Iyaa, pacaran setelah nikah. Dah yaa, bye mbloo..