Zuhud itu Keren

Zuhud itu Keren

Assalamu’alaikum teman-teman. Happy Friday Mubarak to all my Muslim friends. Jangan lupa baca Surah Al Kahfi ya saat hari Jum’at. By the way, gue ada rencana jadi setiap hari Jum’at gue akan bikin postingan tentang ilmu agama. Di sini gue sama sekali nggak bermaksud untuk menggurui, kan sesama Muslim harus saling mengingatkan bukan? Maka dari itu gue berusaha membagi ilmu agama yang gue tau. Gue juga masih perlu banyak belajar kok.
Kali ini gue akan bahas tentang zuhud? Anyone know it? Zuhud sendiri bisa diartikan meninggalkan hal-hal yang nggak penting di akhirat. Jadi orang yang berzuhud benar-benar sadar kalo hidup di dunia ini cuma sementara. Gue pernah baca kalo hidup di dunia ini kalo dihitung pake waktu akhirat cuma 1,5 jam. Padahal di akhirat itu abadi banget lho.
Di akhirat ada dua tempat kembali yakni surga dan neraka. Tentu surga sangat didamba-dambakan semua orang, including me. Kalo mau masuk ke surga ya ayo dong salah satunya dengan menjadi orang yang zuhud. Di surga, akan banyak kenikmatan abadi yang kita dapat. Bahkan jika kita menempati surga yang paling tinggi, kita akan bisa bertemu dengan Allah dan Rasulullah. Subhanallah, gue kepengen banget bisa kayak gitu. Kedua ada neraka. Kalo lo denger “neraka” pasti lo udah ngerasa ngeri gitu kan? Iyep, gue juga. Coba bayangkan sebentar jika tempat kembali neraka yang dituju pastilah akan sangat rugi. Bahkan menurut salah satu hadis kalo siksa yang paling ringan di neraka yaitu seseorang akan diberi sandal yang sangat amat panas sehingga otaknya mendidih. What a miserable!
Nah jadi udah tau kan gambaran tempat kembali kita besok? Kan kita adalah milik Allah dan hanya kepadaNya lah kita juga akan kembali. Gue ngerasa hati gue kayak ketendang gitu saat gue mendengar lagu berjudul “Sepohon Kayu” ada lirik yang berbunyi “Hidup di kubur yatim piatu tinggalah seorang dipukul di palu.” Nah arti dari lirik itu menurut gue di hari akhir kita akan dihisab maksudnya amal kita akan ditimbang mana yang lebih berat. Jika amal baik kita lebih berat kita akan masuk surga. Jika amal buruk yang berat, masuk ke dalam neraka. Gue jadi ngebayangin besok, kelak gue akan ada di hari penghakiman dimana kesalahan-kesalahan yang gue perbuat akan ditampilkan. Tentu jika tidak mulai sekarang, kita akan menyesal di kemudian hari.
Emang zuhud itu susah-susah gampang mraktekinnya. Gue juga masih dalam proses untuk menjadi orang yang zuhud. Zuhud biasanya selalu sederhana dalam apapun. Memang sederhana itu indah. Gue bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan gue. Gue belum siap kalo seumpama gue dipanggil sama Yang Maha Kuasa.
Gue mulai merenungkan hal ini setelah minta lagu-lagu Islami dari nyokap gue. Setelah gue ngedengerin “Sepohon Kayu” sama “Ya Rasulullah” gue merasa malu. Pertama gue belum ada persiapan yang matang jika sewaktu-waktu dipanggil Allah. Kematian pasti akan datang guys, tapi kita nggak tahu. Ada lirik “Hidup di dunia tiada berarti, akhirat di sana sangatlah rugi.” Setelah mendengar lirik itu, gue sadar hidup di dunia hanya sementara. Kehidupan akhir kita ada di akhirat. Kedua, pernah nggak lo mikir tentang junjungan kita Nabi Muhammad SAW? Sebelum gue denger lagu ini, gue sama sekali nggak pernah merenung tentang hal ini. Yang ada gue malah mikirin pemain bola yang gue kagumi. Kita sebagai kaum Muslim sangat salah, jika mengidolakan orang sampai tergila-gila. Seharusnya kita mengagumi sosok Nabi Muhammad SAW. Beliau berakhlak mulia. Bahkan saat gue denger suara merdu almarhum Ustad Jeffri, gue bisa merasakan betapa berharapnya beliau bertemu Baginda Rasul. Bahkan saat gue dapet broadcast BBM ada sebuah cerita saat itu Rasulullah akan menemui sakaratul mautnya. Datanglah Malaikat Izrail, malaikat penyabut nyawa dan Malaikan Jibril. Saat itu Malaikan Izrail mencabut nyawa Rasulullah, Malaikat Jibril tidak kuasa melihatnya sehingga Rasulullah berkata “Wahai Jibril, mengapa engkau memalingkan wajahmu? Apakah engkau jijik melihatku?” tanya Baginda Rasul. “Tidak, aku tidak kuasa melihat utusan Allah menderita seperti ini.” Jawab Malaikat Jibril. Lo tau kan betapa pedihnya sakaratul maut. Nabi pun menjawab “Biarkanlah aku yang menanggung penderitaan seperti ini, jangan sampai umatku yang menanggungnya.”
Subhanallah, lo tau kan kalo Rasulullah bener-bener mencintai kita. Tapi apakah kita sudah mencintainya? Mari kawan, di hari Jum’at ini perbanyaklah sholawat untuk Nabi Muhammad SAW. Ada baiknya jika dalam sehari kita bisa membaca sholawat seratus kali. 70 akan diberi kemudahan Allah di akhirat dan 30nya akan diberi kemudahan di dunia ini. Dengan itu saat di hari akhir kelak, Rasulullah lah yang akan memberi kita syafaat. Semoga kita bisa mendapat syafaat itu yak.

Nah begitulah guys tentang zuhud. Jangan sampai lo tertipu nikmatnya dunia ini. Ingatlah itu hanya tipu daya setan, ia mencari teman untuk menghuni neraka. Hidup di dunia ini ibarat orang yang mampir minum saat dalam bepergian. Sebentar banget kan? Semoga bermanfaat ya. Wassalamu’alaikum! J

Review 04 : Bersamamu by Sienta Sasika Novel


Judul : Bersamamu
Penulis : Sienta Sasika Novel
Penerbit : Grasindo
Genre : Romance
Terbit : 2014
Halaman : 240
ISBN : 978-602-251-774-0
“Cintailah dia dengan cara yang sempurna, meski dia yang kamu cintai tak lagi sempurna.”
“Mas takut akan melupakan kamu...,” ucapnya menahan napas di tenggorokan, terasa sesak dan mencekik. Laki-laki itu bukan menangis karena takdirnya, tapi menangis karena takut akan melupakan istrinya. Di saat seperti ini pun Rama masih saja memikirkannya. Hana dan Rama saling jatuh cinta lalu menikah dan bersama selamanya-IN THE END?
Tidak!
Pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan cinta.
Pernikahan adalah awal dari pembuktian cinta yang sesungguhnya.

Oke kali ini gue akan bahas novel yang baru aja gue baca. Judulnya Bersamamu. Sebelum novel ini dateng ke rumah gue, gue kira novel ini tokohnya para remaja-remaja yang sering berdoa supaya malem minggu hujan. Tapi ternyata gue salah, novel ini tokohnya udah pada menikah. Tapi serius guys setelah gue baca ini, hmm agak malu mengakuinya gue gagal membentengi air mata supaya nggak jatuh. Ya gimana lagi kalo ceritanya nyesek tapi banyak banget hikmah yang bisa gue ambil setelah baca Bersamamu.
Alurnya mengalir dan gue entah kenapa bisa seperti merasakan apa yang dirasakan tokoh di dalam novel ini. Alurnya jelas, bahkan gue berasa nonton film gratisan. Tokoh-tokoh dalam novel berhasil dibuat hidup oleh mbak Sienta. Penguraian kisah yang ada mampu mengaduk-aduk emosi para pembaca, termasuk gue juga sih. Setiap konflik yang ada mampu memberi amanat yang berharga.
Memang di dunia ini tidak ada yang sempurna kan? Novel Bersamamu ini sebenernya udah bagus, pake banget malah. Tapi kekurangannya masih ada typo. Gue tau jadi editor itu nggak gampang, jadi gue maklumlah. Gue aja pernah ngebayangin kalo seandainya gue jadi editor hmm susah ya. Editor dituntut mampu mengedit naskah para penulis supaya menjadi apik. Kalo enggak ya nanti yang disalahin editor. Eh kok malah jadi curcol gini sih. Tapi typo di sini nggak terlalu banyak kok. Seperti kesalahan pada halaman 31 kata “bekeja” kurang r dan masih ada di halaman lainnya. Dan typo yang gue temui ya gitu-gitu, pasti kurang satu huruf. Tapi, novelnya teteup keren bangett!
Kutipan yang paling gue suka ada di halaman 41 :
“Kalau perempuan tidak mau ke dapur, jangan salahkan suamimu kalau nanti ada dapur lain untuknya.”
Jadi gini guys setelah gue baca sampe habis ada pelajaran yang amat sangat berharga yang gue dapetin. Jujur aja gue cuma bisa masak mi instan sama telur. Yang paling gampang roti bakar ya iyalah tinggal masukin terus nunggu mateng. Nah nanti gimana dong seandainya kelak gue cuma bisa masak gitu-gitu aja. Gue mau jadi perempuan yang bertanggung jawab dan terampil gitu. Ah pokoknya setelah UN gue pengen diajarin masak sama nyokap gue.
Pesan terdalam yang bisa gue ambil yaitu cintailah seseorang kalo lo udah ada ikatan sama dia (nikah). I mean, di novel ini ada suatu bab yang menceritakan kalo Hana yang udah nikah hampir aja balikan sama mantannya, maaf spoiler dikit yak. Nah ngeri kan. Kisah selanjutnya mending lo baca sendiri deh. Nah itu adalah salah satu alasan gue kenapa gue sangat menghindari pacaran. Gue nggak mau cinta gue terbagi-bagi buat mantan. Kan mengenaskan kalo seumpama ada mantan yang dateng ke acara pernikahan dan nangis sesenggukan karena nggak ikhlas. No way! Gue pengen hati gue, gue jaga hanya untuk satu orang yang kelak akan menjadi imam gue. Gue percaya cinta yang suci dan tulus akan mendapat kebahagiaan dari Allah. Jadi buat para single harusnya kalian bersyukur karena nggak akan ada kata galau, sakit hati, cemburu, duit habis buat traktir pacarlah. Nikmati hidup ini dan jagalah hati lo buat mencintai satu orang saja “kelak” pas udah waktunya.
Ah, novel ini juga memperingatkan gue kalo “besok” udah nikah ya setia dong. Jaga perasaan pasangan meskipun dia tak lagi sempurna. Cinta bisa menjadi sempurna saat kita mengerti satu sama lain. BIG thanks buat mbak Sienta yang memberi pesan teramat dalam. Makasih juga tanda tangannya. Ah recommended banget nih novelnya! Satu kata untuk Bersamamu “INCREDIBLE”

Read from February 21 to 24, 2015.
3,9 of 5 stars.


Mix Feeling

Mix Feeling

            Februari ini bulan yang manis tapi juga rada kacau menurut gue. Gue baru kehilangan nih guys. Kehilangan yang meninggalkan luka teramat dalam (halah apaan ini). Banyak kejadian-kejadian yang nggak gue duga. Bisa kejadian yang bikin gue kegirangan ada juga yang bikin gue nggak semangat dan lemes di tempat. So lirik Taylor Swift yang happy, free, confused, lonely at the same time gue rasain kali ini.
            Gue happy karena masih ada efek yang membekas ketika dimention bang Dika. Setelah gue dimention bang Dika di sekolah banyak temen-temen gue yang ngasih ucapan selamat. Gue mikir ini bukan mantenan tapi kok ada selamat-selamatan ya. Entah deh. Nah gue juga tertawa sambil loncat-loncat saat mengetahui John Green juga membalas mention gue. John Green gaaeeess.. You know him kan? Itu lho International Best Seller Author. Gue suka sama novel-novelnya. Daann gue seneng banget akhirnya Paper Towns akan difilmkan. Kalo nggak salah Juni akan rilis, tapi nggak tau kapan di Indonesia. Nah pada saat itu John Grren ngetweet tentang film Paper Towns gue pun me-reply tweetnya. Dan keesokan harinya saat gue buka tab mention gue seneng pake banget banget banget. Bangetnya kebanyakan ya? Iyeaaahh John Green reply my mention! Oh my gue nggak nyangka dan nggak percaya. Tapi ini bener-bener manis banget. Seorang John Green yang gue kagumi tulisannya menjawab mention gue. Arghh thank Allah, dalam bulan ini ada dua akun twitter yang ada tanda centang birunya mau bales mention gue. Hehe you’re so kinda!
            Gue ngerasa free karena entah kenapa di bulan Februari ini gue enjoy melakukan apa pun. Misalkan ada tugas tapi gue belum selesai. Untungnya temen gue ada yang baik hati dan tidak sombong yang mau nolong gue. Tapi sebisa mungkin gue selesein. Gue bener-bener menikmati Februari ini.
            Yep gue confused karena gue kehilangan HP gue. Nyesek banget guys. HP lhoo. Salah satu barang yang gue anggap penting. Saat itu HP gue dalam keadaan baterai habis. Gue coba charger tapi nggak bisa masuk dan HP gue nggak mau hidup! Gue panik banget. Gue pun tanya mbah Google kenapa HP gue kayak gini. Katanya kalo nggak salah HP gue mengalami booting. Gue coba trik yang ada tapi hasilnya nihil. Gue coba ke tempat servis HP. Gue pun menunggu hasil vonis sang mas-mas penjaga konter servis HP itu. Gue berdoa supaya HP gue terselamatkan. Saat kata-kata akan terucap dari mas-mas itu suasana seperti di sinetron-sinetron. Tegang. Innalilahi HP gue nggak terselamatkan. Hati gue berasa galau. Setelah sampe rumah gue buka lalu gue ambil memory card sama SIMnya. Gue geletakin aja di sembarang tempat. Tapi ternyata oh ternyata saat gue berniat memasukkan SIM ke HP baru gue. SIMnya ilang. Duh, what’s the next? Gue cari ke mana-mana sampe ke kolong tempat tidur dan tempat lainnya. Tapi nggak ada. Gue sempet curiga kalo SIM card gue ketelen adek gue. Huft, mau nggak mau harus gue ikhlasin kepergian SIM card gue. HP baru gue ini cuma HP yang sangat sederhana pemberian ortu, ya buat pegangan ajalah. Nyokap gue menawari gue untuk segera mengganti dengan yang baru dan sesuai keinginan gue. Tapi gue pengen mandiri. Gue menolaknya dan gue berniat menabung untuk membeli HP baru yang benar-benar gue inginkan. Latihan mandiri sedikitlah~ jadi ya udah ortu gue kasih HP sederhana ini. Lagi-lagi gue confused karena saat try out kemarin nilai gue bikin gue guling depan guling belakang. And math look like would kill me! Lagi-lagi biang keroknya matematika. Nilai tertinggi gue saat itu bahasa Inggris. Lumayan membantu.
            Nah gue lonely ya karena nggak ada HP lama gue. Di sana banyak kenangan-kenangan indah yang menyenangkan. Memo yang penting. Gue juga belum kabarin temen baik gue. Buat lo Jrah, kalo lo baca postinga ini, maaf ya gue nggak bales pesen-pesen lo. Bukan berarti gue nggak mau tapi karena HP gue hmm mati. DM gue ya buat tau no HP gue yang baru. HP yang dulu musiknya udah gue pilih sesuai selera dan juga pokoknya kalo bisa gue mau HP lama aja deh.

            Yeah I’m happy, free, confused, lonely, at February. Dan sebenernya gue juga baru bingung karena nggak bisa nambah tombol reply di blog gue. Maklum gue kan gaptek. Gue coba utak-atik malah bubrah template gue, huuuh. Maaf ya bagi yang udah memberi komentar di blog tapi belum gue bales. In Shaa Allah kalo gue udah bisa ngasih tombol reply bakal gue bales kok. Gue ucapin juga terima kasih sebanyak-banyaknya bagi kalian pembaca setia blog ini yang mau meluangkan waktunya untuk berkunjung dan yang berkenan memberi komentar. May happiness overflow in your life J

Untuk Ibunda Tersayang

                      Apakah semua orang di dunia ini punya ibu? Eh ga usah ditanya gue udah tau kok, maaf habis baca buku jadi pikirannya masih kemana-mana dan nglantur. Gue pun masih diberi kesempatan untuk merasakan kasih sayang seorang ibu. Tapi kalo boleh jujur gue ga pernah nangis sampe sesenggukan di hadapan nyokap gue. Gengsi donk gue yang selalu terlihat strong di hadapan nyokap gue masa harus nangis sih?
            Tapi selama gue lima belas tahun hidup di bumi ini jarang banget minta maaf sama nyokap gue padahal kesalahan gue kalo di itung-itung seabrek banyaknya. Gue nggak mau jadi anak durhaka seperti Malin Kundang yang akhirnya dikutuk menjadi batu. Ampunilah saya Ibuk. Jujur aja selama ini gue ga pernah nangis karena cowok karena hal itu terlihat cemen menurut gue. Tapi entah kenapa air mata gue jadi keluar mengingat begitu banyak kesalahan gue ke nyokap maupun bokap gue. Tapi lebih sering buat kesalahan sama nyokap sih.
            Tadi guru biologi gue entah kenapa mendadak jadi curcol di kelas gue. Kata beliau menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Mengandung anak, kemudian menyusuinya, sekaligus menjadi guru yang baik untuk anak-anaknya. Gue aja mumet bayanginnya. Tapi kalo gue diberi umur yang panjang gue juga akan menjadi seorang ibu.
            Tidak mudah menjadi seorang ibu. Gue tau karena gue baca buku biologi. Kelak bagi lo yang akan menjadi calon ibu lo akan mengandung bayi selama sembilan bulan sepuluh hari. Nyokap gue dulu juga gitu dong. Gue pun mikir dulu gue pernah numpang di rahimnya selama itu. Sudah pasti sangat rempong. Gue pengen banget minta maaf atas segala kesalahan gue selama ini. Apakah gue harus kayang sambil goyang dumang sebelum meminta maaf. Aneh juga rasanya kalo gue tiba-tiba dateng ke nyokap sambil nangis guling-guling tanpa sebab dan meminta maaf. Gue bukan tipe anak yang sering ngeluh atau suka menangis di hadapan nyokap.
            Emang aneh sih kisah gue sama nyokap. But this is true story from us. Entah kenapa saat nyokap gue uring-uringan ke gue, gue malah seneng. Gue bersyukur karena masih ada yang mengingatkan gue saat gue salah. Suara fals nyokap bagaikan suara Celine Dion bagi gue, entahlah kalo lo yang denger.
            Kalo gue sedang dinasihati sama ortu di hadapan beliau-beliau muka gue datar-datar aja. Malah nyokap gue setelah pertengkaran selesai berkata “Loh kok muka kamu datar gitu aja sih?” gue pun menjawab. “Terus harus gimana donk Ma?” anehnya nyokap gue malah bilang “Ya nangis gitu kek.”
            Ya ampun nyokap gue malah pengen gue nangis tapi you have to proud for had me Mom! Gue berusaha menjadi wanita tegar yang nggak cengeng. Tapi setelah pertengkaran selesai gue langsung mengurung diri di kamar dan gue nangis sesenggukan. Tisu gue sampe habis jadi gue sampe terpaksa ngelap air mata sama ingus pake gombal.
            Jika suatu hari gue punya keberanian dan nggak gengsi untuk menyampaikannya, gue akan mengirim surat cinta. Surat cinta ini gue bikin dan akan gue kirim buat nyokap gue. Tentunya dengan bumbu kasih sayang yang tulus dari hati terdalam. Atau kalo gue bener-bener kelebihan oksigen gue akan meminta maaf secara live di hadapan nyokap gue. Beginilah surat yang akan gue berikan untuk nyokap tersayang.

Dear Mom
Ma maafin aku ya untuk kesalahanku selama ini. Ah pasti Mama bertanya-tanya "kenapa anakku berubah menjadi ajaib seperti ini?" Aku sadar kasih sayang dan jasamu tak bisa kubalas dengan apa pun. Aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan Mama di dunia maupun akhirat. Mungkin kata “terima kasih” tidak bisa mewakili seluruh perasaan bersyukurku. Tapi percayalah aku benar-benar tulus mengatakannya. Engkau selalu membimbingku ke arah yang lebih baik. You’re a light in the dark and shining your love into my life. Thanks for everything.
Your daughter
AZA

            Begitulah gambaran surat cinta gue. Memang benar kalimat “Kasih ibu sepanjang masa” seperti yang dikatakan buku PS : I Love Mom di bawah ini.



Lucky Days

Lucky Days

            Gue bikin postingan ini sembunyi-sembunyi biar nyokap sama bokap gue gak tau. Gue puyeng kalo harus belajar matematika mulu. Dengan mengendap-ngendap gue nulis di ruang belajar. Toh, tadi selama beberapa jam gue udah belajar matematika. Istirahat dulu deh. Hujan di luar nggak reda-reda mewakili kesedihan gue karena jadwal try out besok adalah matematika. Gue sempet mikir kenapa ya di dunia ini harus ada matematika yang nuntut orang buat nyelesein masalahnya. Padahal udah banyak masalah kehidupan eh si matematika ikut-ikutan nambah. Huh.
            Jadi, gue masih seneng nih guys. Pertama gue kemarin shock, speechless waktu liat tab mention gue. Hari Minggu kemarin yaitu hari setelah meet and greet bareng bang Dika. Temen gue ada yang BBM gue buat buka twitter. Katanya ntar gue bisa jungkir balik kalo buka twitter. Gue awalnya mikir temen gue cuma mau ngerjain gue. Tapi, dia ngePING gue mulu. Entah kenapa hati gue ada feeling gimana gitu jadi ya gue buka deh twitter gue. Pertama-tama gue langsung nangis kejer kayak bocah yang diambil mainannya. Bukan, ini bukan karena patah hati atau masalah sedih lainnya. Hal ini karena mention gue dibales sama bang Dika! Brati bang Dika juga udah baca tulisan gue. Gue ga bisa njelasin dengan kata-kata lagi yang jelas seneng sambil terharu gitu deh. Waktu itu air mata gue ga bisa berhenti saking terharunya.
            Setelah berhasil mengelap ingus yang juga ngikut keluar gue buka blog gue. Subhanallah, ketiban apa gue semalem! Visitor blog gue jadi bertambah drastis. Ya ampun big thanks buat lo bang! Dari tiga ribu langsung nambah ke angka tujuh ribu. Terakhir kali gue liat sore ini ada dua belas ribu. Ckck.. Hebat bener pengaruhnya bang Radit. Kenapa dia nggak masuk tujuh orang berpengaruh di planet ini. Setelah itu juga semangat gue buat nulis jadi bangkit lagi.
            Di twitter pun banyak yang mention gue. Mbludak deh jadinya. Ada yang bilang kalo tulisan gue macem bang Dika awalnya dulu, ada yang suka, ada yang envy, bahkan ada yang bilang kalo dia merinding. Followers gue pun jadi tambah banyak. Gak nyangka efeknya sedahsyat ini. Hari Minggu itu gue ga bisa berhenti senyum. Bahkan nyokap gue sampe ngira kalo gue harus diperiksain.
“Kamu kenapa Za?” tanya nyokap gue karena selama di rumah gue senyum-senyum ga bisa berhenti.
“Enggak apa-apa kok Ma.” jawab gue sambil ketawa cekikikan.
“Jangan-jangan kamu..” nyokap gue terlihat panik.
Gue langsung kabur ke arah kamar takut kalo hal itu beneran terjadi. Eh, tapi kayaknya enggak kok. Untungnya hari Senin jadwal try out adalah bahasa Indonesia. Jadi, gue ga harus ngapalin rumus nanonano yang bikin kepala tiung-tiung. Pas malem-malem gue belajar tiba-tiba temen gue ada yang kirim BBM. “Za rangkuman IPS lo udah selesai belum?”
Gue pun menepuk jidat. Gue lupa kalo sehabis try out masih berlanjut ke kegiatan belajar mengajar seperti biasa. “Eh iya. Tinggal dikit kok.” Bales gue. Lagi-lagi led di hp gue nyala. “Lo udah belajar TIK belum?” ekspresi gue saat itu mendadak jadi burem kayak kertas burem. Saking masih senengnya gue jadi amnesia sama hal-hal yang berbau sekolah. “Eh iya. Tapi, masa sih jadi ulangan?” tanya gue. “Katanya sih ulangan.”
Saat itu juga hujan katanya sewaktu hujan kalo kita berdoa bakal dikabulin. Gue pun berdoa supaya rangkuman IPS tidak ditagih oleh guru gue. Gue juga berdoa supaya ulangan harian TIK di pending. Mata gue udah nggak kuat buat belajar TIK. Gue alarm supaya gue bisa bangun pukul tiga buat belajar. Rangkuman gue tinggal separonya. Tapi, badan gue udah capek juga nggak bisa diajak kompromi.
Keesokan harinya gue deg-degan. Mampus nih gue bangun pukul setengah lima. Haaah, kenapa alarmnya nggak bunyi!! Kata bokap gue alarm gue bunyi keras tapi gue ga denger.
“Kemarin alarm kamu bunyi keras banget. Kok nggak dimatiin?” tanya bokap gue pagi ini.
“Hah masa sih Yah?” gue memasang muka terkejut.
“Iya, sampe-sampe kedengeran ke kamar Ayah.”
            Pagi tadi gue panik. Gimana kalo gue kena hukuman. Aduh, gue kacau saat itu. Pas gue masuk sekolah temen-temen gue langsung kepo ke gue. Bahkan ada yang hampir koprol *eh. Kebanyakan para cewek dateng ke gue. “Aza, mention lo kemarin dibales sama bang Dika ya!” “Za, gue envy banget kok lo bisa ketemu bang Dika sih! Dia tau lo juga.” “Wuih Za, gimana perasaanmu ketemu bang Dika?” begitulah pertanyaan-pertanyaan yang terlontar. Semua heboh dan rasa kepo mereka sangat tinggi. Gue denger juga mereka antusias banget.
            Gue pun menceritakan pengalaman gue saat itu. Muka mereka ya gitu deh. Lo tau sendiri kan kalo cewek ngedengerin temennya nyritain pengalaman ketemu orang yang mereka kagumi. Bahkan ada yang mangap sampe mau kemasukan laler. Gue ceritanya setelah try out selesai.
            Temen-temen gue bikin semangat nulis gue jadi makin tinggi. “Za apa mungkin ini pertanda kesuksesan lo. Kan bang Dika udah baca tulisan lo tuh. Katanya seru banget ceritanya. Kayaknya itu kode deh. Lo kan juga demen nyritain kegiatan sehari-hari lo di blog kayak bang Dika kan! Nah coba lo bukuin.” Kata temen gue. “Ah masa iya. Ntar ada yang beli nggak ya. Gue kan orangnya lola gitu.” Jawab gue. “Gue bakal jadi orang pertama yang beli buku lo Za! Ayo donk.” Dalam hati gue seneng banget ada yang mau beli buku gue *seumpama* gue bisa jadi penulis. Bahkan di twitter ada yang mention gue juga kalo dia bakal jadi pembeli buku gue yang pertama. Gue makin terharu. Tapi untuk urusan tulis menulis gue kurangin akhir-akhir ini. Gue harus sukses UN dulu. Minta bantuan doanya ya guys supaya nilai UN gue bagus. In Shaa Allah setelah UN gue bakal nulis naskah.
            Sebenernya gue dateng telat pagi ini. Untung aja pengawas waktu itu baik hati. Gue nggak dimarahi. Saat masuk kelas pun gue juga senyum-senyum karena masih keinget kejadian yang membahagiakan hati. Temen-temen gue berpendapat kayak nyokap gue kalo gue harus dilarikan ke rumah sakit untuk memastikan kondisi gue.
            Jam untuk try out pun berakhir dan jam istirahat untuk cerita juga habis. Gue tegang. Sebenernya harusnya ada TIK setelah ini. Tapi, horeee jam TIK ternyata sudah habis. Ulangan pun ditiadakan. Gue langsung pasang muka paling bahagia. Tapi, masih ada IPS. Hiih ngeri. Guru IPS gue pun masuk. Ternyata beliau bisa mengerti siswa-siswinya. Beh, baik banget! Beliau bilang “Rangkuman tidak ditumpuk hari ini. Kalian fokuslah pada try out dahulu.” Alhamdulillah, doa gue terkabul guys! Emang bener doa saat hujan In Shaa Allah akan dikabulkan Allah. I’m so hilarious today.

            Besok masih akan menjadi hari yang misteri. Apakah gue bahagia atau sebaliknya. Kalo boleh jujur sih gue sedih. Besok tanggal 10 Februari gue makin tua. Waktu gue buat hidup di dunia ini semakin berkurang padahal amal gue masih pas-pasan. Gue nggak berharap yang spesial buat ultah gue. Karena Nabi Muhammad di hari ulang tahunnya tidak merayakan suatu apa pun. Gue pengen banget mencontoh Rasulullah. Yang jelas gue berpikir kalo gue makin tua. Gitu.

Meet and Greet with Raditya Dika

            Sore itu menjadi sore yang bersejarah dalam hidup gue. Yap, karena gue diizinkan sama Allah buat ketemu bang Dika, penulis favorit gue! Lo tau kan bang Dika yaitu remaja 18 tahun *ehiyakan yang doyan nulis bahkan beberapa bukunya udah dijadiin film. Hebat yeah! Meet and greet kali ini berada di Gramedia Solo pukul 3-5 sore.
            Sebenernya gue pengen berangkat pukul 12 dari rumah. Tapi, apa daya di sekolahan gue mengadakan jam tambahan mata pelajaran UN selama empat jam, padahal udah ada jam ke-0 yang mengharuskan siswa-siswinya masuk pukul 6. Jadi, gue pulang dari sekolah jam 12. Saat itu jam terakhir adalah fisika. Entah kenapa mata gue kayak dikasih lem. Jadinya susah buat dibuka. Gue hampir ketiduran di kelas.
            Setelah dua jam lamanya bel tanda pulang berbunyi. Gue buru-buru pulang dan bersiap-siap untuk acara bersejarah ini (menurut gue sih gitu.) Nyokap gue sampe bingung kok anaknya jadi lincah gini. Gue bilang kalo gue mau ketemu sama bang Dika. Untung aja dibolehin soalnya hari Senin besok gue ada try out. 
            Pertama-tama gue langsung makan siang. Rasanya kayak bukan rasa karena gue terburu-buru makannya. Setelah itu gue langsung sholat Dhuhur. Gue pun kepikiran ntar gimana sholat ‘Ashar gue. Akhirnya gue qasar sholat ‘Asharnya. Setelah selesai gue mau mandi kembang tujuh rupa tapi karena waktu yang mepet gue enggan melakukannya.
            Setelah ganti baju gue langsung pergi ke Sanggung. Di sana gue bakal naik bus ke Solo. Pukul setengah dua, gue berhasil menaiki bus Solo-Jogja. Gue pergi sama temen gue, Tasya. Kali ini gue nggak kebingungan lagi *kan udah berpengalaman. Gue pun nggak ditipu sopir angkot kurang gigi lagi. Setelah sampe halte bus Solo Trans gue langsung turun.
            Saat itu tanpa gue duga, hujan turun dengan derasnya. Gue agak panik jam di tangan menunjukkan pukul dua. Gue harus nunggu bus Solo Trans koridor satu untuk bisa sampe ke Gramedia. Ternyata lumayan lama juga gue nunggunya. Kurang lebih lima belas menit gue dapet bus koridor 1.
Tiket bus Batik Solo Trans.
            Hujan nggak mau berhenti sama sekali. Mau ngambek juga nggak ngefek. Setelah sampe di halte bus yang deket Gramedia kami turun. Hujan masih jatuh juga. Apa nggak sakit ya kok jatuh terus. Untuk sampe ke Gramedia dibutuhkan jarak sekitar 55 meter. Gue lupa nggak bawa payung. Temen gue juga nggak bawa. Mau nerobos hujan ntar baju gue basah kuyup. Kalo gue nekat yang ada malah gue disangka korban kecemplung selokan.
            Gue tunggu hujannya sampe reda. Tapi nggak reda-reda juga. Kami pun memutuskan untuk naik becak. Saat itu ada mbak-mbak kuliah juga yang nunggu. Ah, kami kalah cepat. Becak yang ada berhasil dinaiki mbak-mbak tadi. Tapi, si tukang becak bilang “Mbak mau naik becak?” Gue pun menjawab “Emang cukup ya Pak kalo berempat?” si bapak itu bilang “Cukup kok Mbak. Ayo.”
            Karena waktu yang udah mepet gue pun setuju. Kami naik becak dengan posisi patung museum. Gue terpaksa harus dipangku sama mbak-mbak tadi. Haduh, repot bener guys! Sepanjang perjalanan mbak-mbak tadi salah satunya ada yang bilang “Mbak orang kuliah juga ya? Kuliah di mana?” Hlah, emangnya muka gue udah keliatan tua gitu ya. Bocah kayak yang mirip Taylor Swift kecil *eh masa dibilang udah kuliah. Dengan kalem gue jawab “Enggak mbak. Masih SMP kok.” Mbak-mbak tadi langsung histeris “Haah masih SMP? Oh gitu ya dek.” “Iya, gitu.” jawab gue.
            Nggak harus berlama-lama kami semua sampai di Gramedia. Jrengjreng... Gue semangat banget pertamanya. Tapi, setelah lihat antrian yang begitu panjang gue kaget banget! Antrinya panjang bukan main! Ah tapi nggak apalah buat ketemu bang Dika! Saat OTW antri ada seorang ibu paruh baya tanya ke gue “Mbak orang kuliah ya?” haduh gue disangka orang kuliah lagi. “Enggak kok mbak. Masih SMP.” Ibu tadi langsung bilang. “Wah, berarti saya paling tua donk!” gue hanya manggut sambil senyum.
            Gue sampe Gramedia pukul tiga kurang lima belas menit. Saat itu bang Dika belum dateng. Tapi setelah beberapa saat gue denger jeritan histeris orang-orang. Kayaknya bang Dika udah nyampe. Dengan sabar gue ngikut antri. Saat antri gue liat kakak kelas alumni SMP N 01 Delanggu, iyap mbak Beltien!
            Gue sama Tasya ada ide supaya antrian kami lebih cepat. Mbak Beltien ada jauh di depan kami. Gue suruh Tasya buat jaga tempat antri kami dan gue menghampiri mbak Beltien buat nanya boleh antri bareng apa nggak? “Halo mbak. Ini mbak Beltien kan yang alumni ESSADE? Aku adkel lho mbak.” Gue menyapanya. “Eh iya, halo dek.” Mbak Beltien balik menyapa. Gue langsung nanya. “Mbak boleh nggak kalo aku ngantri bareng?” iyyesss!! Kakel gue ngebolehin! Eh tunggu.. ada yang colek-colek bahu gue. “Mbak kalo mau ngantri di belakang ya.”
            Yah, gue nggak jadi antri lebih cepet. Orang yang ada di belakang kakel gue protes. Ah yaudah deh, gue terima dengan lapang dada. Antrian pun berjalan lamban kayak siput. Saat antri (lagi-lagi) gue ketemu alumni. “Hey Zalfaa!” ada yang manggil gue. Gue langsung nengok ke belakang. “Eh Mbak Intan!” gue langsung menghampirinya. “Lo udah dapet TTD sama foto bareng belum? Gue udah donk!” Gue envy soalnya kakel gue yang satu ini bisa foto berdua aja sama bang Dika. “Wah enak dong mbak! Gue masih harus nunggu lama nih.”
“Haha tetep semangat ya Dek!” ujar mbak Intan.
            Setelah dua jam antre gue bisa dapet jatah ketemu sama bang Radith! Wohoho~ Saat gue liat langsung bang Radith ternyata mukanya beda banget sama di foto! Seriously, he looks more interesting in the real! Gue malah pangling. Gue juga sempet curiga orang ini bang Radit atau bukan.
Giliran gue pun dateng. Saat itu gue taruh buku Koala Kumal di hadapan bang Dika. Saat bang Dika buka halaman pertama yang udah gue namain di bagian kanan atas dia bertanya. “Oh, jadi kamu ya yang namanya Zalfaa itu?” gue kaget bukan main. “Hloh, tau saya Bang?” “Kamu yang mention aku di twitter kan?” gue terkejut! Emang mention gue belum pernah dibales sama bang Dika tapi siapa sangka bang Dika perhatian juga sama akun gue! Wihiw gue mau koprol karena saking senengnya tapi nggak jadi deh banyak orang. Ntar dikira acaranya berubah jadi acara sirkus gratisan.
            Gue pun juga meminta tolong bang Dika untuk menuliskan “Sukses UN” di buku Koala Kumal gue. Bang Dika lanjut bertanya “Hloh buat apa lulus UN?” “Hloh, ya iyalah Bang kan penting.” jawab gue. “Buat masuk ke SMA ya.” Mendengar jawaban bang Dika gue mau loncat-loncat artinya kayaknya dia pernah buka blog gue. Bang Dika tau kalo gue anak SMP bukan anak kuliah.
Setelah foto gue pun memutuskan untuk mengisi perut dulu. Gue ngajak Tasya buat beli makanan kecil di dalam Gramedia. Akhirnya inilah makanan kami waktu itu. Kami menikmatinya sambil menunggu hujan reda.
Makanan dan Minuman Pengganjal Perut
Gue lupa namanya yang jelas itu makanan Jepang. Sebenernya sih gue ga bisa pake sumpit. Setelah selesai makan kami pulang. Gue dan Tasya jalan ke halte bus dekat Gramedia. Alhamdulillah hujan udah reda. Di hadapan gue ada museum Radya Pustaka. Saking karena keinget bang Dika melulu gue bacanya museum Raditya Pustaka, hadeh. Lama banget gue nunggu bus Solo Trans yang kayaknya udah nggak lewat. Kami memutuskan untuk naik becak menuju jalur dua arah (di gramedia jalannya cuma satu arah). Kali ini ongkos becaknya murah, cuma lima belas ribu berdua.
Rasanya kayak di Jogja naik becak malam-malam sambil menikmati indahnya kota Solo. Bedanya sih Jogja lebih rame dan hidup. Akhirnya kami sampe di jalan dua jalur dan bersiap menunggu bus Solo Jogja. Saat itu gue nggak kerasa lama nunggu busnya. Ada ibu-ibu yang kebetulan ramah sama mas-mas pelajar. Mas-mas itu sempet tanya ke gue “Kalo ke Jogja kira-kira berapa ya Mbak?” dengan ngawur gue jawab. “Lima ribu mas.” “Hah masa?” tiba-tiba ibu-ibu tadi menjawab “Kalo sampe Jogja dua belas ribu Mas.” “Oh gitu.” Gue nyengir sambil menatap jalan. Mas tadi bilang juga. “Mbak juga habis kuliah ya?” jiaaaahhh lagi-lagi gue dianggep anak kuliahan. Emangnya muka gue udah terlihat lebih tua sepuluh taun apa! Kayaknya gue harus pake ponds supaya terlihat sepuluh tahun lebih muda. Gue panik karena belum sholat Maghrib.
I’m so disappointed of myself. Gue nggak bisa sholat Maghrib, ga ada mushola yang deket. Akhirnya bus Solo Jogja lewat. Kami pun pulang dengan selamat sentosa. Setelah sampe rumah gue langsung sholat Isa’. Gue nggak tau Maghrib gue diterima apa nggak. Gue menjamak tahir sholat Maghrib gue.
Ini Dia yang Spesial!
Pengalaman yang bener-bener nggak akan gue lupain! Apalagi bang Dika mengingat nama “Zalfaa” itu udah sesuatu banget buat gue. Gue pengen bisa jadi penulis kayak bang Dika yang ditunggu-tunggu banyak orang. Dulu sih katanya saat meet and greet buku pertama bang Dika cuma beberapa orang yang dateng. Tapi, sekarang.. Ckckck. Bang Dika benar-benar menginspirasi gue bahwa jangan pernah menyerah dalam keadaan sesulit apa pun, jika Allah menghendaki akhirnya akan berbuah manis. Allah blessed him. Berkatnya bang Dika sekarang bisa jadi penulis kondang hebat cetar membahana. Bersyukurlah Bang!
Horror Story : Manusia Tanpa Kepala di Sekolah

Horror Story : Manusia Tanpa Kepala di Sekolah

            Malam begitu mencekam. Angin yang berhembus membuat bulu kudukku tambah berdiri. Kini tubuhku menegang setiap sentinya. Kurasakan sesuatu yang janggal di dekatku. Ini semua terjadi karena aku terlalu bodoh. Hari ini merupakan pelantikan PMR di sekolah. Sialnya para seniorku mengadakan acara jurit malam. Aku benci akan hal ini! Sungguh, aku lebih memilih untuk makan mi 1000 porsi daripada harus mengikuti kegiatan terkutuk seperti ini. Kini, aku sendirian dan gemetaran.
            Tengah malam sialan! Aku terpisah dari kelompokku. Kini aku berada di kamar mandi dan terkunci entah mengapa. Amarahku kuluapkan dengan menggedor-gedor pintu seheboh mungkin. Namun, aku tetap saja tidak bisa keluar. Aku sangat lemas. Dulu, guru fisikaku pernah menceritakan sebuah kisah yang membuatku merinding di kamar mandi lorong ini. Kenapa juga aku harus memenuhi panggilan alam.
            Dahulu kala saat tahun 1990 ada sebuah acara bulanan yaitu pasar malam. Biasanya diadakan satu bulan sekali. Orang-orang desa sangat gemar pergi ke acara ini. Banyak hiburan murah dan tentu saja banyak anak mereka yang menginginkan arum manis yang lezat. Tempat di lapangan pun tak cukup untuk menampung semua permainan murah yang ada. Hingga suatu hari terjadilah adu mulut antara pedagang dengan pedagang yang lain malam itu. Kejadiannya tengah malam sebelum pasar malam dimulai keesokan harinya. Tidak banyak orang yang mengetahui.
            Saat itu seorang pedagang arum manis mendirikan tenda pada satu-satunya tempat yang tersisa malam itu. Tempatnya pojok kanan dekat dengan sekolahanku. Namun, ada salah satu pedagang yang dengan seenaknya saja mengusir pedagang itu. Ia juga tidak mendapatkan tempat dan berniat mengusir pedagang arum manis.
            Tak terima diperlakukan seperti itu, si pedagang arum manis marah kepada pedagang yang mengusirnya. Adu mulut tak bisa terhindarkan. Hingga saat suasanan memanas, pedagang arogan yang mengusir pedagan arum manis mengeluarkan pisau dari balik celananya. Deg,deg,deg. Pedagang arum manis ketakutan bukan main. Ia malah membeku di tempat hingga akhirnya ia tertusuk-tusuk oleh pisau pedagang arogan itu.
            Sungguh tak berperikemanusiaan, bahkan sang pedagang yang tak diketahui identitasnya itu menghabisi nyawa pedagang arum manis dengan sadis hanya karena perebutan tempat untuk berdagang. Ia yang telah berhasil menjadi pembunuh tiba-tiba gemetaran sendiri melihat korban tak bernyawa dan berlumur darah di hadapannya. Saking stresnya ia malah memenggal kepala korban.
            Sang pedagang sadis itu mempunyai akal yang benar-benar tidak sehat. Ia pun membuang mayat dengan kepala terpisah itu di kamar mandi yang berada di sekolahan. Kamar mandi ini terletak di dekat perpustakaan. Kau harus melewati lorong yang menakutkan untuk bisa sampai ke sini.
            Sejak peristiwa pembunuhan itu terjadi, pengunjung pasar malam menjadi berkurang. Sangat-sangat berkurang. Keesokan harinya Polisi mengidentifikasi mayat dengan kepala terpisah yang berada di sekolahanku. Beruntungnya sang pedagang kejam, Polis tak mampu mengungkap siapakah pembunuh kejam ini.
            Orang-orang di sekitar sekolah banyak yang bercerita jika suatu malam ia berjalan sendirian ia melihat orang tak berkepala. Tunggu, kepalanya ia bawa di tangan kanannya. Bahkan lumuran darah membuatnya tampak menakutkan. Kata orang-orang sekitar hantu itu biasanya berkeliaran di sekitar kamar mandi ini.
            Begitulah ceritanya, saat ini entah kenapa tubuhku menjadi kaku tak bisa digerakkan. Bahkan lututku lemas tak berdaya. Kurasakan keringat dingin mengucur deras dari seluruh badanku. Bulu kudukku berdiri tanpa kuperintah. Tiba-tiba saja kudengar derap langkah kaki. Aku hampir pingsan.
            Kututup mata erat-erat dan seseorang membuka pintu kamar mandi.
            “Dir, ngapain lo di sini!”
            Ah syukurlah ternyata ia adalah seniorku. Aku lega setengah mati. Tapi, keadaanku masih lemas. Aku pun berdiri mengikuti langkahnya namun sepertinya di belakang kami ada yang mengikuti. Aku pun menoleh ke belakang untuk memastikan. Deg. Deg. Deg. Sepertinya jantungku berhenti berdegup.

            Dengan mata kepala sendiri kulihat hantu itu. Benar kata orang, kepalanya ia bawa di sebelah tangan kanannya. Bajunya berwarna hitam legam berlumuran darah. Matanya melotot kejam. Aku pun menjerit karena terkejut. Aku langsung lari dari tempat dan kudengar seniorku juga berteriak kemudian ia menyusulku. Kejadian ini benar-benar tak terlupakan. Aku kasian pada hantu itu. Meski ia menakutkan ia benar-benar butuh keadilan. Masih menjadi misteri siapa pelaku pembunuhan sadis itu sehingga ia masih berkeliaran meski pun kejadian pembunuhan ini sudah lama. Berhati-hatilah kalian semua bisa saja kamar mandi yang kau gunakan ada makhluk tak terlihat. Bahkan ia membutuhkan bantuanmu untuk memecahkan masalahnya.
UN Online

UN Online

            Welcome February, month of love. I hope this month be beautiful in my life. Halo kawan, tak terasa udah bulan Februari aja yak! Menurut gue bulan ini spesial lhoooo.. Ada yang tau kenapa? Tanggal 5 Januzaj tambah tua. Tanggal 7 gue bakal ketemu penulis kondang Raditya Dika. Dan tanggal 10 waktu gue buat ketemu Sang Pencipta semakin dekat karena waktu gue yang nggak seberapa di dunia ini. Gue mau curcol dikit nih tentang Ujian Nasional. Makin nyesek rasanya setelah tau kalo bakal kayak gini.
            Jadi, tahun sekarang UN menggunakan dua metode pertama Paper Based Test yang masih pake kertas terus kalo mau jawab tinggal melingkari bulatan dengan pensil 2B. Nah yang kedua menggunakan Computer Based Test. Nyeseknya sekolah gue pake metode terbaru. Yap, yaitu Computer Based Test. CBT diaplikasikan ke sekolah ex RSBI atau mantan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.
            Kebetulan sekolah gue mantan RSBI, bukan mantan pacar Robert Pattinson lho. Jadi mau nggak mau harus nurut kalo ujian tahun ini menggunakan sistem online. Sistem online dalam UN kali ini menggunakan komputer, ya iyalah masa alfalink. Gue yang masih pas-pasan kalo pake komputer tambah ndredek mengetahui hal baru ini. Gue mau nangis kejer. Temen-temen gue juga panik kecuali anak-anak di kelas unggulan mereka mah apa aja hayuuk.
            UN online kali ini akan dibagi menjadi tiga gelombang. Gelombang pertama pukul 07.30-09.30 gelombang kedua pukul 10.30-12.30 dan gelombang terakhir agak sore yaitu pukul 14.00-16.00 kalo boleh milih gue mau ikut gelombang terakhir aja kan bisa buat belajar lebih lama. Gue juga masih belum paham bener kenapa ada sistem UN terbaru kayak gini. Jadi di Kabupaten Klaten cuma dua sekolah aja yaitu SMP N 01 Delanggu (sekolah gue) sama SMP N 02 Klaten yang pake sistem ini. Bayangkan guys betapa nyeseknya gue.
            Gue jadi curiga jangan-jangan beberapa tahun lagi UN menggunakan robot. Bisa apa gue kalo hal itu terjadi. Coba doraemon ada, gue bakal pinjem kantong ajaibnya sebentar buat cari alat untuk menghack komputer sistem online *hloh. Gue kecewa dengan keputusan Menteri Pendidikan yang membuat UN dengan sistem online seperti tahun ini. Bilangnya mendadak banget! Padahal ujiannya bulan Mei. Kalo niat, mbok ya bilangnya setahun yang lalu buat uji coba bukannya mendadak kayak gini. Kasianilah kami para pelajar mantan RSBI yang harus menjadi bahan percobaan.
            Nggak adil ya, masa cuma ex RSBI yang harus pake sistem CBT. Harusnya serempak di Indonesia dong. Ah, mau protes gimana pun keputusan nggak akan diganti. Gue terima deh dengan hati tertulus, hikshiks. Kata guru gue yang penting percaya diri aja. Soal nilai yang nentuin pribadi masing-masing. Belajar dengan rajin adalah kunci utama sukses UN. Juga jangan lupa berdoa sama Allah.

            Please guys pray for us. We want get best score in the test. Ada hal baru, harus gue hadapi! Bukannya dihindari. Bagi teman-teman yang UN menggunakan CBT tetap semangat guys! Yang penting belajar menjadi prioritas utama. Bagi kawan-kawan yang UN menggunakan PBT bersyukurlah, kalian masih bisa menggunakan pensil dengan hati riang gembira. Mau CBT atau PBT yuk tetap semangat menghadapi UN. Enjoy your time for studying J