Sebuah Pesan Perasaan

            Angin mengabarkanku keadaan malam ini. Katanya bulan enggan menampakkan diri. Ia mengalah pada rintik hujan yang membasahi bumi, menebar manfaat untuk seluruh kehidupan makhluk-Nya. Aku pun tidak dapat menikmati rayuan malam seperti biasa. Realita menarikku pada sebuah keadaan.
            Aku ingat ketika itu, di suatu pagi yang tak terduga. Sebuah pertemuan ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Dedaunan seolah menggodaku untuk terus tersenyum. Seperti dulu, saat mata kita bertemu, aku tak mampu memandangmu terlalu lama.
            Adalah sepotong rindu yang segera terbayarkan. Namun, apa kabar hati? Apa kau baik-baik saja karena pertemuan itu? Ayolah, aku pun tak bermaksud untuk mengusikmu.
            Aku pun bertanya, apakah angin malam ini telah menyampaikan sebuah pesan perasaan yang terdalam? Kepadanya yang memiliki hati paling diam. Yang akhir-akhir ini, kubicarakan perihal dia dengan-Nya.
            Sungguh, kamu adalah orang yang baik. Tidak seperti sebagian banyak lelaki lain, kau mandiri dan berbakti pada orang tuamu terutama ibumu. Aku ingat perjuanganmu saat itu. Hatimu tulus dan lembut.
            Aku takut jika terlanjur karam pada hatimu yang paling dalam. Menyisakan beribu tanda tanya yang mencari jawaban. Namun, pada hari itu juga aku menemukan secercah cahaya yang melangitkan hatiku.
            Sepertinya, Allah telah menyampaikan pesan perasaanku padamu. Rasa peduli, keingintahuan, dan doa-doa yang terselip untukku. Semua sudah berbicara padaku dan aku berhasil menerjemahkannya dengan baik.
            Aku senang, tapi..
            Aku takut membuat Dia cemburu. Apakah hati yang seluas samudra ini hanya tersisip namamu? Tidak. Allah, Rasulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan kedua orang tuaku tentu semestinya memiliki ruang yang lebih besar dalam hatiku.
            Saat ini, aku sudah sangat bersyukur jika namaku yang terselip pada doamu dalam diam. Saat ini jika kamu belum mampu dan belum ingin memulai mitsaqan ghaliza, cukup langitkanlah doa-doa penawar rindu itu.
            Pada detik ini, aku pun masih ingin memperbaiki diri agar kelak semoga menjadi wanita yang cukup pantas dan baik untuk bersamamu. Karena aku ingin mencintaimu dengan cara yang diridhoi-Nya. Dan aku masih ingin mewujudkan cita-citaku untuk meraih kemuliaan itu, semoga Allah meluruskan niatku hanya untuk-Nya, bukan semata-mata karenamu.
            Aku berjanji pada diriku, tulisan ini adalah tulisan yang terakhir tentangmu. Terima kasih untuk semua perhatian, kebaikan, dan doa-doa selama ini. Aku senang, Allah menakdirkan kita bertemu untuk saling belajar, utamanya adalah belajar untuk mengikhlaskan.
            Namun, jika memang kamu adalah yang ditakdirkan Allah, suatu saat akan kutulis namamu dengan jelas di sini, di blog ini inshaallah. Jika tidak, biarlah hati ini berdamai dengan takdir terbaik dari-Nya, pasti Allah akan hadirkan yang terbaik untukku dan agamaku.
            Ingatlah pesanku, jangan terlalu lama untuk berani memulai mitsaqan ghaliza. Jangan kau paksakan dirimu untuk sukses terlebih dahulu. Tidak, aku tidak ingin kau berjuang sendiri. Marilah bersama-sama membangung semua hal dari bawah. Aku tahu ini sulit, namun percayalah jika iman ada pada diriku dan dirimu, kita akan saling memuliakan pada setiap keadaan.
            Sungguh, aku tidak bermain-main dengan tulisanku. Sesulit apa pun keadaan yang akan dihadapi, dengan pertolongan-Nya, inshaallah aku siap. Karena aku yakin pada keindahan akhlakmu dan aku pun adalah seorang perempuan yang butuh sebuah pembuktian dan kejelasan. Jangan terlalu lama. Karena kebahagiaan bukanlah sesuatu yang harus ditunda.
            Omong kosong bila usia menjadi alasan semua ini. Yang paling penting adalah kesiapan iman, penerimaan yang tulus, komitmen, dan rasa tanggungjawab yang besar. Bukankah dengan itu juga, separuh agama akan menjadi sempurna?
            Jika kau pikir dengan harta yang banyak akan bahagia. Salah. Lihatlah bagaimana kasus perceraian dan keretakan rumah tangga orang-orang yang memiliki uang lebih. Aku setuju bila hidup realistis adalah dengan memiliki uang. Tak apa sedikit, asalkan berkah dan halal. Dalam hal ini, mari belajar dari kisah Fatimah radhiallahu ‘anha yang sangat minim harta, bahkan beliau pernah menahan laparnya selama beberapa hari hingga kuninglah wajah beliau. Apakah rumah tangga Fatimah radhiallahu ‘anha hancur? TIDAK!
            Yakinkanlah diriku dan orangtuaku. Inshaallah, aku siap memulai dari bawah. Salah satu impian dari sekian banyak impianku adalah menjadi wanita yang pantas untuk menjadi penyejuk hati seseorang yang namanya tertulis di Lauhul Mahfudz.
            Aku harus benar-benar segera menepikan rasa ini atau ayat-ayat dari-Nya akan sulit bersamaku. Sabarlah selama beberapa waktu. Semoga aku, kamu, dan semua pembaca bisa menghadiahkan mahkota kemuliaan pada ayah dan ibu kelak di akhirat.  
            Untuk satu atau dua tahun ke depan, biarkan aku bermesraan dengan kemuliaan hakiki yang amat kucita-citakan dan semoga Allah menghendaki dan memudahkan niatku ini. Selama itu, maka namamu harus melayang jauh. Setelah itu, biarkah waktu yang menjawab apakah kamu berani membuktikan dengan pembuktian nyata yang dapat menyempurnakan separuh agama.
            Mari kita telusuri kembali kisah Fatimah radhiallahu ‘anha yang amat terkenal dengan cinta dalam diam. Namun, ketahuilah bahwa ada juga ungkapan Sayyidina Ali yaitu cinta dalam ikhtiar. Memang, aku setuju bahwa cinta dalam diam adalah hal yang teramat indah. Namun, jika kamu terus saja memendam itu semua tanpa ikhtiar yang nyata apakah bisa disebut sebuah kebaikan?
Aku bukannya terburu-buru, karena proses telah kusemai dan kurawat selama ini, semoga ada buah kebaikan yang akan kupetik karenanya. Bukankah, kehidupan dunia adalah fana, bahkan diumpamakan hanya mampir minum. Jadi, bukanlah suatu ketidakbaikan jika seseorang ingin segera menyempurnakan separuh agamanya dan menempuh ibadah terlama dalam kehidupan. Yang disemogakan akan dipertemukan pula pada tempat peristirahatan terindah, adalah surga yang dijanjikan Allah. Hal tersebut juga dapat menjaga kehormatan diri, pandangan, dan menghindari fitnah di zaman ini.
Maka, sekali lagi, jangan terlalu lama. Beranilah menyatakan karena ada hati yang sedang menunggu. Ini adalah tulisan terakhir yang bercerita tentangmu jika kamu bukanlah ketetapan terindah itu, semoga Allah selalu menjaga iman yang ada pada dirimu dan melancarkan proses studimu, aamiin..

Sekarang aku pasrahkan semua rasa pada-Nya. Mengikhlaskan segala rindu dan harapan. Ya Allah, Engkau tahu yang terbaik untukku, makan bantulah aku untuk ikhlas dan menerima.

Ketika Tertawan Diantara Dua Pilihan

Dokumen Pribadi
            EA EA EA, what’s up bro? Kalau boleh curcol gue baru seneng nih, plong juga. Iyess, a lot of things has changed my mind lately. Yeah, I must scream out loud, ea ea.. Haduh, perasaan kalau gue nulis di blog kok kayak pecicilan gini ya. Tapi, percayalah sebenernya gue ga pecicilan gini kok, haha..
            Gue mau cerita nih tentang perang yang baru aja gue lalui. Bukan, gue nggak ikut-ikutan menyerang negara api sama Aang the legend of air, tapi maksud gue adalah perang batin. Beuh, perang batin tuh rasanya nyesek-nyesek gimana gitu. Kan kalau perang di film-film bisa ditonton, seru. Lah ini tempatnya di hati, hanya gue dan Allah yang tahu.
            Gue udah kelas 12 yang kalau kebanyakan atau umumnya pasti berpikiran akan melanjutkan ke jenjang universitas. Liat temen-temen gue, sibuk cari buku SBMPTN, ikut try out SBM, harap-harap cemas masuk SNMPTN, dan mulai daftar perguruan tinggi swasta buat jaga-jaga kalau di PTN ga keterima. Pokoknya, no tranquilly was there untuk anak kelas 12 kecuali bagi mereka siswa-siswi yang beriman dan bertaqwa. Iyalah, kan yang diandelin Allah dimana pun berada. Setelah usaha, pol in doanya.
            Saat semua sedang riuh gaduh rempong, apa kabar gue?
            Santai sist..
            Calm down..
            Perang yang terjadi di batin gue ini terjadi ketika gue harus memutuskan untuk lanjut ke PTN atau mondok. Apa kata temen? Apa kata saudara gue? Ah, it’s not a big deal! Ga penting omongan orang, yang menjalani gue dan ini skenario hidup gue, gue adalah aktris utama yang berhak memilih masa depan gue, aseekk..
            Awalnya gue galau mau masuk PTN jurusan Pendidikan Luar Biasa. Yaa, kan ga banyak orang yang mau peduli dan mau membantu mereka mewujudkan mimpi-mimpi hebat. Inget ya, meski pun mereka berkebutuhan khusus bukan berarti mereka ga layak untuk meraih mimpi-mimpinya. Seharusnya, kita yang alhamdulillah normal sebisa mungkin melakukan hal-hal kecil yang berkontribusi untuk kehidupan anak-anak berkebutuhan khusus.
            Tapi, gini gaes.. setelah gue godhog dan pikiran udah mateng gue memutuskan hal yang berbeda. Kayak ada suara hati yang tulus memberitahu gue what things to do after graduate.. Hal ini perlu banget gue lakukan untuk mengokohkan pondasi iman yang masih labil gini dan kapan lagi selain setelah lulus SMA.
Jadilah gue berpikiran untuk..
            I have made a big choice in my life. Kalau setelah lulus SMA gue ga kuliah dulu.
            Eitss, ga boleh mikir kemana-mana ya.. Inshaallah kok, gue bakal kuliah satu tahun setelahnya. Lalu dimana kah gue selama setahun itu? Hayoo, kepo ya. Senyum dulu donk biar cakep dan gue tambah semangat nulis. Nah gitu kan tambah cantik atau ganteng maksimal.
            Jadi, gue udah memutuskan untuk masuk pondok dulu selama setahun ini. Apakah pilihan ini mudah? Tentu aja enggak. Gue harus meyakinkan tuan dan nyonya besar akan keputusan yang telah gue ambil. Pertamanya beliau berdua bilang “Buat apa kamu sekolah dari SD-SMA negeri tapi ujung-ujungnya mondok?” tapi dengan the power of sing penting yakin lan bener, gue terus membujuk. Alhamdulillah, luluh juga hati beliau berdua.
            Rencananya sih gue mau mondok di Griya Qur’an, itu pun kalau keterima. Besok inshaallah, pada hari Ahad, 21 Januari 2018 pukul 07.00 gue bakal ikut tes seleksi buat masuk pondok ini. Mohon bantu doa ya gaes supaya gue bisa mudah mengerjakan test, lalu keterima dan melaksanakan cita-cita terbesar dalam hidup gue.
            Sebelumnya gue udah survei pondok dan bayar uang pendaftaran. Alhamdulillah, suasana di pondok nyaman, adem, dan bersih. Suasananya kondusif karena terletak di kawasan perumahan. So, buat kebersihan nggak usah ditanya lagi, mantap dah. Bangunannya berlantai tiga dan bercat warna hijau. Mbak-mbaknya pun ramah saat gue dateng ke situ. Khusus akhwat pula, jadi inshaallah pandangan gue akan lebih terjaga. Yang bikin tambah seneng adalah ketika gue nemu tempat laundry yang ga jauh dari pondok. Huaah, nikmat mana yang gue dustakan, kalau gue bisa keterima di situ bakal seneng banget dah.
            Inshaallah di Griya Qur’an gue bakal ambil program takhasus yang satu tahun. Ya Allah, rasanya gue too excited dan pengen segera lulus terus mondok. Serius gaes, rasanya hmm gimana ya, gabisa gue ketik saking senengnya.
            Sebenernya tanggal 21 besok ada juga kajian Ustadz Ammi Nur Baits yang tempatnya ga jauh-jauh amat dari rumah gue. Tapi, qodarullah wa masyaa fa’ala, gue ada test seleksi dan ga bisa ikut kajian ustadz kondang pembina konsultasi syariah itu. Temanya bagus kok, inshaallah beliau bakal membahas tentang riba. Kalian yang rumahnya daerah Solo raya mungkin kalau mau dateng ke kajian bisa, tempatnya di masjid Ibaadurraahman deket Assalam market, waktunya pukul 09.00 WIB.
            Sungguh aneh tapi nyata, takkan terlupa.. eh tunggu, kok malah ke lirik “Kisah Kasih di Sekolah” haha apaa sih.. tapi emang aneh sih, di saat temen-temen gue yang lain pengen masuk sekolah kedinasan atau PTN, gue malah adem ayem, nerima ing pandum. Entahlah, kayak ada suatu panggilan dalam jiwa gitu.. Gue ingin merasakan nikmatnya jadi anak pondok gimana.
            Yang jadi motivasi gue juga, ketika nonton film Ayat-Ayat Cinta 2, eum si sholeh Fahri bilang “Kadang kita harus mundur sedikit, supaya bisa melompat lebih jauh.” Dan gue memilih untuk menunda kuliah dulu dan bersiap untuk membuat sejarah hidup yang gue harapkan bisa berguna dunia akhirat, aamiin..
            Alhamdulillah, gue bisa seneng dan plong karena berhasil menentukan apa yang gue mau, yang menjadi passion gue, dan ga hanya ikut-ikut arus doank. Diantara dua pilihan yang ada, hati gue mantap untuk memilih ke pondok dulu. Ga boleh setengah-setengah lah kalau udah gini. Ya gak..
            Sobat, begitulah hidup.
“Kadang kita harus mundur sedikit, supaya bisa melompat lebih jauh.”
Begitulah kutipan dalam film Ayat-Ayat Cinta 2 oleh Fahri. Dalam menyikapi hidup, tak perlu tergesa-gesa. Pun, cemas dalam menentukan masa depan. Apalagi, jika hanya mengikuti arus-arus kehidupan yang terkadang tidak sesuai dengan syariat Islam. Bisa jadi, kita mundur sejenak untuk membuat dan merancang perubahan yang lebih hebat dan bermanfaat di masa depan.
Sobat, terkadang pula kita dihadapkan diantara dua pilihan yang indah. Bingung harus memilih yang mana, hingga membuat langkah kaki tertatih menentukan arah yang dipilih. Terkadang pula, dalam menentukan pilihan hanya mengikuti apa kata orang, bukan kehendak hati sendiri.
Tapi, ketahuilah ada hal menarik dalam menyikapi pilihan itu. Sesuatu yang mendatangkan ridho-Nya tentu merupakan pilihan terindah dan terbijak yang kau ambil. Maka, dalam menentukan pilihan, pilihlah hal mana yang lebih disukai Allah. Juga, yang mendatangkan nikmat keindahan batin.
Dalam buku, Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam edisi terjemahannya yang berjudul Taman Para Pecinta cetakan Khatulistiwa Press halaman 233 dikatakan bahwa :
Keindahan batin merupakan nikmat Allah terbesar bagi hamba-Nya. Keindahan lahir juga merupakan suatu kenikmatan bagi hamba-Nya yang wajib disyukuri. Jika ia bersyukur dengan bertakwa dan menjaga nikmat-nikmat-Nya tersebut, maka keindahan itu akan semakin bertambah. Namun, jika ia menggunakan keindahan itu untuk durhaka kepada Allah, niscaya Dia akan mengubah penampilan lahirnya di dunia, sebelum mengubahnya di akhirat. Keindahan itu dapat diubah menjadi kotor, jelek, dan buruk, sehingga orang lain akan lari saat melihatnya. Maka, setiap orang yang tidak bertakwa kepada Allah dengan keindahan dan kecantikannya itu, akan berubah menjadi jelek dan buruk, dan itu tampak di tengah-tengah manusia.
Keindahan batin akan menghapus keburukan lahir, dan bahkan menutupinya. Sebaliknya, keburukan batin akan menghapuskan keindahan lahir dan menutupinya.
Indah bukan ketika kita memilih sesuatu yang mendatangkan keindahan batin yang akan mengantar pada ketaatan dan ridho-Nya?
Begitulah sobat, bagaimana cara memantapkan pilihan yang akan mengantarmu pada ketetapan terindah. Libatkan juga Allah dalam menentukan pilihan itu. Terus merayulah pada-Nya agar dirimu dituntun dalam jalan yang benar.

Alhamdulillah gais, gue yang semula tertawan diantara dua pilihan, kini udah mantap untuk menentukan pilihan. Ga ada ragu sama sekali yang ada hanya ketenangan batin dan harapan-harapan yang terus tumbuh mengakar dalam hati. Sekali lagi, tolong ya doakan gue agar diberi kemudahan mengikuti tes seleksi pada Ahad, 21 Januari 2018. Semoga apa yang gue pilih bisa bermanfaat bagi gue dan kita semua, aamiin..

Kutemukan Cinta di Edinburgh



Source : tumblr

            Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh sobat! Heihei, apa kabar? Udah lama ya gue nggak menarikan jemari gue di blog ini. Fiuh, sebenernya malem ini gue rada sakit kepala tapi entah kenapa tangan udah gatel pengen nulis. Tapi tenang aja, ada secangkir coklat hangat di samping gue. Iya, coklat emang selalu bikin mood gue naik dan bagus. Baru menghirup aroma coklat aja, rasanya kayak clink clink, kepala gue cerah seperti cuaca pas lagi bagus-bagusnya. Hmm, emang ya yang manis-manis itu selalu bikin semangat dan ngangenin. (re: manis minuman dan coklat).
            Why am I ngebet banget mau nulis? Pertama, gue pengen numpahin semua emosi gue di sini. Kedua, gue pengen cerita sama kalian tentang film Ayat-Ayat Cinta 2, aseek. Ketiga, karena gue jomblo maka gue harus nulis *eh?
            Langsung aja, kenapa emosi gue pengen gue tumpahin di tulisan? Hayoo, lo tau nggak kenapa? Hmm, nggak tahu sih. Emang gue sukanya gitu, lebih suka mengekspresikan sesuatu lewat tulisan daripada gue ngomong langsung.
            Gue ada uneg-uneg. Yuk kita flashback dulu. Lo inget kan pernah Muslim Rohingya dibantai habis-habisan sama tentara Myanmar. Biadab! Benar-benar biadab! Lo coba lihat video-video saudara-saudari kita di Myanmar. Liat bagaimana mereka diperlakukan. Bro sist, gue ada video durasi sekitar 30 menitan. Disitu kita bisa melek, kalau mereka itu kesakitan lahir batin. Ya Allah, tega bener.
            Kedua, marilah kita flashback lagi. Ya ampun Zal, kebanyakan flashback ntar keinget mantan gue! Hmm, nggak gitu juga kali sist, kita perlu belajar sejarah. Gue anak IPS, udah kenyang dijejalin materi sejarah tapi gue suka karena pas belajar sejarah kita bisa melihat sebuah kisah menarik yang inspiratif dari orang-orang terdahulu, sekaligus belajar supaya tidak terjerumus pada lubang yang sama. Makanya, ga usah punya mantan lagi, jadi single sampai doi yang udah disiapin Allah nemuin lo, aseek.. btw ngomong sejarah, salah satu tokoh yang gue suka sejarahnya ya Muhammad Al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel.
            OK, ini serius.. Kita lihat si Trump, etdah agak sepet rasanya gue nulis namanya.. dia dengan seenaknya mengakui bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel. What theee..! Sontak pernyataan ini bikin geram umat Muslim sedunia. Hmm, astaghfirullah. Pertama gue tau berita ini, rasanya ghiroh muncul gitu aja. Marah, kzl, pengen gue lempar pakai lemper, semua jadi satu. Tapi, alhamdulillah saat rapat PBB kemarin lebih banyak negara menolak keputusan semena-mena AS. Kita tunggu, langkah konkret selanjutnya.
            Flashback lagi yuk.. serius, kalau ini yang terakhir. Awas, kalau mau bilang keinget mantan. Akhir-akhir ini Indonesia dihebohkan dengan LGBT. Yeah, l*sbi, g*y, bis*ks, dan transg*nder. Astaghfirullahaladzim, kenapa bisa? Lo liat Indonesia Lawyer Club ga? Kalau lo nyimak bualan para pendukung LGBT rasanya kayak ga nyenengin dan irasional. Well they said, kita punya HAM setiap orang punya hak masing-masing. Hellooo, lo nggak hidup di hutan yang bisa kayak tarzan lompat sana sini sambil teriak auouoooo. Lo hidup di Indonesia! Perilaku menyimpang itu bukanlah suatu hak. Tapi, ketahuilah sobat bagi kalian yang mendukung LGBT, itu bukanlah hak tapi malah menyakiti kalian sendiri! Betapa banyak dari orang-orang seperti itu terkena penyakit kelamin yang membahayakan. Gue udah baca informasi mengenai penyakit-penyakit ini juga banyak berita dan kasus yang sudah terjadi. So, please stop it. Dan bagi pendakwah, gue setuju kayak dr Raehanul Bahraen, beliau salaf tapi penyampaiannya enak dan nggak keras juga sakklek gitu, jadi gue bisa nerima. Dalam postingannya di instagram, banyak analogi-analogi yang seharusnya bisa menyadarkan LGBT. Semoga Allah membuka mata hati kalian wahai aktivis LGBT.
            Ini belum semua guys. Belum lagi kita bicara mengenai kriminalisasi ulama. Juru dakwah yang ditolak berkdakwah hanya karena ormas anu ga setuju dan seenaknya sendiri lapor polisi dengan tuduhan anti NKRI lah, anti Pancasila. Hmm, open your eyes! Kalau ormas anu ini sama saudara Muslim aja malah ga friendly dan main ngusir kajian, bukankah itu malah ga toleransi. Gue paling geram pas kajian ust Khalid, mana yang berakhlak bisa keliatan saat itu ormas anu ngusir beliau sambil diteriakin wahabi, mana kata-katanya kasar lagi.. Allahu yahdik..
            Hmm, uneg-uneg gue udah kelar? Belum sih tapi nanti kepanjangan.
            Gapapa Zal, asalkan lo ga nge-jomblo dalam masa yang berkepanjangan
            Hmm, jomblo dulu aja. Serius, guys alhamdulillah hati gue saat ini baru fine. No one enter there. Karena emang pada dasarnya gue berhati-hati dalam mencintai. Yes, I do, saat ini gue bukanlah tipikal perempuan yang dengan gampangnya suka hanya karena si cowok kasih perhatian lebih, sering baik. Kenapa? Gue nggak mau berharap sama manusia. Capek atuh. Bener kata Ali bin Abi Tholib, kata beliau paling pahit dan ga enak itu ya kalau kita ngarepnya sama manusia. Ga mempan lah sekarang, modal tampilan necis dan sikap baik, gue butuh pembuktian yang nyata kalau emang bener-bener suka. Ga sebatas gitu-gitu aja. Kalau nggak BHYE!
            Karena, gue kasih tahu yaa.. Kalau lo udah jatuh cinta amat dalam sama cowok dan keliatannya si cowok juga suka, akhirnya kalian saling berkirim pesan, senyum manis pas ketemu.. eh tapi pas ada yang bening dikit, lo ditinggal. Harapan pupus, sakit hati. Ckck. Itu cowok ga komitmen! Itulah pentingnya komitmen, kalau lo udah mau sama si A ingin menikahinya, ya udah mau si A ini nantinya bakal jadi gendut, jerawatan, banyak kekurangan, ya harus lo terima donk. Ini adalah pilihan lo! Makanya, jangan kebanyakan ngarep sama manusia ya sob. Apalagi kebanyakan cowok jaman now yang tipis komitmennya, Ya Allah nitip jodohku, semoga Mas Imam Masa Depan saat ini kau jaga imannya dan kau tumbuhkan komitmen yang mantap dalam hatinya, aamiin.. Hmm, ngomong-ngomong tentang cowok berkomitmen gue jadi keinget Fahri nih. Aaaa, AAC lovers ga asing lagi kan siapa dia?
            Iyep! Fahri bin Abdullah. Mashaallah, sejak awal gue baca novel kang Abik yang AAC pertama gue langsung seneng sama karakter Fahri. Hmm, gimana ya nulisnya. Lo coba baca dulu deh AAC 1 & 2. Orangnya sholih, hafal Qur’an, pelajar teladan di Univ Al Azhar Kairo, berhati lembut, mulia perilakunya. Huaa, gue nulisnya hmm.. tapi ini tokoh fiksi lho yaa.. ga salah sih kalau kita ingin suami kita menjadi sosok yang hampir sempurna, tapi yuk kita ngaca bareng, apakah kita juga bisa menjadi sosok yang hampir sempurna itu? Contoh, pengen suami kayak Fahri yang paket komplit gitu, tapi apakah kita pun juga sudah memiliki paket komplit itu? Karena Aisha pun karakternya mashaallah hmm, joss lah.. Nah, balik lagi ke QS An Nur 26.
            Gue bakal cerita sedikit tentang film yang baru aja gue tonton sama Yas dan Shin. Hmm, ga full team btw. Biasanya berlima ini cuma bertiga. Nah kenapa kita nonton AAC 2? Wkk, karena di grup gue paling ngebet banget kalau kami harus nonton AAC 2. Secara, gue udah baca novel AAC 1 & 2, udah lihat film AAC 1, nanggung kan kalau udah baca novel tapi ga lihat filmnya.
            Nah, setting AAC 2 ini ada di Edinburgh. Prologuenya sih, peristiwa mencekam di Palestine. Saat itu Aisha disana. Huaa pas itu Aisha sama Fahri terpisahkan. Lalu, muncullah latar di Edinburgh. Fahri jadi dosen di sana.
            Eum, ga gue ceritain alurnya ya ehe. Kalian liat aja filmnya, inshaallah ga kecewa ya walau pun akan menguras air mata. Gue sih, paling trenyuh pas bagian Aisha dengan hati lapang melihat suaminya poligami, padahal kalau mau dia ngaku kalau dia Aisha dan masih hidup tapi mashaallah ketegarannya. Dia bilang “Saya bahagia, jika Fahri bahagia” uluuh..
            Terus yang bikin nangis lagi, pas bagian Fahri debat sama Yahudi. Saat itu nenek Catharina dateng, dia Yahudi tapi Fahri sering membantunya. Pas itu, Fahri tiba-tiba diserang dan dituduh kalau dia teroris oleh seorang Yahudi. Tiba-tiba dateng tuh nenek menjelaskan semua kebaikan hati Fahri. Asli, bikin nangis. Nah, gue suka cara berdakwah dengan hikmah seperti Fahri ini. Dia in action nggak cuma teori aja. Yang bikin gue terbuka pemikiran juga, Fahri ini sosok yang sholih tapi nggak menutup diri dan dia pun ramah.
            Gue dulu ya pas masih awam, kalau ada penceramah tiba-tiba bilang “HARAM!” “YA NERAKA!” Huaa, medeni. Hari pertama ngaji digituin, apa yang lo rasa? Ya kalau orang awam pasti akan ngasih cap kalau ajaran Islam itu kaku dan keras. Nah, balik lagi ke cara penyampaian kan. Emang, gue rasa kalau manhaj yang selamat itu ya manhaj salaf, tapi seperti kata dr Raehanul Bahraen, kalau ada yang mendakwahkan Islam dengan kaku dan keras, bukannya masuk ke hati tapi malah menjauhkan. Nah, kayak Fahri ini bisa dicontoh. Mashaallah, kagum gue sama cara kang Abik bikin karakter gini. Islam itu RAHMATAN LIL ‘ALAMIN, rahmat bagi semua. Bermukalah manis, tebarkan salam, jangan merasa paling benar. Karena gue pun dulu, saat awam dalam agama takut kalau langsung semua saklek gaboleh tapi alhamdulillah karena ada mubaligh yang bijak dan ramah, gue bisa belajar agama. Ya alhamdulillah sih kalau udah ngaji dan tidak awam lagi, silakan kasih tahu ini HARAM! Ini NERAKA! Tapi, beda lagi cara berdakwah dengan orang awam, pelan-pelan tapi jangan bermudah-mudah.
            The last, saat Fahri dan Aisha kembali bertemu. Ya Allah, subhanallah, mashaallah.. Hmm..ini baper tapi baper positif. Saat Fahri bilang “Maafkan aku Sayangku.” Hmm, rasanya tuh.. Aisha pun punya alasan sendiri kenapa dia sempat menutup diri dari Fahri, di Palestine pun dia melakukan suatu tindakan yang bisa menjaga kehormatannya dari tentara Israel dan gue akui dia TANGGUH. Fahri yang berhati lembut pun pas tahu itu.. ya gitu.. ya gitu, bikin terisak gitu.. meski pun fisik Aisha tidak secantik dulu, Fahri masih mau menerimanya. So sweet, I wanna scream!!! Lo bayangin deh, dimana kebanyakan cowok jaman now tapi ga semua sih, yang menyukai perempuan karena fisik kalau kebagusan fisik itu ilang ya ditinggal. But, Fahri.. oh my, I’m so speechless untill I don’t know what to type.. Fahri itu BERKOMITMEN tinggi, tuh buktinya dia masih mau menerima apa pun keadaan Aisha. Ya Allah, ini nyentuh kalau kata gue mah. Unconditional love ini, hiks. Lebih manis dari Twilight, lebih menyentuh dari Titanic, dan lebih romantis daripada Romeo and Juliet. Karena apa? Karena Fahri dan Aisha saling mencintai karena Allah :””)
            Ya, begitulah guys tulisan kali ini. Panjang kali lebar amat yak. Efek lama ga nulis juga mungkin, jadi semua tumpah seabrek disini. Jadi,
            Sobat, hari ini kita sudah berada di awal 2018 marilah sejenak menengok ke belakang. Ingatkah saat saudara-saudari kita di Rohingya dibantai tanpa belas kasihan oleh tentara Myanmar? Mereka menangis, terusir dari negara sendiri. Sampai-sampai, sebagian dari mereka rela untuk  menyeberangi lautan. Bekal yang minim, seadanya, hanya rahmat Allah yang diandalkan. Ya Rabb, alangkah kejinya tangan-tangan bengis yang tega mendzolimi mereka.
            Ingatkah juga, saat presiden AS itu tiba-tiba mengakui bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel? Apa reaksi kita? Tentu ghiroh akan muncul dalam diri setiap mukmin. Saat itu kita lantang menyuarakan penolakan, mendoakan mereka, dan menyalurkan bantuan yang bisa diberikan untuk meringankan penderitaan mereka.
            Lalu, saat akhir-akhir ini.. Ya, isu LGBT di Indonesia. Saat itu, di sebuah acara TV swasta, kita bisa menyaksikan para aktivis LGBT yang menyuarakan pendapatnya. Mereka bilang, mereka memiliki HAM, HAM selalu mereka teriakkan dalam pembelaannya. Miris. Hakikatnya, mereka tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Mereka bilang hak? Bukan, hal itu bukanlah suatu hak. Sadarlah, LGBT bisa merusak kehidupan banngsa dan melenyapkan moral generasi penerus. Ya Rabb, lindungilah negera Indonesia ini, aamiin.
            Di atas, hanya beberapa poin dari masalah umat. Kita belum berbicara mengenai akhlak pemuda-pemudi Muslim saat ini, mereka pikir pacaran bukanlah masalah, mereka pikir merayakan tahun baru tidaklah mengapa, mereka pikir lebih keren dengan nongkrong di suatu tempat keramaian.
            Jadi, marilah diriku dan kawan-kawan, masalah umat masih banyak. Buang pikiran yang tidak perlu. Yang muda, marilah sebaiknya tidak lagi baper saat melihat pasangan halal muda foto berdua dengan senyum manis atau yang dewasa sebaiknya membimbing yang muda agar lurus jalannya.
            Jika kita tidak memulai, lalu kapan? Umat butuh penyegaran dakwah. Inilah tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan suatu harmoni yang indah dalam Islam. Mau kah kamu menjadi manusia seperti yang tercantum dalam QS Al Baqarah ayat 207 atau bersemangat kah kamu ketika mengingat janji Allah dalam QS Al Kahfi ayat 107? Semoga..
            Cukup segini dulu ya teman-teman. Kenapa gue kasih judul Kutemukan Cinta di Edinburgh? Ya, karena tulisan ini terinspirasi dari kang Abik sang novelis yang berhasil menuangkan karakter Fahri dalam novel  yang terangkat ke layar lebar. Fahri adalah seorang pecinta. Pecinta Tuhan dan pecinta sesama manusia yang menakjubkan. Juga, caranya berdakwah dalam film di Edinburgh dengan kasih. Semua itu cinta. Maka, kutemukan kehidupan yang penuh cinta di Edinburgh. Sekian. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
NB : Ini nulisnya kemarin malem tapi baru sempet gue post pagi ini hehe..